F Y I

Rizqi Taufiq Rachman,Ssi.
Research & Development Dept,
PT. HEINZ ABC INDONESIA
Daan Mogot - Jakarta

=============================================
Teman-teman semua.

Dari hati yang paling dalam, saya dan istri mengucapkan terimakasih 
atas semua bantuan, simpati, dan doa teman-teman atas musibah yang 
menimpa anak saya Lila Narita yang berumur 22 bulan. Peristiwa ini 
sangat mengagetkan saya dan juga teman2, karena selama ini anak saya 
selalu sehat dan lincah.

Semoga musibah seperti ini tidak pernah terjadi pada keluarga teman2
semua.
      
Thanks to Mita, Wilsa, Threes, Santoso, Yusuf, Miki, Sachlani, mbak 
Rini, Pak Rijanto, Pak Edy, mbak Betsy, Tito, Ina Indah, Indra, 
Alfred, Gilbert, Azhari, Ali Fahmi, Ervina, Liesma, Agus Efendi, 
Prima, Henki, Pak Harmanto, dan rekan-rekan kerja lain yang tidak bisa 
saya sebutkan satu persatu yang telah membantu mempercepat 
tindakan/keputusan yang  diambil oleh saya dan istri yang saat itu 
sedang kalut dan panik dengan memberikan berbagai saran/informasi  
baik sebelum dan selama di rumah sakit.
      
Dukungan terhadap pekerjaan dan doa yang tulus dari teman-teman semua 
telah menjadikan  kondisi anak saya semakin membaik dan mudah2 an 
tidak terlalu lama lagi anak saya akan kembali normal.
 

Re: Anak Jadi Rewel Jangan Dianggap Remeh!
      
Beberapa bulan yang lalu saya pernah mendapat email dengan bunyi 
subjek di atas dan peristiwa yang serupa entah pada milis apa, namun 
email tsb saya cari sampai sekarang tidak ketemu juga. Barangkali ada 
teman yang menyimpan email tsb silahkan forward ke saya, saya ingin 
bertukar pengalaman dengan keluarga tsb.
      
Sekedar untuk berbagi pengalaman, berikut kronologis kejadian yang 
kami alami. Barangkali teman-teman bisa  mem-forward pengalaman ini 
kepada mereka yang membutuhkan agar bisa mencegah musibah serupa lebih 
dini.
      
1. Sekitar 5 hari sebelum Idul Fitri, Lila mulai rewel dan ingin 
selalu digendong ibunya. Bila ada gelagat mau dilepas atau diturunkan 
dia mencengkeram kuat-kuat ke baju atau bahu, menunjukkan tanda bahwa 
dia sangat takut untuk turun ke lantai. Beberapa hari itu dia juga
sangat ketakutan terhadap tayangan2 iklan tertentu di tv,  takut 
melihat kucing, ayam, dan meronta-ronta kalau dilihat orang lain. 
Padahal selama ini dia biasa bermain sendiri dgn mainan, dan suka 
mengejar ayam, kucing, dsb.
      
2. Selama libur Idul Fitri tgl 25-28 Nov di luar kota sangat sulit  
mencari praktek dokter anak. Akhirnya tgl 28 Nov saya bawa dia ke RS 
Advent di Bandung. Setelah dicek  keseluruhan tubuhnya oleh dokter 
anak tidak ditemukan adanya kelainan kecuali sariawan di mulut. Dokter 
hanya memberikan vitamin dan amoxilin.
      
3. Namun sifat rewel yg luar biasa itu tidak ada perbaikan juga. 
Famili yg melihat lantas mengajak saya ke beberapa orang pinter karena 
mungkin dia selalu melihat sesuatu yang menakutkan. Sampai kembali di  
Jakarta,  segala macam pengobatan medis dan non medis terus dicoba
tapi sama sekali tidak ada kemajuan. Bahkan selama di rumah gejala 
semakin parah, suaranya seperti orang kesurupan siang malam selama 
berhari-hari, dan badan semakin kurus. Perlu dicatat bahwa selama itu 
dia tidak pernah mengalami demam suhu tinggi atau pun gejala pilek 
atau flu yang bisa mendorong saya kembali periksa ke RS.

4. Tidak tahan dg kondisi tsb dan atas informasi teman ttg RS anak 
yang lengkap maka tgl 19 Des saya bawa dia ke RS HK. Pagi hari ketika
di rumah setelah mandi, kedua matanya menjadi selalu melihat ke kiri,
cengkreman tangan selalu sangat kuat takut lepas dari gendongan 
ibunya.

Setelah antri di RS dan giliran diperiksa,  dokter lalu membawa dia ke
bagian UGD. Di sana diperiksa lagi mata dg senter dan ternyata mata 
tidak berkedip, lalu semua tangan dan kaki diketok-ketok dg palu 
ternyata juga tidak ada refleks. Deg! Saya kaget -- baru sadar bahwa 
kondisi anak saya sudah separah itu. Dokter menyatakan anak saya harus 
rawat inap di sana.

Saat malam di RS mau diberi makan ternyata leher dan punggung sudah
lumpuh juga sehingga badan dan kepalanya harus dipegang supaya makanan 
bisa masuk kerongkongan. Padahal pagi waktu akan berangkat,  tangan 
dan kaki masih kuat semua karena masih meronta atau mengamuk, leher 
juga masih kuat karena sering menghindari sendok waktu dikasih makan.

5. Dokter meminta untuk CT scan dan keesokannya diketahui telah 
terjadi pengerutan otak bagian depan dan atas: atropi lobus fronto
parietalis. Menurut dokter gangguan otak di bagian ini menyebabkan
motorik tangan dan kaki jadi lumpuh dan mata buta. Ditanya apa 
penyebabnya, dokter mengatakan biasanya karena infeksi oleh virus atau 
bisa juga penyakit degeneratif. Ditanya apakah ada kemungkinan kembali 
normal, dokter mengatakan biasanya sudah sembuh paling jadi anak 
idiot. Namun 5 hari dirawat di RS tersebut tidak pernah jelas virus 
apa yg dimaksud. Setiap kali kami bertanya pada suster dan dokter 
apakah pernah menangani penyakit seperti ini mereka selalu mengatakan, 
"Memang kasus seperti ini jarang ya..!".

6. Karena khawatir dan ingin mendapatkan perawatan terbaik untuk anak, 
maka atas bantuan teman-teman di kantor yg selalu saya update/diskusi 
mengenai kasus yang menimpa anak saya, akhirnnya saya mendapat rujukan 
profesor dokter ahli saraf yang pernah menangani kasus serupa di RS  
MMC. Atas bantuan  teman-teman kantor juga maka pada tgl 23 Des saya 
pindahkan anak saya ke RS MMC. Pada hari itu juga dokter mengambil 
sampel darah dan air seni untuk dilakukan berbagai macam test.

Beberapa hasil test menunjukkan bahwa air seni dan darah masih normal,
namun hasil test TORCH yang diterima tgl 30 Des ditemukan bahwa virus
rubella Ig G positip 580  iu/ml. Virus ini yang diperkirakan 
menyebabkan infeksi pada otak. Dengan bantuan seorang prof dokter ahli 
virus [virulog/imunologi] dari Makmal UI maka dibuatkan resep untuk 
menangani virus rubella tsb. Ditanya dari binatang apa virus ini 
berasal? Dokter bilang bukan dari binatang tapi dari manusia, orang 
dewasa yg pilek bisa mengandung virus lain selain virus influenza.

7. Selama dalam perawatan di RS mata anak saya selalu melihat ke kiri 
dan jarang bergerak ke arah lain. Karena penasaran ingin tahu seberapa 
parah kerusakan indra penglihatannya, maka dokter menyarankan untuk 
brain mapping test di RS HS. Hasil tes tgl 4 Jan ternyata menunjukkan 
bahwa sama sekali tidak ada kontak baik otak kiri maupun otak
kanan -- yang artinya mata telah buta total.

8. Namun beberapa hari kemudian mata mulai bergerak dan saat email ini 
ditulis (15 Jan 04) mata anak saya gerakan dan penglihatannya sudah 
normal walaupun belum dilakukan brain mapping test lagi. Sebagai 
indikasi, mata bereaksi ketika diajak berkomunikasi dan dia selalu 
menangis kalau perlahan2 ibunya pergi ke luar ruangan. Saat ini semua
tangan, kaki, dan leher sudah mulai bisa bergerak dan makin kuat 
walaupun masih tergeletak karena belum bisa duduk kembali dan leher 
belum bisa tegak tanpa ditopang. Perkembangan tangan dan kaki kiri 
sudah cukup maju, bisa pegang dan mengontrol mainan. Tangan dan kaki 
kanan gerakannya masih lemah dan belum bisa melakukan kontrol dengan 
baik. Beberapa hari terakhir dia berusaha beguling ke kiri dan ke 
kanan, persis seperti bayi yg baru lahir kembali. Itu sudah kemajuan 
yang sangat berarti bagi kami.

Alhamdulilah!

Sekedar cerita, dokter imunolog yang menangani anak saya telah 
beberapa kali punya pengalaman menangani  kasus virus rubella atau 
cmv. Kedua virus ini yg seringkali merusak sistem saraf pusat dan 
seringkali pasien tidak menunjukkan gejala demam tinggi atau pilek, 
tapi seringkali seperti orang kesurupan berteriak-teriak. Pada orang 
dewasa misalnya ada pasien pria umur 24 yg matanya tiba-tiba juling, 
atau juga ada pasien yg tiba-tiba budek atau buta. Contoh lain, ada 
gadis umur 16 habis pulang camping kelelahan, namun keesokan harinya 
tidak bisa dibangunkan karena ternyata sudah lumpuh total dan buta. 
Kedua orang tua gadis ini juga dokter.

Setelah berobat ke sana kemari termasuk berbagai pengobatan alternatif
tidak ditemukan juga kemajuan sekian lama. Akhirnya bertemu dengan 
dokter ini dan setelah di test darah rupanya terdapat kandungan virus 
rubella.

Sekarang gadis tsb sudah sembuh dan jadi seorang dokter di  Jakarta.
Cerita lain lagi, ada ibu hamil yang selalu seperti kesurupan dan 
pernah 2 kali naik ke atap genteng tengah malam, untung tidak jatuh. 
Setelah di test darah ternyata mengandung virus cmv dan alhamdulilah 
bayi telah lahir selamat, juga ibunya.

Saya sulit membayangkan bagaimana parahnya akibat penyakit ini bila 
terjadi di kota-kota kecil. Menurut dokter tsb, virus rubella atau cmv
kadang ditemukan pada darah anak-anak yg autis, orang yg terbelakang
mental, atau orang gila. Seorang anak yg autis dan diketahui terdapat
rubella atau cmv perlahan-lahan membaik setelah virus tsb ditekan
perkembangannya. Secara teori, kerusakan neuron tidak bisa diperbaiki,
beda misalnya dengan luka di tangan dimana sel-sel bisa tumbuh sampai
kembali normal. Perkembangan otak manusia secara teori terjadi sampai
umur 17 th, artinya kerusakan otak pada pasien dengan rentang umur 
0-17 th ada harapan bisa sembuh karena otak masih berkembang.

Barangkali pengalaman kami ini bisa jadi pelajaran berharga buat
teman-teman semua. Saat ini hari demi hari,  saya dan istri dengan
harap-harap cemas melihat perkembangan anak kami cukup pesat. Atas doa
dan dukungan dari banyak teman-teman baik kami, kami semakin optimis 
dia bisa kembali normal.
  
Mudah-mudahan. Insya Allah!
Salam,

Tonny & Tati
Email: [EMAIL PROTECTED]



---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/

Kirim email ke