https://mediaindonesia.com/opini/470832/pemilu-2024-dan-aspirasi-generasi-milenial



Jumat 11 Februari 2022, 14:15 WIB 

Pemilu 2024 dan Aspirasi Generasi Milenial 

Todotua Pasaribu, Sekretaris Dewan Pakar Seknas Jokowi | Opini

   Pemilu 2024 dan Aspirasi Generasi Milenial MI/Dok Pri Todotua Pasaribu, 
Sekretaris Dewan Pakar Seknas Jokowi JADWAL Pemilu 2024 sudah ditetapkan, yaitu 
14 Februari. Bisa jadi sekadar kebetulan, mengingat tanggal 14 Februari 
memiliki makna tersendiri, khususnya bagi kaum muda atau para remaja yang 
sedang beranjak dewasa. Benar, tanggal itu dikenal sebagai hari kasih sayang 
(Hari Valentine), momen yang sangat spesial bagi kawula muda. Penentuan tanggal 
tersebut seolah kode keras, bahwa Pemilu 2024 akan berjalan damai, sesuai pesan 
Hari Valentine. Kita sudah cukup memiliki pengalaman soal bagaimana panasnya 
suasana menjelang pemilu, termasuk ketika pemilu sudah selesai. Segala 
pengalaman pahit pada pemilu sebelumnya, kita sudahi saja dengan optimisme 
baru. Bagi kaum muda atau generasi milenial, perhelatan Pemilu 2024 menjadi 
krusial, karena mereka tidak sekadar sebagai pemilih, namun ada sebagian dari 
mereka yang akan tampil sebagai caleg (calon anggota parlemen). Dan tidak 
tertutup kemungkinan ada yang sudah masuk formasi pasangan capres-cawapres. 
Sedikit meminjam konsep politik era Orde Baru, yaitu floating mass (massa 
mengambang). Benar, generasi milenial bukan lagi sekadar pemilih pasif, namun 
kini mereka sudah pada posisi game changer, bagaimana generasi milenial telah 
mewarnai panggung politik nasional. Menjaga optimisme Pelaksanaan pemilu (2024) 
yang bebas dan damai, sama artinya dengan menjaga optimisme terhadap masa depan 
demokrasi di Indonesia. Mengingat pemilu yang bebas dan aspiratif, adalah 
kriteria penting dalam sistem politik demokratis. Setelah jadwal pemilu 
disepakati, selanjutnya tentu ada ruang partisipasi bagi generasi milenial. 
Sebagai generasi yang akrab dengan informasi digital dan media sosial, 
kompetensi ini akan menjadi modal penting dalam Pemilu 2024, termasuk Pilkada 
pada tahun yang sama. Melalui berbagai platform, banyak anak muda tergerak 
aktif menyuarakan kepedulian mereka atas berbagai isu. Dalam konteks pemilu, 
yang diperlukan adalah pengawasan, terutama proses rekapitulasi suara sejak 
masih di TPS di tingkat kelurahan, hingga ke tingkat nasional. Penggunaan 
teknologi bisa menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan pemilu. Permasalahan 
terbesar dalam pemilu di negeri kita, bukan pada pemungutan suara, tetapi pada 
proses rekapitulasi yang berjenjang. Berdasarkan pengalaman pemilu sebelumnya, 
potensi manipulasi biasanya terjadi pada saat penghitungan suara secara manual. 
Itu sebabnya dibutuhkan instrumen teknologi elektronik untuk meminimalisir 
kemungkinan manipulasi. Pada fase ini dibutuhakan partisipasi generasi milenial 
dalam fungsi control, tentu saja secara informal, sebagai bagian dari elemen 
masyarakat sipil. Dengan partisipasi generasi milenial, diharapkan pengalaman 
pahit Pemilu 2019 tidak lagi terulang. Pemilu 2019 yang digelar secara 
serentak, terbukti amat rumit dan melelahkan, ketika mengakibatkan sejumlah 
petugas KPPS jatuh sakit, bahkan cukup banyak yang meninggal dunia. Pemilu yang 
seharusnya dilaksanakan secara damai dan ceria, pada beberapa titik justru 
berujung duka. Kemudian pengalaman suram lainnya adalah kuatnya praktik politik 
identitas. Dengan rata-rata tingkat pendidikan yang lebih baik, rasanya tidak 
terlalu sulit bagi generasi milenial menyerap spirit toleransi, dan itu adalah 
sinyal baik untuk mereduksi pendekatan primordial dalam kontestasi pemilu. 
Dengan mengedepankan nilai perdamaian dalam pemilu, praktik politik identitas 
akan sirna. Turnamen olahraga bisa menjadi metafora, bahwa tidak semua atlet 
bisa naik podium, ada juga yang gagal. Demikian juga dalam perhelatan politik, 
bagi yang gagal tentunya tetap sportif dan berjiwa besar, sembari bersiap untuk 
maju pada pemilu berikutnya, bila masih ada kesempatan dan minat. Dengan 
partisipasi penuh generasi milenial, Pemilu 2024 diharapkan bisa berlangsung 
damai. Tidak hanya dalam gimik politik, tetapi harus bisa direalisasikan di 
lapangan. Kesepakatan damai di antara para kontestan yang biasa digelar 
menjelang pemilu, bukan lagi sekadar ritualistik. Berbagi ruang Secara alamiah 
generasi milenial akan memimpin negeri ini, sesuai dengan perjalanan waktu, 
sementara generasi yang lebih senior, yakni generasi baby boomers (usia 50 
tahun ke atas) segera surut ke belakang. Oleh karenanya apa yang terjadi saat 
ini, di belahan bumi mana pun, jadi bukan hanya di Indonesia, sedang terjadi 
transisi lintas generasi. Agar transisi antargenerasi bisa berjalan mulus, 
perlu adanya semangat berbagi ruang. Sebuah peristiwa unik yang akan saya 
sampaikan berikut, mudah-mudahan bisa menjadi model yang baik konsep “berbagi 
ruang”. Peristiwanya terjadi saat Sidang Ke-76 Majelis Umum PBB di New York, 
pertengahan September tahun lalu. Podium majelis umum PBB yang terkesan sakral 
dan penuh protokoler, hari itu sedikit berbeda dengan tampilnya grup BTS, 
kelompok music K-pop dari Korea Selatan. Dengan memberi kesempatan pada 
kelompok music pop, para petinggi organisasi dunia setaraf PBB, yang dari segi 
protokoler terkesan formal dan cenderung konservatif, bersedia berbagi ruang, 
dalam hal ini podium terhormat, untuk BTS tampil. Sebuah peristiwa simbolik, 
sekaligus milestone bagi generasi milenial. Satu hal yang penting dicatat 
adalah, saat pentas di PBB, frontman BTS Kim Nam-joon menyampaikan sebuah 
pengantar terkait isu krusial hari ini, yakni soal perubahan iklim dan 
pemanasan global. Tidak lama setelah pentas di PBB, BTS berkolaborasi dengan 
Coldplay, kelompok musik cadas dari Inggris, dengan merilis single My Universe. 
Pesan penting kolaborasi ini adalah soal pemakaian energi hijau. Dalam proses 
produksi, sejak kerja kreatif di studio, hingga pascaproduksi, termasuk 
transportasi bagi personel, harus dipastikan berasal pasokan energi bersih dan 
berkelanjutan (renewable energy). Bagi generasi milenial dan warganet, nama 
Coldplay sendiri bukanlah nama yang asing. Cuitan kelompok musik Coldplay yang 
secara khusus ditujukan kepada Presiden Jokowi, telah menjadi trending topic. 
Coldplay menghimbau Presiden Jokowi agar berinisiatif memimpin komunitas 
internasional dalam mencegah dampak buruk krisis iklim. Cuitan Coldplay bisa 
dibaca sebagai apresiasi dan kepercayaan terhadap figur Jokowi. Berdasarkan 
pengamatan terhadap dua influencer tersebut (BTS dan Coldplay), kita bisa lebih 
paham sekarang, terdapat klaster generasi milenial memiliki kepedulian pada isu 
lingkungan, agar planet bumi semakin nyaman ditinggali bersama. Telah muncul 
generasi milenial yang membawa aspirasi isu-isu berkelanjutan, sebagaimana 
program skala global disebut Sustainable Development Goals (SDGs), seperti 
kesehatan, ketahanan pangan, pendidikan, energi hijau, kualitas pelayanan 
publik, dan seterusnya. Perlu diketahui, di kancah dunia Indonesia menjadi 
salah satu role model negara yang berkomitmen menjalankan SDGs secara inklusif, 
mulai level generasi muda hingga kepala negara. Bagi generasi milenial yang 
bergerak pada isu keberlanjutan, bisa berjalan beriringan dengan generasi 
milenial yang bergerak di segala lini, seperti bisnis rintisan, meniti karier 
akademis, sebagai peneliti sains, termasuk bagi yang ingin bergerak di ranah 
politik, semuanya diberi kesempatan mengembangkan potensinya, sejalan dengan 
konsep berbagi ruang. Seabad Indonesia (2045) kelak, menjadi semacam tonggak, 
ketika generasi milenial tampil memimpin negeri dengan segala potensi dan 
kompetensinya. Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, selalu ada 
tempat bagi generasi baru. Pemilu 2024 adalah pintu masuk generasi milenial 
memberi kontribusi signifikan di segala lini, utamanya sektor energi 
berkelanjutan dan pendidikan yang berkualitas.   TAGS: # Pemilu 2024

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/opini/470832/pemilu-2024-dan-aspirasi-generasi-milenial








-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220211194339.bbcbdc68c6a3c9ba498be7ea%40upcmail.nl.

Reply via email to