Pada Sabtu, 11 Maret 2017 18:02, "'Tsasando' [email protected]
[wahana-news]" <[email protected]> menulis:
https://seword.com/sosbud/tengku-zulkarnain-provokator-berkedok-ulama/
Tengku Zulkarnain Provokator Berkedok Ulama
29 BY LOSA TERJAL ON MARCH 7, 2017 Nama Tengku Zulkarnain menjadi viral
dan meroket semenjak adanyaperistiwa “penoda agama” yang menimpa Ahok.
Ketenaran tersebutjustru bukan dari hasil dakwah yang melainkan dikarenakan
dirinya yang kerap berkicau frontal danprovokasi melalui akun sosial media
Twitter bahkan juga berkesan ancaman.
Di dunia maya sendiri Tengku Zulkarnain memiliki akun medsos dengan nama
akunTwitter @UstadTengku yang kerap mendapatkan kecaman dari netizen dan
masyarakatbanyak. Kecaman sendiri dikarenakan adanya ceramah yang kasar dan
hanyabermodalkan teriakan provokator yang sama sekali tak mencerminkan
seorangUlama. Bahkan netizen dan termasuk sayamenganggap jika ustad satu ini
tak layak disebut ustadz karena memiliki ilmuyang dangkal dan atau kurang
mengetahui apa yang dibicarakan. Selain kasar,teriakannya menantang bahkan
banyak tweet yang menyinggung SARA.
Ada benarnya apa yang telah diucapkan Gus Mus, bahwa tidak semua orang yang
adadi MUI itu ulama, tapi banyak dari mereka yang menyebut dirinya ulama.
Sehingga,menurut Gus Mus, banyak umat Islam yang menganggap MUI sebagai penentu
fatwayang wajib diikuti. Tengku Zulkarnain, UstadProvokator yang senantiasa
mengenakan khas berpakaian gamis putih (jubah) dansorban ternyata adalah biang
fitnah dan provokator ulung, sebelumnya dia(T.Zulkarnain) pernah mengirimkan
cuitan di twitter dengan gambar foto Quran yangdirobek-robek yang diasosiasikan
dengan pendukung Ahok di Pengadilan Jakarta,padahal asli foto itu kasus di
Malaysia.
Cara-cara provokasi dan fitnah Tengku Zulkarnain ini membahayakan kerukunanumat
beragama dan mencederai citra ulama di Indonesia. Mengotori nilai-nilaiyang ada
pada Islam itu sendiri. Dan sangat wajar jika beberapa bulan yang laluadanya
Penolakan pemuda Dayak di Kalimantan Barat atas dirinya, yang dapatmenjadi
bukti bahwa ucapan dan cara-cara Tengku Zulkarnain Ustad Provokatorditolak oleh
masyarakat.
Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain tampaknya seperti tidak terima melihatkemenangan
Ahok diputaran pertama Pilgub DKI dan menuduhnya melakukankecurangan,
kekecewaannya tersebut ditulis di akun Twitternya dalam bentuk doa.Saya
ingatkan kembali pada anda coba lihat pada Screenshhot dibawah ini :
SementaraAhok sendiri sedang menjalankan proses hukum, yang belum diputuskan
apakah diabersalah atau tidak dimata hukum, kemudian Ahok pun sudah
terang-teranganmeminta maaf. Semua itu tidak berlaku pada Tengku Zulkarnain
yang disebutsebagai ulama, malah dia menuduh ada cara-cara curang untuk
memenangkan penistadan kejinya meminta malaikat maut kepada Tuhan untuk
menyelesaikannya. Lebih tepatnya, Tengku Zulkarnaindisebut provokator berkedok
Ulama. Karena apa yang telah dia lakukan sejakadanya peristiwa yang menimpa
Ahok kerap kali berkesan mengancam dan memecahbelah persatuan umat. MUI dalam
hal ini hendaknya bersikap tegas, tapi apa yangdiharapkan justru seperti tungku
tak berapi (sia-sia). Justru Tengku Zulkarnainberada diposisi strategis MUI
yaitu sebagai Wasekjen MUI. Jelas sekali semua yang ditulisoleh Tengku
Zulkarnai di akun medsosnya melukai umat Islam itu sendiri. Apayang dilakukan
bukan berdakwah atas perjuangan murni agama melainkan hanyauntuk menyerang
Ahok. Respon yang selalu keras diperlihatkan olehWasekjen Majelis Ulama
Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain. Menurutnya, meskiAhok telah meminta maaf
dan menegaskan niatnya tidak bermaksud melecehkan agamaIslam, ia tetap meminta
agar kepolisian menindak hal itu sebagai pelecehanagama.
Hal itu disampaikan dalam dialog yang dipandukarni Ilyas, Tengku Zulkarnain
menuturkan “Kalau menurut hukum Islam,Ahok Harus dihukum mati, dipotong kaki
dan tangannya atau minimal di usir dariIndonesia.” Sementaraagama sendiri
tidak mengindahkannya. Mungkin Tengku Zulkarnain lah yang harusmenerima hukum
Islam. Karena mengadu domba dan kental akan SARA. Baru-baru ini cuitan
Zulkarnainkembali provokasi dan melukai hati umat muslim, ia melarang keras
untukmensholatkan jenazah yang mendukung penista. Hal semacam ini tak lain
adalahtaktik dan siasat untuk menjatuhkan Ahok dengan dalih agama, ia pun
sanggupmenebar kebencian dan dipublikasikan ke banyak orang. Apa yang telah
dilakukan Tengku Zulkarnainmembuat kita sadar, bahwa yang senantiasa berjubah
putih bukanlah cerminkeberimanan seseorang. Dan untuk diketahui, Tengku
Zulkarnain juga seringmenjawab salah ketika ada orang yang bertanya kepadanya,
seperti ketika iamencuitkan sesuatu dan ada yang bertanya “itu surat apa”,
TengkuZulkarnain justru menjawab dengan surat yang salah, yang bisa anda
lihatdiscreenshot dibawah ini atau langsung di akun twitternya, berikut :
Sementaradalam Al Quran surat Attaubah ayat 20 – 22, tidak ada sama sekali
bahasansebagaimana yang disebutkan dan dituliskan Tengku Zulkarnain pada
akuntwitternya. Pada Surat Attaubah ayat 20menerangkan tentang kemuliaan hijrah
dan jihad di jalan Allah dan pahala yangdidapatkannya. Bukan tentang disambar
petir sampai hangus. Jika Ulama sepertiTengku Zulkarnain masih bertahan dalam
kepengurusan MUI, maka menjadi wajarjika pada akhirnya melahirkan krisis
kepercayaan masyarakat karena padahakikatnya seorang Ulama untuk membawa
kemaslahatan Umat dan kedamaian sertamenjaga toleransi, bukan provokasi dan
menebar kebencian, hal ini sangatbertolak belakang. Apapun ceritanya, tulisan
TengkuZulkarnain di akun medsos tidak pantas dan tidak layak menjadikan ia
sebagai ustadzatau masuk dalam golongan ulama, lebih tepatnya ia bisa kita
sebut Provokatorberkedok Ulama. MUI sudah sepantasnya untuk melakukan reformasi
dalamkepengurusan secara besar-besaran. Karena hal ini sudah kronis dan kental
akannuansa intoleren. #yiv3687995627 #yiv3687995627 -- #yiv3687995627ygrp-mkp
{border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0
10px;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mkp #yiv3687995627hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mkp #yiv3687995627ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mkp .yiv3687995627ad
{padding:0 0;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mkp .yiv3687995627ad p
{margin:0;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mkp .yiv3687995627ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-sponsor
#yiv3687995627ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-sponsor #yiv3687995627ygrp-lc #yiv3687995627hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-sponsor #yiv3687995627ygrp-lc .yiv3687995627ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3687995627 #yiv3687995627actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3687995627
#yiv3687995627activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3687995627
#yiv3687995627activity span {font-weight:700;}#yiv3687995627
#yiv3687995627activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3687995627 #yiv3687995627activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3687995627 #yiv3687995627activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3687995627 #yiv3687995627activity span
.yiv3687995627underline {text-decoration:underline;}#yiv3687995627
.yiv3687995627attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3687995627 .yiv3687995627attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3687995627 .yiv3687995627attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3687995627 .yiv3687995627attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3687995627 .yiv3687995627attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3687995627 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3687995627 .yiv3687995627bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3687995627
.yiv3687995627bold a {text-decoration:none;}#yiv3687995627 dd.yiv3687995627last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3687995627 dd.yiv3687995627last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3687995627
dd.yiv3687995627last p span.yiv3687995627yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3687995627 div.yiv3687995627attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3687995627 div.yiv3687995627attach-table
{width:400px;}#yiv3687995627 div.yiv3687995627file-title a, #yiv3687995627
div.yiv3687995627file-title a:active, #yiv3687995627
div.yiv3687995627file-title a:hover, #yiv3687995627 div.yiv3687995627file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3687995627 div.yiv3687995627photo-title a,
#yiv3687995627 div.yiv3687995627photo-title a:active, #yiv3687995627
div.yiv3687995627photo-title a:hover, #yiv3687995627
div.yiv3687995627photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3687995627
div#yiv3687995627ygrp-mlmsg #yiv3687995627ygrp-msg p a
span.yiv3687995627yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3687995627
.yiv3687995627green {color:#628c2a;}#yiv3687995627 .yiv3687995627MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3687995627 o {font-size:0;}#yiv3687995627
#yiv3687995627photos div {float:left;width:72px;}#yiv3687995627
#yiv3687995627photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3687995627
#yiv3687995627photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3687995627
#yiv3687995627reco-category {font-size:77%;}#yiv3687995627
#yiv3687995627reco-desc {font-size:77%;}#yiv3687995627 .yiv3687995627replbq
{margin:4px;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-mlmsg select, #yiv3687995627 input, #yiv3687995627 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-mlmsg pre, #yiv3687995627 code {font:115%
monospace;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-mlmsg #yiv3687995627logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-msg
p#yiv3687995627attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-reco #yiv3687995627reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-sponsor
#yiv3687995627ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-sponsor #yiv3687995627ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-sponsor #yiv3687995627ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3687995627 #yiv3687995627ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3687995627
#yiv3687995627ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3687995627