The Flying Istana ala JokowiA43 - Tuesday, August 10, 2021 17:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-flying-istana-ala-jokowi
 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana tiba di New Delhi, India, 
untuk menghadiri KTT ASEAN-India pada Januari 2018 silam. (Foto: BPMI Setpres)
7 min read

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk melakukan pengecatan ulang 
pesawat kepresidenan Indonesia One (A-001) meski pandemi Covid-19 tengah 
menghantam Indonesia. Mengapa pesawat kepresidenan memiliki peran penting bagi 
pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I'm counting on you, red, white, and blue” – President James Marshall, Air 
Force One (1997)

Kalimat di atas merupakan kutipan percakapan yang diucapkan oleh karakter 
Presiden Amerika Serikat (AS) James Marshall dalam sebuah film yang berjudul 
Air Force One (1997). Dalam film ini, tokoh yang diperankan oleh Harrison Ford 
tersebut tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia setelah Perang Dingin 
berakhir pada awal dekade 1990-an.

Namun, kunjungan itu berubah menjadi malapetaka ketika Marshall, keluarganya, 
dan staf-staf kepresidenan AS harus berhadapan dengan sekelompok teroris yang 
membajak pesawat kepresidenan yang dikenal sebagai Air Force One itu. Bak 
pahlawan negara yang serba berani, Marshall melakukan berbagai aksi untuk 
kembali mengambil alih pesawat kebanggaan AS tersebut.

Kehadiran film ini mungkin memberikan pesan lain, yakni bagaimana pesawat 
seperti Air Force One dapat menciptakan reputasi tersendiri bagi pemimpin 
negara tersebut. Mungkin, inilah mengapa kini makin banyak pemimpin negara 
ingin memiliki pesawat ekslusif nan megah bak pesawat yang ditumpangi oleh 
Marshall.

Mantan Presiden Afrika Selatan (Afsel) Jacob Zuma, misalnya, pada tahun 2015, 
mengusulkan agar pesawat kepresidenan Inkwazi diganti dengan pesawat yang baru. 
Selain Zuma dengan Inkwazi-nya, terdapat juga kisah dari Presiden Niger 
Mahamadou Issoufou yang pada tahun 2014 mengumumkan pembelian pesawat baru guna 
menggantikan Eagle One yang lama – sebuah belanja negara yang digadang-gadang 
sebagai pembelian yang “prestisius”.

Baca Juga: Jokowi Jadi Anak Modif?

 
Boleh jadi, hal yang sama juga berlaku bagi pemerintah Indonesia. Kali ini, 
pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk mengecat ulang pesawat 
Indonesia One dari yang semula berwarna biru dan putih menjadi merah dan putih.

Tak lepas dari polemik, sejumlah pengamat penerbangan, seperti Alvin Lie, 
menilai keputusan itu murni hanya mengandung tujuan estetika, bukan karena 
alasan maintenance pesawat. Ada juga pakar pertahanan dan keamanan, seperti 
Khairul Fahmi, menilai bahwa warna merah dan putih yang baru malah mengancam 
keamanan pesawat  ketika mengudara.

Terlepas dari berbagai perdebatan itu, pemerintahan Jokowi tampaknya tidak 
menjawab secara pasti apa tujuan sebenarnya di balik pengecatan ulang tersebut. 
Alih-alih memberikan alasan yang jelas, pihak Istana hanya menyuguhkan frasa 
“sudah dianggarkan” sebagai alasan – bahkan dikaitkan juga dengan peringatan 
kemerdekaan Indonesia ke-75 pada tahun 2020 lalu.

Bila berkaca pada kasus Zuma dan Issoufou, kontroversi yang muncul seputar 
pesawat kepresidenan bukanlah hal unik yang hanya ada di Indonesia. Lantas, 
mengapa pesawat kepresidenan ini dianggap penting? Perlukah Jokowi mengecat 
ulang Indonesia One?



The Flying Istana?
Bukan tidak mungkin, dengan kejayaan Air Force One yang juga dijuluki sebagai 
the Flying White House itu, banyak negara akhirnya berusaha mengikuti jejak AS. 
Dengan memiliki pesawat kepresidenan, negara tersebut bisa jadi dapat 
memperoleh prestise (prestige) pada tingkat tertentu.

Asumsi ini dapat dilihat dari bagaimana Air Force One kerap dikaitkan sebagai 
simbol atas kekuatan negeri Paman Sam. Setidaknya, hal ini diungkapkan oleh 
Kenneth T. Walsh dalam bukunya yang berjudul Air Force One.

Terdapat sejumlah peran yang disebutnya dimainkan oleh pesawat kepresidenan AS 
tersebut. Salah satunya adalah sebagai simbol kekuatan (power), kebebasan 
(freedom), dan prestise (prestige).

Peran ini bisa dimainkan oleh Air Force One karena pesawat ini mudah dan 
langsung bisa dikenali oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia. Mungkin, 
ini juga terjadi akibat meledaknya film yang dibintangi oleh Harrison Ford – 
serta sejumlah produk budaya populer lainnya seperti seri televisi The West 
Wing (1999-2006).

Baca Juga: Cat Pesawat Presiden, Apa Salahnya?


Terlepas dari peran budaya populer tersebut, ada satu istilah Walsh yang bisa 
dibahas lebih lanjut, yakni prestise. Prestise sendiri merupakan konsep yang 
tidak asing lagi terdengar dalam dunia politik, khususnya dunia politik 
antar-negara.

Pentingnya konsep ini juga diakui oleh Steve Wood dari Macquarie University, 
Australia, dalam tulisannya yang berjudul Prestige in World Politics. 
Menurutnya, suatu negara – layaknya sifat alami manusia – juga memiliki 
dorongan agar mendapatkan pengakuan sosial (social recognition) dalam hubungan 
yang dijalin dengan negara-negara lainnya.

Mungkin, dorongan inilah yang akhirnya membuat banyak negara ingin memiliki 
pesawat kepresidenan seperti apa yang dimiliki oleh Marshall, termasuk 
pemerintah Indonesia. Wood – dengan mengutip Gregory Crane – melanjutkan bahwa 
simbol-simbol seperti ini bisa menjadi tanda dari prestise.

Bukan tidak mungkin, pengakuan ini pun datang dari simbol yang ada – seperti 
apa yang dijelaskan Walsh mengenai tulisan “United States of America” yang 
tertera di badan Air Force One. Apakah simbol ini juga yang ingin didapatkan 
oleh pemerintahan Jokowi melalui pengecatan ulang Indonesia One?

Pemerintahan Jokowi bisa saja ingin memanfaatkan simbol warna merah dan putih 
di badan pesawat Indonesia One. Pihak Istana pun selalu mengaitkan pengecatan 
ulang tersebut dengan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 
Agustus nanti. Apalagi, prestise juga berkaitan dengan identitas kolektif suatu 
negara.

Ada kemungkinan tampilan baru Indonesia One yang baru ini akan mejeng di 
sejumlah pertemuan tingkat tinggi di masa mendatang. Konferensi Tingkat Tinggi 
(KTT) G20 2021, misalnya, akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2021 di Roma, 
Italia – di mana Jokowi akan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara besar 
lainnya seperti Presiden AS Joe Biden dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok 
(RRT) Xi Jinping.

Namun, meski kekuatan simbol dari the flying Istana ini penting dalam diplomasi 
dan politik luar negeri, timbulnya perdebatan publik atas pengecatan ulang 
Indonesia One tentu menandakan adanya persoalan lain. Mengapa kebijakan 
tersebut justru ditentang oleh banyak pihak bila memang pesawat kepresidenan 
dapat menjadi simbol kolektif dan sumber prestise bagi Indonesia?



Indonesia Masih ‘Insecure’?
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, negara pun bertindak layaknya 
individu manusia biasa. Tentunya, menjadi sifat alami negara juga bahwa 
pengakuan sosial dianggap penting.

Namun, layaknya manusia juga, negara juga memiliki berbagai kebutuhan. Umumnya, 
bak pelajaran soal kebutuhan ekonomi yang kita dapatkan semasa sekolah, negara 
pun perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan utamanya, seperti sandang, pangan, dan 
papan.

Baca Juga: Beli Pesawat, Jokowi-AS Rujuk?

 
Tiga kebutuhan itu merupakan kebutuhan primer yang perlu didahulukan – 
dibandingkan kebutuhan sekunder dan kebutuhan primer. Apa yang kita pelajari 
saat sekolah ini bisa dijelaskan melalui teori hierarki kebutuhan (hierarchy of 
needs) dari ahli psikologi ternama AS, yakni Abraham Maslow.

Dengan model berbentuk piramida, Maslow menyebutkan bahwa manusia perlu 
memenuhi kebutuhan fisiologisnya terlebih dahulu, seperti udara, air, makanan, 
kesehatan, tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya.

Setelah kebutuhan-kebutuhan itu terpenuhi, barulah manusia merasa perlu 
memenuhi kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial dan 
kasih sayang, kepercayaan diri, kebutuhan kognitif, estetika, hingga kebutuhan 
spiritual.

Piramida kebutuhan ini akhirnya juga diadopsi oleh Casey P. Hayden dalam 
tulisannya yang berjudul A Hierarchy of Needs in International Relations untuk 
menjelaskan tata perilaku negara. Hampir sama dengan piramida ala Maslow, 
Hayden memodifikasinya menjadi lima tingkat kebutuhan, yakni (1) kebutuhan 
legitimasi, (2) kebutuhan keamanan domestik, (3) kebutuhan keamanan eksternal, 
(4) kebutuhan prestise, dan (5) kebutuhan identitas sebagai negara kuat.

Pemerintah Indonesia kini bisa dibilang telah memiliki legitimasi untuk 
memimpin rakyatnya – dengan pengakuan terhadap pemerintah baik secara internal 
maupun eksternal. Namun, pemerintah juga perlu memenuhi kebutuhan lainnya, 
yakni perasaan aman (security) dari kesakitan, kehilangan, dan ketakutan.

Dari sini, konsep hierarki kebutuhan negara ini bisa jadi memberikan secerca 
jawaban atas pertanyaan mengapa pengecatan ulang ini menjadi persoalan. Pandemi 
Covid-19 yang tengah menghantam Indonesia bukan tidak mungkin telah membuat 
perasaan aman itu hilang – misalnya pekerjaan (job security) dan kesehatan 
(well-being) yang menurut Maslow berada di tingkat kedua piramida.

Boleh jadi, elemen kebutuhan ini yang diabaikan oleh pemerintahan Jokowi dalam 
mengejar kebutuhan prestise yang justru jauh berada di tingkat keempat. Tidak 
mengherankan apabila upaya pemenuhan kebutuhan tersier tersebut menjadi 
persoalan di masyarakat.

Mungkin, masalah utama dari polemik pesawat kepresidenan Jokowi ini adalah 
bagaimana pemerintah perlu menata ulang prioritas kebutuhannya. Bahkan, 
Marshall di film Air Force One pun sadar bahwa perasaan aman menjadi hal yang 
paling penting ketika pesawat kepresidenannya dibajak oleh para teroris. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5A9E65EDE67B4B9892D9DBBF593748C4%40A10Live.

Reply via email to