Sebuah tulisan lagi yang berkaitan dengan Kendeng yang patut dibaca dandirenungkan oleh para pendukung Jokowi dan mereka yang pro-kapitalis/kapitalismeseperti Chan, Nesare, dan yang lainnya.Khusus buat Nesare, tulisan ini SEKALI LAGI memperlihatkan bahwa kaum taniKendeng tidak butuh kapitalisme!! Jadi bukan SAYA yang mengatakan itu atau asumsi saya. Jangan malas baca dan baca sampai selesai!Begitu juga dengan tulisan-tulisan lain yang sudah dipostingkan, sepertimisalnya “Pejuang Kendeng”.
Roy Murtadho bicara soal MP3EI (Master Plan Percepatan Perkembangan EkonomiIndonesia) yang sudah dimulai sejak SBY. Ini sudah saya kemukakan berkali-kali, tak seorangpun yang memperdulikan ataumembantah , tapi tetap ngotot seolah-olah paket ekonomi Jokowi LAIN dari pada kebijakan ekonominya SBY!!! Murtadho bicara juga tentang 1,2 juga hektar hutan di Papua yangdibabati untuk ditanami padi. Saya juga berkali-kali bilang wong rakyat Papuatidak makan nasi, kok hutannya dibabat untuk bikin lumbung beras! Sedangkan diJawa di mana rakyatnya makan nasi, lahan pertaniannya malah terus dipersempitkarena pembangunan megaproyek infrastruktur!!! Jadi beras, makanan orang Jawamalah dibikin jauh dari tempat merekahidup, dan penanaman padi itu justru mematikan sumber kehidupan dan panganrakyat Papua. Yang lebih jahat lagi beras itupun bukan untuk konsumsi dalamnegeri tapi diexport!!! Seperti beras biologis yang diexport ke Arab Saudi!! Konklusi:apa yang disebut Jokowi swasembada pangan hanyalah omong kosong belaka! Ada poin di mana saya tidak setuju dengan Roy Murtadho, yaitu kategorikelas dari para pejabat elit pemerintahan. Mereka BUKAN BORJUASI NASIONAL.Mereka adalah BORJUASI BIROKRAT DAN KOMPRADOR. Kekuasaan ada ditangan kelas tuan tanah besar, kaum borjuasi birokrat dankomprador. Borjuasi nasional Indonesia masih terlalu kecil dan lemah untukdapat bersaing dengan kaum kapitalis asing. Kelas borjuasi nasional adalahkelas pengusaha menengah yang justru perkembangannya tertekan oleh modal besar asingyang menguasasi ekonomi melalui kaki tanganya, yaitu kabir dan komprador. Kategorisasi yang tepat ini penting supaya rakyat tidak memukul kaumborjuasi nasional yang bukan musuh pokoknya. YuPatmi Adalah Sang Mustadh’afin 31March 2017 RoyMurtadho HarianIndoPROGRESS Print PDF Kreditilustrasi: Ivana Kurniawati/www.ingrum.org لَكُمْ لَاتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِوَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّاوَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَنَصِيرًا “Mengapakamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemahbaik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: “Ya Tuhankami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya danberilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisiEngkau!”. (QS.Annisa:75) SEBELUMNYA kita telah mendiskusikan pentingnya melampaui perbincangan diskursusmustadh’afin dalam kerangka semantik-hermeneutik denganmematerialkan mustadhafin sebagai proletariat dan informal proletariat dalamkonteks relasi sosial kapitalisme mutakhir. Sekarang kita akan mendaratkannyapada problem-problem empirik dan aktual yang dihadapi oleh kedua kelastersebut. Penekanan Islam takhanya sekedar ritual, tapi sebagai jalan pembebasan menjadi penting hari ini di tengah krisis sosial-ekologisdi Indonesia oleh rezim pro pasar yang didukung aliansi kelas borjuasi, kelaskapitalis asing dan elit agama. Aliansi inilah yang menjadi hegemonikdan manifes pasca tumbangnya rezim otoritarian Orde Baru. Suatu perselingkuhanpolitik, ekonomi dan agama untuk mengakumulasi kapital kelas-kelas elit melaluijargon-jargon nasionalisme dan agama. Kita menyadari, agamaibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi senjata perlawanan yangluar biasa dahsyat, sebagaimana pemberontakan petani Banten pada 1888, tapijuga bisa menjadi alat penindasan terhadap rakyat dengan memberi legitimasiteologis kelas elit oligarki. Sialnya, kemungkinan kedua ini jauh lebih seringterjadi ketimbang kemungkinan pertama. Dengan ini, melaluiapa yang terjadi di Kendeng, kita akan melihat, apakah Islam telah menjadijalan pembebasan atau sebaliknya justru sebagai jalan penindasan. Bahkan secaraspesifik, melalui Yu Patmi, kita tinjau kembali orientasi gerakan Islam secaraumum di Indonesia. *** Sejak dimulainya aksicor kaki hingga meninggalnya Yu Patmi pada 21 Maret dini hari lalu, tak satuormas Islam besar pun di negeri ini yang angkat bicara memberi dukunganperjuangan atau mengucapkan bela sungkawa. Tak heran, karena sejak Marsinahhingga Satinah, kita juga belum pernah mendengar satupun ormas Islammengeluarkan pernyataan resmi atas berbagai tragedi kemanusiaan di negeri ini.Bisa jadi, kesimpulan ini keliru atau gegabah, tapi setidaknya absennyaormas-ormas Islam dari perjuangan rakyat, menunjukkan pada kita, sedikit sekaliyang siap berdiri di barisan kaum yang oleh Allah disebut Mustadh’afin. Yu Patmi, bersama parapetani pegunungan Kendeng lainnya, mengecor kakinya dengan semen di depanistana sebagai bentukprotes simbolik bahwa ruang hidup mereka sebagai petani tengah terbelenggu olehpendirian pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng. Sekaligus desakanterhadap sikap bisu presiden atas diterbitkannya kembali izin pendirian pabriksemen Indonesia oleh gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, setelah putusan MAmemenangkan gugatan petani yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat PeduliPegunungan Kendeng atau JMPPK, untuk segera mencabut izin pendirian pabriksemen di Rembang. Aksi ini tak hanyadidukung oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa di ring 1 pabrik semen,seperti Tegaldowo, Pasucen dan Timbrangan, tapi juga dari Blora dan Pati,seperti Yu Patmi. Aksi protes pasif semacam ini dulu di India disebut sebagaiSatyagraha yang dipelopori oleh Gandhi. Melalui Satyagraha inilah kaumSatyagrahi mengamalkan ajaran Gandhi lainnya: Ahimsa. Anehnya, mayoritas kaummusIim Indonesia yang mendaku dirinya sebagai Islam ramah dan Islam tanpakekerasan ala Gandhi, tak pernah mempraktikkan Satyagraha, bahkan bisa jadi takpaham bahwa komitmen anti kekerasan hanya mungkin dipraktikkan melaluiperjuangan melawan ketidakadilan secara pasif seperti ditunjukkan para petaniKendeng. Alhasil, karenaminusnya pemahaman ini membuat beberapa pihak, khususnya kaum muslim tanggung(medioker)secara berisik menuding perjuangan Kendeng sebagai tidak Islami, antinasionalisme dan pro asing. “Mengapa mereka hanya menolak pabrik semenIndonesia sementara pabrik semen asing dibiarkan?”. “Apakah mereka benar-benarIslamnya. Kalau Islam harusnya membela NKRI dengan mendukung berdirinya pabkrikmilik negara, bukan malah menolaknya”. “Bagaimana sholatnya kalau terus-terusandicor kakinya?”. “Islam melarang umatnya melukai dirinya sendiri, jika benarmereka Islam, tak akan melakukan cor kaki”. Kurang lebih suara-suara semacamini yang belakangan sering kita dengar dari pihak-pihak pro semen. Kita tak akan menjawab satupersatu keberisikan bebal musuh rakyat semacam itu, karena tugas kita disini adalah memfokuskan diri pada pembongkaran absensi Islam pada hampir semuatragedi kemanusiaan di negeri ini, khususnya perjuangan Kendeng. Pertanyaannya, mengapaormas Islam di negeri ini absen dari berbagai bentuk perjuangan rakyat disegala aspeknya? Bahkan, sebagaimana telah saya kemukakan di muka, elit agamajustru menjadi bagian dalamaliansi kelas borjuasi nasional dan kelas kapitalis asing, dengan menempatkandirinya, secara langsung maupun tidak sebagai penjaga kepentingan merekadengan memberi legitimasi teologis bahwa logika perampasan atau perusakan sahmenurut suara langit, setidaknya tak ada yang protes ketika ada penjarahantanah petani. Sehingga sampai sekarang tidak ada ormas besar Islam di Indonesiayang secara eksplisit memberi dukungan pada perjuangan petani Kendeng. Absennya ormas-ormasbesar Islam di Indonesia terhadap berbagai problem aktual umat, setidaknyamenandakan empat hal: pertama, secara internal, ormas-ormas Islammengalami kegagalan mengaktualkan konsep Islam sebagai rahmatan lil alamindalam konteks kapitalisme global. kedua, ormas-ormas Islammenghabiskan sebagian besar energinya untuk persoalan-persoalan identitas dengan melepaskan apsek kelassebagai dasarnya, sehingga gagal dalam mematerialkan konsep mustadh’afinsebagai proletariat dan informal proletariat dalam struktur relasi sosialproduksi kapitalisme. Ketiga,ormas-ormas Islam kebingungan menempatkan posisinya di tengah politik liberaldan negara pasar. Di satu sisi secara teologis-dogmatis agama menganjurkanperjuangan membela umat, tapi secara praksis sebaliknya, disadari atau tidakormas-ormas Islam turut menyokong liberalisasi ekonomi yang menyengsarakanumat. Keempat, kekeliruan memahami kebijakan pemerintah sebagainegara itu sendiri. Keempatnya menimbulkan efek kelima, elit agama,alih-alih memperjuangkanhak-hak rakyat, justru turut menyokong oligarki, melalui instrumen negara,untuk menguasai hampir sebagian besar aset sumber daya di Indonesia. Beberapa persoalaninilah yang memandulkan Islam sebagai jalan pembebasan, sehingga tidak mampumelihat wajah sang mustadh’afin seperti Yu Patmi dan jutaan kaum informalproletariat dan proletariat yang disingkirkan melalui kebijakan pemerintah yangpro pemodal. Sedemikian Islam menjadi terasing di bumi dimana ia dipijakkan. Ketika agama,khususnya Islam, tak mampu menjadi pendorong perubahan secara radikal,sebaliknya menghambat perjuangan rakyat mendapatkan keadilannya, apa yangterjadi? Perjuangan rakyat di seluruh wilayah di Indonesia menghadapi situasiyang hampir serupa: terbentur birokrasi dan dibenturkan dengan isu agama. Inipula yang terjadi di Rembang. Untuk mematikan langkah juang petani Kendeng,dibentuklah sebuah Forum Kiai Muda Jateng yang entah berapa anggota sebenarnya,mengeluarkan pernyataan pro semen Indonesia di atas pegunungan yang ditetapkansebagai hutan. Dengan jargon nasionalisme, melalui cara berpikir sederhana:kebijakan pemerintah adalah negara, negara adalah kebijakan pemerintah. Meski pemerintah tidakmerepresentasikan rakyat, meski pemerintah tidak menjalankan amanat penderitaanrakyat, meski pemerintah menjadi penyambung lidah kartel, ia harussecara total didukung karena mendukung pemerintah adalah bukti kesetiaan pada“NKRI Harga Mati!”. Siapapun yang melawan kebijakan pemerintah maka bolehdiperangi dan dianggap sebagai musuh negara. Ini juga yang tengah terjadi diBanyuwangi, dan hampir semua kantong konflik agraria di Indonesia. ‘Agama’,meminjam bahasa kawan saya Muhammad Al-Fayyadl, ‘akhirnya berfungsi sebatassebagai pelumas kekerasan dan perampasan’. Ini tak hanyapersoalan di dalam Islam, tapi terjadi di hampir di semua agama: “agama yangseharusnya menjadi jalan pembebasan justru menjadi jalan penindasan. Agama yangseharusnya berdiri bersama kaum papa, justru berdiri bersama kaum kaya. Agamayang seharusnya membebaskan belenggu mustad’afin, justru membelenggu kaummustdh’afin”. Akibatnya, berbagairentetan pengkhianatan terhadap hukum dan agama menjadi hal yang lumrah danbiasa saja. Tak ada yang geram, tak ada yang protes. Ini telah berulangkaliterjadi di Indonesia. Selain di Rembang, mungkin yang masih basah dalam ingatankita adalah kasus reklamasi Teluk Benoa di Bali dan pembakaran hutan di SumatraSelatan oleh PT Bumi Mekar Hijau. Di tengah perjuanganmasyarakat yang tergabung dalam ‘Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi’ (forBALI)[1]menyelamatkan Teluk Benoa dari ancamanreklamasi oleh PT Tirta Wahana Bali International (TWBI) seluas 700 hektar,yang melanggar Perpres No. 45 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang KawasanPerkotaan SARBAGITA, yang isinya menyatakan Teluk Benoa adalah kawasankonservasi perairan (Pasal 55 ayat (5).[2]Anehnya, ketua Pengurus Harian ParisadaHindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, I Ketut Wiana, justru mendukung reklamasidengan pertimbangan-pertimbangan yang sepenuhnya ekonomis.[3] Kita juga masih ingat dengan amarputusan Pengadilan Negeri (PN) Palembang, pada 30 Desember 2015 lalu, terkaitgugatan Kementerian Lingkungan hidup dan kehutanan (KLHK) terhadap PT BumiMekar Hijau, sebuah perusahaan yang digugat karena dianggap harus bertanggungjawabatas terbakarnya hutan seluas 20.000 hektar di tahun 2014 di Sumatra Selatanyang merugikan negara mencapai Rp. 7.9 miliar. Para Hakim justru memutus PT BMHtidak bersalah dan menganggap pembakaran hutan tidaklah menimbulkan kerusakanekologis. Adakah ormas Islam yang protes terhadap putusan hakim pro perusahaanperusak lingkungan? Tak ada! Singkatnya, untukmengetahui secara faktual bahwa mutadh’afin masih ideasional dan berhentisebagai sekedar perdebatan semantik-hermeneutik di pusat-pusat kajian Islam,bisa kita lihat pada absennya ormas-ormas Islam dalam berbagai problem keumatanyang dihadapi Yu Patmi dan jutaan rakyat Indonesia lainnya. Tapisekurang-kurangnya, perjuangan yu Patmi dan pejuang Kendeng lainnya telahmenampar kita semua bahwa Islam kita yang belakangan diberi label ‘Nusantara’dan ‘Berkemajuan’, rupanya belum sepenuhnya menginjakkan kakinya di bumi Nusantara yang porakporanda dijarah investasi para borjuasi nasional dan kapitalis global.Pun, rupanya tak cukup maju karena faktanya prasyarat material menuju kemajuantersebut belum dipenuhi dengan memenangkan agenda perjuangan rakyat banyakdihadapan mesin kapitalisme. Apa yang telahdiperjuangkan oleh Yu Patmi dan petani pegunungan Kendeng, di Pati, Rembang,Grobogan dan Blora, merupakan kejujuran dan sepucuk cinta petani pada alam, danjuga teguran pada kita semua bahwa hidup tak cukup hanya diukur dengankalkulasi untung rugi kapitalistik, melainkan perlu tanggung jawab dan cintapada alam dalam wujud perhatian, dan pelestarian. Ini persis sama dengan ajaranIslam bahwa mencintai Allah tak mungkin bisa diwujudkan tanpa mencintai alamdan mencintai manusia. Hubungan dengan Allah (hablun min al-Allah),harus diwujudkan melalui hubungan dengan alam (hablun min al-alam), danhubungan dengan manusia (hablun min al-nas). Satu sama lain salingmengandaikan dan tak bisa dipisahkan. Mencintai Tuhan tanpa bukti mencintaiAlam dan manusia merupakan iman yang cacat. Ini material, karena yang ilahiahaktual dan hadir karena ada manusia yang hidup dimungkinkan oleh alam. Makawajar kalau Allah mengatakan manusia sebagai khalifah-nya (wakil)di bumi. Karena menghancurkan alam hakikatnya menghancurkan manusia dan Allahitu sendiri. Tak jauh berbedadengan konsep Islam adalah konsep Kristiani. Manusia dipandang sebagai, ImagoDei, citra Allah, yang mana tidak hanya dilihat secara personal individualtapi juga secara sosial komunal dan secara kosmis-ekologis. Manusia sebagaicitra Allah dipahami secara kosmis-ekologis, berarti bahwa manusia diundangoleh Allah untuk turut serta dalam memelihara keutuhan ciptaanNya. Tanpapemeliharaan ini hidup manusia juga terancam, sebab manusia hakikatnya merupakanbagian integral dari ciptaan itu sendiri. Manusia sebagai citra-Nya merupakan cooperator dan coocreator dariSang Pencipta. Dengan demikian, manusia bertindak secara kreatif dalam upayatransformasi, rekonstruksi, dan konservasi alam semesta. Dalam pemahamankosmis-ekologis ini lebih lanjut Allah digambarkan sebagai simbol “ibu AlamSemesta”,[4] yang belakangan menemukan titik temudengan tradisi eko-feminisme yang dikembangkan di luar tradisi agama-agamaabrahamik.[5]Sedangkan dalam tradisi pemikiran teologiKatolik, Fransiskus de Asisi, melihat matahari dan bumi serta makhluk laindalam alam semesta sebagai saudara dan saudari manusia sekaligus sebagailambang kehadiran yang ilahi,[6] yang di dalam bahasa Islam disebutdengan (ayat al-bayyinat). Bagaimana denganperjuangan Kendeng? Meski kita tahu tidak semua pejuang Kendeng adalah wargaSamin, khususnya di Rembang yang semuanya Islam, tapi mengapa mereka memakaiistilah “ibu bumi”, sementara kita tahu konsep ibu bumi tak dikenal dalamterminologi dogmatik Islam. Ini merupakan satu eksperimentasi dan akulturasijenius yang dilakukan para pejuang Kendeng Rembang, ketika konsep manusiasebagai khalifahmampat, mereka melampauinya dengan menempatkan bumipada kedudukannya yang paling mulia sebagai “ibu”. Meski dipinjam darisaudaranya yang Samin, ini telah memberi satu bukti lagi, bahwa sekat tradisi dan agamatak menghalangi mereka untuk berjuang bersama. Bahkan praktik perjuanganmereka telah menjawab kegelisahan kita selama ini mengenai kebhinekaan yangberciri sinkretik dan unik, melalui bahasa perlawanan yang hidup dan indah:“menyelamatkan ibu bumi”. *** Baik kalau kita jawabsepintas tudingan pihak-pihak pro semen pada perjuangan Kendeng. Siapakahsesungguhnya yang melenceng? Mari kita ingat-ingat bersama. Presiden Jokowimelalui pemerintahannya bertekad menjadikan Indonesia berdaulat pangan. Maka ditetapkanlah kebijakanyang disebut dengan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE)yang menjadi salah satu rencana untuk menyediakan sumber pangan nasional denganmemberikan konsesi lebih dari 1,2 juta hektar hutan kepada 48 perusahaan yangdiajukan oleh MIFEE. Kebijakan ini selain membabat hutan Papua, jugamengakibatkan hancurnya sumber-sumber pangan lokal seperti babi dan sagu yangmenjadi sumber pangan harian dan lokal masyarakat Papua. Sementara di Jawa,sebagaimana diungkapkan oleh Furnivall, selama berabad-abad memiliki fungsisebagai penyeimbang bagi jalur ekonomi maupun kebudayaan di kawasan Nusantara,semata-mata karena Jawa, selain posisinya berada di tengah lalu lintasperdagangan nusantara, juga karenaJawa mempunyai tanah vulkanik yang subur yang mampu memberi makan padaKepulauan rempah-rempah dan wilayah-wilayah lain yang tidak mempunyai beras.Bahkan karena keunggulannya dalam pertanian, Jawa selalu menjadi pesaing bagiimperium komersial yang menguasai selat Malaka.[7] Catatan historis iniartinya apa? Karena kekhususan Jawa sebagai tanah vulkanik yang subur dan sejakberabad-abad yang lampau berfungsi sebagai lumbung pangan Nusantara, mengapa pemerintahan Jokowiharus memaksakan diri membangun proyek MIFEE, yang mendatangkan malapetaka barusekaligus bagi Jawa dan Papua. Jawabnnya mudah. Karena dalam peta MP3EI, Jawasebagai koridor industri. Maka sudah bisa ditebak, Jawa akan segera mengalamibetonisasi disekujur tubuhnya. Inilah yang disebut dengan pembangunan alaJoowi, yang kerap memakai lidah Sukarno untuk menginjak-injak rakyat.PLTU-PLTU baru dibuka di Jawa yang memakai bahan bakar Batubara yang merusaklingkungan di Kalimantan, sebagai suplai energi bagi industri-industri baru diJawa, yang juga menimbulkan konflik agraria, seperti di Batang dan Jepara. Proyek betonisasi ini jugamembutuhkan prasyarat lainnya yaitu semen. Selain berorientasi ekspor, produksisemen melalui PT Semen Indonesia yang menargetkan produksi 1,9 juta ton semenhingga akhir tahun 2017, juga sebagai jalan melapangkan agenda betonisasi ini.Jumlah tersebut baru 60 persen dari kapasitas keseluruhan produksi sebesar 3juta ton. Karst pegunungan Kendeng menjadi salah satu sasarannya dengan jalanpemprov Jateng memberi izin lingkungan kepada PT. Semen Indonesia Tbk. untukmenambang Pegunungan Kendeng dengan total luasan wilayah menembus 900 hektar. Pembanguan pabrik ini akanmenghancurkan 300 mata air dan 4 sungai bawah tanah di bawah Pegunungan Kendengyang menghidupi ribuan hektar lahan pertanian. Jika benar, maka pertanian yanghancur akan menjadikan para petani yang tak terserap sebagai tenaga kerja akanmenjadi informal proletariat yang memenuhi perkotaan tanpa jaminan hidup.Karenafaktanya semen sebagai industri ekstraktif padat modal (capital intensive)tak akan bisa menyerap banyak tenaga kerja sebagaimana digembar-gemborkan. Sebagai bandingan danpembuktiannya, perlu digali secara empirik, misalnya, berapa persen pemuda diTuban yang terserap sebagai tenaga kerja dalam industri ekstraktif jenis purbaini. Jika benar Rembang disebut sebagai wilayah yang tak subur bagi pertanian,bukti menunjukkan sebaliknya. Berdasar data Pendapatan Asli Daerah (PAD)Kabupaten Rembang tahun 2014, menunjukkan 44,75 persen ditunjang dari sektorpertanian. Persoalan semenIndonesia tak lagi bisa dikatakan sebagai masalah BUMN vs asing, karena semuaindustri dimanapun tempatnya merusak lingkungan dan mengakibatkan krisis sosialekologis. Maka jauhsebelum menolak semen Indonesia, yu Patmi dan pejuang Kendeng telah melawanmasuknya perusahaan PT Indocements di Pati, sebelum mereka turut berjuang diRembang. *** Di sinilah pentingnyaseruan jihad kembali dikumandangkan, yakni perjuangan membela dan melindungi orang-orang yang dilemahkan dantertindas, para buruh dan petani seperti Yu Patmi.[8] Hanyamelalui perjuangan membela yang dilemahkan, konsep Jihad kembali aktual dan menemukanposisi historisnya, sebagaimana dulu dipraktikkan oleh Nabi Muhammad selamasepanjang hidupnya. Ia bersama para sahabatnya membebaskan masyarakat Arab yangdiperlakukan tidak adil oleh minoritas elit oligarki feodal dalam kebudayanpatriarki, dimana perempuan dilecehkan dan ditindas, bahkan hingga dikuburhidup-hidup (QS. 81: 8-9). Penting puladitekankan di sini sosok Muhammad. Meski seorang utusan Allah, Muhammad lebihtepat disebut sebagai seorang aktivis-pejuang ketimbang seorang guru-petapa yangmengisolasi dirinya dari persoalan dunia. Sehingga melalui sosok egaliternyayang juga lahir dari kalangan kaum miskin, sebagaimana kebanyakan masyarakatArab lainnya yang dihinakan, masyarakat Arab mempunyai kekuatan menyusunperjuangan pembebasan bagi dirinya sendiri maupun membebaskan orang-orang laindari kekejaman Kekaisaran Romawi di Barat dan Sassanid di Timur.[9] Daripraksis perjuangan pembebasan seperti inilah pada masanya tradisi pembebasanIslam muncul, bukan dari suatu pencarian abstraktif-kontemplatif. Bahkan pesanpembebasan dalam Islam merupakan koenjti dari ajaran Islam itusendiri. Karena di dalam pembebasan tersbeut terkandung cinta kasih dan keadilan. Ada dua kata yangdipakai oleh Al-Qur’an untuk menyatakan keadilan, yaitu ‘Adl dan qist. ‘Adl takhanya berarti keadilan tapi juga mempunyai makna menyamakan dan meratakan. ‘Adl dimaknaisebagai lawan zulm dan jaur, perbuatan salah danpenindasan. Qist juga berarti distribusi yang sama dan jugakeadilan, kewajaran, dan pemerataan.[10] Keduakata ini menjadi kata kunci bagi kaum mustadh’afin berjuang melepaskan dirinyadari belenggu penindasan, yang selaras dengan perjuangan Yu Patmi dan parapejuang Kendeng lainnya. Sudah menjadi tugaskita semua melucuti selubung persekongkolan elit agama dan oligarki ekonomimaupun politik di negeri ini, yang atas nama pembangunan dan nasionalismesecara manipulatif melanggengkan ketidakadilan structural dengan menjadikanpemerintah sebagai pelayan investasi. Adalah Walden Bello, dalamDeglobalizationIdeas for a New World Economy, mengingatkan bahwa rezim neoliberal yangbertumpu pada pasar bebas terbukti tak mampu memenuhi janjinya untukmenciptakan kesejahteran masyarakat selain hanya ilusi. Alih-alihmenyejahterakan, justru menciptakan malapetaka global: ketimpangan sosial dankrisis ekologi, khususnya di belahan dunia ketiga.[11] Membiarkan Yu Patmidan para pejuang Kendeng, dan siapapun rakyat di seluruh negeri ini dirampasruang hidupnya merupakan dusta paling nyata terhadap agama. Lebih-lebih sampaimenjadi bagian dari mereka yang turut serta menginjak-injak para proletariatdan informal proletariat, hakikatnya adalah menginjak-injak Allah, danmendustakan kebenaran agama. Naudzubillah min dzalik*** Jombang,26 Maret 2017
