maaf mas mo nanggepin masalah ini
untuk postingan mas bedes sudrun saya setengah setuju dan setengah ga setuju
beberapa waktu lalu saya menjadi bendahara pengeluaran
saya akui ada beberapa kuitansi yang di mark up
tapi kuitansi mark up itupun bukan karena keinginan saya
saya hanya diperintah kepala kantor untuk mengisi dana taktis
tapi untuk kata2 :
"Selama manusia masih ijo ngliat duit susah, mas diterapkan.
mereka akan itung2an tenaga dan waktu,"kita udah capek2 bikin ini dan itu,
mondar-mandir kesana kemari, masa gak dapet apa2" itu seloroh mereka, walaupun
sebenarnya sudah tugas dia, malah kadang2 dapat honor resmi. Tapi, ya itu tadi
mas.... duit menjadi barang berharga yang susah untuk ditolak.."
"Berapa banyak kertas yang telah dimakan? "
saya jelas menolak
saya mengklarifikasi bahwa tidak semua pejabat pengadaan makan kertas dan ijo
ngeliat duit. saya udah capek2 bikin ini dan itu, mondar-mandir kesana kemari,
keluar duit pribadi, masih dituduh korupsi, makan kerja dan ijo ngeliat duit.
kadang-kadang kita harus berpikir positif dan berprasangka baik
bukan bermaksud perang atau menimbulkan konflik
cuma mo meluruskan jalan pikiran teman2, semoga bisa bermanfaat di kemudian
harinya
mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung
dan terima kasih atas perhatiannya
Berux Ganteng
060109488
Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Selama manusia masih ijo ngliat duit susah, mas diterapkan.
mereka akan itung2an tenaga dan waktu,"kita udah capek2 bikin ini dan itu,
mondar-mandir kesana kemari, masa gak dapet apa2" itu seloroh mereka, walaupun
sebenarnya sudah tugas dia, malah kadang2 dapat honor resmi. Tapi, ya itu tadi
mas.... duit menjadi barang berharga yang susah untuk ditolak..
Kita gak usah jauh-jauhlah, kantor kita sendiri aja, Coba tanyain Kasubbag
Umum, (pejabat pengadaan) mana yang gak Korupsi. Aku berani potong leher (ayam)
kalau ada yang jujur. Sekecil apapun pasti ada, apa dengan alasan untuk dana
taktis, melayani tamu, kegiatan olahraga dan seni. Mana mau mereka keluar kocek
sendiri untuk jamu