Memandang Kompetisi China-AS Secara Realistis Rabu , 26 Januari 2022 | 11:38 https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/56781/memandang_kompetisi_china_as_secara_realistis Sumber Foto : Istimewa Ilustrasi - Perang dagang Amerika Serikat dan China.Listen to this DUA negara ini sedang bersaing melampaui ‘batas’. Wahana antariksa China telah mendarat di bulan. Sengaja ‘landing’ pada lokasi yang belum didarati pesawat antariksa AS.
Dalam eksplorasi tetangga bumi itu, China ketinggalan lima puluh tahun namun siapapun tahu perlu biaya besar, penguasaan Iptek, ribuan tenaga ahli dan dukungan industri modern untuk mewujudkan proyek tersebut. Amerika Serikat pada 1960 -1973 menghabiskan US$8,1 miliar untuk Apollo dan US$9,4 untuk pesawat pendaratnya. Kalau diukur dengan biaya sekarang US$177 miliar. Belum biaya lain-lain. Jadi kira-kira sebanyak itulah atau kemungkinan lebih besar, biaya yang dihabiskan China. Apa makna dan manfaatnya? Proyek ruang angkasa menjadi tempat bagi pengujian ilmu pengetahuan yang dicapai China maupun Amerika Serikat. Kemampuan melakukan penerbangan. Penguasaan sistem telekomunikasi. Pemilikan teknologi mendukung kehidupan. Melakukan pengintaian jarak jauh. Membangkitkan minat generasi muda dan seterusnya. Persaingan Baru? Rakyat AS bersatu mewujudkan janji Presiden John F.Kennedy yang menyatakan negaranya akan mendarat di bulan sebelum dekade 1960-an berakhir. Janji itu direalisasikan. Astronot Michael Amstrong dan Edwin Aldrin dengan pesawat pendarat Eagle landing di Tranquality Base atau Dasar Ketenangan pada 20 Juli 1969. Rekan mereka Michael Collins, menunggu di orbit bulan dengan pesawat Columbia. Saat itu sedang terjadi persaingan ideologi antara blok Uni Soviet dengan Amerika Serikat. Pendaratan di bulan membuat AS unggul dalam Iptek. 31 tahun kemudian, Uni Soviet, Pakta Warsawa dan blok Soviet runtuh. Secara ideologis Soviet kalah. Kini, Amerika Serikat bersaing dengan China bahkan ada yang menyebut Perang Dingin baru. AS membentuk koalisi militer dengan Inggris dan Australia (AUKUS) dan membangun Dialog Pertahanan Empat Pihak (QUAD) yang terdiri dari India, Jepang, AS dan Australia. Para ahli berbeda pendapat tentang corak persaingan antara Washington dan Beijing. Corak ini dipengaruhi masa lalu hingga kedua negara punya tata pemerintahan serta pengelolaan ekonomi yang berbeda. Tidak ada benturan karena masing-masing berjalan sendiri. China tidak akan mengganti Amerika Serikat sebagai pemegang hegemoni dunia atau merusak sistem yang dibangun AS. Masalah muncul karena kemajuan ekonomi dan program One Belt One Road (OBOR) dicurigai akan menggeser AS. Menjawab kecurigaan itu, Prof. Wu Xinbo, Direktur Pusat Studi Amerika Serikat di Universitas Fudan, Shanghai menyatakan, China bukan merupakan ancaman bagi Amerika Serikat. Juga tidak bermaksud meluluhkan hegemoni Amerika Serikat, berbagi peranan global atau menunjukkan pilihan pembangunan ekonomi dan tata kelola pemerintahan. Indonesia Memandang Kemajuan China selayaknya ditanggapi secara realistis, apalagi Indonesia mempunyai kriteria yang berbeda dalam berhubungan dengan China. Jakarta memiliki prinsip non-Blok yang diakui semua negara. Australia menjadi contoh buruk. Keikusertaannya mengecam China menyebabkan ekspor batubara dan produk lain ke China dihentikan. Peran Australia itu, kemudian diisi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Dengan demikian pencapaian eksplorasi ruang angkasa dan keberhasilan China membuat matahari buatan merupakan konsekuensi logis kemajuan negara tersebut di berbagai bidang. Barangkali Indonesia dapat turut mengambil manfaat? (Sjarifuddin) Penulis adalah wartawan senior dan pengamat politik dan ekonomi Asia Timur dan Amerika Serikat. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CDF5DF16545343AF85BB6A59C4FAB6EA%40A10Live.
