Paling menyedihkan, ketika warga mengadu ke Presiden, jawab Jokowi pendek saja, 
“Ini urusan gubernur, kenapa dibawa ke sini?”

 ,,,
 
 Patmi Menjadi Martir Pegunungan Kendeng 
http://poskotanews.com/2017/03/24/patmi-menjadi-martir-pegunungan-kendeng/ 
 Jumat, 24 Maret 2017 — 6:15 WIB 

 HATI dan jiwa warga seputar Pegunungan Kendeng (Jateng) berontak ketika 
pemerintah tak menggubris penolakan warga atas proyek pabrik semen di atas 
tanah-tanah mereka. Mereka datang ke Jakarta, demo menyemen kaki di depan 
Istana. Tapi apa lacur, salah seorang pendemo, Patmi, 48, justru meninggal 
dalam demo teatrikal itu. Dia menjadi martir, ketika tidak sudi tercerabut dari 
akar budaya dan sejarahnya.
 Sesungguhnya, setiap manusia itu mencintai akar budaya dan sejarahnya, yang 
diukir dari sejak lahir, hingga dewasa dan mati. Orang selalu menyayangi bumi 
kelahirannya, bumi tanah tumpah darahnya. Maka ketika mereka harus tercerabut 
dari akar budaya dan sejarahnya dengan alasan untuk pembangunan, berusaha 
mati-matian mempertahankan.
 Pembangunan memang selalu butuh pengorbanan. Ketika Waduk Gajahmungkur 
dibangun di Wonogiri (Jateng) tahun 1970-an, Waduk Sempor (Kebumen) tahun 1967, 
dan waduk-waduk lain selama Orde Baru, rakyat harus mengalah demi kesejahteraan 
masyarakat Indonesia seluruhnya.
 Perjuangan mereka selalu kandas. Dengan alasan, bumi dan air dan kekayaan alam 
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk 
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (pasal 33 UUD 1945), mereka harus menyingkir 
atas nama pembangunan. Silakan saja menggugat, akan selalu kalah.
 Di era reformasi, kita bisa menyimak betapa penolakan warga Temon Kulon Progo 
(DIY), ketika tanah mereka akan dijadikan areal bandara pengganti Bandara 
Adisutjipto yang sudah tidak memadai lagi. Paguyuban ‘Tritunggal’ berusaha 
menolak mati-matian, sampai lewat pengadilan segala. Tapi hasilnya selalu 
rakyat yang kalah, dan pembangunan Bandara NYIA (New Yogyakarta International 
Airport) jalan terus.
 Pemerintah boleh beralasan bahwa warga tetap dapat lahan dan lokasi pengganti, 
untuk sumber rejeki dan kehidupan yang baru. Tapi tetap saja mereka tidak puas. 
Kalau bisa, inginnya tetap tinggal dan berada di bumi kelahirannya. Mereka 
tetap ingin dekat dengan sanak familinya, mereka tetap ingin bisa berdialog 
dengan alam sekitarnya. Pepatah mengatakan, lebih baik hujan batu di negeri 
sendiri, ketimbang hujan emas di negeri orang.
 Sayangnya, ketika proyek pembangunan itu terjadi, ada segelintir manusia yang 
selalu memanfaatkan penderitaan orang. Saat proses ganti rugi berlangsung, yang 
main bukan saja oknum pejabatnya, tapi juga para kaum spekulan. Penduduk asli 
mrongos, para spekulan yang mrenges!
 Paling gres adalah nasib warga seputar Pegunungan Kendeng dari Rembang, Pati, 
Blora, dan Grobogan. Mereka tetap menolak lahan peninggalan leluhurnya 
dijadikan pabrik semen, meski teman mereka, Mbok Patmi, telah menjadi martir 
perjuangan dari Pegunungan Kendeng. Paling menyedihkan, ketika warga mengadu ke 
Presiden, jawab Jokowi pendek saja, “Ini urusan gubernur, kenapa dibawa ke 
sini?”
 
 Mereka berharap, dengan dua bait tembang Jawa Pangkur yang berisi keluhan 
penduduk, Presiden Jokowi akan tersentuh. Salah! Meski beliau orang Solo, tapi 
presiden kita lebih akrab dengan lagu-lagu Barat yang keras nan cadas. – 
gunarso ts
 

Kirim email ke