Sebuah tulisan lagi yang berkaitan dengan Kendeng yang patut dibaca 
dandirenungkan oleh para pendukung Jokowi dan mereka yang 
pro-kapitalis/kapitalismeseperti  Chan, Nesare, dan yang lainnya.Khusus buat 
Nesare, tulisan ini SEKALI LAGI memperlihatkan bahwa kaum taniKendeng tidak 
butuh kapitalisme!! Jadi bukan SAYA  yang mengatakan itu atau asumsi saya.  
Jangan malas baca dan baca sampai selesai!Begitu juga dengan tulisan-tulisan 
lain yang sudah dipostingkan, sepertimisalnya “Pejuang Kendeng”.

Roy Murtadho bicara soal MP3EI (Master Plan Percepatan Perkembangan 
EkonomiIndonesia) yang sudah dimulai sejak SBY. Ini sudah saya kemukakan 
berkali-kali, tak seorangpun yang memperdulikan ataumembantah , tapi tetap 
ngotot seolah-olah paket ekonomi Jokowi LAIN dari pada  kebijakan ekonominya 
SBY!!!

Murtadho bicara juga tentang 1,2 juga hektar hutan di Papua yangdibabati untuk 
ditanami padi. Saya juga berkali-kali bilang wong rakyat Papuatidak makan nasi, 
kok hutannya dibabat untuk bikin lumbung beras! Sedangkan diJawa di mana 
rakyatnya makan nasi, lahan pertaniannya malah terus dipersempitkarena 
pembangunan megaproyek infrastruktur!!! Jadi beras, makanan orang Jawamalah 
dibikin jauh dari  tempat merekahidup, dan penanaman padi itu justru mematikan 
sumber kehidupan dan panganrakyat Papua. Yang lebih jahat lagi beras itupun 
bukan untuk konsumsi dalamnegeri tapi diexport!!! Seperti beras biologis yang 
diexport ke Arab Saudi!! Konklusi:apa yang disebut Jokowi swasembada pangan 
hanyalah omong kosong belaka!

Ada poin di mana saya tidak setuju dengan Roy Murtadho, yaitu kategorikelas 
dari para pejabat elit pemerintahan. Mereka BUKAN BORJUASI NASIONAL.Mereka 
adalah BORJUASI BIROKRAT DAN KOMPRADOR. Kekuasaan ada ditangan kelas  tuan 
tanah besar, kaum borjuasi birokrat dankomprador. Borjuasi nasional Indonesia 
masih terlalu kecil dan lemah untukdapat bersaing dengan kaum kapitalis asing. 
Kelas borjuasi nasional adalahkelas pengusaha menengah yang justru 
perkembangannya tertekan oleh modal besar asingyang menguasasi ekonomi melalui 
kaki tanganya, yaitu kabir dan komprador.

Kategorisasi yang tepat ini penting supaya rakyat tidak memukul kaumborjuasi 
nasional yang bukan musuh pokoknya. 

YuPatmi Adalah Sang Mustadh’afin

31March 2017

 RoyMurtadho

 HarianIndoPROGRESS



Print PDF



Kreditilustrasi: Ivana Kurniawati/www.ingrum.org

 

لَكُمْ لَاتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ 
الرِّجَالِوَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا 
مِنْهَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ 
وَلِيًّاوَاجْعَل لَنَا مِنْ

لَدُنْكَنَصِيرًا

“Mengapakamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang 
lemahbaik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: “Ya 
Tuhankami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya 
danberilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari 
sisiEngkau!”. (QS.Annisa:75)

 

SEBELUMNYA kita telah mendiskusikan pentingnya melampaui perbincangan 
diskursusmustadh’afin dalam kerangka semantik-hermeneutik denganmematerialkan 
mustadhafin sebagai proletariat dan informal proletariat dalamkonteks relasi 
sosial kapitalisme mutakhir. Sekarang kita akan mendaratkannyapada 
problem-problem empirik dan aktual yang dihadapi oleh kedua kelastersebut.

Penekanan Islam takhanya sekedar ritual, tapi sebagai jalan pembebasan menjadi 
penting hari ini di tengah krisis sosial-ekologisdi Indonesia oleh rezim pro 
pasar yang didukung aliansi kelas borjuasi, kelaskapitalis asing dan elit 
agama. Aliansi inilah yang menjadi hegemonikdan manifes pasca tumbangnya rezim 
otoritarian Orde Baru. Suatu perselingkuhanpolitik, ekonomi dan agama untuk 
mengakumulasi kapital kelas-kelas elit melaluijargon-jargon nasionalisme dan 
agama.

Kita menyadari, agamaibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi 
senjata perlawanan yangluar biasa dahsyat, sebagaimana pemberontakan petani 
Banten pada 1888, tapijuga bisa menjadi alat penindasan terhadap rakyat dengan 
memberi legitimasiteologis kelas elit oligarki. Sialnya, kemungkinan kedua ini 
jauh lebih seringterjadi ketimbang kemungkinan pertama.

Dengan ini, melaluiapa yang terjadi di Kendeng, kita akan melihat, apakah Islam 
telah menjadijalan pembebasan atau sebaliknya justru sebagai jalan penindasan. 
Bahkan secaraspesifik, melalui Yu Patmi, kita tinjau kembali orientasi gerakan 
Islam secaraumum di Indonesia.

***

Sejak dimulainya aksicor kaki hingga meninggalnya Yu Patmi pada 21 Maret dini 
hari lalu, tak satuormas Islam besar pun di negeri ini yang angkat bicara 
memberi dukunganperjuangan atau mengucapkan bela sungkawa. Tak heran, karena 
sejak Marsinahhingga Satinah, kita juga belum pernah mendengar satupun ormas 
Islammengeluarkan pernyataan resmi atas berbagai tragedi kemanusiaan di negeri 
ini.Bisa jadi, kesimpulan ini keliru atau gegabah, tapi setidaknya 
absennyaormas-ormas Islam dari perjuangan rakyat, menunjukkan pada kita, 
sedikit sekaliyang siap berdiri di barisan kaum yang oleh Allah disebut 
Mustadh’afin.

Yu Patmi, bersama parapetani pegunungan Kendeng lainnya, mengecor kakinya 
dengan semen di depanistana sebagai bentukprotes simbolik bahwa ruang hidup 
mereka sebagai petani tengah terbelenggu olehpendirian pabrik semen di kawasan 
Pegunungan Kendeng. Sekaligus desakanterhadap sikap bisu presiden atas 
diterbitkannya kembali izin pendirian pabriksemen Indonesia oleh gubernur Jawa 
Tengah Ganjar Pranowo, setelah putusan MAmemenangkan gugatan petani yang 
tergabung dalam Jaringan Masyarakat PeduliPegunungan Kendeng atau JMPPK, untuk 
segera mencabut izin pendirian pabriksemen di Rembang.

Aksi ini tak hanyadidukung oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa di ring 1 
pabrik semen,seperti Tegaldowo, Pasucen dan Timbrangan, tapi juga dari Blora 
dan Pati,seperti Yu Patmi. Aksi protes pasif semacam ini dulu di India disebut 
sebagaiSatyagraha yang dipelopori oleh Gandhi. Melalui Satyagraha inilah 
kaumSatyagrahi mengamalkan ajaran Gandhi lainnya: Ahimsa. Anehnya, mayoritas 
kaummusIim Indonesia yang mendaku dirinya sebagai Islam ramah dan Islam 
tanpakekerasan ala Gandhi, tak pernah mempraktikkan Satyagraha, bahkan bisa 
jadi takpaham bahwa komitmen anti kekerasan hanya mungkin dipraktikkan 
melaluiperjuangan melawan ketidakadilan secara pasif seperti ditunjukkan para 
petaniKendeng.

Alhasil, karenaminusnya pemahaman ini membuat beberapa pihak, khususnya kaum 
muslim tanggung(medioker)secara berisik menuding perjuangan Kendeng sebagai 
tidak Islami, antinasionalisme dan pro asing. “Mengapa mereka hanya menolak 
pabrik semenIndonesia sementara pabrik semen asing dibiarkan?”. “Apakah mereka 
benar-benarIslamnya. Kalau Islam harusnya membela NKRI dengan mendukung 
berdirinya pabkrikmilik negara, bukan malah menolaknya”. “Bagaimana sholatnya 
kalau terus-terusandicor kakinya?”. “Islam melarang umatnya melukai dirinya 
sendiri, jika benarmereka Islam, tak akan melakukan cor kaki”. Kurang lebih 
suara-suara semacamini yang belakangan sering kita dengar dari pihak-pihak pro 
semen. Kita tak akan menjawab satupersatu keberisikan bebal musuh rakyat 
semacam itu, karena tugas kita disini adalah memfokuskan diri pada pembongkaran 
absensi Islam pada hampir semuatragedi kemanusiaan di negeri ini, khususnya 
perjuangan Kendeng.

Pertanyaannya, mengapaormas Islam di negeri ini absen dari berbagai bentuk 
perjuangan rakyat disegala aspeknya? Bahkan, sebagaimana telah saya kemukakan 
di muka, elit agamajustru menjadi bagian dalamaliansi kelas borjuasi nasional 
dan kelas kapitalis asing, dengan menempatkandirinya, secara langsung maupun 
tidak sebagai penjaga kepentingan merekadengan memberi legitimasi teologis 
bahwa logika perampasan atau perusakan sahmenurut suara langit, setidaknya tak 
ada yang protes ketika ada penjarahantanah petani. Sehingga sampai sekarang 
tidak ada ormas besar Islam di Indonesiayang secara eksplisit memberi dukungan 
pada perjuangan petani Kendeng.

Absennya ormas-ormasbesar Islam di Indonesia terhadap berbagai problem aktual 
umat, setidaknyamenandakan empat hal: pertama, secara internal, ormas-ormas 
Islammengalami kegagalan mengaktualkan konsep Islam sebagai rahmatan lil 
alamindalam konteks kapitalisme global. kedua, ormas-ormas Islammenghabiskan 
sebagian besar energinya untuk persoalan-persoalan identitas dengan melepaskan 
apsek kelassebagai dasarnya, sehingga gagal dalam mematerialkan konsep 
mustadh’afinsebagai proletariat dan informal proletariat dalam struktur relasi 
sosialproduksi kapitalisme. Ketiga,ormas-ormas Islam kebingungan menempatkan 
posisinya di tengah politik liberaldan negara pasar. Di satu sisi secara 
teologis-dogmatis agama menganjurkanperjuangan membela umat, tapi secara 
praksis sebaliknya, disadari atau tidakormas-ormas Islam turut menyokong 
liberalisasi ekonomi yang menyengsarakanumat. Keempat, kekeliruan memahami 
kebijakan pemerintah sebagainegara itu sendiri. Keempatnya menimbulkan efek 
kelima, elit agama,alih-alih memperjuangkanhak-hak rakyat, justru turut 
menyokong oligarki, melalui instrumen negara,untuk menguasai hampir sebagian 
besar aset sumber daya di Indonesia.

Beberapa persoalaninilah yang memandulkan Islam sebagai jalan pembebasan, 
sehingga tidak mampumelihat wajah sang mustadh’afin seperti Yu Patmi dan jutaan 
kaum informalproletariat dan proletariat yang disingkirkan melalui kebijakan 
pemerintah yangpro pemodal. Sedemikian Islam menjadi terasing di bumi dimana ia 
dipijakkan.

Ketika agama,khususnya Islam, tak mampu menjadi pendorong perubahan secara 
radikal,sebaliknya menghambat perjuangan rakyat mendapatkan keadilannya, apa 
yangterjadi? Perjuangan rakyat di seluruh wilayah di Indonesia menghadapi 
situasiyang hampir serupa: terbentur birokrasi dan dibenturkan dengan isu 
agama. Inipula yang terjadi di Rembang. Untuk mematikan langkah juang petani 
Kendeng,dibentuklah sebuah Forum Kiai Muda Jateng yang entah berapa anggota 
sebenarnya,mengeluarkan pernyataan pro semen Indonesia di atas pegunungan yang 
ditetapkansebagai hutan. Dengan jargon nasionalisme, melalui cara berpikir 
sederhana:kebijakan pemerintah adalah negara, negara adalah kebijakan 
pemerintah. Meski pemerintah tidakmerepresentasikan rakyat, meski pemerintah 
tidak menjalankan amanat penderitaanrakyat, meski pemerintah menjadi penyambung 
lidah kartel, ia harussecara total didukung karena mendukung pemerintah adalah 
bukti kesetiaan pada“NKRI Harga Mati!”. Siapapun yang melawan kebijakan 
pemerintah maka bolehdiperangi dan dianggap sebagai musuh negara. Ini juga yang 
tengah terjadi diBanyuwangi, dan hampir semua kantong konflik agraria di 
Indonesia. ‘Agama’,meminjam bahasa kawan saya Muhammad Al-Fayyadl, ‘akhirnya 
berfungsi sebatassebagai pelumas kekerasan dan perampasan’.

Ini tak hanyapersoalan di dalam Islam, tapi terjadi di hampir di semua agama: 
“agama yangseharusnya menjadi jalan pembebasan justru menjadi jalan penindasan. 
Agama yangseharusnya berdiri bersama kaum papa, justru berdiri bersama kaum 
kaya. Agamayang seharusnya membebaskan belenggu mustad’afin, justru membelenggu 
kaummustdh’afin”.

Akibatnya, berbagairentetan pengkhianatan terhadap hukum dan agama menjadi hal 
yang lumrah danbiasa saja. Tak ada yang geram, tak ada yang protes. Ini telah 
berulangkaliterjadi di Indonesia. Selain di Rembang, mungkin yang masih basah 
dalam ingatankita adalah kasus reklamasi Teluk Benoa di Bali dan pembakaran 
hutan di SumatraSelatan oleh PT Bumi Mekar Hijau.

Di tengah perjuanganmasyarakat yang tergabung dalam ‘Forum Rakyat Bali Tolak 
Reklamasi’ (forBALI)[1]menyelamatkan Teluk Benoa dari ancamanreklamasi oleh PT 
Tirta Wahana Bali International (TWBI) seluas 700 hektar,yang melanggar Perpres 
No. 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang KawasanPerkotaan SARBAGITA, yang 
isinya menyatakan Teluk Benoa adalah kawasankonservasi perairan (Pasal 55 ayat 
(5).[2]Anehnya, ketua Pengurus Harian ParisadaHindu Dharma Indonesia (PHDI) 
Pusat, I Ketut Wiana, justru mendukung reklamasidengan 
pertimbangan-pertimbangan yang sepenuhnya ekonomis.[3] Kita juga masih ingat 
dengan amarputusan Pengadilan Negeri (PN) Palembang, pada 30 Desember 2015 
lalu, terkaitgugatan Kementerian Lingkungan hidup dan kehutanan (KLHK) terhadap 
PT BumiMekar Hijau, sebuah perusahaan yang digugat karena dianggap harus 
bertanggungjawabatas terbakarnya hutan seluas 20.000 hektar di tahun 2014 di 
Sumatra Selatanyang merugikan negara mencapai Rp. 7.9 miliar. Para Hakim justru 
memutus PT BMHtidak bersalah dan menganggap pembakaran hutan tidaklah 
menimbulkan kerusakanekologis. Adakah ormas Islam yang protes terhadap putusan 
hakim pro perusahaanperusak lingkungan? Tak ada!

Singkatnya, untukmengetahui secara faktual bahwa mutadh’afin masih ideasional 
dan berhentisebagai sekedar perdebatan semantik-hermeneutik di pusat-pusat 
kajian Islam,bisa kita lihat pada absennya ormas-ormas Islam dalam berbagai 
problem keumatanyang dihadapi Yu Patmi dan jutaan rakyat Indonesia lainnya.

Tapisekurang-kurangnya, perjuangan yu Patmi dan pejuang Kendeng lainnya 
telahmenampar kita semua bahwa Islam kita yang belakangan diberi label 
‘Nusantara’dan ‘Berkemajuan’, rupanya belum sepenuhnya menginjakkan kakinya di 
bumi Nusantara yang porakporanda dijarah investasi para borjuasi nasional dan 
kapitalis global.Pun, rupanya tak cukup maju karena faktanya prasyarat material 
menuju kemajuantersebut belum dipenuhi dengan memenangkan agenda perjuangan 
rakyat banyakdihadapan mesin kapitalisme.

Apa yang telahdiperjuangkan oleh Yu Patmi dan petani pegunungan Kendeng, di 
Pati, Rembang,Grobogan dan Blora, merupakan kejujuran dan sepucuk cinta petani 
pada alam, danjuga teguran pada kita semua bahwa hidup tak cukup hanya diukur 
dengankalkulasi untung rugi kapitalistik, melainkan perlu tanggung jawab dan 
cintapada alam dalam wujud perhatian, dan pelestarian. Ini persis sama dengan 
ajaranIslam bahwa mencintai Allah tak mungkin bisa diwujudkan tanpa mencintai 
alamdan mencintai manusia. Hubungan dengan Allah (hablun min al-Allah),harus 
diwujudkan melalui hubungan dengan alam (hablun min al-alam), danhubungan 
dengan manusia (hablun min al-nas). Satu sama lain salingmengandaikan dan tak 
bisa dipisahkan. Mencintai Tuhan tanpa bukti mencintaiAlam dan manusia 
merupakan iman yang cacat. Ini material, karena yang ilahiahaktual dan hadir 
karena ada manusia yang hidup dimungkinkan oleh alam. Makawajar kalau Allah 
mengatakan manusia sebagai khalifah-nya (wakil)di bumi. Karena menghancurkan 
alam hakikatnya menghancurkan manusia dan Allahitu sendiri.

Tak jauh berbedadengan konsep Islam adalah konsep Kristiani. Manusia dipandang 
sebagai, ImagoDei, citra Allah, yang mana tidak hanya dilihat secara personal 
individualtapi juga secara sosial komunal dan secara kosmis-ekologis. Manusia 
sebagaicitra Allah dipahami secara kosmis-ekologis, berarti bahwa manusia 
diundangoleh Allah untuk turut serta dalam memelihara keutuhan ciptaanNya. 
Tanpapemeliharaan ini hidup manusia juga terancam, sebab manusia hakikatnya 
merupakanbagian integral dari ciptaan itu sendiri. Manusia sebagai citra-Nya 
merupakan cooperator dan coocreator dariSang Pencipta. Dengan demikian, manusia 
bertindak secara kreatif dalam upayatransformasi, rekonstruksi, dan konservasi 
alam semesta. Dalam pemahamankosmis-ekologis ini lebih lanjut Allah digambarkan 
sebagai simbol “ibu AlamSemesta”,[4] yang belakangan menemukan titik temudengan 
tradisi eko-feminisme yang dikembangkan di luar tradisi 
agama-agamaabrahamik.[5]Sedangkan dalam tradisi pemikiran teologiKatolik, 
Fransiskus de Asisi, melihat matahari dan bumi serta makhluk laindalam alam 
semesta sebagai saudara dan saudari manusia sekaligus sebagailambang kehadiran 
yang ilahi,[6] yang di dalam bahasa Islam disebutdengan (ayat al-bayyinat).

Bagaimana denganperjuangan Kendeng? Meski kita tahu tidak semua pejuang Kendeng 
adalah wargaSamin, khususnya di Rembang yang semuanya Islam, tapi mengapa 
mereka memakaiistilah “ibu bumi”, sementara kita tahu konsep ibu bumi tak 
dikenal dalamterminologi dogmatik Islam. Ini merupakan satu eksperimentasi dan 
akulturasijenius yang dilakukan para pejuang Kendeng Rembang, ketika konsep 
manusiasebagai khalifahmampat, mereka melampauinya dengan menempatkan bumipada 
kedudukannya yang paling mulia sebagai “ibu”. Meski dipinjam darisaudaranya 
yang Samin, ini telah memberi satu bukti lagi, bahwa sekat tradisi dan agamatak 
menghalangi mereka untuk berjuang bersama. Bahkan praktik perjuanganmereka 
telah menjawab kegelisahan kita selama ini mengenai kebhinekaan yangberciri 
sinkretik dan unik, melalui bahasa perlawanan yang hidup dan 
indah:“menyelamatkan ibu bumi”.

***

Baik kalau kita jawabsepintas tudingan pihak-pihak pro semen pada perjuangan 
Kendeng. Siapakahsesungguhnya yang melenceng? Mari kita ingat-ingat bersama. 
Presiden Jokowimelalui pemerintahannya bertekad menjadikan Indonesia berdaulat 
pangan. Maka ditetapkanlah kebijakanyang disebut dengan Merauke Integrated Food 
and Energy Estate (MIFEE)yang menjadi salah satu rencana untuk menyediakan 
sumber pangan nasional denganmemberikan konsesi lebih dari 1,2 juta hektar 
hutan kepada 48 perusahaan yangdiajukan oleh MIFEE. Kebijakan ini selain 
membabat hutan Papua, jugamengakibatkan hancurnya sumber-sumber pangan lokal 
seperti babi dan sagu yangmenjadi sumber pangan harian dan lokal masyarakat 
Papua.

Sementara di Jawa,sebagaimana diungkapkan oleh Furnivall, selama berabad-abad 
memiliki fungsisebagai penyeimbang bagi jalur ekonomi maupun kebudayaan di 
kawasan Nusantara,semata-mata karena Jawa, selain posisinya berada di tengah 
lalu lintasperdagangan nusantara, juga karenaJawa mempunyai tanah vulkanik yang 
subur yang mampu memberi makan padaKepulauan rempah-rempah dan wilayah-wilayah 
lain yang tidak mempunyai beras.Bahkan karena keunggulannya dalam pertanian, 
Jawa selalu menjadi pesaing bagiimperium komersial yang menguasai selat 
Malaka.[7]

Catatan historis iniartinya apa? Karena kekhususan Jawa sebagai tanah vulkanik 
yang subur dan sejakberabad-abad yang lampau berfungsi sebagai lumbung pangan 
Nusantara, mengapa pemerintahan Jokowiharus memaksakan diri membangun proyek 
MIFEE, yang mendatangkan malapetaka barusekaligus bagi Jawa dan Papua. 
Jawabnnya mudah. Karena dalam peta MP3EI, Jawasebagai koridor industri. Maka 
sudah bisa ditebak, Jawa akan segera mengalamibetonisasi disekujur tubuhnya. 
Inilah yang disebut dengan pembangunan alaJoowi, yang kerap memakai lidah 
Sukarno untuk menginjak-injak rakyat.PLTU-PLTU baru dibuka di Jawa yang memakai 
bahan bakar Batubara yang merusaklingkungan di Kalimantan, sebagai suplai 
energi bagi industri-industri baru diJawa, yang juga menimbulkan konflik 
agraria, seperti di Batang dan Jepara. Proyek betonisasi ini jugamembutuhkan 
prasyarat lainnya yaitu semen. Selain berorientasi ekspor, produksisemen 
melalui PT Semen Indonesia yang menargetkan produksi 1,9 juta ton semenhingga 
akhir tahun 2017, juga sebagai jalan melapangkan agenda betonisasi ini.Jumlah 
tersebut baru 60 persen dari kapasitas keseluruhan produksi sebesar 3juta ton. 
Karst pegunungan Kendeng menjadi salah satu sasarannya dengan jalanpemprov 
Jateng memberi izin lingkungan kepada PT. Semen Indonesia Tbk. untukmenambang 
Pegunungan Kendeng dengan total luasan wilayah menembus 900 hektar. Pembanguan 
pabrik ini akanmenghancurkan 300 mata air dan 4 sungai bawah tanah di bawah 
Pegunungan Kendengyang menghidupi ribuan hektar lahan pertanian. Jika benar, 
maka pertanian yanghancur akan menjadikan para petani yang tak terserap sebagai 
tenaga kerja akanmenjadi informal proletariat yang memenuhi perkotaan tanpa 
jaminan hidup.Karenafaktanya semen sebagai industri ekstraktif padat modal 
(capital intensive)tak akan bisa menyerap banyak tenaga kerja sebagaimana 
digembar-gemborkan. Sebagai bandingan danpembuktiannya, perlu digali secara 
empirik, misalnya, berapa persen pemuda diTuban yang terserap sebagai tenaga 
kerja dalam industri ekstraktif jenis purbaini. Jika benar Rembang disebut 
sebagai wilayah yang tak subur bagi pertanian,bukti menunjukkan sebaliknya. 
Berdasar data Pendapatan Asli Daerah (PAD)Kabupaten Rembang tahun 2014, 
menunjukkan 44,75 persen ditunjang dari sektorpertanian.

Persoalan semenIndonesia tak lagi bisa dikatakan sebagai masalah BUMN vs asing, 
karena semuaindustri dimanapun tempatnya merusak lingkungan dan mengakibatkan 
krisis sosialekologis. Maka jauhsebelum menolak semen Indonesia, yu Patmi dan 
pejuang Kendeng telah melawanmasuknya perusahaan PT Indocements di Pati, 
sebelum mereka turut berjuang diRembang.

***

Di sinilah pentingnyaseruan jihad kembali dikumandangkan, yakni perjuangan 
membela dan melindungi orang-orang yang dilemahkan dantertindas, para buruh dan 
petani seperti Yu Patmi.[8] Hanyamelalui perjuangan membela yang dilemahkan, 
konsep Jihad kembali aktual dan menemukanposisi historisnya, sebagaimana dulu 
dipraktikkan oleh Nabi Muhammad selamasepanjang hidupnya. Ia bersama para 
sahabatnya membebaskan masyarakat Arab yangdiperlakukan tidak adil oleh 
minoritas elit oligarki feodal dalam kebudayanpatriarki, dimana perempuan 
dilecehkan dan ditindas, bahkan hingga dikuburhidup-hidup (QS. 81: 8-9).

Penting puladitekankan di sini sosok Muhammad. Meski seorang utusan Allah, 
Muhammad lebihtepat disebut sebagai seorang aktivis-pejuang ketimbang seorang 
guru-petapa yangmengisolasi dirinya dari persoalan dunia. Sehingga melalui 
sosok egaliternyayang juga lahir dari kalangan kaum miskin, sebagaimana 
kebanyakan masyarakatArab lainnya yang dihinakan, masyarakat Arab mempunyai 
kekuatan menyusunperjuangan pembebasan bagi dirinya sendiri maupun membebaskan 
orang-orang laindari kekejaman Kekaisaran Romawi di Barat dan Sassanid di 
Timur.[9] Daripraksis perjuangan pembebasan seperti inilah pada masanya tradisi 
pembebasanIslam muncul, bukan dari suatu pencarian abstraktif-kontemplatif. 
Bahkan pesanpembebasan dalam Islam merupakan koenjti dari ajaran Islam 
itusendiri. Karena di dalam pembebasan tersbeut terkandung cinta kasih dan 
keadilan.

Ada dua kata yangdipakai oleh Al-Qur’an untuk menyatakan keadilan, yaitu ‘Adl 
dan qist. ‘Adl takhanya berarti keadilan tapi juga mempunyai makna menyamakan 
dan meratakan. ‘Adl dimaknaisebagai lawan zulm dan jaur, perbuatan salah 
danpenindasan. Qist juga berarti distribusi yang sama dan jugakeadilan, 
kewajaran, dan pemerataan.[10] Keduakata ini menjadi kata kunci bagi kaum 
mustadh’afin berjuang melepaskan dirinyadari belenggu penindasan, yang selaras 
dengan perjuangan Yu Patmi dan parapejuang Kendeng lainnya.

Sudah menjadi tugaskita semua melucuti selubung persekongkolan elit agama dan 
oligarki ekonomimaupun politik di negeri ini, yang atas nama pembangunan dan 
nasionalismesecara manipulatif melanggengkan ketidakadilan structural dengan 
menjadikanpemerintah sebagai pelayan investasi. Adalah Walden Bello, 
dalamDeglobalizationIdeas for a New World Economy, mengingatkan bahwa rezim 
neoliberal yangbertumpu pada pasar bebas terbukti tak mampu memenuhi janjinya 
untukmenciptakan kesejahteran masyarakat selain hanya ilusi. 
Alih-alihmenyejahterakan, justru menciptakan malapetaka global: ketimpangan 
sosial dankrisis ekologi, khususnya di belahan dunia ketiga.[11]

Membiarkan Yu Patmidan para pejuang Kendeng, dan siapapun rakyat di seluruh 
negeri ini dirampasruang hidupnya merupakan dusta paling nyata terhadap agama. 
Lebih-lebih sampaimenjadi bagian dari mereka yang turut serta menginjak-injak 
para proletariatdan informal proletariat, hakikatnya adalah menginjak-injak 
Allah, danmendustakan kebenaran agama. Naudzubillah min dzalik***

 

Jombang,26 Maret 2017


 

 

 
 

Kirim email ke