Kamis, 23 Maret 2017 | 16:00      
Koalisi Mahasiswa Cinta Jakarta Serukan Penghentian Isu SARA di Pilkada DKI


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Koalisi Mahasiswa Cinta Jakarta Serukan Penghentian Isu SARA di Pilkada DKI
 Maraknya isu SARA di Pilkada putaran kedua DKI Jakarta disesalkan sekelompok 
mahasiswa yang menamakan diri Koal...  |   |

  |

  |

 
Aksi damai Koalisi Mahasiswa Cinta Jakarta (KM CITA) menolak isu SARA di 
Pilkada Jakarta di depan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis 
(23/3). (Istimewa)Jakarta – Maraknya isu SARA di Pilkada putaran kedua DKI 
Jakarta disesalkan sekelompok mahasiswa yang menamakan diri Koalisi Mahasiswa 
Cinta Jakarta (KM CITA).Dalam aksi damai di depan Taman Makam Pahlawan 
Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (23/3), Koordinator KM Cita, Muhammad Zoelka 
menilai isu-isu SARA yang ditujukan kepada Paslon nomor 2 dan pendukungnya 
merupakan langkah mundur bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.“Sebagai 
generasi muda, kami prihatin dengan maraknya isu-isu SARA yang terlihat dari 
pemasangan spanduk menolak mensholatkan jenazah bagi pendukung Paslon 2 maupun 
cap sebagai kafir yang begitu mudah dituduhkan. Ini berbahaya tidak saja bagi 
demokrasi tetapi juga mengancam integrasi bangsa,” ujar Zoelka.Dia menegaskan 
menyerang pihak lawan politik isu SARA, khususnya menggunakan isu-isu agama 
hanya akan menyebabkan agama menjadi seolah menakutkan.“Islam adalah agama 
rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan 
kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan 
jin, apalagi sesama manusia. Kampanye bernada kebencian dengan membawa-bawa 
agama sungguh sangat menakutkan,” katanya.Ditanya mengapa aksi dilakukan di TMP 
Kalibata, Zoelka mengatakan, KMCita sebagai generasi muda ingin mengadu kepada 
para pahlawan terhadap situasi Pilkada ini yang terancam oleh maraknya isu-isu 
SARA.”Saya yakin para pahlawan yang telah gugur ini akan menangis melihat 
Pilkada DKI dipenuhi dengan kampanye SARA yang dapat menimbulkan disintegrasi 
atau perpecahan antar warga karena perbedaan keyakinan dan pilihan politik. 
Ketika para pahlawan ini memerdekakan Indonesia, tidak pernah berpikir 
Indonesia atau Jakarta ini hanya untuk golongan tertentu saja, tetapi Indonesia 
untuk semua,” ujarnya.Dia menginginkan kampanye diisi dengan kampanye sehat dan 
mencerdaskan dengan adu program bukan dengan menjual agama. Kalaupun ada kasus 
yang harus diungkap, harus mengikuti aturan hukum.

Imam Suhartadi/IS

Kirim email ke