Punya pesawat presiden hanya untuk menunjukan kehebatan  negerinya yang
dibebani hutang untuk 7 turunan.

On Wed, Aug 11, 2021 at 2:49 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> The Flying Istana ala Jokowi
> *A43 * <https://www.pinterpolitik.com/author/a43-162>*- Tuesday, August
> 10, 2021 17:00*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-flying-istana-ala-jokowi
> *Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana tiba di New Delhi,
> India, untuk menghadiri KTT ASEAN-India pada Januari 2018 silam. (Foto:
> BPMI Setpres)*
>
> *7 min read*
>
> *Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk melakukan pengecatan
> ulang pesawat kepresidenan Indonesia One (A-001) meski pandemi Covid-19
> tengah menghantam Indonesia. Mengapa pesawat kepresidenan memiliki peran
> penting bagi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>
> *“I'm counting on you, red, white, and blue” – President James
> Marshall, Air Force One (1997)*
>
> Kalimat di atas merupakan kutipan percakapan yang diucapkan oleh karakter
> Presiden Amerika Serikat (AS) James Marshall dalam sebuah film yang berjudul
>  *Air Force One* (1997). Dalam film ini, tokoh yang diperankan oleh
> Harrison Ford tersebut tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia
> setelah Perang Dingin berakhir pada awal dekade 1990-an.
>
> Namun, kunjungan itu berubah menjadi malapetaka ketika Marshall,
> keluarganya, dan staf-staf kepresidenan AS harus berhadapan dengan
> sekelompok teroris yang membajak pesawat kepresidenan yang dikenal sebagai
> Air Force One itu. Bak pahlawan negara yang serba berani, Marshall
> melakukan berbagai aksi untuk kembali mengambil alih pesawat kebanggaan AS
> tersebut.
>
> Kehadiran film ini mungkin memberikan pesan lain, yakni bagaimana pesawat
> seperti Air Force One dapat menciptakan reputasi tersendiri bagi pemimpin
> negara tersebut. Mungkin, inilah mengapa kini makin banyak pemimpin negara
> ingin memiliki pesawat ekslusif nan megah bak pesawat yang ditumpangi oleh
> Marshall.
>
> Mantan Presiden Afrika Selatan (Afsel) Jacob Zuma, misalnya, pada tahun
> 2015, mengusulkan agar pesawat kepresidenan Inkwazi diganti dengan pesawat
> yang baru. Selain Zuma dengan Inkwazi-nya, terdapat juga kisah dari
> Presiden Niger Mahamadou Issoufou yang pada tahun 2014 mengumumkan
> pembelian pesawat baru guna menggantikan Eagle One yang lama – sebuah
> belanja negara yang digadang-gadang sebagai pembelian yang “prestisius”.
>
> *Baca Juga: **Jokowi Jadi Anak Modif?*
> <https://www.pinterpolitik.com/celoteh/jokowi-jadi-anak-modif>
> [image: Pesawat Jokowi Pengecatan Ulang]
> <https://www.instagram.com/p/CSGtIKphQie/>
>
> Boleh jadi, hal yang sama juga berlaku bagi pemerintah Indonesia. Kali
> ini, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk mengecat ulang
> pesawat Indonesia One dari yang semula berwarna biru dan putih menjadi
> merah dan putih.
>
> Tak lepas dari polemik, sejumlah pengamat penerbangan, seperti Alvin Lie,
> menilai keputusan itu murni hanya mengandung tujuan estetika, bukan karena
> alasan *maintenance* pesawat. Ada juga pakar pertahanan dan keamanan,
> seperti Khairul Fahmi, menilai bahwa warna merah dan putih yang baru malah
> mengancam keamanan pesawat  ketika mengudara.
>
> Terlepas dari berbagai perdebatan itu, pemerintahan Jokowi tampaknya tidak
> menjawab secara pasti apa tujuan sebenarnya di balik pengecatan ulang
> tersebut. Alih-alih memberikan alasan yang jelas, pihak Istana hanya
> menyuguhkan frasa “sudah dianggarkan” sebagai alasan – bahkan dikaitkan
> juga dengan peringatan kemerdekaan Indonesia ke-75 pada tahun 2020 lalu.
>
> Bila berkaca pada kasus Zuma dan Issoufou, kontroversi yang muncul seputar
> pesawat kepresidenan bukanlah hal unik yang hanya ada di Indonesia. Lantas,
> mengapa pesawat kepresidenan ini dianggap penting? Perlukah Jokowi mengecat
> ulang Indonesia One?
>
>
> *The Flying Istana?*
>
> Bukan tidak mungkin, dengan kejayaan Air Force One yang juga dijuluki
> sebagai *the Flying White House* itu, banyak negara akhirnya berusaha
> mengikuti jejak AS. Dengan memiliki pesawat kepresidenan, negara tersebut
> bisa jadi dapat memperoleh prestise (*prestige*) pada tingkat tertentu.
>
> Asumsi ini dapat dilihat dari bagaimana Air Force One kerap dikaitkan
> sebagai simbol atas kekuatan negeri Paman Sam. Setidaknya, hal ini
> diungkapkan oleh Kenneth T. Walsh dalam bukunya yang berjudul *Air Force
> One*.
>
> Terdapat sejumlah peran yang disebutnya dimainkan oleh pesawat
> kepresidenan AS tersebut. Salah satunya adalah sebagai simbol kekuatan (
> *power*), kebebasan (*freedom*), dan prestise (*prestige*).
>
> Peran ini bisa dimainkan oleh Air Force One karena pesawat ini mudah dan
> langsung bisa dikenali oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia.
> Mungkin, ini juga terjadi akibat meledaknya film yang dibintangi oleh
> Harrison Ford – serta sejumlah produk budaya populer lainnya seperti seri
> televisi *The West Wing* (1999-2006).
>
> *Baca Juga: **Cat Pesawat Presiden, Apa Salahnya?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cat-pesawat-presiden-apa-salahnya>
>
> Terlepas dari peran budaya populer tersebut, ada satu istilah Walsh yang
> bisa dibahas lebih lanjut, yakni prestise. Prestise sendiri merupakan
> konsep yang tidak asing lagi terdengar dalam dunia politik, khususnya dunia
> politik antar-negara.
>
> Pentingnya konsep ini juga diakui oleh Steve Wood dari Macquarie
> University, Australia, dalam tulisannya yang berjudul *Prestige in World
> Politics*. Menurutnya, suatu negara – layaknya sifat alami manusia – juga
> memiliki dorongan agar mendapatkan pengakuan sosial (*social recognition*)
> dalam hubungan yang dijalin dengan negara-negara lainnya.
>
> Mungkin, dorongan inilah yang akhirnya membuat banyak negara ingin
> memiliki pesawat kepresidenan seperti apa yang dimiliki oleh Marshall,
> termasuk pemerintah Indonesia. Wood – dengan mengutip Gregory Crane –
> melanjutkan bahwa simbol-simbol seperti ini bisa menjadi tanda dari
> prestise.
>
> Bukan tidak mungkin, pengakuan ini pun datang dari simbol yang ada –
> seperti apa yang dijelaskan Walsh mengenai tulisan “United States of
> America” yang tertera di badan Air Force One. Apakah simbol ini juga yang
> ingin didapatkan oleh pemerintahan Jokowi melalui pengecatan ulang
> Indonesia One?
>
> Pemerintahan Jokowi bisa saja ingin memanfaatkan simbol warna merah dan
> putih di badan pesawat Indonesia One. Pihak Istana pun selalu mengaitkan
> pengecatan ulang tersebut dengan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada
> tanggal 17 Agustus nanti. Apalagi, prestise juga berkaitan dengan identitas
> kolektif suatu negara.
>
> Ada kemungkinan tampilan baru Indonesia One yang baru ini akan mejeng di
> sejumlah pertemuan tingkat tinggi di masa mendatang. Konferensi Tingkat
> Tinggi (KTT) G20 2021, misalnya, akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2021
> di Roma, Italia – di mana Jokowi akan bertemu dengan pemimpin-pemimpin
> negara besar lainnya seperti Presiden AS Joe Biden dan Presiden Republik
> Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping.
>
> Namun, meski kekuatan simbol dari *the flying* Istana ini penting dalam
> diplomasi dan politik luar negeri, timbulnya perdebatan publik atas
> pengecatan ulang Indonesia One tentu menandakan adanya persoalan lain.
> Mengapa kebijakan tersebut justru ditentang oleh banyak pihak bila memang
> pesawat kepresidenan dapat menjadi simbol kolektif dan sumber prestise bagi
> Indonesia?
>
>
> *Indonesia Masih ‘Insecure’?*
>
> Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, negara pun bertindak layaknya
> individu manusia biasa. Tentunya, menjadi sifat alami negara juga bahwa
> pengakuan sosial dianggap penting.
>
> Namun, layaknya manusia juga, negara juga memiliki berbagai kebutuhan.
> Umumnya, bak pelajaran soal kebutuhan ekonomi yang kita dapatkan semasa
> sekolah, negara pun perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan utamanya, seperti
> sandang, pangan, dan papan.
>
> *Baca Juga: **Beli Pesawat, Jokowi-AS Rujuk?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/beli-pesawat-jokowi-as-rujuk>
> [image: Pesawat Kepresidenan dari Soekarno hingga Jokowi]
> <https://www.instagram.com/p/CSMEcaGFNnn/>
>
> Tiga kebutuhan itu merupakan kebutuhan primer yang perlu didahulukan –
> dibandingkan kebutuhan sekunder dan kebutuhan primer. Apa yang kita
> pelajari saat sekolah ini bisa dijelaskan melalui teori hierarki kebutuhan 
> (*hierarchy
> of needs*) dari ahli psikologi ternama AS, yakni Abraham Maslow.
>
> Dengan model berbentuk piramida, Maslow menyebutkan bahwa manusia perlu
> memenuhi kebutuhan fisiologisnya terlebih dahulu, seperti udara, air,
> makanan, kesehatan, tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya.
>
> Setelah kebutuhan-kebutuhan itu terpenuhi, barulah manusia merasa perlu
> memenuhi kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial
> dan kasih sayang, kepercayaan diri, kebutuhan kognitif, estetika, hingga
> kebutuhan spiritual.
>
> Piramida kebutuhan ini akhirnya juga diadopsi oleh Casey P. Hayden dalam
> tulisannya yang berjudul *A Hierarchy of Needs in International Relations*
>  untuk menjelaskan tata perilaku negara. Hampir sama dengan piramida ala
> Maslow, Hayden memodifikasinya menjadi lima tingkat kebutuhan, yakni (1)
> kebutuhan legitimasi, (2) kebutuhan keamanan domestik, (3) kebutuhan
> keamanan eksternal, (4) kebutuhan prestise, dan (5) kebutuhan identitas
> sebagai negara kuat.
>
> Pemerintah Indonesia kini bisa dibilang telah memiliki legitimasi untuk
> memimpin rakyatnya – dengan pengakuan terhadap pemerintah baik secara
> internal maupun eksternal. Namun, pemerintah juga perlu memenuhi kebutuhan
> lainnya, yakni perasaan aman (*security*) dari kesakitan, kehilangan, dan
> ketakutan.
>
> Dari sini, konsep hierarki kebutuhan negara ini bisa jadi memberikan
> secerca jawaban atas pertanyaan mengapa pengecatan ulang ini menjadi
> persoalan. Pandemi Covid-19 yang tengah menghantam Indonesia bukan tidak
> mungkin telah membuat perasaan aman itu hilang – misalnya pekerjaan (*job
> security*) dan kesehatan (*well-being*) yang menurut Maslow berada di
> tingkat kedua piramida.
>
> Boleh jadi, elemen kebutuhan ini yang diabaikan oleh pemerintahan Jokowi
> dalam mengejar kebutuhan prestise yang justru jauh berada di tingkat
> keempat. Tidak mengherankan apabila upaya pemenuhan kebutuhan tersier
> tersebut menjadi persoalan di masyarakat.
>
> Mungkin, masalah utama dari polemik pesawat kepresidenan Jokowi ini adalah
> bagaimana pemerintah perlu menata ulang prioritas kebutuhannya. Bahkan,
> Marshall di film *Air Force One* pun sadar bahwa perasaan aman menjadi
> hal yang paling penting ketika pesawat kepresidenannya dibajak oleh para
> teroris. (A43)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5A9E65EDE67B4B9892D9DBBF593748C4%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5A9E65EDE67B4B9892D9DBBF593748C4%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Ag8T9nXrj25eBAK3A6UJ4SmPutq8Dqk8wrGjopM5KC_Q%40mail.gmail.com.

Reply via email to