Rizieq Shihab Tidak Berkutik di 2024?R53 - Thursday, November 25, 2021 16:27
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rizieq-shihab-tidak-berkutik-di-2024
 
Habib Rizieq Shihab (Foto: Pikiran Rakyat)
6 min read

Jika dibebaskan sebelum 2024, berbagai pihak menilai Rizieq Shihab akan 
memberikan dampak yang besar di kontestasi pilpres nanti. Namun, apabila 
melihat fenomena politik dan variabel yang ada, mungkinkah pengaruh politik 
Rizieq Shihab terlalu dilebih-lebihkan?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Strategy without tactics is the slowest route to victory. Tactics without 
strategy is the noise before defeat.” – Sun Tzu

Akan ada reuni di 2021. Tapi ini bukan reuni teman-teman SMA atau kuliah, 
melainkan Reuni Akbar 212. Menurut Wasekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel 
Bamukmin, saat ini masih dalam proses perizinan dan akan diumumkan ketika telah 
menuai hasil. Namun sedikit berbeda, reuni kali ini tidak diadakan di Monumen 
Nasional (Monas), melainkan di kawasan Patung Kuda.

Tidak hanya wacana Reuni Akbar 212 yang tengah menjadi sorotan publik, 
melainkan juga kabar Habib Rizieq Shihab (HRS). Pasalnya, pada 15 November, 
Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi dan mengurangi pidana HRS dari empat 
menjadi dua tahun. Menurut pengacara HRS, Aziz Yanuar, atas keputusan ini, HRS 
diperkirakan akan bebas pada 2023 nanti.

Dengan pemotongan masa hukuman tersebut, besar kemungkinan HRS akan terlibat di 
panggung Pilpres 2024. Berbagai pengamat politik juga tengah menaruh atensi 
pada potensi ini. Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman 
Salam, misalnya, menyebut keluarnya HRS sebelum Pilpres 2024 akan memberikan 
pengaruh dalam perhelatan pilpres nanti.

Baca Juga: Demokrasi Perkeruh Situasi Habib Rizieq?

Senada, Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, juga dengan lugas menyebut HRS 
sebagai ulama pemberani yang memiliki pengaruh. Pun demikian dengan Direktur 
Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin yang menilai 
pengaruh HRS masih besar pada pengikut-pengikutnya, meskipun tengah di penjara.

Tentu pertanyaannya, apakah tepat dugaan-dugaan itu? Katakanlah HRS keluar 
sebelum Pilpres 2024, apakah ia akan memberikan pengaruh dalam kontestasi?



HRS Overrated?
Sayangnya, apabila kita membaca variabel-variabel yang ada, tampaknya pengaruh 
HRS terlalu dilebih-lebihkan. Ada enam alasan kenapa simpulan tersebut dapat 
ditarik. 

Pertama, besarnya nama HRS sebenarnya adalah buah dari kesalahan strategi. Pada 
2017 lalu, entah bagaimana awalnya, HRS dan Front Pembela Islam (FPI) seolah 
diposisikan sebagai musuh ideologi. Ini juga tidak terlepas dari berkembangnya 
narasi khilafah saat itu. Untuk membendung gerakan HRS, FPI, dan PA 212, mereka 
kemudian disebut sebagai kelompok anti-toleransi, tidak Pancasilais, dan 
berbahaya bagi ideologi negara. 


  
Persoalan tersebut seayun dengan tulisan Daniel Arnon, Peace Edwards dan Handi 
Li yang berjudul Propaganda as Protest Prevention: How Regime Labeling Deters 
Citizens from Protesting—Without Persuading Them. Menurut mereka, salah satu 
strategi represi pemerintah adalah dengan melabeli atau memberikan predikat 
negatif dalam upaya mendiskreditkan pihak yang berseberangan dengan mereka.

Namun sayangnya, strategi melabeli itu mendatangkan backlash. Alih-alih 
melemahkan persepsi, HRS justru semakin mendapatkan simpati massa, khususnya 
dari kelompok yang menilai Islam tengah dijadikan nomor dua. 

Kedua, jika pengakuan Jusuf Kalla (JK) benar bahwa dirinya yang berperan dalam 
meyakinkan Prabowo Subianto dan PKS untuk mendukung Anies Baswedan di Pilgub 
DKI Jakarta 2017, maka dapat dikatakan, dukungan HRS bukanlah faktor utama 
majunya Anies. 

Ketiga, secara mengejutkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang justru menang 
di tempat pemungutan suara (TPS) 17 di Jalan Petamburan IV. Padahal, TPS itu 
berada di lingkungan markas besar FPI. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa 
karisma HRS tidak mencukupi untuk mempengaruhi warga sekitarnya agar mencoblos 
Anies.

Baca Juga: Habib Rizieq Tidak Powerful, Overrated?

Keempat, mengenai popularitas HRS, pengamat masalah keislaman dan pemerhati 
politik komunitas Arab di Indonesia, Ahmad Syarif Syechbubakar menyiratkan 
komentar menarik. Menurutnya, memang benar HRS dan FPI populer di Jakarta, 
Banten, Jawa Barat, dan Sumatera.

Namun, jika bergeser ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, popularitas HRS 
masih kalah jauh dari kiai, ulama, dan habaib yang berafiliasi ke Nahdlatul 
Ulama (NU). Dan secara nasional, NU dan Muhammadiyah memang masih terlalu kuat 
pengaruhnya dibandingkan organisasi Islam manapun.

Kelima, HRS terlihat tidak dapat berbuat banyak pada berbagai kasus hukum yang 
menimpa. Dengan demikian, sekiranya dapat dikatakan bahwa HRS tidak memiliki 
dukungan politik dan hukum yang mencukupi.

Simpulan ini dapat ditarik apabila kita merujuk tulisan Francesca Jensenius 
yang berjudul Caught in the Act but not Punished: On Elite Rule of Law and 
Deterrence. Menurutnya, terdapat perbedaan yang mengarah pada diskriminasi dari 
proses penegakan hukum karena kelompok elite memiliki de facto immunity, yakni 
cenderung tidak mendapatkan hukuman dari pelanggaran yang dilakukannya.

Kelompok elite yang dimaksud merupakan orang yang memiliki kekuatan ekonomi, 
status sosial, dan pengaruh politik. Kelompok elite lebih mudah menghindari 
hukuman melalui berbagai cara seperti suap, pertemanan, ancaman, koersi dan 
bentuk lainnya. Mengacu pada Jensenius, HRS mungkin tidak termasuk ke dalam 
kelompok elite tersebut.

Keenam, faktanya, dukungan HRS di dua gelaran pilpres tidak menghantarkan 
kemenangan bagi Prabowo Subianto. Juru bicara Menteri Pertahanan (Menhan), 
Dahnil Anzar Simanjuntak bahkan sempat menarik kontroversi pada April kemarin 
karena menyebut dukungan HRS di Pilpres 2019 tidak signifikan bagi Prabowo. 
"Jadi jangan kau pikir dia [HRS] penambah suara. Jangan-jangan pengurang 
gara-gara dia," tulisnya.

 
  
Perlu Siapkan Logistik
Di titik ini, mungkin ada yang tidak setuju pada keenam alasan tersebut karena 
faktanya, HRS memang menjadi magnet massa. Kepulangannya di Indonesia pada 
November 2020 juga mengundang lautan manusia.

Katakanlah HRS benar-benar memiliki pengaruh politik besar, suka atau tidak, 
itu bukan menjadi jaminan ia akan mempengaruhi kontestasi pilpres mendatang. 
Kita dapat membaca nasihat-nasihat perang Sun Tzu dalam buku The Art of War 
untuk menyimpulkan hal ini.  

Mengutip Andri Wang dalam bukunya The Art of War: Menelusuri Strategi dan 
Taktik Perang ala Sun Zi, Sun Tzu menjelaskan agar menyerang secara diam-diam 
dan mengejutkan. Menyeranglah seperti kobaran api sehingga musuh tidak menduga 
serangan tersebut. 

Nah, jika HRS nantinya bebas sebelum Pilpres 2024, kemudian bersama 
pengikut-pengikutnya dengan lantang menyebut akan terlibat dalam kontestasi, 
bukan tidak mungkin mereka akan diredam sejak dini. Kendati konteksnya tidak 
sama, analoginya dapat kita tarik dari kasus Bahar bin Smith pada Mei 2020. 
Ketika bebas dari penjara pada 16 Mei 2020, Bahar dinilai mengeluarkan ceramah 
provokatif dan mengundang rasa permusuhan kepada pemerintah.

Menurut Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Reynhard 
Silitonga, itu menjadi salah satu alasan untuk mencabut program asimilasinya. 
Imbasnya, pada 19 Mei, Bahar kembali dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan 
(Lapas) Gunung Sindur, Bogor.

Baca Juga: Rizieq dan FPI Bangkitkan Islamofobia?

Jika benar ingin terlibat di Pilpres 2024 nanti, HRS tidak boleh menunjukkan 
niatnya secara kentara. Apalagi, berbagai partai politik, termasuk PKS sudah 
menegaskan untuk tidak menggunakan politik identitas seperti di Pilpres 2019. 
Artinya, HRS tidak akan mendapat sokongan politik dari parpol seperti 
sebelumnya.

Kembali mengutip Sun Tzu, dalam perang yang terpenting adalah menyiapkan 
logistik. Percuma memiliki senjata yang bagus, prajurit yang hebat dan berani, 
namun tidak memiliki logistik yang cukup. Dukungan partai politik adalah 
logistik dalam konteks ini. 

Oleh karenanya, agar dapat memberikan peran signifikan, HRS perlu mengumpulkan 
logistik-logistik kekuatan politik. Seperti kutipan pernyataan Sun Tzu di awal 
tulisan, “Strategi tanpa taktik adalah rute paling lambat menuju kemenangan. 
Taktik tanpa strategi adalah kebisingan sebelum kekalahan.” 

Jika tidak menyiapkan logistik yang cukup, serta taktik dan strategi yang 
mumpuni, jangan berharap HRS dapat berbicara banyak di Pilpres 2024 nanti. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/47F6C182AF27406FBF005AF95CFFBC02%40A10Live.

Reply via email to