https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153
Rabu 08 Mar 2017, 21:35 WIB
Buruh Migran Indonesia: Beri Saya
Kesempatan Jadi Ibu Sebenarnya
BBC Indonesia - detikNews
Share *0*
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
Tweet
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
Share *0*
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
0 komentar
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
Buruh Migran Indonesia: Beri Saya Kesempatan Jadi Ibu Sebenarnya (BBC
Indonesia) Sayona Bekhasyiffa Sari atau Syiffa berharap dapat mendalami
studi perbankan syariah di Malaysia.
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
<https://news.detik.com/bbc-world/d-3441793/buruh-migran-indonesia-beri-saya-kesempatan-jadi-ibu-sebenarnya?_ga=1.252738569.1639178387.1489004153#>
*Kuala Lumpur* - Sayona Bekhasyiffa Sari, (17) seorang siswi Madrasah
Aliyah di Blitar, Jawa Timur, berkemas-kemas hendak mengunjungi ibunya
di Johor, Malaysia, akhir Februari lalu.
Ini akan menjadi perjalanan istimewa bagi remaja yang biasa
dipanggilSyiffa itu. Pasalnya, ia tidak akan hanya bertemu dengan ibunya
-yang bekerja di negara tetangga itu sehingga hidup terpisah selama 16
tahun terakhir- tetapi juga akan mengunjungi dua perguruan tinggi di
Malaysia,.
Di negara tempat ibunya selama ini mencari nafkah, ia berharap dapat
melanjutkan pendidikannya dengan beasiswa dari pemerintah.
* Laporan berseri BBC Indonesia tentang anak Indonesia yang terpisah
dengan Ibunya. <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39106072>
* 'Sulit mengawasi' jalur gelap TKI ilegal dari Malaysia-Indonesia
<https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160126_indonesia_jalur_ilegal_malaysia>
* Anak terpaksa ditinggal: kisah para ibu yang merantau ke Malaysia
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39031070>
"Karena Syiffa tak mau membebani mama, jadi kalau nanti program beasiswa
sudah di-acc (disetujui) nanti melanjutkan ke Malaysia jadi akses ke
mama lebih dekat, lebih sering bertemu tapi kalau tidak bisa melanjutkan
di Indonesia," tuturnya.
Putri semata wayang Jovitasari itu diasuh oleh tante-tantenya sejak
usianya baru sekitar satu tahun setelah Jovitasari bercerai dan kemudian
merantau ke Malaysia.
Pekerja, TKI
(BBC Indonesia)Syiffa mengaku ingin merasakan kehidupan normal dengan
ayah dan ibu.
"Waktu itu saya berjuang sebagai single parent (orang tua tunggal), saya
lah mak dan sayalah pak. Kebetulan saya di sini pun pertama kali korban
trafficking (perdagangan manusia) juga," papar Jovitasari, seorang
tenaga kerja Indonesia (TKI) atau dikenal juga dengan istilah buruh
migran, yang punya keterampilan rias dan bekerja di negara bagian Johor,
Malaysia.
Awalnya ia bekerja sebagai penggulung kertas mesin kasir dan kemudian
pindah ke salon sesuai dengan keterampilan yang dimilikinya.
"Tiga tahun bekerja saya tidak dapat hasil, tidak dapat pulang, tidak
dapat tengok anak. Dan tiga tahun pertama itulah yang saya rasa awal
yang menjadikan anak saya lupa dengan saya."
*Tidak menghubungi keluarga*
Putrinya, Syiffa, diasuh oleh kakak-kakak Jovitasari. Karena biaya
telepon mahal ditambah dengan ketidakberanian menghubungi keluarga jika
belum bisa mengirim uang, maka Jovitasari mengaku jarang menghubungi
anaknya.
Sembilan tahun kemudian, ia baru pulang ke kampung halamannya di Blitar.
Pekerja, TKI
(BBC Indonesia) TanteSyiffa,UcikYuswadi mengaku rela 'melepaskan'Syiffa
ke ibunya setelah ibunya 'mapan'.
"Ketika dia umur 10 tahun saya pulang. Ingatan saya anak saya sepertinya
masih kecil. Saya belanja baju atau apapun saya anggarkan kayak umur
masih kecil."
''Waktu itu saya tanya 'mana anak saya? Rupanya anak saya yang di depan
yang sudah bersalaman. Anak saya tidak mengenali saya, saya pun tidak
mengenali dia," kata Jovitasari dalam wawacara di Johor, Malaysia.
"Mama mungkin tidak sadar kalau Syiffa memanggil-manggil mama. Habis
itu, yang dicari malah orang lain. Waktu itu ada sepupu pakai jaket
Syiffa waktu kecil. Mama ingat itu jaket pernah Syiffa pakai jadi mama
ingat sama jaketnya, tidak ingat anaknya," ujar Syiffa yang saya temui
terpisah di Surabaya sebelum berangkat ke Malaysia.
*'Cemburu'*
Setelah pertemuan pertama itu, menurut Jovitasari, hubungan ibu dengan
anak lebih erat. Bahkan Syiffa sudah sering mengunjungi ibunya di
Malaysia. Bagaimanapun, jarak tetap ada dan Jovita merasa tidak bisa
bersikap seperti kakak-kakaknya.
"Sepertinya saya sudah tidak ada otoritas. Kalau ibu dengan anak yang
hanya dijaga oleh ibu, jika curhat atau minta pendapat itu antara saya
dengan anak. Tapi sekarang ini saya merasa seperti ada perbandingan. Itu
mungkin kecemburuan seorang ibu yang gagal untuk mendampinginya."
Pekerja, TKI
(BBC Indonesia)Jovitasari memperlihatkan fotoputrinya ketika ia
mengunjunginya di Malaysia beberapa tahun lalu.
"'Mama bilang begini, ibu Ucik bilang begini, ibu Uwit bilang begini.'
Jadi kalau dia ngomong seperti itu saya merasa bahwa pendapat saya tidak
di hati dia sepenuhnya. Kadang-kadang saya merasa bahwa corak hidup anak
saya bukan dari saya, tapi dari kakak-kakak saya. Saya hanya membantu
dana," ujarnya.
Namun kakak tertua Jovitasari, Ucik Yuswadi menuturkan persaingan
pengaruh dalam kehidupan Syiffa tidak ada.
"Di keluarga saya, kalau ada saudara yang harus dibantu itu harus
saudara yang lebih tua yang sudah mungkin bisa mengangkat adik-adiknya.
Itu memang didikan bapak ibu saya. Saya tidak mengambil haknya Jovi tapi
saya cuma membantu untuk membesarkan anaknya. Jadi nanti kalau dia sudah
mampu untuk mengambil anaknya sendiri, ya silakan ambil," jelasnya dalam
wawancara dengan BBC.
*'Broken home'*
Baik ibu maupun anak menyatakan tidak ingin menyesali perpisahan mereka
selama lebih dari 16 tahun dan ketika Syiffa mulai kuliah tahun depan
mereka berharap akan bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak.
"Saya sudah menyuarakan kepada kakak-kakak saya 'Beri saya kesempatan
untuk saya menjadi ibu yang sebenarnya, membimbing dia, mencorak dia di
ujung-ujung langkah dia. Maksudnya, kalau sudah lepas kuliah bermakna
dia adalah dia sendiri," ungkap Jovitasari dalam wawancara dengan
wartawan BBC, Rohmatin Bonasir, di Johor.
Pekerja, TKI
(BBC Indonesia)Jovitasari mengaku kini sudah waktunya bagi ibu dan anak
untuk berkumpul.
Adapun putrinya mengaku punya harapan besar terhadap dirinya sendiri.
"Syiffa sebagai anak dari broken home, tidak semua anak dari broken home
nakal, tidak bisa diatur. Saya ingin menunjukkan meskipun dari kecil
Syiffa tidak bersama mama, tidak bersama papa, Syiffa diasuh oleh banyak
orang, tapi Syiffa tunjukkan bahwa Syiffa bisa menjadi kebanggaan orang
tua. Jadi Syiffa bisa jadi kebanggan orang tua. Mama itu punya Syiffa
saja sudah cukup. Syiffa sudah bisa jadi obat buat mama sesuai dengan
apa yang mama harapkan."
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Tulisan ini merupakan bagian dari laporan seri 'Generasi tanpa asuhan
ibu' di BBCIndonesia.com dan juga di Radio BBC Indonesia dalam acara
Liputan Khas.
*(nwk/nwk)
*