----- Forwarded by Muslich Riza/BSFM on 14/02/2004 09:01 ----- |--------+-----------------------> | | "Ambon" | | | <[EMAIL PROTECTED]| | | se> | | | | | | 14/02/2004 | | | 03:04 | | | Please | | | respond to | | | ppiindia | | | | |--------+-----------------------> >--------------------------------------------------------| | | | To: | | cc: (bcc: Muslich Riza/BSFM) | | Subject: [ppiindia] Pendidikan Gratis: Fakta | | atau Utopia? | >--------------------------------------------------------| http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/13/opi02.html Pendidikan Gratis: Fakta atau Utopia? Oleh Didik Komaidi Beberapa waktu lalu dilaporkan media massa, pemerintah Provinsi Jawa Timur, menurut Gubenur Imam Utomo, akan memberlakukan SPP gratis bagi pendidikan dasar dan menengah mulai bulan Januari 2004. Kalau kebijakan itu betul-betul nyata dan dilaksanakan di lapangan, sungguh suatu berita yang menggembirakan bagi masyarakat, terutama bagi kalangan tak mampu. Suatu keberpihakan yang konkret dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat miskin. Sebab, bagi kalangan bawah, masalah biaya pendidikan merupakan persoalan tersendiri yang cukup berat dan merepotkan dalam kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sehingga kalau biaya pendidikan/sekolah betul-betul gratis tanpa embel-embel lainnya akan sangat meringankan dan membantu. Dengan demikian, biaya-biaya yang biasa dikeluarkan untuk pendidikan, bisa dikeluarkan untuk keperluan lain yang lebih penting. Artinya, sebagian/separuh beban biaya hidup keluarga akan terkurangi dan semakin ringan. Mengenai isu pendidikan gratis (SPP gratis) -- beberapa tahun lalu -- juga pernah didengung-dengungkan oleh partai politik tertentu dalam suatu kampanye, namun dalam perjalanan waktu, janji tetaplah janji yang kemudian diingkari. Dari hal itu, setidaknya bisa diartikan bahwa kepentingan rakyat tetaplah menjadi komoditi politik yang bisa dijual dalam momen-momen kampanye. Demikian juga, tentang pendidikan/SPP gratis yang betul-betul bisa dirasakan oleh rakyat kebanyakan yang tentu saja mempunyai anak-anak berusia sekolah. Sebagaimana disebut di atas, dalam suatu keluarga, biaya sekolah bagi anak-anak merupakan suatu masalah tersendiri bagi orang tua, di samping masalah kebutuhan hidup tiap hari seperti pangan, sandang, papan, dan lainnya. Terlepas apakah kebijakan SPP gratis dijadikan komiditas politik atau tidak? Atau ada motif-motif politik di baliknya? Yang penting kebijakan itu menguntungkan dan tidak merugikan rakyat secara keseluruhan. Hal itu sudah cukup menggembirakan. Kebijakan-kebijakan yang populis di tengah masyarakat yang tertimpa krisis sungguh merupakan berkah sekaligus hak bagi rakyat yang selama ini banyak menyetor berjimbun-jimbun pajak (upeti). Selama ini kebanyakan rakyat prihatin dan iri. Sebab, pajak-pajak yang mereka bayar ke pemerintah pusat/daerah, lebih banyak dikorupsi. Kalaupun ada proyek/pembangunan bagi masyarakat umum, lebih pada rutinitas yang itu-itu saja, tidak yang baru dan betul-betul bermanfaat kepada rakyat. Kalau kebijakan SPP gratis betul-betul dilaksanakan secara konsekuen berarti telah menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945 terutama isi pembukaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan isi pasal 33 tentang penyelenggaraan pendidikan yang ditanggung oleh negara. Dalam perspektif dinamika bangsa akhir-akhir ini, dengan muncul era otonomi daerah dengan plus minusnya, setidaknya memberi angin segar pembaruan dengan kebijakan-kebijakan yang progresif. Kalau bidang pendidikan betul-betul diperhatikan dengan anggaran yang proporsional, termasuk pembebasan SPP, jelas akan meningkatkan: 1) angka partisipasi warga masyarakat dalam pendidikan; 2) menghilangkan tingginya angka buta huruf; 3) meningkatkan kualitas dan daya saing SDM Indonesia; 4) mengurangi rusaknya fasilitas dan prasarana pendidikan seperti robohnya gedung sekolah; 5) mengurangi tingginya angka anak putus sekolah (drop out), termasuk berita menyedihkan seperti siswa SD bernama Taufik, yang gantung diri karena malu tak mampu bayar kegiatan ekstrakurikuler di Garut Jawa Barat (Kompas, 24/8/03). Pendidikan, sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya kaum miskin, memang tidak bisa tidak harus memerlukan keberpihakan yang konkret dan bukan retorika kosong, misalnya pembebasan SPP seperti kebijakan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Timur. Walaupun belum seratus persen, namun sudah cukup lumayan, pemkab/pemkot di Jawa Timur baru sekitar 70 persen yang bersedia atau mampu menjalankan kebijakan SPP gratis bagi anak Sekolah Dasar hingga SLTP. Saya pikir ini merupakan sebuah terobosan yang strategis dan progresif demi kemajuan masyarakat yang bermuara pada peningkatan kualitas SDM bangsa. Apalagi kini, bangsa Indonesia menghadapi arus globalisasi di berbagai bidang seperti perdagangan, teknologi, tenaga kerja, budaya, dan sebagainya. Pendeknya, melalui pendidikan berkualitas yang menjadi prioritas pembangunan nasional, dalam jangka panjang akan menciptakan kemakmuran dan kemandirian bangsa. Dengan SDM yang berkualitas dan berdaya saing akan lebih mampu mengelola kelebihan sekaligus kelemahan potensi-potensi yang dimiliki, mulai sumber daya manusia (SDM) hingga sumber daya alam (SDA)-nya. Contoh kasus, Jepang kalah perang setelah luluh-lantak oleh bom atom yang dijatuhkan Amerika, mereka bangkit dengan menciptakan SDM yang handal lewat pendidikan berkualitas dan mampu menjadi kampiun ekonomi dunia, pesaing Amerika Serikat. Demikian juga, Jerman mampu menjadi negara industri yang tangguh juga memberlakukan pendidikan gratis sampai perguruan tinggi. Di sini, pendidikan tetap menjadi kunci keberhasilan sebuah bangsa dalam persaingannya dalam dunia global. Semoga. Penulis adalah Ketua Program Keaksaraan Fungsional Yayasan Kodama kerja sama dengan Dinas Pendidikan Yogyakarta. *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ --------------------------------------------------------------------- Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR --------------------------------------------------------------------- Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Website : http://www.alumni-akabogor.org/ Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/
