https://www.antaranews.com/berita/3069005/diplomasi-kesehatan-indonesia-kunci-hadapi-kabut-pandemi?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=category_home



Diplomasi kesehatan Indonesia: kunci hadapi kabut pandemi

Oleh Aria Cindyara      Jumat, 19 Agustus 2022 22:01 WIB

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memimpin pertemuan "COVAX Advance Market 
Commitment Engagement Group" (AMC EG) yang berlangsung secara virtual, Rabu 
(8/6/2022). ANTARA/HO-Kemlu RI/am.
Jakarta (ANTARA) - Diplomasi di sektor kesehatan merupakan salah satu bagian 
vital dari upaya pemerintah untuk mengeluarkan Indonesia dari jerat pandemi 
COVID-19, yang tak hanya memperlambat pergerakan masyarakat dunia namun juga 
membawa berbagai dampak pada pertumbuhan ekonomi.

Upaya diplomasi Indonesia dengan berbagai negara di dunia bukan hanya 
menyangkut kerja sama untuk ketahanan kesehatan global yang lebih baik, namun 
juga membawa manfaat bagi seluruh masyarakat di Tanah Air.

Saat pandemimulai merebak, tak sedikit warga negara Indonesia yang terjebak di 
negara-negara lain dan tak dapat kembali pulang akibat pembatasan pergerakan 
--yang diberlakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran virus.

Upaya untuk menjalankan mandat perlindungan WNI pun harus dijalankan dan 
kekuatan diplomasi Indonesia berhasil dibuktikan pada masa tersebut.

Meski merupakan tantangan yang besar, pemerintah Indonesia berhasil memulangkan 
para WNI dari China saat COVID-19 mulai menyebar di Kota Wuhan, China.

Sebanyak 243 WNI yang berada di Kota Wuhan dan Provinsi Hubei berhasil 
dipulangkan, di tengah kekhawatiran terkait penyebaran penyakit tersebut dan 
ketidakpastian masa karantina yang mungkin harus dijalani oleh para WNI.

Koordinasi dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri dengan berbagai pihak, 
termasuk KBRI Beijing serta pemerintah China yang memiliki berbagai aturan 
sendiri.

Kala itu, pandemi belum masuk ke Indonesia sehingga pihak Kemlu pun harus 
melakukan koordinasi terkait fasilitas karantina yang dapat digunakan oleh para 
WNI setibanya di Tanah Air.

Upaya repatriasi WNI dari China pada 2020 itu menjadi awal dari berbagai upaya 
pemulangan WNI lainnya terkait pandemi COVID-19.

Sejak itu, pemerintah Indonesia menghadapi tantangan untuk memulangkan WNI dari 
berbagai negara yang terkendala terhentinya kegiatan penerbangan internasional.

Mulai dari Filipina, India, hingga Suriah dan Guyana, berbagai tantangan dan 
koordinasi berlapis dihadapi oleh pemerintah Indonesia untuk memastikan 
kepulangan dan keamanan para WNI yang berada di negara-negara lain.

Upaya perlindungan tentu bukan hanya berarti langkah repatriasi, namun juga 
memastikan keamanan bagi mereka yang memutuskan atau harus menetap di sejumlah 
negara.

Mulai dari mengunjungi para WNI, hingga membagikan paket bantuan berisi 
bahan-bahan pokok bagi mereka yang harus melakukan karantina di perantauan, 
perwakilan RI di luar negeri tak henti melaksanakan fungsi perlindungan WNI 
yang telah dimandatkan dalam penugasan mereka.

Kini, situasi pandemi tampak menunjukkan perkembangan yang menyejukkan. Jumlah 
korban jiwa jauh lebih rendah dibandingkan pada masa-masa puncak pandemi. 

Dan yang tak kalah penting, sebagian besar masyarakat telah menerima suntikan 
vaksinasi hingga dosis ketiga.

Menurut Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, diplomasi bidang kesehatan, 
khususnya terkait vaksin pada masa pandemi COVID-19, berkontribusi terhadap 
ketahanan kesehatan serta pemulihan ekonomi nasional.

Terhitung hingga 3 April 2022 lalu, Indonesia telah berhasil menerima sebanyak 
130.662.975 dosis vaksin COVID-19 melalui jalur diplomasi, yakni mekanisme 
COVAX AMC dan skema berbagi dosis atau dose-sharing yang dilakukan secara 
bilateral.

Kerja keras pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri, dalam melakukan 
diplomasi kesehatan merupakan langkah yang patut diapresiasi.

Hal itu merupakan cerminan dari peran aktif Kemlu RI dalam politik luar negeri 
untuk memenuhi kepentingan domestik, sebagaimana dikatakan pula oleh 
Koordinator Tim Kajian Politik Luar Negeri Indonesia P2P LIPI Mario Surya 
Ramadhan.

Selain untuk kepentingan dalam negeri, pemerintah Indonesia juga meluaskan 
kiprahnya dalam diplomasi kesehatan untuk menjalankan peran aktif guna 
memperkuat resiliensi kesehatan dunia dan mendorong kerja sama internasional.

Upaya Indonesia pun mendapatkan apresiasi dari komunitas internasional, salah 
satunya melalui kepercayaan yang diberikan bagi menteri luar negeri RI untuk 
menjadi Ketua Bersama atau co-chair AMC Engagement Group inisiatif global untuk 
akses vaksin yang setara, COVAX.

COVAX AMC merupakan mekanisme global yang bertujuan menyalurkan vaksin secara 
gratis kepada negara-negara anggotanya, yang mencakup 92 negara berpendapatan 
menengah ke bawah dan berpendapatan rendah.

Peran Indonesia dalam COVAX AMC Engagement Group juga menjadi bentuk 
kepemimpinan Indonesia di tatanan internasional untuk menyuarakan kesetaraan 
atas akses vaksin bagi negara-negara berkembang.

Indonesia telah terus menekankan dalam berbagai kesempatan bahwa pemulihan 
dunia tak dapat dicapai hanya dengan pemulihan sejumlah negara tertentu. Dunia 
hanya dapat pulih jika semua negara, tanpa terkecuali, bisa mendapatkan akses 
terhadap vaksin dan pasokan kesehatan yang sama untuk memerangi pandemi.

Pada 8 Juni tahun ini, Menlu kembali memimpin pertemuan COVAX Advance Market 
Commitment Engagement Group. 

Pada pertemuan itu, dia nyampaikan bahwa dunia tengah menyaksikan adanya 
perkembangan positif terkait pandemi COVID-19. Hal itu, menurut Menlu Retno, 
merupakan bukti bahwa upaya jalur multilateralisme dapat membuahkan hasil yang 
baik menuju pemulihan.

Meski sebanyak 12 miliar dosis vaksin COVID-19 telah berhasil disuntikkan, 
Indonesia menekankan bahwa kesenjangan vaksinasi masih tetap terjadi.

Dorongan untuk memastikan bahwa semua orang dapat menerima suntikan vaksin juga 
disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam Konferensi Tingkat Tinggi COVAX AMC 
pada April.

Terkait upaya tersebut, Menlu RI pun mengajukan dua hal yang penting untuk 
menjadi fokus global, termasuk untuk memberikan prioritas pendanaan terhadap 
upaya vaksinasi dan mengintegrasikan vaksinasi COVID-19 ke dalam intervensi 
kesehatan lainnya.

Inisiatif yang diberikan Menlu RI Retno Marsudi dalam peran kepemimpinan di 
forum global pun mencerminkan Indonesia sebagai negara yang turut menyuarakan 
kepentingan negara-negara berkembang dalam upaya-upaya global.


Baca juga: Hampir 12 miliar dosis vaksin COVID-19 telah disuntikkan

Baca juga: Pimpin pertemuan COVAX, Menlu tekankan lagi kesetaraan vaksin

 

RI terima 3,5 juta dosis vaksin AstraZeneca dari Covax
 
 

Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2022

    Tag:
    HUT Kemlu RI
    pandemi

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220819201227.87f42ac0695a5179d4ca32ff%40upcmail.nl.

Reply via email to