Evolusi yang memungkinkan terciptanya naga 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-38116645 Josh GabbatissBBC Earth
 2 Desember 2016

 Kirim http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-38116645#share-tools


 
 Image copyrightREUTERSImage captionNaga dikenal di banyak tempat di dunia, 
seperti Inggris, Islandia, Selandia Baru, dan Cina. Jarang sekali orang masa 
kini percaya dengan naga, walau tim efek khusus drama seri Game of Thrones 
berupaya sebisa mungkin untuk membuatnya tampak nyata. Tidak pernah ada yang 
menemukan naga hidup dan tidak ada fosilnya, jadi beralasan untuk mengatakan 
mereka tidak ada dan tidak akan pernah.
 Tapi jika seandainya ada? Apakah naga seperti yang kita pahami benar-benar 
mungkin ada, atau evolusi masih belum sampai untuk mewujudkan mereka?
 Mari kita bayangkan jika memang naga benar-benar ada. Bukan seperti mahluk 
yang terlihat seperti naga saja, tapi naga terbang yang bisa menyemburkan api. 
Bagaimana binatang seperti itu berevolusi? Dan di mana tempatnya dalam sebuah 
ekosistem?
 Para leluhur kita tidak perlu menggunakan komputer untuk menciptakan naga-naga 
yang meyakinkan.
 "Hampir semua orang, pada tahapan pertumbuhan mereka, yakin bahwa memang naga 
itu ada," kata David E. Jones, pengarang buku tentang naga, An Instinct for 
Dragons.
 Dalam bukunya Jones menjelaskan mengapa naga begitu sangat dikenal di berbagai 
tempat di dunia, seperti di Hawaii, Islandia, dan Selandia Baru.
 Pada 1925, kota terpencil di Alaska diselamatkan dari wabah mematikan oleh 
anjing-anjing yang membawa serum 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-38028950 Kecoa tidak tahan radiasi dan 
sebagian besar bukanlah hama http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-37967884 
Jones mengaitkannya dengan monyet. Di padang rumput Afrika, gerombolan monyet 
menghadapi ancaman tiga pemangsa: ular, elang, dan harimau.
 Menghadapi tiga musuh tersebut, monyet ini mengeluarkan suara khusus, yang 
mengisyaratkan kekhawatiran atau ketakutan mereka. Perilaku monyet ini sudah 
lama dipelajari para ilmuwan dan dianalogikan dengan perilaku di kalangan 
manusia.
 Jones beralasan bahwa naga adalah representasi kekhawatiran primata. Sisik 
ular yang berliku-liku, sayap elang, dan rahang serta cakar kucing besar 
bergabung membentuk memori yang menakutkan di bagian kuno dari otak kita.
 Jadi sejak zaman dahulu kala, otak manusia memiliki semacam memori ketakutan 
terhadap binatang bersisik seperti ular, bersayap seperti elang, dan punya 
rahang serta cakar kuat seperti harimau.
 Reptil dari Zaman Mesozoikum?Image copyrightSCIENCE PHOTO LIBRARYImage 
captionBentuk titanoboa seperti dalam imaginasi seorang pelukis. Penjelasan 
yang sangat rapi dan masuk akal meski tentu saja sulit untuk diuji kebenarannya.
 Yang jelas, setiap kali membayangkan naga, orang biasanya mengaitkannya dengan 
petunjuk dari alam nyata. Filsuf Cina kuno, Wang Fu, mengembangkan teori Jones 
ketika menggambarkan naga yang memiliki leher dengan ular-ular cakar elang, dan 
tapak kaki harimau.
 Namun untuk menemukan sesuatu yang tampak seperti naga yang kita bayangkan, 
maka kita perlu melihat binatang-binatang di masa lalu.
 Terlepas dari budaya apa pun pada masa penampakan mereka, naga selalu 
merupakan reptil. Artinya Zaman Mesozoikum yang menjadi pijakan awal yang 
berlangsung dari 252 juta sampai 66 juta tahun lalu, yang dikenal sebagai 'Masa 
Reptil'. Reptil yang paling terkenal dari Zaman Mesozoikum, tentu saja 
dinosaurus.
 Ada kesamaan antara dinosaurus dan naga yang terdokumentasi dengan baik. Juga 
ada sejarah yang panjang di Cina dalam mengidentifikasi fosil tulang dinosaurus 
yang dianggap sebagai naga.
 Mengapa tenggiling disebut sebagai binatang mamalia yang paling banyak 
diperdagangkan? http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-37847730 Burung parkit 
banyak ditemui di London dan publik tak tahu bagaimana burung ini masuk ke 
Inggris http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-37769196 Para ilmuwan juga 
menggunakan nama naga untuk fosil baru yang mereka temukan. Nama-nama terkenal 
dinosaurus antara lain mulai dari naga Hogwarts atau Dracorex hogwartsia jenis 
pachycephalosaurus dengan kepala berduri, sampai ke naga Qijiang atau 
Qijianglong guokr yang merupakan sauropodus setinggi 15 meter lebih.
 Berdasarkan penampilannya -juga berdasarkan selera mereka untuk mangsa besar- 
jika ada naga yang nyata maka akan serupa dengan pemangsa seperti Tyrannosaurus 
rex.
 Bagaimanapun, kajian yang lebih seksama atas ke anatomi naga menunjukkan 
adalah salah jika menggolongkan mereka ke dalam mahluk seperti itu.
 Dua skenario evolusi Namun dua bentuk tubuh naga yang berbeda memberi petunjuk 
pada dua skenario evolusi.
 Kepompok pertama adalah naga yang terdiri dari lóng di Cina, drakon di Yunani 
Kuno dan wyrm di Inggris. Mereka adalah naga dengan tubuh panjang dan kaki 
pendek atau sama sekalu tanpa kaki. Dalam penampakannya mahluk-mahluk ini pada 
dasarnya adalah ular, jadi kita harus melihatnya dari silsilah keluarga ular.
 Ada bukti-bukti fosil yang memberi petunjuk bahwa ular bervolusi dari kadal, 
yang kakinya menyusut dan perlahan-lahan menghilang ketika mereka beradaptasi 
dengan kehidupan di bawah tanah. Hal ini cocok dengan gambaran klasik dari naga 
bawah tanah, seperti legenda Nidhogg of Norse atau naga bumi Python di Yunani, 
yang menjadi nama bagi ular yang besar dan membelit.
 Yang membedakan naga ini dengan ular yang biasa adalah ukurannya. Namun -dan 
ini bukan masalah besar- kita perlu melihat ke catatan fosil untuk bisa 
menemukan beberapa ular yang berukuran seperti naga-naga raksasa yang membelit.
Image copyrightMILLARD H. SHARP/SCIENCE PHOTO LIBRARYImage captionJika naga 
memang benar-benar ada maka dia mungkin seperti Tyrannosaurus rex, dinosaurus 
pemangsa. Namun ketika Anda berpikir tentang 'naga', kemungkinan Anda tidak 
sedang memikirkan ular raksasa. Anda membayangkan jenis naga yang lain, sebuah 
mahluk dengan sayap besar yang kasar yang ke luar dari pundaknya. Singkatnya 
Anda membayangkan mahluk -yang berdasarkan perspektif anatomi- tidak eksis.
 Di kalangan binatang dengan tulang belakang, sayap berevolusi beberapa kali, 
baik itu burung, kelelawar, mapun pterosauruss. Setiap kali mereka bervolusi, 
caranya sama: nenek moyang yang tidak terbang secara perlahan-lahan 
mengtransformasikan tulang depannya menjadi sayap membran yang didukung oleh 
jari-jari yang dimofikasi.
 Bagi vertebrata, memiliki sayap itu ada bayarannya. Anda bisa memiliki tangan 
atau sayap, tapi tidak keduanya.
 Rancangan tubuh itu amat dilestarikan sehingga tidak mungkin untuk 
membayangkan vertebrata dengan enam sayap, karena itu membutuhkan lompatan 
evolusi yang besar. Ketika sayap tambahan muncul, mereka cenderung tidak 
beradaptasi namun merupakan hasil dari cacat lahir atau dalam kasus beberapa 
katak yang tidak beruntung, mereka sebenarnya terkena infeksi parasit.
 Mungkin inilah sebabnya kenapa dalam banyak film fantasi moder, mulai dari 
Harry Potter sampai The Hobbit, naga klasik dengan enam sayap lenyap digantikan 
model yang lebih ramping dengan empat sayap. Mahluk seperti itu lebih akurat 
atau paling tidak secara anatomis lebih nyata.
 Kemampuan terbang Tetap saja bukan masalah gampang untuk memahami bagaimana 
mahluk besar ini bisa terbang. Untungnya, bagi naga, ada kelompok reptil lain 
yang memberi harapan bagi ambisi mereka untuk terbang.
 Mendapat namanya dari kisah rakyat Uzbekistan, raksasa azhdarchidae dari 
keluarga pterosaurus ini mungkin merupakan hewan terbesar yang bisa terbang, 
dan mereka yang sepertinya menjadi sumber dari naga.
 Sebuah gambar dari Mark Witton -seorang seniman palaeoart atau seni yang 
merekonstruksi kehidupan prasejarah yang juga peneliti pterosaurus- dari 
Universitas Portsmouth di Inggris bisa menjelaskannya. Gambar itu 
memperlihatkan spesies azhdarchilds yang memiliki jangkauan sayap sepanjang 
sekitar 11 meter.
 Hewan raksasa ini bisa terbang namun membutuhkan beberapa penyesuaian khusus, 
antara lain rangka yang hampa untuk meminimalkan beratnya dan lengan depan yang 
kuat untuk menampung otot terbang yang besar.
 Naga hipotetis kita juga memerlukan penyesuaian yang sama dan juga harus 
melakukan beberapa pengorbanan anatomis.
 "Ketika burung terbang, mereka mendapat 90% dari kekuatan peluncurnya di kaki 
belakang yang dialihkan ke sayap-sayap mereka," kata Witton. Artinya, mereka 
membutuhkan badan yang lebh besar karena perlu dua otot untuk terbang ke udara."
 Namun pterosaurus mengandalkan kekuatan tulang depan atau sayap untuk meluncur 
ke udara. "Mereka tidak perlu khawatir untuk mengangkat semua otot kaki ke 
udara setelah lepas landas. Jadi tentu badan mereka bisa saja semakin membesar."
 Dengan kata lain, pterosaurus terbesar bisa menjadi sebesar itu dengan hanya 
memiliki torso dan kaki yang relatif kecil. "Burung bisa sampai seberat 80 kg 
dan itu adalah yang terberat yang masih bisa terbang sementara berat 
pterosaurus terbang bisa sampai lebih empat kali lipat," jelas Witton.
 Maka naga juga harus memberikan pengorbanan yang sama untuk bisa terbang, 
dengan tidak terlalu tebal dan menjadi lamban.
 Jadi mari kita bayangkan naga merupakan pengembangan dari 
azhdarchidpterosaurus raksasa atau dari kelompok reptil terbang yang menjalani 
evolusi sejajar. Tapi bagaimana dengan ciri-ciri ajaib mereka yang lainnya?
 Sumber kecerdasan Dalam mitos-mitos, naga seringkali amat cerdas, yang 
terwujud dengan kejahatan dan kelicikannya yang digunakan untuk mengecoh para 
pembunuh naga. Atau dalam mitos naga di dunia Timur, kecerdasan itu terwujud 
dengan kearifan yang hanya dimiliki oleh manusia. Yang manapun dari keduanya 
itu, maka terlihat naga memiliki kemampuan berpikir yang biasanya tidak 
dihubungkan dengan reptil.
 Para ilmuwan biasanya menggunakan istilah 'reptilian' untuk menggambarkan 
bagian dari otak manusia yang berkaitan dengan fungsi dasar seperti bernafas. 
Hewan reptil memang sering digambarkan seperti itu: tergerak oleh naluri dan 
bukan akal. Namun dalam beberapa tahun belakangan, ilmuwan mulai mengeksplorasi 
kecerdasan reptil dengan merancang beberapa tugas khusus untuk menguji batasan 
kecerdasan reptil.
 Kesimpulan mereka?
 "Reptil bisa menyelesaikan masalah yang bisa dilakukan mamalia," kata Gordon 
Burghardt dari Universtas Tennessee di Knoxville, Amerika Serikat. 
"Penyelesaian masalah yang rumit, pembelajaran terbalik, pembelajaran sosial, 
penggunaan alat dan pengakuan individu, semuanya bisa ditemukan."
Image copyrightMARK WITTONImage captionGambar buatan azhdarchid pterosaurus 
yang sedang terbang. Beberapa reptil cerdas adalah dari spesies yang lebih 
besar yang memiliki otak lebih besar, seperti buaya dan biawak. Kemungkinan 
sumber kecerdasan lainnya adalah umur panjang, yang juga dikaitkan dengan otak 
yang lebih besar. Naga jelas tidak kecil jadi bisa sesuai dengan teori itu, 
namun bagaimana dengan rentang masa hidupnya?
 Bangak legenda bahwa naga itu kekal, sebagai mahluk tanpa usia yang hidupnya 
hanya bisa dihabiskan oleh seorang pahlawan kekar dengan pedang besar. Tentu 
saja kekekalan tidak mungkin walau reptil seperti kura-kura raksasa atau 
tuatara bisa hidup panjang sampai satu abad. Kunci dari hidup panjang itu 
adalah irama yang lambat yang membuat metabolisme yang lambat pula.
 Hal itu menjelaskan kenapa naga menghabiskan banyak waktu dengan duduk-duduk 
santai di tumpukan emas. Tapi apakah mahluk pencinta emas ini pernah berevolusi?
 Dengan ketertarikan orang pada emas dan kesiapan mereka bertarung demi 
mendapatkan emas, maka kecintaan akan emas jelas merupakan hal yang tidak 
menguntungkan bagi naga, yang memiliki senjata paling banyak sekalipun. Dia 
akan terus menghadapi musuh-musuh pencari emas.
 Memang banyak hewan yang suka dengan benda-benda bersinar walau ternyata tidak 
lah benar kalau burung gagak suka benda-benda berkilat.
 Sedang di kalangan bowerbird, burung jantannya mengatur sarang dengan ranting 
dan benda berwarna untuk menarik burung betina. Tentu saja bowerbird amat 
bersahaja dibanding dengan naga yang memilih emas karena bowerbird hanya 
menggunakan buah beri yang berwarna cerah atau pecahan kaca.
 Burun yang unik ini menjadi subyek utama dalam studi tentang pemilihan 
seksual, dengan gagasan bahwa ada karakter yang berevolusi karena jenis kelamin 
tertentu menyuaki ciri-ciri tertentu dari lawan jenisnya.
 Bowerbird betina akan memilih jantan yang memiliki sarang bagus karena menjadi 
indikator tentang kualitas. Jika seekor jantan memiliki tenaga untuk mencari 
barang-barang dan menysusunnya dengan baik, maka dia mungkin memiliki gen 
berkualitas yang akan diteruskan kepada anak-anaknya. Sistem ini bekerja dengan 
baik.
 Tabungan emas naga mungkin semacam perluasan dari sistem bowerbird: naga 
betina akan memilih naga jantan yang memiliki emas terbanyak.
Image copyrightMARK WITTONImage captionAzhdarchid pterosaurs sama tinggi dengan 
jerapah. Yang paling seru: semburan api Kini naga fantasi kita sudah terbentuk 
dengan cantik. Kita sudah punya penjelasan berdasarkan reptil prasejarah 
-mungkin dari keluarga pterosaurus raksasa atau ular raksasa- dengan kemampuan 
akal yang tepat untuk ukuran tubuh mereka dan masa hidup yang panjang. Juga ada 
penjelasan tentang ketertarikannya pada benda-benda mengkilat.
 Tapi masih ada satu yang hilang, yang justru merupakan kemampuan paling hebat: 
mengeluarkan api.
 Ular kobra bisa menembakkan racun dari taringnya. Sengatan dari semut peluru 
amat sakit dengan penggambaran berikut: 'seperti berjalan di atas arang yang 
menyala dengan paku sepanjang tiga inci menancap di tumit'. Gigitan komodo akan 
menyebabkan luka yang dioles dengan racun protein.
 Tidak bisa dibantah bahwa alam memiliki beragam cara yang menakutkan yang bisa 
digunakan oleh binatang untuk melukai satu sama lain, namun mengeluarkan api 
jelas tidak termasuk.
 Satu-satunya yang paling dekat adalah yang disebut bombardier beetle atau 
kumbang pengebom. Serangga ini menyimpan dua unsur kimia, yaitu hydroquinonedan 
hydrogen peroxide- di abdomen mereka. Jika diserang, maka mereka akan 
mengeluarkan reaksi kimia dan menembakkan ramuan kimia yang mendidih itu ke 
sang penyerang.
 Bayangkan sebuah analogi evolusi senjata kimia dari reptil beracun. Dua 
kelenjar di lehernya mengeluarkan solusi yang diperlukan yang ketika dicampur 
di bagian belakang tenggorokan akan menghasilkan gas panas cair dari mulutnya.
 Mahluk seperti itu tentu saja amat tidak mungkin, tapi bagaimana dengan 
bombardier beetle.
 Kumbang pengebom itu sudah lama disebut oleh para penganut keyakinan 
penciptaan oleh yang maha kuasa sebagai bukti bahwa teori evolusi tidak benar, 
dengan alasan kumbang itu tidak mungkin berevolusi secara alami tapi begitulah 
diciptakannya.
 Namun argumentasi antievolusi tersebut sudah dibantah dengan tegas oleh para 
ilmuwan yang menyusun tahap-tahap penting dalam peralihan dari kumbang yang 
tidak menyerang menjadi kumbang yang menyerang.
 Bisa dipahami jika orang meragukan tentang naga yang hebat ini namun seperti 
kata peribahasa kuno, 'kebenaran lebih aneh dibanding fiksi'. Evolusi, secara 
abadi, telah menghasilkan inovasi yang luar biasa.
 Naga mungkin hanya ada dalam khayal manusia, namun dunia yang nyata bisa lebih 
dari sekedar keanehan mereka.
 Artikel asli dalam bahasa Inggris yang ditulis Joss Gibbatiss: How evolution 
could give rise to real-life dragons 
http://www.bbc.com/earth/story/20160929-how-evolution-could-give-rise-to-real-life-dragons
 dan artikel-artikel lain sejenis bisa Anda baca diBBC Earth 
http://www.bbc.com/earth/uk.

 

 

Kirim email ke