Apakah tidak ada lain untuk dipilih?

On Wed, Jan 26, 2022 at 6:52 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Emak-emak Hanya Komoditas Politik?
> *I76 * <https://www.pinterpolitik.com/author/i76>*- Tuesday, January 25,
> 2022 21:00*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/emak-emak-hanya-komoditas-politik
> *Demo stop politisasi emak-emak (Foto: Tempo)*
>
> *6 min read*
>
> *Kehadiran **perempuan **khususnya emak-emak dalam politik, dirasa hanya
> sebagai tim pelengkap mobilisasi saat pemilu. Peran emak-emak seharusnya
> tidak lagi dijadikan objek politik. Harusnya **e**mak-emak menjadi subjek
> dari politik itu sendiri. Lantas, mampukah emak-emak lepas dari anggapan
> selama  ini, yaitu sebagai komoditas politik** semata**?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <http://www.pinterpolitik.com/>
>
> Ajakan untuk mendukung sekaligus mendeklarasikan Gubernur DKI Jakarta
> Anies Baswedan menjadi presiden terus bermunculan. Seolah terorganisir
> dengan rapi, sekelompok emak-emak di berbagai daerah, mulai dari Medan,
> Banjarmasin, Demak, dan terbaru di Bogor, membuat gerakan seruan untuk
> deklarasi Anies.
>
> Terbaru, elemen pendukung relawan terdiri dari sejumlah ibu-ibu itu,
> menamakan kelompoknya dengan sebutan Manies (Mak Mak Anies), yang memiliki
> slogan bergerak dengan cinta untuk Indonesia raya dan jaya.
>
> Ida Laomo Wakil Ketua Presidium Manies, mengatakan, bahwa Tim Manies yang
> dihuni ibu-ibu secara kodrat adalah pendidik utama anak-anak di rumah.
> Namun sebagai rakyat, pihaknya memiliki hak sama di Indonesia. Setiap
> perempuan di Indonesia memiliki kodrat sebagai seorang ibu yang juga punya
> hak dalam pendidikan politik.
>
> Seperti yang kita ketahui, keterwakilan perempuan dalam politik masih jauh
> dari apa yang ingin kita lihat. Pendidikan politik merupakan salah satu
> kegiatan yang bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan orientasi politik
> setiap individu dan kelompok.
>
> Hal ini berkaca pada realitasnya, di mana masih terdapat kesenjangan
> antara peranan laki-laki dan perempuan, terutama pada peran-peran dalam
> kegiatan publik. Pemberian ruang bagi perempuan dalam politik akan
> memberikan pendidikan politik yang juga akan berdampak pada sikap
> partisipasi perempuan dalam politik.
>
> Yang menarik, gerakan saling dukung kandidat yang dipelopori oleh
> emak-emak ini adalah salah satu bagian dari ruang politik perempuan. Mereka
> selalu muncul dalam kontestasi politik elektoral, bahkan akhir-akhir ini
> emak-emak sudah mulai bergerak dari ruang domestik menuju ke ruang publik
> secara masif.
>
> Lantas, seperti apa perubahan gerakan politik emak-emak ini?
>
> *Baca juga:* *Titiek dan Emak-Emak Disentil Jokowi
> <https://www.pinterpolitik.com/celoteh/titiek-dan-emak-emak-disentil-jokowi>*
>   *Emak-**e**mak **s**ebagai Kekuatan Politik*
>
> Kita mulai membedah kekuatan emak-emak dari data yang bersandar pada
> Pilpres 2019, yaitu data KPU per Desember 2018. Jumlah pemilih perempuan
> mencapai 99.557.044 orang. Sementara pemilih laki-laki sebanyak 96.271.476
> orang. Artinya selisih pemilih perempuan lebih unggul sekitar tiga juta
> orang, bisa dimaknai pula ini adalah potensi politik perempuan sebagai
> kelompok penekan.
>
> Maurice Duverger dalam bukunya *Sosiologi Politik*, percaya bahwa
> perempuan dapat menjadi kelompok penekan (*pressure group*) untuk meraih
> suara pemilih di pihak lawan. Sebagai ibu rumah tangga, perempuan diyakini
> mampu menjadi agen perubahan suara pemilih.
>
> Emak-emak dalam konteks psikologi masyarakat Indonesia, memiliki jaringan
> sosial yang kuat. Hal itu tumbuh dari kebiasaan emak-emak Indonesia yang
> kerap berbincang satu sama lain dan mengikuti perkumpulan, salah satunya
> pengajian.
>
> Sebagai ibu rumah tangga, emak-emak memiliki pengaruh kuat untuk
> menggiring anggota keluarganya, terutama anak dalam menentukan sebuah
> pilihan. Seorang anak cenderung menuruti perintah ibu ketimbang bapak dalam
> konteks tertentu.
>
> Emak-emak dianggap memiliki militansi yang lebih bagus ketimbang laki-laki
> ketika berkampanye. Emak-emak cenderung loyal terhadap pilihannya.
> Sementara relawan laki-laki atau bapak-bapak cenderung bermain dua kaki
> karena mengedepankan keuntungan.
>
> Emak-emak punya kecenderungan peka terhadap aspek konkrit kebutuhan pokok
> rumah tangga, seperti harga sembako, pendidikan anak, *stunting *dan
> kekerasan yang marak terjadi pada perempuan. Dan semua ini merupakan
> potensi kekuatan emak-emak dalam narasi politik di Indonesia.
>
> Dominasi perempuan secara kuantitas mengandaikan bahwa perempuan memiliki
> hak dan potensi untuk memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan politik.
> Namun fenomena peningkatan jumlah perempuan peserta pemilu di berbagai
> daerah masih memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga partisipasi
> perempuan selalu mengundang diskusi, perdebatan dan sering menyisakan
> keraguan.
>
> Rahman Asri dalam tulisannya *Pemaknaan The Power of Emak-Emak di Media
> Sosial,* mengatakan pemaknaan emak-emak erat kaitannya dengan partisipasi
> politik perempuan. Partisipasi perempuan dengan istilah apapun haruslah
> diperlukan di tengah iklim politik karena belum begitu dirasakan
> maksimalnya peran perempuan.
>
> Berkaitan dengan harapan bahwa hak dan partisipasi politik perempuan di
> Indonesia pada masa depan haruslah semakin membaik, mengandaikan bahwa
> partisipasi politik perempuan di Indonesia sudah tidak sebatas wacana,
> melainkan diharapkan terwujud dalam bentuk peran aktif dan kesempatan harus
> dibuka seluas-luasnya, baik dalam mengisi jabatan politik maupun berkiprah
> di bidang-bidang profesional lainnya.
>
> *Well*, mungkinkah harapan bergesernya peran perempuan dalam politik itu
> dapat terwujud?
>
> *Baca juga:* *Prabowo Nyoblos, Ketemu Emak-emak Nangis
> <https://www.pinterpolitik.com/pemilu-2019/prabowo-nyoblos-ketemu-emak-emak-nangis>*
> [image: Aksi emak-emak tetap aktif pasca Pemilu 2019]
>   *Perempuan Jadi Subjek Politik*
>
> Dalam kontestasi Pilpres 2019, istilah emak-emak populer ketika pasangan
> calon presiden nomor urut dua, yaitu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno,
> menyebutnya sebagai salah satu instrumen baru pendulang suara. Mereka
> menilai emak-emak punya kekuatan tersendiri.
>
> Gerakan emak-emak bukan hanya menghegemoni Prabowo-Sandi. Di lingkaran
> paslon Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, mereka memang tak banyak
> mengkapitalisasi isu maupun gerakan emak-emak. Namun, Jokowi lewat berbagai
> kebijakannya selaku petahana menjanjikan sejumlah program untuk emak-emak.
>
> Kendati kerap disinggung, berbagai pihak menilai, sering kali gerakan
> emak-emak hanya menjadi objek atau alat politik elektoral. Jika benar
> demikian, peristiwa ini tentu sangat disayangkan. Gerakan emak-emak
> dikesankan sebagai pendukung yang punya loyalitas tinggi dan emosional.
>
> Jika belajar dari masa lalu, kisah perempuan khususnya emak-emak dalam
> politik sebenarnya dapat kita lacak jauh sebelum kontestasi pilpres
> belakangan ini. Peran perempuan telah memulai gerakan dalam politik di masa
> akhir keruntuhan Orde Baru. Kisah emak-emak dalam bentang sejarah Reformasi
> sungguh tak bisa dilewatkan begitu saja. Ia bergerak sebelum mahasiswa
> menduduki Gedung Parlemen di Senayan.
>
> Aktivis perempuan, Gadis Arivia dalam  sebuah tulisannya *Politik
> Representasi Suara Ibu Peduli*, menggambarkan bagaimana peran gerakan
> perempuan, termasuk para ibu dalam upaya untuk menurunkan rezim Orde Baru
> pada masa itu.
>
> Pada masa pergolakan tersebut, poros perempuan aktif terlibat
> mengorganisasi massa. Beberapa di antaranya adalah Tim Relawan Divisi
> Kekerasan terhadap Perempuan (TRKP), Suara Ibu Peduli (SIP), dan Koalisi
> Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi (KPIKD). Mereka memperoleh
> momentum setelah sekian lama didomestikasi oleh rezim Orde Baru.
>
> Kelompok aktivis perempuan kemudian mematangkan langkah, mereka mencari
> cara yang taktis namun berani. Kamuflase dan permainan narasi mereka
> pikirkan matang-matang. Salah satunya ide untuk membuat demonstrasi dengan
> menggunakan narasi gerakan susu murah dari ibu peduli.
>
> Gerakan emak-emak di masa itu, memberikan pesan di balik keluhan susu
> mahal, terdapat kebosanan terhadap praktik korupsi kolusi nepotisme, dan
> represi aparat terhadap demokrasi dan kebebasan. Di sini terlihat gerakan
> perempuan telah menempati posisi yang pas, mereka bukanlah objek politik,
> sebaliknya mereka adalah subjek yang vital dalam politik.
>
> *Baca juga:* *Sandi Dibopong Emak-emak
> <https://www.pinterpolitik.com/belajar-politik/sandi-dibopong-emak-emak>*
>
> Gerakan perempuan sebagai subjek politik juga dapat kita lihat dari
> gerakan lainnya yang sudah lahir lama di Amerika Serikat (AS). Gerakan
> politik perempuan di AS ini bernama League of Women Voter (LWV). LWV
> menjadi gerakan perempuan tertua di dunia, yaitu telah berusia 102 tahun.
>
> Di AS gerakan ini telah banyak menuai prestasi dalam bidang politik.
> Mereka mampu menggerakkan lebih dari dua puluh juta perempuan AS untuk
> dapat memenuhi hak suara mereka pada pemilu. Bahkan dalam beberapa debat
> kandidat presiden AS, LWV adalah organisasi yang mampu menjadi fasilitator
> dari debat kandidat tersebut.
>
> Seluruh perjuangan LWV  sejatinya beranjak dari sebuah kepercayaan yang
> luhur akan kekuatan perempuan dalam menciptakan demokrasi di AS. Sebagai
> organisasi akar rumput yang telah banyak dipercayai oleh publik, LWV
> mempromosikan bagaimana peran penting perempuan harus diperlihatkan dalam
> politik. Bagi mereka, itu adalah bahasa lain dari arti kebebasan manusia.
>
> Setidaknya nilai-nilai perempuan atau emak-emak yang dihadirkan dalam
> politik haruslah menjadi subjek atau penggerak dari politik itu sendiri.
> Janganlah kemudian gerakan emak-emak hanya dijadikan komoditas politik.
> (I76)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/759635F9449542C191E08886B0BFC406%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/759635F9449542C191E08886B0BFC406%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2C3drQ%3DC8rrkuRvWtJzWCjwJNwhtOQWL_yP7rVtzf2ZLg%40mail.gmail.com.

Reply via email to