*LALU SIAPA BILANG HABIB RIEZIQ MASIH BISA BERKUTIK ?* Pada tanggal Jum, 26 Nov 2021 pukul 07.08 Chan CT <[email protected]> menulis:
> Rizieq Shihab Tidak Berkutik di 2024? > *R53 * <https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>*- Thursday, > November 25, 2021 16:27* > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rizieq-shihab-tidak-berkutik-di-2024 > *Habib Rizieq Shihab (Foto: Pikiran Rakyat)* > > *6 min read* > > *Jika dibebaskan sebelum 2024, berbagai pihak menilai Rizieq Shihab akan > memberikan dampak yang besar di kontestasi pilpres nanti. Namun, apabila > melihat fenomena politik dan variabel yang ada, mungkinkah pengaruh politik > Rizieq Shihab terlalu dilebih-lebihkan?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/> > > *“Strategy without tactics is the slowest route to victory. Tactics > without strategy is the noise before defeat.” – Sun Tzu* > > Akan ada reuni di 2021. Tapi ini bukan reuni teman-teman SMA atau kuliah, > melainkan Reuni Akbar 212. Menurut Wasekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212, > Novel Bamukmin, saat ini masih dalam proses perizinan dan akan diumumkan > ketika telah menuai hasil. Namun sedikit berbeda, reuni kali ini tidak > diadakan di Monumen Nasional (Monas), melainkan di kawasan Patung Kuda. > > Tidak hanya wacana Reuni Akbar 212 yang tengah menjadi sorotan publik, > melainkan juga kabar Habib Rizieq Shihab (HRS). Pasalnya, pada 15 November, > Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi dan mengurangi pidana HRS dari empat > menjadi dua tahun. Menurut pengacara HRS, Aziz Yanuar, atas keputusan ini, > HRS diperkirakan akan bebas pada 2023 nanti. > > Dengan pemotongan masa hukuman tersebut, besar kemungkinan HRS akan > terlibat di panggung Pilpres 2024. Berbagai pengamat politik juga tengah > menaruh atensi pada potensi ini. Direktur Riset Indonesian Presidential > Studies (IPS) Arman Salam, misalnya, menyebut keluarnya HRS sebelum Pilpres > 2024 akan memberikan pengaruh dalam perhelatan pilpres nanti. > > *Baca Juga:* *Demokrasi Perkeruh Situasi Habib Rizieq?* > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/demokrasi-perkeruh-situasi-habib-rizieq> > > Senada, Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, juga dengan lugas > menyebut HRS sebagai ulama pemberani yang memiliki pengaruh. Pun demikian > dengan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin > yang menilai pengaruh HRS masih besar pada pengikut-pengikutnya, meskipun > tengah di penjara. > > Tentu pertanyaannya, apakah tepat dugaan-dugaan itu? Katakanlah HRS keluar > sebelum Pilpres 2024, apakah ia akan memberikan pengaruh dalam kontestasi? > > > *HRS** Overrated?* > > Sayangnya, apabila kita membaca variabel-variabel yang ada, tampaknya > pengaruh HRS terlalu dilebih-lebihkan. Ada enam alasan kenapa simpulan > tersebut dapat ditarik. > > *Pertama*, besarnya nama HRS sebenarnya adalah buah dari kesalahan > strategi. Pada 2017 lalu, entah bagaimana awalnya, HRS dan Front Pembela > Islam (FPI) seolah diposisikan sebagai musuh ideologi. Ini juga tidak > terlepas dari berkembangnya narasi khilafah saat itu. Untuk membendung > gerakan HRS, FPI, dan PA 212, mereka kemudian disebut sebagai kelompok > anti-toleransi, tidak Pancasilais, dan berbahaya bagi ideologi negara. > > > Persoalan tersebut seayun dengan tulisan Daniel Arnon, Peace Edwards dan > Handi Li yang berjudul *Propaganda as Protest Prevention: How Regime > Labeling Deters Citizens from Protesting—Without Persuading Them. *Menurut > mereka, salah satu strategi represi pemerintah adalah dengan melabeli atau > memberikan predikat negatif dalam upaya mendiskreditkan pihak yang > berseberangan dengan mereka. > > Namun sayangnya, strategi melabeli itu mendatangkan *backlash*. Alih-alih > melemahkan persepsi, HRS justru semakin mendapatkan simpati massa, > khususnya dari kelompok yang menilai Islam tengah dijadikan nomor dua. > > *Kedua*, jika pengakuan Jusuf Kalla (JK) benar bahwa dirinya yang > berperan dalam meyakinkan Prabowo Subianto dan PKS untuk mendukung Anies > Baswedan di Pilgub DKI Jakarta 2017, maka dapat dikatakan, dukungan HRS > bukanlah faktor utama majunya Anies. > > *Ketiga*, secara mengejutkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang justru > menang di tempat pemungutan suara (TPS) 17 di Jalan Petamburan IV. Padahal, > TPS itu berada di lingkungan markas besar FPI. Oleh karenanya, dapat > dikatakan bahwa karisma HRS tidak mencukupi untuk mempengaruhi warga > sekitarnya agar mencoblos Anies. > > *Baca Juga:* *Habib Rizieq Tidak Powerful, Overrated?* > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/habib-rizieq-tidak-powerful-overrated-6> > > *Keempat*, mengenai popularitas HRS, pengamat masalah keislaman dan > pemerhati politik komunitas Arab di Indonesia, Ahmad Syarif Syechbubakar > menyiratkan komentar menarik. Menurutnya, memang benar HRS dan FPI populer > di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera. > > Namun, jika bergeser ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, popularitas > HRS masih kalah jauh dari kiai, ulama, dan habaib yang berafiliasi ke > Nahdlatul Ulama (NU). Dan secara nasional, NU dan Muhammadiyah memang masih > terlalu kuat pengaruhnya dibandingkan organisasi Islam manapun. > > *Kelima*, HRS terlihat tidak dapat berbuat banyak pada berbagai kasus > hukum yang menimpa. Dengan demikian, sekiranya dapat dikatakan bahwa HRS > tidak memiliki dukungan politik dan hukum yang mencukupi. > > Simpulan ini dapat ditarik apabila kita merujuk tulisan Francesca > Jensenius yang berjudul *Caught in the Act but not Punished: On Elite > Rule of Law and Deterrence*. Menurutnya, terdapat perbedaan yang mengarah > pada diskriminasi dari proses penegakan hukum karena kelompok elite memiliki > *de facto immunity, *yakni cenderung tidak mendapatkan hukuman dari > pelanggaran yang dilakukannya. > > Kelompok elite yang dimaksud merupakan orang yang memiliki kekuatan > ekonomi, status sosial, dan pengaruh politik. Kelompok elite lebih mudah > menghindari hukuman melalui berbagai cara seperti suap, pertemanan, > ancaman, koersi dan bentuk lainnya. Mengacu pada Jensenius, HRS mungkin > tidak termasuk ke dalam kelompok elite tersebut. > > *Keenam*, faktanya, dukungan HRS di dua gelaran pilpres tidak > menghantarkan kemenangan bagi Prabowo Subianto. Juru bicara Menteri > Pertahanan (Menhan), Dahnil Anzar Simanjuntak bahkan sempat menarik > kontroversi pada April kemarin karena menyebut dukungan HRS di Pilpres 2019 > tidak signifikan bagi Prabowo. "Jadi jangan kau pikir dia [HRS] penambah > suara. Jangan-jangan pengurang gara-gara dia," tulisnya. > *Perlu Siapkan Logistik* > > Di titik ini, mungkin ada yang tidak setuju pada keenam alasan tersebut > karena faktanya, HRS memang menjadi magnet massa. Kepulangannya di > Indonesia pada November 2020 juga mengundang lautan manusia. > > Katakanlah HRS benar-benar memiliki pengaruh politik besar, suka atau > tidak, itu bukan menjadi jaminan ia akan mempengaruhi kontestasi pilpres > mendatang. Kita dapat membaca nasihat-nasihat perang Sun Tzu dalam buku *The > Art of War* untuk menyimpulkan hal ini. > > Mengutip Andri Wang dalam bukunya *The Art of War: Menelusuri Strategi > dan Taktik Perang ala Sun Zi*, Sun Tzu menjelaskan agar menyerang secara > diam-diam dan mengejutkan. Menyeranglah seperti kobaran api sehingga musuh > tidak menduga serangan tersebut. > > Nah, jika HRS nantinya bebas sebelum Pilpres 2024, kemudian bersama > pengikut-pengikutnya dengan lantang menyebut akan terlibat dalam > kontestasi, bukan tidak mungkin mereka akan diredam sejak dini. Kendati > konteksnya tidak sama, analoginya dapat kita tarik dari kasus Bahar bin > Smith pada Mei 2020. Ketika bebas dari penjara pada 16 Mei 2020, Bahar > dinilai mengeluarkan ceramah provokatif dan mengundang rasa permusuhan > kepada pemerintah. > > Menurut Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), > Reynhard Silitonga, itu menjadi salah satu alasan untuk mencabut program > asimilasinya. Imbasnya, pada 19 Mei, Bahar kembali dijebloskan ke Lembaga > Pemasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur, Bogor. > > *Baca Juga: **Rizieq dan FPI Bangkitkan Islamofobia?* > <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rizieq-dan-fpi-bangkitkan-islamofobia> > > Jika benar ingin terlibat di Pilpres 2024 nanti, HRS tidak boleh > menunjukkan niatnya secara kentara. Apalagi, berbagai partai politik, > termasuk PKS sudah menegaskan untuk tidak menggunakan politik identitas > seperti di Pilpres 2019. Artinya, HRS tidak akan mendapat sokongan politik > dari parpol seperti sebelumnya. > > Kembali mengutip Sun Tzu, dalam perang yang terpenting adalah menyiapkan > logistik. Percuma memiliki senjata yang bagus, prajurit yang hebat dan > berani, namun tidak memiliki logistik yang cukup. Dukungan partai politik > adalah logistik dalam konteks ini. > > Oleh karenanya, agar dapat memberikan peran signifikan, HRS perlu > mengumpulkan logistik-logistik kekuatan politik. Seperti kutipan pernyataan > Sun Tzu di awal tulisan, “Strategi tanpa taktik adalah rute paling lambat > menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi adalah kebisingan sebelum > kekalahan.” > > Jika tidak menyiapkan logistik yang cukup, serta taktik dan strategi yang > mumpuni, jangan berharap HRS dapat berbicara banyak di Pilpres 2024 nanti. > (R53) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/47F6C182AF27406FBF005AF95CFFBC02%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/47F6C182AF27406FBF005AF95CFFBC02%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CALcuTPS93fsQGTSh%2BFZ1WWO83wH6%3DSbPhnHgjGiTfx2Q8Pr%2BcA%40mail.gmail.com.
