https://mediaindonesia.com/ekonomi/467031/imf-nilai-indonesia-sukses-jaga-stabilitas-keuangan-dan-fiskal
Rabu 26 Januari 2022, 11:43 WIB
IMF Nilai Indonesia Sukses Jaga Stabilitas Keuangan dan Fiskal
M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
IMF Nilai Indonesia Sukses Jaga Stabilitas Keuangan dan Fiskal dok.Ant
Ilustrasi STRATEGI pengelolaan kebijakan makro dan fiskal Indonesia dalam
pengendalian pandemi covid-19 dan pemulihan ekonomi mendapatkan apresiasi
tinggi dari dunia. Dalam laporan sementara (Concluding Statement) misi Dana
Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) untuk Artikel IV yang
dirilis pada Rabu (26/1), Indonesia disorot sebagai negara yang cukup sukses
dalam penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas
keuangan dan fiskal jangka menengahnya. Kinerja dan prospek makro dan fiskal
Indonesia dinilai sangat positif dalam laporan sementara IMF. "IMF
mengapresiasi keberhasilan pengendalian covid-19 di Indonesia yang membawa
Indonesia ke pemulihan ekonomi yang cepat. Pemulihan lebih cepat menjadi dasar
IMF menilai konsolidasi fiskal menuju defisit APBN paling tinggi 3% PDB di
Tahun 2023 sebagai langkah yang tepat. IMF memandang kebijakan ini membawa
Indonesia semakin kredibel di mata pelaku pasar," jelas Kepala Badan Kebijakan
Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu melalui siaran pers. IMF
memproyeksikan perekonomian Indonesia akan tumbuh sebesar 5.6% di tahun 2022
dan menguat ke 6.0% pada tahun 2023. Namun, IMF menyarankan pemerintah untuk
tetap waspada atas peningkatan sejumlah risiko eksternal, diantaranya gelombang
baru penyebaran covid-19, meningkatnya tekanan inflasi global, pengetatan pasar
kuangan global sehubungan dengan normalisasi kebijakan moneter di beberapa
negara maju, terutama di Amerika Serikat, yang berpotensi menghambat laju
pemulihan ekonomi global, yang pada gilirannya berdampak pada ekonomi domestik.
Efektivitas kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi covid-19 dan
pemulihan ekonomi berhasil mendorong menguatnya aktivitas perekonomian, yang
pada gilirannya mengangkat kinerja APBN 2021, selain juga karena faktor
kenaikan harga komoditas dunia. Pendapatan negara meningkat sangat tinggi,
terutama disumbang oleh meningkatnya kinerja penerimaan perpajakan yang
berhasil melampaui target tahun 2021. Defisit APBN dapat ditekan hingga 4,65%
PDB, jauh lebih rendah dibandingkan target awal sebesar 5,7% PDB. Keberhasilan
penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi juga diiringi dengan utang yang
terjaga dalam tingkat yang aman dan terkelola dengan baik, dengan tren yang
diupayakan terus menurun dalam jangka menengah seiring langkah konsolidasi
fiskal. IMF menilai langkah konsolidasi fiskal di tahun 2023 sudah tepat dan
diperkirakan dapat meningkatkan kredibilitas APBN dan kepercayaan pasar. IMF
memproyeksikan defisit fiskal sebesar 4% terhadap PDB di tahun 2022, lebih
rendah dari defisit yang ditetapkan dalam APBN 2022 sebesar 4,85%. "Kinerja
fiskal yang kuat pada tahun 2021 menjadi bagian dari hasil pengelolaan
kebijakan ekonomi makro yang tepat, tanpa mengorbankan upaya Pemerintah menjaga
momentum pemulihan ekonomi dan kesinambungan fiskal jangka menengah-panjang,"
terang Febrio. Namun, IMF menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan
penyesuaian kecepatan konsolidasi fiskal ke depan jika tekanan risiko eksternal
semakin kuat dan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi. Dari aspek moneter, IMF
menyarankan agar kebijakan moneter yang akomodatif tetap dilanjutkan untuk
mendukung pemulihan, dengan tetap memperhatikan dinamika perekonomian seperti
stabilitas harga-harga atau inflasi. Selain itu, IMF juga menyarankan agar
kerja sama berbagi beban antara Pemerintah dan BI dalam rangka pembiayaan
penanganan pandemi dapat dihentikan di akhir 2022 sesuai yang direncanakan
serta amanat UU 2/2020, tentunya mempertimbangkan kinerja fiskal yang sudah
menguat. Selanjutnya, sistem keuangan domestik juga dinilai sehat. Ruang
perbaikan tetap ada untuk beberapa hal, seperti penguatan kredit dan dukungan
pemerintah terhadap pembiayaan UMKM serta penguatan kinerja perbankan.
Mengingat langkah-langkah darurat penanganan krisis di masa luar biasa
diperkirakan akan berakhir di tahun 2022, risiko kredit sektor perbankan
terutama di sektor-sektor yang terkena dampak pandemi dan masih mengalami efek
pandemi yang berkepanjangan (scarring effect) perlu terus di monitor lebih
kuat. Jangka Menengah Dalam perspektif jangka menengah, IMF juga menilai
kerangka strategi jangka menengah peningkatan pendapatan negara, khususnya
perpajakan dan PNBP, sangat penting untuk dapat memenuhi kebutuhan belanja
pembangunan prioritas. Hal ini penting untuk menopang pertumbuhan Indonesia
menuju level potensialnya, serta untuk memenuhi sasaran-sasaran Pembangunan
yang Berkelanjutan (SDGs). Selain itu, strategi kebijakan fiskal jangka
menengah perlu dirancang lebih spesifik menjadi bagian dari strategi keluar
dari kebijakan luar biasa di masa pandemi pandemi (exit strategy). Upaya
penguatan reformasi struktural perlu dilanjutkan, termasuk untuk mengatasi
scarring effect dari pandemi. Kebijakan yang termuat dalam Undang-Undang Cipta
Kerja perlu didukung dengan reformasi terkait sumber daya manusia, terutama
pendidikan, untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja, reformasi sektor keuangan
untuk pendalaman pasar keuangan, pembangunan infrastruktur—baik fisik maupun
digital, untuk mendukung konektifitas, dan memperkuat tata kelola
penyelenggaraan pemerintahan untuk mendukung daya saing ekonomi. IMF juga
menilai bahwa pengenalan Nilai Ekonomi Karbon (carbon pricing) merupakan
langkah awal yang sangat penting, dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan
perlu diperkuat melalui reformasi, termasuk reformasi kebijakan subsidi energi.
"Rekomendasi-rekomendasi yang diberikan IMF sebetulnya telah menjadi bagian
dari upaya-upaya reformasi fiskal, struktural dan sektor keuangan yang sedang
dan akan terus dilanjutkan oleh pemerintah bersama otoritas terkait. Pengakuan
atas kredibilitas Indonesia ini juga diyakini akan berdampak positif bagi
pelaksanaan berbagai agenda pembangunan ke depan serta bagi kesuksesan
Indonesia dalam presidensi G20," kata Febrio. Concluding Statement pada
dasarnya merupakan laporan berisi penilaian kondisi terkini ekonomi nasional
dan Rekomendasi kebjakan yang ditawarkan oleh IMF berdasarkan pendalaman yang
dilakukan oleh Tim Article IV IMF melalui rangkaian pertemuan dengan otoritas
terkait. (OL-13) Baca Juga: IMF Prediksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 3,3 Persen
pada 2021 TAGS: # IMF # kebijakan fiskal # Stabilitas Harga # Indonesia
Baca Juga
Sumber:
https://mediaindonesia.com/ekonomi/467031/imf-nilai-indonesia-sukses-jaga-stabilitas-keuangan-dan-fiskal
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220126221649.e434b6db0dd4220d32871e2d%40upcmail.nl.