Tolak Semen, Aktivis Malang dan Banyumas Gelar Aksi Solidaritas untuk Kendeng 
http://kbr.id/berita/03-2017/tolak_semen__aktivis_malang_dan_banyumas_gelar_aksi_solidaritas_untuk_kendeng_/89370.html
  Kamis, 23/03/2017 15:06 WIB

 

 Patmi, saat melakukan aksi menyemen kaki untuk menolak pabrik dan tambang 
semen di Kendeng, Jawa Tengah. (Foto: KBR/Rio Tuasikal)

 

 
 Oleh : Muhamad Ridlo Susanto, Eko Widianto 
 KBR- Mahasiswa, aktivis lingkungan dan berbagai elemen yang tergabung dalam 
Aliansi Malang Peduli Kendeng berunjukrasa dan menggalang donasi. Sekitar 
seratusan orang mengumpulkan dana untuk perjuangan petani kendeng menolak 
penambangan batu kapur untuk pabrik semen.

Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu perjuangan petani kendeng 
mempertahankan sawah dan sumber mata air. Koordinator aksi, Mohamad Iqbal  
menuntut Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo 
menghentikan operasional pabrik semen.

"Ditampung dalam satu rekening. Menggalang donasi disalurkan untuk petani 
kendeng," ujar Koordinator aksi, Mohamad Iqbal, Kamis (23/03).

Mereka juga menggelar doa bersama untuk mendiang Patmi, petani Kendeng yang 
meninggal setelah aksi di Jakarta. Doa juga ditujukan bagi Salim Kancil petani 
Lumajang yang terbunuh setelah menolak penambangan pasir besi.  

 
 Aksi solidaritas  juga dilakukan sejumlah komunitas pelestarian alam dan 
pemerhati sosial di Purwokerto, Jawa Tengah. Mereka bakal menggelar Aksi 
solidaritas petani kendeng, Kamis malam nanti (23/3). Selain itu, gabungan 
komunitas tersebut juga menyuarakan isu lokal, yakni Proyek Geothermal Lereng 
Selatan Slamet.
  
Juru Bicara Komunitas Banyumas Peduli Kendeng, Andi Sujada mengatakan aksi yang 
dilakukan oleh berbagai komunitas di Banyumas tersebut adalah bentuk 
solidaritas masyarakat Banyumas yang juga sama-sama menghadapi isu perusakan 
lingkungan. Andi menilai, pemerintah   berpihak pada kepentingan modal atau 
investasi bukan pada kepentingan masyarakat dan pelestarian alam.
  
Dia menyoroti Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang menurut dia mudah 
diperoleh. Selain itu, dalam penyusunan Amdal, masyarakat sekitar jarang 
dilibatkan. Hal itu, kata dia, terjadi bukan hanya di Kendeng saja. Di tempat 
lain, suara masyarakat juga tak dihiraukan.

Andi menjelaskan, aksi solidaritas untuk petani kendeng akan diisi dengan 
mimbar budaya dan doa bersama. Sejauh ini, sudah ada 10 komunitas yang 
mengkonfirmasi kehadirannya dalam aksi yang akan dimulai pukul 19.00 WIB di 
alun-alun Purwokerto.
  
“Kita, kumpul, melakukan aksi untuk doa bersama juga untuk Bu Patmi, sebagai 
korban. Jadi, begini, karena yang terjadi di Kendeng sana merupakan kasus alam, 
lingkungan, untuk tingkat lokal kita juga mengangkat isu terkait lingkungan. 
Kalau untuk proyek geothermal itu sendiri, akan diangkat sebagai isu aksi 
nanti. Kadang-kadang, pemerintah itu juga tidak jelas. Baik Amdal maupun 
peraturannya,” kata Andi Sudaja, Kamis (23/3/2017).
  
Sementara, Pegiat Lereng Selatan Slamet Yudi Setyadi mengatakan dampak 
pembangunan jalan pada proyek geothermal Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi 
(PLTP) di Kaki Gunung Slamet wilayah Cilongok, Banyumas sementara ini masih 
berupa air keruh.
  
Dilaporkan sebanyak 12 Desa di Kecamatan Cilongok dan sekitarnya mengalami 
masalah air, terutama untuk peternakan dan perikanan. Dampak ini akan sangat 
terasa saat hujan deras turun di wilayah tersebut. Material berupa tanah dan 
lumpur hanyut ke hilir sungai dan menganggu suplai air warga.

Menurut Yudi, banyak masyarakat yang tak tahu dampak pembangunan jalan 
tersebut. Itu artinya, menurut Yudi, keterlibatan masyarakat dalam penyusunan 
Amdal proyek tersebut sangat minim.
  

Editor: Rony Sitanggang
 

Kirim email ke