https://dunia.tempo.co/read/news/2017/03/08/116853686/hari-perempuan-buah-perjuangan-perempuan-komunis-dan-sosialis
Hari Perempuan, Buah Perjuangan
Perempuan Komunis dan Sosialis
Rabu, 08 Maret 2017 | 07:32 WIB
* share facebook
* share twitter
* share google+
* share pinterest
Hari Perempuan, Buah Perjuangan Perempuan Komunis dan Sosialis
Clara Zetkin. acelebrationofwomen.org <http://acelebrationofwomen.org>
*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, Jakarta--Hari Perempuan Internasional yang
diperingati setiap tanggal 8 Maret dilahirkan oleh perempuan-perempuan
anggota Partai Komunis dan Partai Sosialis di Rusia, Amerika Serikat,
dan negara-negara Eropa pada masa Perang Dunia Pertama.
Menurut Profesor emiritus dari Universitas Nasional Australia, Marian
Sawer, kemungkinan sebagian besar orang tidak menyadari akar Hari
Perempuan Internasional adalah gerakan kaum sosialis dan komunis
internasional di akhir abad 19 dan awal abad 20.
Baca: Kenapa Dunia Perlu Peringati Hari Perempuan Internasional?
<https://m.tempo.co/read/news/2017/03/07/117853577/kenapa-dunia-perlu-peringati-hari-perempuan-internasional>
"Secara luas dimiliki Partai Komunis dan perempuan-perempuan sosialis
hingga kedatangan gelombang kedua gerakan perempuan misalnya di
Australia pada akhir tahun 1960-an," kata Sawer seperti dikutip dari
abc.net.au <http://abc.net.au>, 7 Maret 2017.
Hari perempuan nasional pertama digawangi Partai Sosialis Amerika pada
tahun 1909. Mereka memperingati unjuk rasa para pekerja industri garmen
di New York tahun sebelumnya. Saat itu, ribuan perempuan menggelar unjuk
rasa untuk menuntut perbaikan kondisi kerja agar lebih baik.
Kaum sosialis Eropa mewaspadai gerakan perempuan Inggris yang menuntut
hak memilih yang dikhawatirkan mereka justru memberikan suaranya kepada
kelompok konservatif.
Kemudian, dalam satu konferensi kaum sosialis internasional di
Copenhagen, Denmark tahun 1910, perempuan sosialis asal Jerman, Clara
Zetkin menyarankan perlu ada hari perempuan pekerja internasional untuk
mengkampanyekan hak memilih dan kesetaraan hak.
Ide Zetkin mendapat dukungan dari delegasi 17 negara dalam konferensi
itu. "Clara Zetkin memiliki kepribadian kuat dan tekun," Sawer memberi
pujian.
Hari Perempuan Internasional untuk pertama kali diadakan pada tanggal 19
Maret 1911. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki di Jerman,
Austria, Denmark, dan Swiss merayakannya.
Pada tahun 1921, pertemuan Komunis internasional diadakan. Delegasi
Bulgaria berhasil mempertahankan argumennya agar Hari Perempuan
Internasional dirayakan pada tanggal 8 Maret untuk menghormati perempuan
yang mendorong lahirnya Revolusi Rusia.
Di Rusia pada masa itu, kaum perempuan tidak menyangka aksi unjuk rasa
mereka di jalan-jalan di Petrograd, ibu kota Rusia- kini dikenal sebagai
St.Petersburg-akan melahirkan revolusi di Rusia.
Situasi Rusia di masa itu sangat menyedihkan. Kerusuhan sosial dan ribut
politik kerap muncul sebagai hasil dari ketidaksetaraan ekonomi,
kelangkaan pangan, dan kemarahan terhadap keterlibatan Rusia dalam
Perang Dunia Pertama.
Kaum perempuan pekerja tekstil marah dengan situasi di Rusia. Mereka
meninggalkan pekerjaannya di pabrik tempat mereka bekerja. Mereka lalu
bersatu berunjukrasa di Petrograd pada 23 Februari 1917 menurut kalender
Julian atau 8 Maret menurut kalender Gregorian.
Mereka berunjuk rasa membawa pesan bertajuk Roti dan Perdamaian. Aksi
mereka mendorong terjadinya kerusuhan dan demo massa.
Ternyata aksi unjuk rasa kaum perempuan pekerja Rusia ini mendapat
dukungan dari tentara hingga akhirnya Tsar Nicholas II, yang bertahta
sejak 1894 berhasil dijatuhkan.
Sejak itu, tuntutan perempuan Rusia dipenuhi. Rusia menjamin hak kaum
perempuan untuk memberikan suara.
Revolusi Rusia dan gerakan perempuan Komunis dan Sosialis di Amerika
Serikat dan Eropa menjalar ke Australia. Kaum perempuan militan
Australia dari Partai Komunis turun ke jalan merayakan Hari Perempuan
Internasional yang pertama kali pada tahun 1928.
Perempuan-perempuan Australia dari Partai Komunis mengkampanyekan
tuntutan atas hak-hak perempuan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pertama kali merayakan Hari Perempuan
Internasional pada tahun 1975.
"Ini saatnya perempuan dapat mengidentifikasi secara bersama-sama
tentang pertarungan yang masih berlanjut untuk kesetaraan jender,
menutup jurang pengupahan, dan menghapus kekerasan berbasis jender dan
seterusnya," kata Sawer.
ABC.NET.AU <http://ABC.NET.AU> | TELEGRAPH | MARIA RITA