Isu SARA meningkat di Pilkada DKI Jakarta, salah siapa?


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Isu SARA meningkat di Pilkada DKI Jakarta, salah siapa? - BBC Indonesia
 Sekitar 71 % warga Jakarta mengaku khawatir terhadap penguatan isu SARA selama 
Pilkada DKI Jakarta, seperti teru...  |   |

  |

  |

 

Sri LestariBBC Indonesia   
   - 23 menit lalu
KirimHak atas fotoOSCAR SIAGIAN/GETTY IMAGESImage captionPilkada DKI Jakarta 
putaran kedua akan digelar pada 19 April antara Basuki Tjahaja Purnama dan 
Anies Baswedan.Sekitar 71% warga Jakarta mengaku khawatir dengan semakin 
menguatnya isu SARA selama Pilkada DKI Jakarta, seperti terungkap dalam sebuah 
survei.Dan masa kampanye yang masih beberapa pekan lagi menjelang pemungutan 
suara pada 19 April mendatang dikhawatirkan akan semakin meningkatkan 
intoleransi di kalangan masyarakat.Survei yang dilakukan Populi Center setelah 
Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, menunjukkan isu SARA yang digunakan dalam 
Pilkada Jakarta antara lain munculnya himbauan untuk tidak memilih calon muslim 
dan masalah tidak mensalatkan jenazah.Selain memisahkan masyarakat, isu SARA 
-menurut Direktur Populi Center, Usep Ahyar, juga membuat masyarakat 
terintimidasi."Ketika isu-isu SARA semakin menguat dan politik identitas 
menguat, maka ada yang merasa terintimidasi. Ada yang kebebasan pendapatnya 
menjadi terhalang, menjadi takut ketika mengemukakan pendapat. Itu (isu SARA) 
dan politik identitas itu kan pasti sengaja dibuat secara politik dan itu 
meniscayakan bahwa kelompoknya yang paling hebat sedang yang lain 
subordinat.""Dan yang lain tidak benar dan lain sebagainya. Orang yang tidak 
ikut pada politik identitas harus disingkirkan karena bukan dari kelompok saya, 
maka harus disingkirkan dan tidak dapat disalatkan," tambah Usep.   
   - Akankah isu agama makin kuat di putaran dua pilkada Jakarta?
   - Mengapa partai Islam dukung calon non-Muslim di Papua Barat?
Dia menilai masa kampanye Pilkada DKI Jakarta yang mencapai 4,5 bulan justru 
memperpanjang 'perseteruan' dan intoleransi."Dalam kampanye ini tidak ada 
pendidikan politik, namun yang ada pembusukan dan masyarakat makin intoleran 
dan itu mengkhawatirkan," kata Usep.
Yang dirugikan dan diuntungkan
Survei Populi Center, yang melibatkan 600 responden di lima wilayah DKI 
Jakarta, memperlihatkan dukungan atas pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama 
alias Ahok- Djarot Saiful Hidayat mencapai 58 persen %, sementara 36,2 tidak 
suka, dan 5,8 % menjawab tidak tahu.Hak atas fotoOSCAR SIAGIAN/ GETTY 
IMAGESImage captionBasuki Tjahaja Purnama alias Ahok - Djarot Saiful Hidayat 
disebutkan paling dirugikan dalam kasus SARA.Usep mengatakan Gubernur Petahana 
Basuki Tjahaja Purnama yang saat ini tengah diadili dalam kasus penistaan agama 
merupakan pihak yang dirugikan dengan menguatnya isu SARA. Sementara pasangan 
yang diuntungkan, tambah Usep, adalah Anies Baswedan-Sandiaga Uno."Misalnya 
dalam hal ini paslon nomor tiga mengakomodasi dari berbagai kelompok yang 
merasa punya otoritas menafsirkan ke-Islaman. Kemudian dengan melihat perilaku 
politik di Jakarta atau lawan politiknya, dia merasa diuntungkan dan memakai 
politik identitas untuk memperkuat politiknya," jelas Usep."Dia merangkul FPI, 
walaupun dalam konteks pemikiran dia mendukung multikulturalisme".Salah seorang 
anggota Tim Sukses Ahok-Djarot, Taufik Basari, mengakui bahwa isu SARA memang 
masih mempengaruhi sebagian masyarakat dibandingkan kinerja calon."Di dalam 
pilkada sudah digunakan isu SARA, itulah susahnya. Begitu dipakai dan yang 
muncul adalah politik stigma, itu memang sulit. Kita akui hal itu mempersulit 
kita, tapi kita berupaya agar semakin banyak orang yang sadar bahwa kita tengah 
digunakan oleh pihak tertentu dengan menggunakan isu SARA yang berdampak 
negatif terhadap negara kita," jelas Taufik.Hak atas fotoGOH CHAI HIN/AFP/ 
GETTY IMAGESImage captionPasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dicalonkan antara 
lain oleh Partai Gerindra dan PKS.Sementara Ketua tim sukses Anies-Sandi, 
Mardani Ali Sera menegaskan pihaknya lebih banyak menyampaikan mengenai program 
dan tidak mengangkat isu SARA.Isu SARA, menurutnya, muncul dalam pilkada DKI 
Jakarta karena bermula dari kasus dugaan penistaan agama, surat Al-Maidah 51, 
dan juga kasus yang disebut dengan 'kriminalisasi ulama'."Isu ini tak bisa 
dilepaskan dari perkembangan umum, ada kriminalisasi terhadap ulama dan ada 
kondisi di mana isu Al-maidah 51, bukan kita yang mengkriminalisasi ulama. 
Siapa yang mengangkat Al-Maidah 51? Bukan kami dan mengapa kami diminta yang 
menyelesaikan tentang larangan mensalatkan jenazah? Surat Mas Anies tegas bahwa 
semua kewajiban yang hidup untuk mengurus yang meninggal."   
   - Ketika Anda mencoblos, apakah faktor agama terlintas di benak?
   - Apa arti kehadiran Agus-Sylvi dan Anies-Sandi di acara Istiqlal 112?
Hak atas fotoACHMAD IBRAHIM/GETTY IMAGESImage captionProtes kelompok Islam 
terhadap kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok.
Pengaruh media sosial
Penguatan isu SARA, seperti diamati Bonar Tigor Naipospos dari lembaga 
demokrasi dan perdamaian, Setara Institute, dimanfaatkan oleh elite politik dan 
kandidat gubernur untuk memperoleh dukungan warga.Bonar juga mengamati bahwa 
meski partai pendukung pasangan calon gubernur DKI Jakarta merupakan parpol 
yang beraliran nasionalisme namun tetap jugamelakukan pembiaran penggunaan isu 
SARA.Dan sudah saatnya pemeirntah untuk campur tangan."Proses hukum harus 
dilakukan, media sosial harus diawasi. Dampak dari media sosial adalah orang 
menjadi asosial dan akibatnya muncul presepsi untuk egois pada pilihan dia dan 
ini berakibat pada dunia sosial.""Negara harus membangun ruang publik, ruang 
dialog agar kelompok -kelompok yang ada itu saling berinteraksi," tambah 
Bonar.Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSpanduk provokatif telah 
diturunkan oleh pemerintah DKI Jakarta.Bonar khawatir jika dibiarkan maka 
penyebaran isu SARA yang terkait dengan pilkada Jakarta akan semakin meluas, 
atau dijadikan contoh dalam pertarungan calon kepala daerah di tempat lain.

Kirim email ke