Ini pendapat yang patut didukung. Jadi, sebanyak apa pun pengusahayang baik 
hati, tetap harus dibatasi untuk langsung mengangkat masyarakatpedesaan. Kalau 
mau, kebaikan hatinya cukup disalurkan melalui pemerintah.
Setiap negara pasti punya kebijakan & cara sendiri dalam menangani 
kemiskinan. Cara yang manjur di satu negara belum tentu cocok di tempat 
lain.Dari Chan kita sudah dengar tentang keberhasilan cara RRC mengangkat 
Desa Huaxi yang penduduknya diberi bantuan menjadi orang kaya dengan 
bekerja kepada perusahaan konglomerat (Huaxi Group?). Sekalipun tidak 
cocok untuk Indonesia, cara ini mulai ditiru Jokowi dalam skema "pembagian"12,7 
juta lahan hutan. Tidak cocok. Karena perusahaan langsung campur tangan 
ke pedesaan, apalagi kalau warga penerima lahan itu juga harus menanggalkan 
seluruh kekayaannya jika pindah ke desa lain seperti halnya penduduk desa Huaxi.
Nah, barangkali Anda bisa ceritakan bagaimana pemerintah Belanda menangani 
masalah ini. Sebab, dulu seingat saya ada sekitar 800 ribu KK (minimal 1,6 juta 
orang) yang mendapat tambahan bantuan khusus untuk kredit barang kebutuhan, 
sehingga kemiskinan pun tertutupi karena mereka tetap bisa memiliki/kredit 
sofa empuk, komputer, televisi, lemari es, bahkan sepeda bermerk mahal seperti 
warga lainnya. Bagaimana sekarang, yang dalam 5 tahun terakhir konon jumlah 
warga miskinnya bertambah 1% menjadi 2 jutaan orang?
Salut untuk Sony sang manager. Semoga restorannya terus berkembangbiak - 
mengurustempat makan menu khas bukanlah pekerjaan mudah. Hanya saja dari 
pengalaman 
selama ini, pemilik yang usahanya cepat berkembang hingga ke kota atau propinsi 
lain 
bakal tergoda untuk melindungi usahanya melalui jalur politik. Di Indonesia 
sekarang 
berpolitik malah dijadikan ladang usaha, ha-ha-ha...
   --- djiekh@... wrote:
Hanya saja apa cukup banyak milyunner dan biljyuner yang mau sukarela membantu 
daerah miskin sampai bisa bekerja berdiri sendiri. Kalau ada dan banyak yang 
brsedia bantu, tentu baik sekali. Tetapi mengangkat daerah pedesaan dari 
kemiskinan, sudah benar tugas pemerintah.
Tidak semua milyuner sebaik Tan Kah kee yang mendirikan sekolah2 di Tiongkok 
dan universitas Xiamen, sekolah2 di malaya dan Singapore. Yang kemudian 
diteruskan oleh lee Kong Chean, menantunya, dan Lee Seng Gie, anak lee Kong 
Chean yang membangun perpustakaan 13 tingkat di Singapore untuk umum, dan 
memberi donasi ke Universitas di Singapore, sekolah2, dan rumah sakit.
Orang2 Zhejiang di negeri Belanda kumpulkan uang, bangun jalan raya dari 
pelabuhan udara ke ibukotanya propinsi Zhejiang. Orang2 Zhejiang kabarnya 
kaya2, pandai berusaha dengan sistim kongsi. Banyak usaha di Tiongkok, di 
propinsi2 lain, sehingga orang2 di propinsi lain ada yang berseloroh: kami 
sekarang dijajah orang Zhejiang.Ya, mereka juga tahu, kalau usaha baru orang 
Zhejiang ini juga memberi banyak lapangan kerja di propinsinya.
Waktu kami mantu, restaurant Zhejiang menyanggupi kirim makanan dalam keadaan 
panas ( dikirim dengan peti isolator) karena jarak dari restaurant ke tempat 
pesta tidak lebih dari 15 menit. kemudian untuk tambahi makanan, kami perlu 
bayar sewa kompor besar. Kompor besar, piring, gelas, restaurant yang urus 
sewanya. Dia kirim satu koki, dan beberapa pembantu, yang kami tidak perlu 
extra bayar. Kami tahu beres. Kami mau beri persekot, dia bilang tidak usah. 
Selesai pesta, kami mau bayar, dia bilang, tunggu dua minggu nanti kalau sudah 
tenang, silahkan datang bayar. Bukan main, kok percayanya.
Beberapa tahun kemudian kami datang cari Sony, manager restaurant itu untuk 
pesan makanan. Yang di restaurant bilang, Sony tidak urus restaurant ini 
langsung, kadang2 saja dia datang. Tetapi dia ada di seberang, di restaurant 
baru. Kami ke seberang temui Sony. Dia Kasih tahu nama colleganya yang sekarang 
urusi restaurant, supaya kami hubungi. Dia cerita, kalau dia tugasnya sekarang 
bangun restaurant2, cari annemer Belanda, cari tukang2 dari Tiongkok untuk 
kerjakan bagian dalam restaurant, pesan alat2 dan dekorasi dari Tiongkok, cari 
tukang masak dan kelner dari Tiongkok. Kalau selesai satu, bangun lagi lain di 
tempat lain. Saya tanya, wah kongsinya begitu kuat ? Dia bilang anggota 
kongsinya bisa berlain lainan, tetapi pemilik utamanya orang yang sama.
2017-03-10 21:46 GMT+01:00 Jonathan Goeij:


 Bung Chan, kelihatannya anda sedemikian kesengsemnya sama CSR dgn contoh yg 
dilakukan Wanda Group itu. Pingin tahu sampai sejauh mana para billioner dan 
milliuner itu berhasil mengentaskan kemiskinan sehingga bagi anda kelihatannya 
itulah jalan yg terbaik. 
--- SADAR@... wrote :

Yang pasti nenek yang satu ini sudah TIDAk ADA KEKUATAN masih saja main 
hantamkromo, semua dihajar jadi MUSUH yang harus dibasmi, dari renegad remo 
sampai kapitalis. Bagaimana bisa menang kan revolusi dan wujudkan impian 
indahnya jadi kenyataan kalau begitu? Kecuali dalam mimpi saja!!! Hehehee, ... 
Gimana anda mau sejahterakan rakyat banyak yang MISKIN kalau tidak ada uang??? 
Beli kolor saja tidak bisa! Lalu? Ngerampok, merampas kekayaan kapitalis 
saja??? Bagaimana anda mau kembangkan usaha-RAKYAT kalau tidak ada yang 
tanamkan modal disitu? Menjilat kapitalis dan konglomerat? Tentu saja tidak 
usah menjilat! Cukup TARIK-lah mereka-mereka dikalangan kapitalis itu untuk 
ikut serta membantu mengentaskan kemiskinan, itu yang saya lihat dijalankan di 
Tiongkok dalam usaha membantu perkampungan miskin berubah menjadi kampung 
makmur bermunculan dimana-mana! Itulah KENYATAAN yang terjadi, sekalipun anda 
tuduh renegad remo, tapi PKT BERHASIL sekalipun tetap menggunakan kapitalis, 
konglomerat ikut serta mengentaskan kemiskinan! Lalu, dimana peran pemerintah? 
Pemerintah jadi bisa lebih menitik beratkan pada pembangunan infrastruktur, 
dari meneruskan kembangkan jaringan KA-Cepat, jalan2 tol sampai memindahkan 
jalur sungai, menaikkan aliran sungai keatas pegunungan, membangun 
pembangkit-listrik didaerah terbelakang dsb. dsb nya. Karena masalah utama 
untuk bangkitkan kampung terbelakang menjadi maju, yaa terutama masalah air dan 
listrik, jalan-raya, KA untuk mencapai dan mendekatkan hubungan tukar-menukar 
hasil produksi diperlancar, ... Itu yang TERJADI sekarang ini di Tiongkok! 
Salam,ChanCT
From: Tatiana LukmanBolak balik logika orang remo, renegad dan pendukung setia 
kapitalisme adalah uang!!! Titik tolaknya, tanpa uang tidak akan ada gerakan!!! 
Kalau Lenin bilang tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan 
revolusioner. Sedangkan fokus pendukung kapitalisme UANG!! MAKANYA HARUS 
MENJILAT KEPADA KAUM KONGLOMERAT!!!
On Friday, March 10, 2017 7:04 AM, SADAR@... wrote:
Lalu, ... maksudnya BAGAIMANA memulai dan SIAPA yang bisa menggerakkan dan 
bangkitkan akr-rumput itu untuk menjadi sejahtera dalam waktu bersamaa, ... 
darimana bisa dapatkan DANA, KEAHLIAN/PENGETAHUAN dan KADER yang cukup untuk 
itu dalam seketika????? Itulah mimpi nenek dalam tempurung yang sangat TIDAK 
REALIS dan TIDAK MUNGKIN diwujudkan menjadi kenyataan!!!
From: Tatiana LukmanKalau memang jujur berpendapat begitu, sudah waktunya turun 
kebawah, dukung gerakan akar rumput. jangan mulai dari kelas menengah. Mulai 
dari kelas yang berada di jenjang paling bawah dalam piramid.

On Wednesday, March 8, 2017 1:19 PM, lusi_d@... wrote:
Nylekitnya pendapat Rizal ini dimana? Dia kan mengajukan kenyataan
kejadiannya secara historis dan mengemukakan pendapat versi dia secara
apa adanya.

Baiknya yang mengharapkan tidak nylekit kasih argumen balik donk.
Misalnya Rizal mengemukakan hasil penilaiannya bahwa "... pemerintah
selama ini justru mengakomodir kepentingan konglomerat..." atau "Nah
struktur inilah hasil daripada neoliberalisme,...".

Bisa diterima nggak alasan yang dikemukakan Rizal itu.

Salam
Lusi.-

Am 08 Mar 2017 02:21:50 +0000
schrieb jonathangoeij@... :

> Pesan nyelekit Rizal Ramli buat Jokowi dan Ahok
> https://www.merdeka.com/ politik/pesan-nyelekit-rizal- 
> ramli-buat-jokowi-dan-ahok. html
> Rabu, 8 Maret 2017 06:04Reporter : Yayu Agustini Rahayu
> https://www.merdeka.com/ reporter/yayu-agustini-rahayu/ , Randy Ferdi
> Firdaus https://www.merdeka.com/ reporter/randy-ferdi-firdaus/
> 366 SHARES
>
> 
> Menko Kemaritiman dan Ahok di pulau reklamasi. ©2016
> merdeka.com/muhammad luthfi rahman
> 
> 
> Merdeka.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan
> Sumber Daya Rizal Ramli kembali buka suara. Dia menyoroti pembangunan
> ekonomi Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
>
> Menurut dia, pemerintah selama ini justru mengakomodir
kepentingan
> konglomerat. Maka tidak heran, banyak usaha bidang ekonomi kelas
> kakap yang dikuasai oleh beberapa pengusaha kaya raya saja.
> 
> Rizal yang hanya bertahan satu tahun di kabinet kerja Jokowi ini
> menilai, merosotnya perekonomian di Indonesia dikarenakan
> pemerintahan yang menganut neoliberalisme. Paham tersebut berdampak
> pada terjadinya ketimpangan antara konglomerat dan warga miskin.
> 
> "Dampaknya seperti gelas anggur yang atasnya ini big business
> (pengusaha besar) baik BUMN maupun swasta. Ada sekitar 200 keluarga
> yang menguasai ekonomi Indonesia dan sekitar 180 BUMN. Selama ini,
> sejak orde baru mereka dilindungi, diproteksi, dan diberikan subsidi
> langsung maupun tidak langsung sehingga makin lama makin besar," ujar
> Rizal saat menjadi pembicara di Rakornas PKS yang digelar di Hotel
> Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/3).
> 
> Sementara itu, di bawahnya ada bagian tipis dan panjang yang
> berfungsi sebagai pegangan. Rizal menyebut bagian tersebut sebagai
> golongan menengah yang independen.
> 
> "Jumlah golongan menengah sedikit sekali, di bawahnya lagi alas, ada
> 40 juta sampai 60 juta usaha kecil dan rumah tangga yang negara
> bantunya cuma ecek-ecek, yang negara bantunya cuma charity tapi
> negara tidak membantu secara struktural supaya mereka lebih hebat,"
> terang Rizal.
> 
> Menurut Rizal, seharusnya golongan alas tersebut yang harus dibantu
> oleh pemerintah. Namun pada kenyataannya, pemerintah lebih cenderung
> menyokong para pengusaha besar.
> 
> "Nah struktur inilah hasil daripada neoliberalisme, sehingga aneh
> buat saya, PKS yang mewakili umat yang mewakili golongan menengah
> harusnya berjuang untuk yang di bawah ini. Memperbesar yang menengah
> yang independen dan mengubah yang atasnya," ungkap Rizal.
> 
> Golongan atas, atau para pengusaha besar, menurut Rizal, saat ini
> hanya jago kandangNah struktur inilah hasil daripada neoliberalisme,.
> Artinya, mereka hanya mengeruk keuntungan dari dalam negeri sendiri
> tanpa memberi kontribusi yang lebih menguntungkan baik bagi negara,
> maupun rakyat kecil dan menengah.
> 
> "Kebanyakan mereka mengambil untung dari yang di bawah di dalam
> negeri, kalau udah dapat uang ia kirim uang ke luar negeri," ujar
> Rizal.
> 
> Hal ini, menurut Rizal, sangat bertolak belakang dengan negara maju
> di Asia seperti di Korea dan Jepang. Di sana, perusahaan besar
> menjadi jago dunia yang artinya aktif mengekspor hasil produksi ke
> luar negeri sehingga mereka mengambil untung dari luar dan
> mensejahterakan warga di negaranya.
> 
> "Mereka bukan jago kandang, mereka jago dunia. Sedot untung dari luar
> negeri, nilai tambah dibawa ke dalam negeri supaya mereka besar di
> dunia internasional dan mereka mesti membina yang kecil (di dalam
> negeri) dan supaya yang menengah bisa jadi pemasok untuk spare part
> misalnya, pemasok untuk komponen sehingga yang menengahnya juga kuat
> dan yang kecil akhirnya dikembangkan," terang Rizal.
> 
> Tidak cuma Jokowi yang kena sindir oleh Rizal, Gubernur DKI Jakarta
> http://www.merdeka.com/tag/j/ jakarta/ Basuki T Purnama ( Ahok
> https://www.merdeka.com/tag/a/ ahok/) pun kena serang. Rizal diketahui
> memang pernah terlibat perseteruan dengan Ahok saat membahas proyek
> reklamasi teluk Jakarta saat masih jadi menteri. Tak selang dari
> perseteruan itu, Rizal dicopot.
> 
> "Terganggu dengan kehadiran Ahok, terganggu karena penistaan agama,
> terganggu karena memakai slogan bersih tetapi tidak, terganggu karena
> selama ini pakai slogan transparan pada praktiknya tidak, terganggu
> dengan kampanye profesional pada praktiknya tidak," kata Rizal.
> 
> Rizal bahkan mewanti-wanti PKS agar jangan sampai menjadi partai
> politik yang mendukungnya. "Saya yakin PKS bisa lebih besar. Jika
> mendukung Ahok, akan tenggelam bersama-sama Ahok," ujar Rizal.
> 
> Rizal juga menyoroti merosotnya pamor beberapa parpol besar setelah
> menyatakan dukungannya kepada Ahok. Rizal menjelaskan, partai yang
> tadinya bisa meraup suara sebesar 18 persen maka setelah partai
> tersebut mendukung Ahok, kemungkinan akan drop menjadi 12 persen.
> 
> "Apa yang kami sebut sebagai Ahok Effect. Efek tenggelamnya
> partai-partai besar yang mendukung Ahok di Jakarta," tandas Rizal.
> [rnd]
> 
> 
> 
> 
> 

   


   

Kirim email ke