Untuk jadi renungan bagi mereka yang berprofesi sebagai PNS. Ada joke yang mengatakan pada hari penghakiman kelak, banyak orang berseragam korpri sedang mengangis di padang masyar. Regard heny suseno --- roni gustiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Note: forwarded message attached. > > > \\ ! // > (@ @) > --o00--(_)--00o-- > gustiwa > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > Get better spam protection with Yahoo! Mail
> ATTACHMENT part 2 message/rfc822 > Subject: FW: Apakah kita masih butuh pemerintah??!!! > Date: Sat, 28 Feb 2004 15:52:15 +0700 > From: "Yelmizar" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > > > -----Original Message----- > From: Yanuarti Dwi Suswandari > Sent: Thursday, October 23, 2003 9:33 AM > To: Yelmizar; Jamuris; Heri; Suhengsi > Subject: FW: Apakah kita masih butuh pemerintah??!!! > > > > -----Original Message----- > From: Listy > Sent: Wednesday, October 22, 2003 11:52 AM > To: > Untukmu Kawan (E-mail) > Subject: Fw: Apakah kita masih butuh pemerintah??!!! > > > > fyi.... > > -----Original Message----- > > > > Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah ?! > > > Rasanya hampir semua hal dalam kehidupan, kita urus > dan atur sendiri. > > Kita mulai dari hal-hal disekitar rumah. Bila jalan > didepan rumah rusak atau belum diaspal, bersama > tetangga kita bergotong-royong saling menyumbang > uang > atau material untuk memperbaiki atau mengaspalnya. > Beruntung (ini amat jarang), bila pemerintah > berinisiatif untuk mengaspal. > > Membuang sampah juga kita urus sendiri dengan > membayar tukang sampah. > > Keamanan di sekitar rumah kita atasi sendiri dengan > menggaji satpam, hansip, atau melakukan ronda > bersama > warga sekitar rumah. Saat ke kantor, kuliah, atau > kemana saja, kita perlu membayar cepek kepada pak > ogah > agar bisa berjalan lancar ditikungan. > Sopir bis kota, metro mini, dan angkutan umum > lainnya > juga mengurus sendiri, dimana saja dan kapan saja > mereka mau berhenti entah untuk menaikkan penumpang > bahkan untuk istirahat. > > Di jalan tol, bila terburu-buru, kita atur sendiri > mau > lewat sebelah mana. Mau melambung dari sebelah kiri > boleh, mau menerobos bahu jalan bisa, mau tiba-tiba > memotong kendaraan lain juga tidak apa-apa. > Sebaliknya > bila sedang ingin santai di jalan tol bisa juga > berkendaraan pelan-pelan dibawah 60 kilo meter > per-jam > dan ambil jalur paling kanan. > Pengendara sepeda motor boleh mengatur sendiri arah > motornya. Bila dia melihat tempat yang ditujunya > lebih > dekat dicapai dengan melawan arus kendaraan, dia > boleh > > melawan arus dengan bebas merdeka > Di malam hari, para pengendara motor boleh mengatur > sendiri apakah akan mematikan atau menyalakan lampu > motornya. > Penarik gerobak barang bekas juga bebas melawan arus > kendaraan. Tukang parkir bisa menarik ongkos parkir > semaunya. > Kendaraan yang diparkir di halaman toko dan mal pun > bayar ongkos parkir. > > Anda sedang membuat dan merenovasi rumah? Anda bebas > meletakkan timbunan batu, pasir, dan material lain > dipinggir jalan meski hal itu mengganggu kendaraan > lain yang lewat. Tidak akan ada mantri kontroler > yang > menegur apalagi memberi sanksi. Anda pusing > memikirkan > > sekolah anak-anak? Anda harus berupaya sendiri untuk > mencari sekolah, mencari biayanya meski penghasilan > anda tidak > mencukupi. > Kita merasa gaji tidak cukup? > Ya kita harus urus sendiri, supaya cukup atau cari > sendiri cara lain untuk mencari penghasilan > tambahan. > > Begitu pula urus sendirilah jika kita atau anggota > keluarga sakit meski kita termasuk golongan miskin. > Mau periksa dokter, kita bayar sendiri. > Perlu ambulans kita urus sendiri. > Mau dirawat dirumah sakit bersiap membayar sendiri > jika mau diobati. > Meninggal pun kita urus sendiri semua hal, mulai > dari > surat RT sampai mengurus kuburan, dan jangan lupa > untuk membayar sewa kuburan. > Beruntunglah karena kita punya banyak tetangga yang > senasib sehingga saling membantu. > > Saya pernah kuliah diluar negeri. Rasanya banyak hal > yang tidak perlu saya urus sendiri. > Sampah tinggal dimasukkan kedalam tas plastik yang > diberikan gratis, diletakkan di depan pintu rumah > lalu > esok harinya sampah itu sudah raib tanpa saya harus > iuran dengan tetangga untuk membayar tukang sampah. > > Mengendarai mobil rasanya aman karena tertib, > teratur > dan merasa polisi dimana-mana sehingga tidak berani > melakukan pelanggaran lalu lintas, tidak ada pak > ogah, > tidak ada yang menerobos lampu merah, dan tidak ada > kendaraan yang melawan arus. > Ongkos parkir hanya dikenakan bila kita parkir di > tepijalan, sedangkan di halaman toko, di halaman > hotel > dan mal umumnya gratis. > > Bila jalan aspal didepan rumah berlubang, tinggal > telepon pemerintah kota, lalu tidak lama kemudian > jalan sudah di aspal. Bahkan, kadang belum sempat > menelepon, jalan sudah diperbaiki. Listrik dibayar > tiap tiga bulan saking rendahnya tarif listrik. > Air mandi dan air minum tidak perlu mengebor > sendiri, > karena sudah disediakan oleh perusahaan air minum, > dan airnya bisa langsung diminum tanpa dimasak dan > disediakan gratis. > > Karena status saya mahasiswa, maka istri saya bebas > dari biaya melahirkan dan disantuni sampai anak saya > cukup besar. Ketika sakit, saya tidak merasa risau > karena mahasiswa dan kaum miskin mendapat perawatan > gratis di rumah sakit yang bagus dan bersih. > Anak saya sekolah juga tanpa bayar. > > Pasti akan ada yang mengatakan, banyak hal itu > diberikan gratis karena warga negara membayar pajak. > Tetapi rasanya kita membayar pajak dengan taat. > PBB kita bayar, merokok dan makan direstoran kita > bayar pajak. Masuk ketoilet umum, kita bayar pajak. > Bahkan, setiap hari kita juga bayar pajak tak resmi > kepada pak ogah, kepada satpam yang baru tersenyum > kalau diberi tip, kepada penjaga toilet di mal yang > tiba-tiba menyodorkan tissue, kepada pegawai urusan > KTP, dan seterusnya. > > Karena itu, rasanya pemerintah tidak (perlu) ada. > > Pemerintah baru terasa ada bila mahasiswa dan buruh > ditangkapi atau dipukuli karena berdemo minta > harga-harga diturunkan. > Pemerintah baru ada jika sedang naik haji atau > berkunjung ke luar negeri dengan rombongan besar > dengan pelayanan negara. > Tetapi pemerintah menghilang bila berkaitan dengan > urusan kesejahteraan dan keamanan rakyat. > > Apabila kita mengurus sendiri masalah ketertiban, > keamanan, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan > banyak hal lainnya, sedangkan pemerintah baru hadir > ketika mahasiswa dan buruh digebuki, lalu untuk apa > pemerintah ??? > Apakah kita masih memerlukan pemerintah?! > > Amir Santosa > Dosen ilmu politik di FISIP UI > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh > civitas > AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR > --------------------------------------------------------------------- > Unsubscribe, e-mail: > [EMAIL PROTECTED] > Untuk melihat perintah, e-mail: > [EMAIL PROTECTED] > Website : http://www.alumni-akabogor.org/ > Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/ __________________________________ Do you Yahoo!? Get better spam protection with Yahoo! Mail. http://antispam.yahoo.com/tools --------------------------------------------------------------------- Media Komunikasi Alumni, mahasiswa dan seluruh civitas AKADEMI KIMIA ANALISIS BOGOR --------------------------------------------------------------------- Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Untuk melihat perintah, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Website : http://www.alumni-akabogor.org/ Archive : http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/
