----- Forwarded by Muslich Riza/BSFM on 14/02/2004 09:01 -----
|--------+----------------------->
| | "Ambon" |
| | <[EMAIL PROTECTED]|
| | se> |
| | |
| | 14/02/2004 |
| | 03:18 |
| | Please |
| | respond to |
| | proletar |
| | |
|--------+----------------------->
>--------------------------------------------------------|
| |
| To: |
| cc: (bcc: Muslich Riza/BSFM) |
| Subject: [proletar] Pemilihan Umum untuk |
| Siapa? |
>--------------------------------------------------------|
Media Indonesia
Sabtu, 14 Februari 2004
OPINI
Pemilihan Umum untuk Siapa?
Toeti Adhitama; Ketua Dewan Redaksi Media Indonesia
DALAM wawancara Metro TV dengan beberapa tokoh muda beberapa waktu lalu, ada
bagian yang menarik perhatian. Ini menyangkut pemilihan umum (pemilu).
Seorang interviewee ditanya, partai apa yang akan dipilihnya. Orang muda itu
menyatakan, saat ini belum terpikir olehnya. Mungkin setelah dekat pemilu
dia baru memutuskan. Tetapi dua presenters terus mendesak. Toh, dengan
manisnya dia tetap menolak menjawab. Sikapnya itu seperti yang dilakukan
orang-orang dari masyarakat maju yang menganggap pertanyaan-pertanyaan soal
usia, penghasilan, dan afiliasi pada sesuatu partai politik adalah tabu.
Bertanya soal-soal itu mereka anggap melanggar tata pergaulan karena hal-hal
itu sifatnya sangat pribadi. Bukan untuk konsumsi publik, sekalipun tokoh
muda yang ditanya waktu itu kebetulan seorang public figure.
Penonton tentunya berpikir, mungkin tokoh muda tadi tidak bersedia
diafiliasikan dengan sesuatu partai politik karena ingin tampil netral.
Sebagai tokoh di dunia hiburan, keberpihakan bisa merugikan. Dengan menyebut
partai yang salah di pikiran penonton, citranya bisa menjadi negatif. Guilty
by association.
Bisa juga dibuat penjelasan lain: dia sekarang memang benar-benar belum tahu
partai apa, atau siapa, yang akan dipilihnya. Dia tidak sendiri. Dapat
dipastikan banyak orang sampai sekarang belum bisa membuat keputusan, karena
belum mengenal partai-partai politik yang demikian banyak jumlahnya, siapa
tokoh-tokohnya, dan apa tawaran-tawaran yang mereka ajukan. Seorang diplomat
asing pernah mengatakan kepada kami, situasi politik sekarang mirip dengan
di masa sebelum Orde Baru. Banyak partai. Dewan Perwakilan Rakyat sulit
berdamai. Lain keadaannya dengan di zaman Orde Baru, ketika kita praktis
hanya mengenal satu partai raksasa, ditambah dua partai yang dapat
dipastikan tidak mungkin menang. Dalam perspektif ideologi konservatisme,
pemerintah--seperti halnya di negeri kita--terutama berperan sebagai
instrumen untuk menjaga ketertiban dan mengintegrasikan berbagai bagian
dalam masyarakat supaya serasi. Menjaga ketertiban dan kesesuaian
antarkelompok dan golongan diyakini sebagai satu-satunya cara yang
memungkinkan masyarakat berkembang. Oposisi ditekan. Dasar kestabilan adalah
kepasrahan masyarakat memberi wewenang kepada elitenya untuk membuat
keputusan-keputusan bagi mereka. Kalangan elitelah yang bermain di panggung
politik dengan memegang kekuasaan terbesar dan segala atribut yang
diperlukan untuk mempertahankan kekuasaan, termasuk kekayaan. Tetapi di
samping itu diharapkan mereka juga orang-orang terdidik, bijaksana,
berpengalaman dan bermoral tinggi. Itu idealnya. Tetapi yang kita alami,
terjadi gejolak besar ketika elitenya bertindak berlebihan dan rakyat merasa
dirugikan atau bahkan terabaikan.
Tetapi dalam masa transisi menuju reformasi yang sempurna, ternyata kita
masih canggung. Kita tentu menginginkan penegakan hukum, ketertiban, tetapi
juga kebebasan untuk menyampaikan aspirasi. Dalam hal yang disebut terakhir
itulah ada perbedaan dengan sistem yang menganut konservatisme. Kita tidak
ingin hanya elite yang mengatur kekuasaan. Untuk itu, kita mendambakan
masyarakat yang terbuka di mana semua orang paling tidak mengetahui apa
haknya untuk kesempatan-kesempatan di bidang sosial, ekonomi, maupun budaya.
Tetapi faktanya, dalam rangka pemilu, budaya konservatisme rupanya masih
bertahan. Semakin nyata kalangan elite terbukti tidak terlalu memikirkan apa
yang diinginkan publik. Kalangan elite politik sibuk bersaing satu sama lain
sehingga lupa, pemilu ini sebenarnya untuk kepentingan siapa. Hanya untuk
mereka, atau untuk rakyat banyak?
Sebagai contoh: masalah mencuri start diributkan. Tetapi dilihat dari
perspektif masyarakat, bukankah masyarakat lebih diuntungkan bila jauh-jauh
hari sudah mengenal partai-partai yang berlaga, tokoh-tokoh yang bersaing,
apa tawaran-tawaran yang mereka ajukan? Itu yang namanya pendidikan politik.
Bukan hanya bagaimana cara mencoblos. Pemilih seharusnya tahu, benar-benar
tahu, apa dan siapa yang sebaiknya mereka coblos. Apa yang akan
diperjuangkan calon-calon petinggi itu. Apa manfaatnya bagi pencoblos.
Ketidaktahuan mengenai para calon itu ibaratnya memaksa masyarakat memilih
kucing dalam karung. Seperti sebelum masa reformasi, pemilih disuruh pasrah
dengan pilihan-pilihan yang ditentukan sendiri oleh kalangan elite politik.
Maka apa yang akan kita saksikan dalam beberapa minggu sebelum pemilu?
Gambarannya semakin seru dengan keputusan Mahkamah Agung terhadap Ketua Umum
Partai Golkar. Partai-partai lain mungkin akan menyusun siasat baru.
Program-progam kampanye disiapkan kembali. Nantinya tentu akan terjadi
pengerahan-pengerahan massa, khas kampanye gaya Asia. Kampanye sejuta
kerabat akan marak di mana-mana. Kita wajib waspada. Teman baik saya
menyatakan, ingat apa yang dikatakan Don Emmerson, pakar politik yang
mengajar di Universitas Stanford. Katanya dia menyatakan: kampanye ibarat
perkawinan, banyak janji tetapi jarang yang dipenuhi.***
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
---------------------------------------------------------------------
Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas
AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR
---------------------------------------------------------------------
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website : http://www.alumni-akabogor.org/
Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/