klo itungan gitu ga ada kontribusi pendapatan migas ke negara dong..
apa ga terlalu maksa? migas kan harusnya berkontribusi besar terhadap
penerimaan, lagian potensi itungan gitu bisa bikin tekor klo harga
naik terus. lebih aman tetap pakai harga internasional selain mencegah
penyelundupan keluar sih..

sekarang pertamax sudah mencapai +-10.000/liter jarak dengan premium
sudah 4000, artinya sebentar lagi terpaksa harga premium harus
disesuaikan. tidak ada cara lain selain menaikan harga, klo mo dipaksa
subsidi terus.. bisa tambah utang lagi nih republik


2008/6/3 Noeh Cool Cash <[EMAIL PROTECTED]>:
> Sebenarnya sudah kadaluarsa membahas kenaikan BBM ini, postingan saya
> kemarin tentang LKPP 2007 Disclaimer (2) mungkin juga sudah tidak
> hangat lagi, tapi saya ucapkan terima kasih sudah menanggapi postingan
> saya yang sudah agak lama, berarti masih ada yang sudi membaca tulisan
> saya.
>
> Yang perlu saya tekankan lagi adalah negara kita janganlah menganut
> ekonomi kapitalis liberalis, yang menjalankan roda perekonomian
> berdasarkan pada kekuatan modal dan menyerahkan sepenuhnya pada
> mekanisme pasar bebas, maka jadilah yang kaya semakin kaya dan yang
> miskin menjadi semakin miskin. Di sinilah seharusnya fungsi pemerintah
> bekerja, menjadi regulator dan mediator agar tidak terjadi ketimpangan
> sosial.
>
> Negara kita punya kedaulatan ekonomi, tidak seharusnya selalu tunduk
> dan patuh pada IMF, World Bank, dsb. Pemerintah janganlah mengacu pada
> harga minyak dunia dalam menentukan harga minyak (BBM) dalam negeri.
> Karena pada dasarnya kenaikan harga minyak dunia dunia lebih
> disebabkan karena naiknya permintaan (sesuai hukum demand-suply) dari
> China dan India, juga karena ulah dari spekulan (penimbun) kelas
> dunia, jadi bukan karena naiknya ongkos proses produksi. Negara kita
> sebagai produsen minyak dalam menentukan harga minyak yang dijual pada
> anak bangsa seharusnya mendasarkan pada harga pokok produksi + margin
> profit oleh pertamina. Karena produksi belum mencukupi kebutuhan
> nasional maka perlu diimpor minyak yang tentu saja memakai harga
> minyak dunia, agar tidak terjadi dualisme harga maka perlu disubsidi
> minyak impor tsb, dan subsidi ini bersifat sementara sampai produksi
> nasional mencukupi atau bahkan melebihi dari konsumsi nasional (sesuai
> janji Menteri ESDM).
>
> Supaya lebih jelas saya berikan ilustrasi (ini contoh saja) :
> HPP pertamina : Rp. 5000,-/liter*
> Margin profit : Rp. 1000,-/liter
> Harga jual dlm negeri : Rp. 6000,-/liter
>
> Karena produksi (950 ribu barrel) belum mencukupi kebutuhan nasional
> (1.15 juta barrel) maka perlu diimpor 200 ribu barrel dengan itung2an
> kasar sbb:
> BBM impor : Rp. 14.000/liter
> Subsidi : Rp. 8.000/liter
> Harga jual : Rp. 6.000/liter
>
> Atau bila kebijakan non-subsidi yang dipilih maka yang dipakai adalah
> rata2 dengan perhitungan kotor sbb :
>
> HPP Pertamina : 5.000 x 950.000 = 4.750.000.000
> BBM impor : 14.000 x 200.000 = 2.800.000.000
> Total Harga : = 7.550.000.000
> Rata-rata harga : 7.550.000.000/1.15 juta = Rp.6.565,-
>
> Jadi menurut itung2an di atas harga Bensin adalah Rp.6.565,- ditambah
> margin profit buat pertamina Rp.435,- = Rp 7.000,-
>
> Itu adalah analisis sederhana dari orang awam seperti saya. Milis ini
> adalah forum tidak resmi, jadi saya gunakan sebagai ajang latihan
> menulis dan mengeluarkan pendapat. Opini yang saya kemukakan di atas
> masih jauh dari valid.
>
> Wassalam
>
> 



-- 
=================================
Gautama Seti
Financial Advisor

Kirim email ke