Emak-emak Hanya Komoditas Politik?I76 - Tuesday, January 25, 2022 21:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/emak-emak-hanya-komoditas-politik
 
Demo stop politisasi emak-emak (Foto: Tempo)
6 min read

Kehadiran perempuan khususnya emak-emak dalam politik, dirasa hanya sebagai tim 
pelengkap mobilisasi saat pemilu. Peran emak-emak seharusnya tidak lagi 
dijadikan objek politik. Harusnya emak-emak menjadi subjek dari politik itu 
sendiri. Lantas, mampukah emak-emak lepas dari anggapan selama  ini, yaitu 
sebagai komoditas politik semata?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ajakan untuk mendukung sekaligus mendeklarasikan Gubernur DKI Jakarta Anies 
Baswedan menjadi presiden terus bermunculan. Seolah terorganisir dengan rapi, 
sekelompok emak-emak di berbagai daerah, mulai dari Medan, Banjarmasin, Demak, 
dan terbaru di Bogor, membuat gerakan seruan untuk deklarasi Anies.

Terbaru, elemen pendukung relawan terdiri dari sejumlah ibu-ibu itu, menamakan 
kelompoknya dengan sebutan Manies (Mak Mak Anies), yang memiliki slogan 
bergerak dengan cinta untuk Indonesia raya dan jaya.

Ida Laomo Wakil Ketua Presidium Manies, mengatakan, bahwa Tim Manies yang 
dihuni ibu-ibu secara kodrat adalah pendidik utama anak-anak di rumah. Namun 
sebagai rakyat, pihaknya memiliki hak sama di Indonesia. Setiap perempuan di 
Indonesia memiliki kodrat sebagai seorang ibu yang juga punya hak dalam 
pendidikan politik.

Seperti yang kita ketahui, keterwakilan perempuan dalam politik masih jauh dari 
apa yang ingin kita lihat. Pendidikan politik merupakan salah satu kegiatan 
yang bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan orientasi politik setiap 
individu dan kelompok.

Hal ini berkaca pada realitasnya, di mana masih terdapat kesenjangan antara 
peranan laki-laki dan perempuan, terutama pada peran-peran dalam kegiatan 
publik. Pemberian ruang bagi perempuan dalam politik akan memberikan pendidikan 
politik yang juga akan berdampak pada sikap partisipasi perempuan dalam politik.

Yang menarik, gerakan saling dukung kandidat yang dipelopori oleh emak-emak ini 
adalah salah satu bagian dari ruang politik perempuan. Mereka selalu muncul 
dalam kontestasi politik elektoral, bahkan akhir-akhir ini emak-emak sudah 
mulai bergerak dari ruang domestik menuju ke ruang publik secara masif.

Lantas, seperti apa perubahan gerakan politik emak-emak ini?

Baca juga: Titiek dan Emak-Emak Disentil Jokowi


  
Emak-emak sebagai Kekuatan Politik
Kita mulai membedah kekuatan emak-emak dari data yang bersandar pada Pilpres 
2019, yaitu data KPU per Desember 2018. Jumlah pemilih perempuan mencapai 
99.557.044 orang. Sementara pemilih laki-laki sebanyak 96.271.476 orang. 
Artinya selisih pemilih perempuan lebih unggul sekitar tiga juta orang, bisa 
dimaknai pula ini adalah potensi politik perempuan sebagai kelompok penekan.

Maurice Duverger dalam bukunya Sosiologi Politik, percaya bahwa perempuan dapat 
menjadi kelompok penekan (pressure group) untuk meraih suara pemilih di pihak 
lawan. Sebagai ibu rumah tangga, perempuan diyakini mampu menjadi agen 
perubahan suara pemilih.

Emak-emak dalam konteks psikologi masyarakat Indonesia, memiliki jaringan 
sosial yang kuat. Hal itu tumbuh dari kebiasaan emak-emak Indonesia yang kerap 
berbincang satu sama lain dan mengikuti perkumpulan, salah satunya pengajian.

Sebagai ibu rumah tangga, emak-emak memiliki pengaruh kuat untuk menggiring 
anggota keluarganya, terutama anak dalam menentukan sebuah pilihan. Seorang 
anak cenderung menuruti perintah ibu ketimbang bapak dalam konteks tertentu.

Emak-emak dianggap memiliki militansi yang lebih bagus ketimbang laki-laki 
ketika berkampanye. Emak-emak cenderung loyal terhadap pilihannya. Sementara 
relawan laki-laki atau bapak-bapak cenderung bermain dua kaki karena 
mengedepankan keuntungan.

Emak-emak punya kecenderungan peka terhadap aspek konkrit kebutuhan pokok rumah 
tangga, seperti harga sembako, pendidikan anak, stunting dan kekerasan yang 
marak terjadi pada perempuan. Dan semua ini merupakan potensi kekuatan 
emak-emak dalam narasi politik di Indonesia.

Dominasi perempuan secara kuantitas mengandaikan bahwa perempuan memiliki hak 
dan potensi untuk memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan politik. Namun 
fenomena peningkatan jumlah perempuan peserta pemilu di berbagai daerah masih 
memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga partisipasi perempuan selalu 
mengundang diskusi, perdebatan dan sering menyisakan keraguan.

Rahman Asri dalam tulisannya Pemaknaan The Power of Emak-Emak di Media Sosial, 
mengatakan pemaknaan emak-emak erat kaitannya dengan partisipasi politik 
perempuan. Partisipasi perempuan dengan istilah apapun haruslah diperlukan di 
tengah iklim politik karena belum begitu dirasakan maksimalnya peran perempuan. 

Berkaitan dengan harapan bahwa hak dan partisipasi politik perempuan di 
Indonesia pada masa depan haruslah semakin membaik, mengandaikan bahwa 
partisipasi politik perempuan di Indonesia sudah tidak sebatas wacana, 
melainkan diharapkan terwujud dalam bentuk peran aktif dan kesempatan harus 
dibuka seluas-luasnya, baik dalam mengisi jabatan politik maupun berkiprah di 
bidang-bidang profesional lainnya.

Well, mungkinkah harapan bergesernya peran perempuan dalam politik itu dapat 
terwujud?

Baca juga: Prabowo Nyoblos, Ketemu Emak-emak Nangis

 
  
Perempuan Jadi Subjek Politik
Dalam kontestasi Pilpres 2019, istilah emak-emak populer ketika pasangan calon 
presiden nomor urut dua, yaitu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, menyebutnya 
sebagai salah satu instrumen baru pendulang suara. Mereka menilai emak-emak 
punya kekuatan tersendiri.

Gerakan emak-emak bukan hanya menghegemoni Prabowo-Sandi. Di lingkaran paslon 
Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, mereka memang tak banyak mengkapitalisasi isu 
maupun gerakan emak-emak. Namun, Jokowi lewat berbagai kebijakannya selaku 
petahana menjanjikan sejumlah program untuk emak-emak.

Kendati kerap disinggung, berbagai pihak menilai, sering kali gerakan emak-emak 
hanya menjadi objek atau alat politik elektoral. Jika benar demikian, peristiwa 
ini tentu sangat disayangkan. Gerakan emak-emak dikesankan sebagai pendukung 
yang punya loyalitas tinggi dan emosional.

Jika belajar dari masa lalu, kisah perempuan khususnya emak-emak dalam politik 
sebenarnya dapat kita lacak jauh sebelum kontestasi pilpres belakangan ini. 
Peran perempuan telah memulai gerakan dalam politik di masa akhir keruntuhan 
Orde Baru. Kisah emak-emak dalam bentang sejarah Reformasi sungguh tak bisa 
dilewatkan begitu saja. Ia bergerak sebelum mahasiswa menduduki Gedung Parlemen 
di Senayan.

Aktivis perempuan, Gadis Arivia dalam  sebuah tulisannya Politik Representasi 
Suara Ibu Peduli, menggambarkan bagaimana peran gerakan perempuan, termasuk 
para ibu dalam upaya untuk menurunkan rezim Orde Baru pada masa itu.

Pada masa pergolakan tersebut, poros perempuan aktif terlibat mengorganisasi 
massa. Beberapa di antaranya adalah Tim Relawan Divisi Kekerasan terhadap 
Perempuan (TRKP), Suara Ibu Peduli (SIP), dan Koalisi Perempuan Indonesia untuk 
Keadilan dan Demokrasi (KPIKD). Mereka memperoleh momentum setelah sekian lama 
didomestikasi oleh rezim Orde Baru.

Kelompok aktivis perempuan kemudian mematangkan langkah, mereka mencari cara 
yang taktis namun berani. Kamuflase dan permainan narasi mereka pikirkan 
matang-matang. Salah satunya ide untuk membuat demonstrasi dengan menggunakan 
narasi gerakan susu murah dari ibu peduli.

Gerakan emak-emak di masa itu, memberikan pesan di balik keluhan susu mahal, 
terdapat kebosanan terhadap praktik korupsi kolusi nepotisme, dan represi 
aparat terhadap demokrasi dan kebebasan. Di sini terlihat gerakan perempuan 
telah menempati posisi yang pas, mereka bukanlah objek politik, sebaliknya 
mereka adalah subjek yang vital dalam politik.

Baca juga: Sandi Dibopong Emak-emak

Gerakan perempuan sebagai subjek politik juga dapat kita lihat dari gerakan 
lainnya yang sudah lahir lama di Amerika Serikat (AS). Gerakan politik 
perempuan di AS ini bernama League of Women Voter (LWV). LWV menjadi gerakan 
perempuan tertua di dunia, yaitu telah berusia 102 tahun.

Di AS gerakan ini telah banyak menuai prestasi dalam bidang politik. Mereka 
mampu menggerakkan lebih dari dua puluh juta perempuan AS untuk dapat memenuhi 
hak suara mereka pada pemilu. Bahkan dalam beberapa debat kandidat presiden AS, 
LWV adalah organisasi yang mampu menjadi fasilitator dari debat kandidat 
tersebut.

Seluruh perjuangan LWV  sejatinya beranjak dari sebuah kepercayaan yang luhur 
akan kekuatan perempuan dalam menciptakan demokrasi di AS. Sebagai organisasi 
akar rumput yang telah banyak dipercayai oleh publik, LWV mempromosikan 
bagaimana peran penting perempuan harus diperlihatkan dalam politik. Bagi 
mereka, itu adalah bahasa lain dari arti kebebasan manusia.

Setidaknya nilai-nilai perempuan atau emak-emak yang dihadirkan dalam politik 
haruslah menjadi subjek atau penggerak dari politik itu sendiri. Janganlah 
kemudian gerakan emak-emak hanya dijadikan komoditas politik. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/759635F9449542C191E08886B0BFC406%40A10Live.

Reply via email to