Pertama sebelum bung mau mengatakan tidak butuh kapitalisme, bung tanya dulu 
roy murtadho dan rakyat kendeng apakah mereka itu adalah kapitalis atau tidak.

Kalau mereka bilang mereka bukan kapitalis, bolehlah premis bung bahwa “mereka 
tidak butuh kapitalisme” selanjutnya diuji.

Kalau bung belum tahu apakah roy murtadho dan rakyat kendeng butuh atau butuh 
tidak butuh kapitalisme, bung jump to conclusion.

 

Kedua saya tidak melihat roy murthado bilang dia tidak butuh kapitalisme. 
Tulisannya itu adalah membuka kelemahan2 kapitalisme, begitu juga agama, 
ekonomi dan politik. Istilah yang dipakai dia adalah: perselingkuhan. 
Perselingkuhan inilah bagi roy murtadho adalah dasar tulisannya utk mengkritik 
“rezim pro pasar yang didukung aliansi kelas borjuasi, kelas kapitalis asing 
dan elit agama” yg bung kuningin/highlighted.

 

Ketiga focus dari tulisan roy murthado ini adalah mengkritik agama. Dia tidak 
mengabaikan ideologi walaupun dia mengkritik politik sebagai perselingkuhan: 
agama, ekonomi dan politik.

 

Coba baca yang teliti tulisan seseorang sebelum menyimpulkan maknanya.

 

Saya yakin bung yang melarikan focus tulisannya dari agama ke ideologi politik. 
Roy murtadho tidak berbicara pentingnya ideologi dalam kasus kendeng.

Dia dengan jelas menulis masalah kendeng itu adalah masalah kemanusian. Ini 
benar dan saya jelaskan dari awal. Bung kurang faham makna tulisan saya. Bung 
terlalu focus bahwa saya adalah kapitalis dan tersamarnya bahwa saya mendukung 
pabrik semen. Sayang kan tersamarnya bung ini? masalah kendeng adalah masalah 
kemanusiaan bukan masalah ideologi. Semua ideologi menolak ketidakadilan dan 
ketidakmanusiawian, bukan hanya ideologi kiri.

Ini kutipan tulisan roy murtadho: “karena tugas kita di sini adalah memfokuskan 
diri pada pembongkaran absensi Islam pada hampir semua tragedi kemanusiaan di 
negeri ini, khususnya perjuangan Kendeng.”

 

Sampai sampai roy murtadho memperbandingkan Islam dengan Gandhi yang melawan 
ketidakadilan dengan tanpa kekerasan. Ini kutipan tulisannya roy murtadho:

“Melalui Satyagraha inilah kaum Satyagrahi mengamalkan ajaran Gandhi lainnya: 
Ahimsa. Anehnya, mayoritas kaum musIim Indonesia yang mendaku dirinya sebagai 
Islam ramah dan Islam tanpa kekerasan ala Gandhi, tak pernah mempraktikkan 
Satyagraha, bahkan bisa jadi tak paham bahwa komitmen anti kekerasan hanya 
mungkin dipraktikkan melalui perjuangan melawan ketidakadilan secara pasif 
seperti ditunjukkan para petani Kendeng”.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, March 31, 2017 1:48 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>
Cc: Jonathan Goeij <[email protected]>; Roeslan 
<[email protected]>; Lusi.D <[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto 
<[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; Harry Singgih <[email protected]>; Mitri 
<[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; Lingkar Sitompul 
<[email protected]>; Ajeg <[email protected]>; Farida Ishaja 
<[email protected]>; Marsiswo Dirgantoro <[email protected]>; Billy 
Gunadi <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] <[email protected]>; 
C. Manuputty <[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]
Subject: [GELORA45] Yu Patmi Adalah Sang Mustadh’afin

 

  

Sebuah tulisan lagi yang berkaitan dengan Kendeng yang patut dibaca dan 
direnungkan oleh para pendukung Jokowi dan mereka yang 
pro-kapitalis/kapitalisme seperti  Chan, Nesare, dan yang lainnya. Khusus buat 
Nesare, tulisan ini SEKALI LAGI memperlihatkan bahwa kaum tani Kendeng tidak 
butuh kapitalisme!! Jadi bukan SAYA  yang mengatakan itu atau asumsi saya.  
Jangan malas baca dan baca sampai selesai! Begitu juga dengan tulisan-tulisan 
lain yang sudah dipostingkan, seperti misalnya “Pejuang Kendeng”.

Roy Murtadho bicara soal MP3EI (Master Plan Percepatan Perkembangan Ekonomi 
Indonesia) yang sudah dimulai sejak SBY. Ini sudah saya kemukakan berkali-kali, 
 tak seorangpun yang memperdulikan atau membantah , tapi tetap ngotot 
seolah-olah paket ekonomi Jokowi LAIN dari pada  kebijakan ekonominya SBY!!!

Murtadho bicara juga tentang 1,2 juga hektar hutan di Papua yang dibabati untuk 
ditanami padi. Saya juga berkali-kali bilang wong rakyat Papua tidak makan 
nasi, kok hutannya dibabat untuk bikin lumbung beras! Sedangkan di Jawa di mana 
rakyatnya makan nasi, lahan pertaniannya malah terus dipersempit karena 
pembangunan megaproyek infrastruktur!!! Jadi beras, makanan orang Jawa malah 
dibikin jauh dari  tempat mereka hidup, dan penanaman padi itu justru mematikan 
sumber kehidupan dan pangan rakyat Papua. Yang lebih jahat lagi beras itupun 
bukan untuk konsumsi dalam negeri tapi diexport!!! Seperti beras biologis yang 
diexport ke Arab Saudi!! Konklusi: apa yang disebut Jokowi swasembada pangan 
hanyalah omong kosong belaka!

Ada poin di mana saya tidak setuju dengan Roy Murtadho, yaitu kategori kelas 
dari para pejabat elit pemerintahan. Mereka BUKAN BORJUASI NASIONAL. Mereka 
adalah BORJUASI BIROKRAT DAN KOMPRADOR. Kekuasaan ada ditangan kelas  tuan 
tanah besar, kaum borjuasi birokrat dan komprador. Borjuasi nasional Indonesia 
masih terlalu kecil dan lemah untuk dapat bersaing dengan kaum kapitalis asing. 
Kelas borjuasi nasional adalah kelas pengusaha menengah yang justru 
perkembangannya tertekan oleh modal besar asing yang menguasasi ekonomi melalui 
kaki tanganya, yaitu kabir dan komprador.

Kategorisasi yang tepat ini penting supaya rakyat tidak memukul kaum borjuasi 
nasional yang bukan musuh pokoknya. 

Yu Patmi Adalah Sang Mustadh’afin

31 March 2017

  <https://indoprogress.com/penulis/roy-murtadho/> Roy Murtadho

  <https://indoprogress.com/kanal> Harian IndoPROGRESS

 <https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/> Print  PDF

 

  <https://indoprogress.com/wp-content/uploads/2017/03/patmi.jpg> 

Kredit ilustrasi: Ivana Kurniawati/www.ingrum.org

 

لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ 
الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا 
أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ 
لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ

لَدُنْكَنَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang 
lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: “Ya 
Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya 
dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari 
sisi Engkau!”. (QS. Annisa:75)

 

SEBELUMNYA kita telah  
<https://indoprogress.com/2017/03/meninjau-mustadhafin-dan-proletariat-dalam-perbincangan-islam-hari-ini/>
 mendiskusikan pentingnya melampaui perbincangan diskursus mustadh’afin dalam 
kerangka semantik-hermeneutik dengan mematerialkan mustadhafin sebagai 
proletariat dan informal proletariat dalam konteks relasi sosial kapitalisme 
mutakhir. Sekarang kita akan mendaratkannya pada problem-problem empirik dan 
aktual yang dihadapi oleh kedua kelas tersebut.

Penekanan Islam tak hanya sekedar ritual, tapi sebagai jalan pembebasan menjadi 
penting hari ini di tengah krisis sosial-ekologis di Indonesia oleh rezim pro 
pasar yang didukung aliansi kelas borjuasi, kelas kapitalis asing dan elit 
agama. Aliansi inilah yang menjadi hegemonik dan manifes pasca tumbangnya rezim 
otoritarian Orde Baru. Suatu perselingkuhan politik, ekonomi dan agama untuk 
mengakumulasi kapital kelas-kelas elit melalui jargon-jargon nasionalisme dan 
agama.

Kita menyadari, agama ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi 
senjata perlawanan yang luar biasa dahsyat, sebagaimana pemberontakan petani 
Banten pada 1888, tapi juga bisa menjadi alat penindasan terhadap rakyat dengan 
memberi legitimasi teologis kelas elit oligarki. Sialnya, kemungkinan kedua ini 
jauh lebih sering terjadi ketimbang kemungkinan pertama.

Dengan ini, melalui apa yang terjadi di Kendeng, kita akan melihat, apakah 
Islam telah menjadi jalan pembebasan atau sebaliknya justru sebagai jalan 
penindasan. Bahkan secara spesifik, melalui Yu Patmi, kita tinjau kembali 
orientasi gerakan Islam secara umum di Indonesia.

***

Sejak dimulainya aksi cor kaki hingga meninggalnya Yu Patmi pada 21 Maret dini 
hari lalu, tak satu ormas Islam besar pun di negeri ini yang angkat bicara 
memberi dukungan perjuangan atau mengucapkan bela sungkawa. Tak heran, karena 
sejak Marsinah hingga Satinah, kita juga belum pernah mendengar satupun ormas 
Islam mengeluarkan pernyataan resmi atas berbagai tragedi kemanusiaan di negeri 
ini. Bisa jadi, kesimpulan ini keliru atau gegabah, tapi setidaknya absennya 
ormas-ormas Islam dari perjuangan rakyat, menunjukkan pada kita, sedikit sekali 
yang siap berdiri di barisan kaum yang oleh Allah disebut Mustadh’afin.

Yu Patmi, bersama para petani pegunungan Kendeng lainnya, mengecor kakinya 
dengan semen di depan istana sebagai bentuk protes simbolik bahwa ruang hidup 
mereka sebagai petani tengah terbelenggu oleh pendirian pabrik semen di kawasan 
Pegunungan Kendeng. Sekaligus desakan terhadap sikap bisu presiden atas 
diterbitkannya kembali izin pendirian pabrik semen Indonesia oleh gubernur Jawa 
Tengah Ganjar Pranowo, setelah putusan MA memenangkan gugatan petani yang 
tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng atau JMPPK, untuk 
segera mencabut izin pendirian pabrik semen di Rembang.

Aksi ini tak hanya didukung oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa di ring 1 
pabrik semen, seperti Tegaldowo, Pasucen dan Timbrangan, tapi juga dari Blora 
dan Pati, seperti Yu Patmi. Aksi protes pasif semacam ini dulu di India disebut 
sebagai Satyagraha yang dipelopori oleh Gandhi. Melalui Satyagraha inilah kaum 
Satyagrahi mengamalkan ajaran Gandhi lainnya: Ahimsa. Anehnya, mayoritas kaum 
musIim Indonesia yang mendaku dirinya sebagai Islam ramah dan Islam tanpa 
kekerasan ala Gandhi, tak pernah mempraktikkan Satyagraha, bahkan bisa jadi tak 
paham bahwa komitmen anti kekerasan hanya mungkin dipraktikkan melalui 
perjuangan melawan ketidakadilan secara pasif seperti ditunjukkan para petani 
Kendeng.

Alhasil, karena minusnya pemahaman ini membuat beberapa pihak, khususnya kaum 
muslim tanggung(medioker) secara berisik menuding perjuangan Kendeng sebagai 
tidak Islami, anti nasionalisme dan pro asing. “Mengapa mereka hanya menolak 
pabrik semen Indonesia sementara pabrik semen asing dibiarkan?”. “Apakah mereka 
benar-benar Islamnya. Kalau Islam harusnya membela NKRI dengan mendukung 
berdirinya pabkrik milik negara, bukan malah menolaknya”. “Bagaimana sholatnya 
kalau terus-terusan dicor kakinya?”. “Islam melarang umatnya melukai dirinya 
sendiri, jika benar mereka Islam, tak akan melakukan cor kaki”. Kurang lebih 
suara-suara semacam ini yang belakangan sering kita dengar dari pihak-pihak pro 
semen. Kita tak akan menjawab satu persatu keberisikan bebal musuh rakyat 
semacam itu, karena tugas kita di sini adalah memfokuskan diri pada 
pembongkaran absensi Islam pada hampir semua tragedi kemanusiaan di negeri ini, 
khususnya perjuangan Kendeng.

Pertanyaannya, mengapa ormas Islam di negeri ini absen dari berbagai bentuk 
perjuangan rakyat di segala aspeknya? Bahkan, sebagaimana telah saya kemukakan 
di muka, elit agama justru menjadi bagian dalam aliansi kelas borjuasi nasional 
dan kelas kapitalis asing, dengan menempatkan dirinya, secara langsung maupun 
tidak sebagai penjaga kepentingan mereka dengan memberi legitimasi teologis 
bahwa logika perampasan atau perusakan sah menurut suara langit, setidaknya tak 
ada yang protes ketika ada penjarahan tanah petani. Sehingga sampai sekarang 
tidak ada ormas besar Islam di Indonesia yang secara eksplisit memberi dukungan 
pada perjuangan petani Kendeng.

Absennya ormas-ormas besar Islam di Indonesia terhadap berbagai problem aktual 
umat, setidaknya menandakan empat hal: pertama, secara internal, ormas-ormas 
Islam mengalami kegagalan mengaktualkan konsep Islam sebagai rahmatan lil 
alamin dalam konteks kapitalisme global. kedua, ormas-ormas Islam menghabiskan 
sebagian besar energinya untuk persoalan-persoalan identitas dengan melepaskan 
apsek kelas sebagai dasarnya, sehingga gagal dalam mematerialkan konsep 
mustadh’afin sebagai proletariat dan informal proletariat dalam struktur relasi 
sosial produksi kapitalisme. Ketiga, ormas-ormas Islam kebingungan menempatkan 
posisinya di tengah politik liberal dan negara pasar. Di satu sisi secara 
teologis-dogmatis agama menganjurkan perjuangan membela umat, tapi secara 
praksis sebaliknya, disadari atau tidak ormas-ormas Islam turut menyokong 
liberalisasi ekonomi yang menyengsarakan umat. Keempat, kekeliruan memahami 
kebijakan pemerintah sebagai negara itu sendiri. Keempatnya menimbulkan efek 
kelima, elit agama, alih-alih memperjuangkan hak-hak rakyat, justru turut 
menyokong oligarki, melalui instrumen negara, untuk menguasai hampir sebagian 
besar aset sumber daya di Indonesia.

Beberapa persoalan inilah yang memandulkan Islam sebagai jalan pembebasan, 
sehingga tidak mampu melihat wajah sang mustadh’afin seperti Yu Patmi dan 
jutaan kaum informal proletariat dan proletariat yang disingkirkan melalui 
kebijakan pemerintah yang pro pemodal. Sedemikian Islam menjadi terasing di 
bumi dimana ia dipijakkan

Ketika agama, khususnya Islam, tak mampu menjadi pendorong perubahan secara 
radikal, sebaliknya menghambat perjuangan rakyat mendapatkan keadilannya, apa 
yang terjadi? Perjuangan rakyat di seluruh wilayah di Indonesia menghadapi 
situasi yang hampir serupa: terbentur birokrasi dan dibenturkan dengan isu 
agama. Ini pula yang terjadi di Rembang. Untuk mematikan langkah juang petani 
Kendeng, dibentuklah sebuah Forum Kiai Muda Jateng yang entah berapa anggota 
sebenarnya, mengeluarkan pernyataan pro semen Indonesia di atas pegunungan yang 
ditetapkan sebagai hutan. Dengan jargon nasionalisme, melalui cara berpikir 
sederhana: kebijakan pemerintah adalah negara, negara adalah kebijakan 
pemerintah. Meski pemerintah tidak merepresentasikan rakyat, meski pemerintah 
tidak menjalankan amanat penderitaan rakyat, meski pemerintah menjadi 
penyambung lidah kartel, ia harus secara total didukung karena mendukung 
pemerintah adalah bukti kesetiaan pada “NKRI Harga Mati!”. Siapapun yang 
melawan kebijakan pemerintah maka boleh diperangi dan dianggap sebagai musuh 
negara. Ini juga yang tengah terjadi di Banyuwangi, dan hampir semua kantong 
konflik agraria di Indonesia. ‘Agama’, meminjam bahasa kawan saya Muhammad 
Al-Fayyadl, ‘akhirnya berfungsi sebatas sebagai pelumas kekerasan dan 
perampasan’.

Ini tak hanya persoalan di dalam Islam, tapi terjadi di hampir di semua agama: 
“agama yang seharusnya menjadi jalan pembebasan justru menjadi jalan 
penindasan. Agama yang seharusnya berdiri bersama kaum papa, justru berdiri 
bersama kaum kaya. Agama yang seharusnya membebaskan belenggu mustad’afin, 
justru membelenggu kaum mustdh’afin”.

Akibatnya, berbagai rentetan pengkhianatan terhadap hukum dan agama menjadi hal 
yang lumrah dan biasa saja. Tak ada yang geram, tak ada yang protes. Ini telah 
berulangkali terjadi di Indonesia. Selain di Rembang, mungkin yang masih basah 
dalam ingatan kita adalah kasus reklamasi Teluk Benoa di Bali dan pembakaran 
hutan di Sumatra Selatan oleh PT Bumi Mekar Hijau.

Di tengah perjuangan masyarakat yang tergabung dalam ‘Forum Rakyat Bali Tolak 
Reklamasi’ (forBALI) 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn1> 
[1]menyelamatkan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi oleh PT Tirta Wahana Bali 
International (TWBI) seluas 700 hektar, yang melanggar Perpres No. 45 Tahun 
2011 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan SARBAGITA, yang isinya 
menyatakan Teluk Benoa adalah kawasan konservasi perairan (Pasal 55 ayat (5). 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn2> 
[2]Anehnya, ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, 
I Ketut Wiana, justru mendukung reklamasi dengan pertimbangan-pertimbangan yang 
sepenuhnya ekonomis. 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn3> [3] 
Kita juga masih ingat dengan amar putusan Pengadilan Negeri (PN) Palembang, 
pada 30 Desember 2015 lalu, terkait gugatan Kementerian Lingkungan hidup dan 
kehutanan (KLHK) terhadap PT Bumi Mekar Hijau, sebuah perusahaan yang digugat 
karena dianggap harus bertanggungjawab atas terbakarnya hutan seluas 20.000 
hektar di tahun 2014 di Sumatra Selatan yang merugikan negara mencapai Rp. 7.9 
miliar. Para Hakim justru memutus PT BMH tidak bersalah dan menganggap 
pembakaran hutan tidaklah menimbulkan kerusakan ekologis. Adakah ormas Islam 
yang protes terhadap putusan hakim pro perusahaan perusak lingkungan? Tak ada!

Singkatnya, untuk mengetahui secara faktual bahwa mutadh’afin masih ideasional 
dan berhenti sebagai sekedar perdebatan semantik-hermeneutik di pusat-pusat 
kajian Islam, bisa kita lihat pada absennya ormas-ormas Islam dalam berbagai 
problem keumatan yang dihadapi Yu Patmi dan jutaan rakyat Indonesia lainnya.

Tapi sekurang-kurangnya, perjuangan yu Patmi dan pejuang Kendeng lainnya telah 
menampar kita semua bahwa Islam kita yang belakangan diberi label ‘Nusantara’ 
dan ‘Berkemajuan’, rupanya belum sepenuhnya menginjakkan kakinya di bumi 
Nusantara yang porak poranda dijarah investasi para borjuasi nasional dan 
kapitalis global. Pun, rupanya tak cukup maju karena faktanya prasyarat 
material menuju kemajuan tersebut belum dipenuhi dengan memenangkan agenda 
perjuangan rakyat banyak dihadapan mesin kapitalisme.

Apa yang telah diperjuangkan oleh Yu Patmi dan petani pegunungan Kendeng, di 
Pati, Rembang, Grobogan dan Blora, merupakan kejujuran dan sepucuk cinta petani 
pada alam, dan juga teguran pada kita semua bahwa hidup tak cukup hanya diukur 
dengan kalkulasi untung rugi kapitalistik, melainkan perlu tanggung jawab dan 
cinta pada alam dalam wujud perhatian, dan pelestarian. Ini persis sama dengan 
ajaran Islam bahwa mencintai Allah tak mungkin bisa diwujudkan tanpa mencintai 
alam dan mencintai manusia. Hubungan dengan Allah (hablun min al-Allah), harus 
diwujudkan melalui hubungan dengan alam (hablun min al-alam), dan hubungan 
dengan manusia (hablun min al-nas). Satu sama lain saling mengandaikan dan tak 
bisa dipisahkan. Mencintai Tuhan tanpa bukti mencintai Alam dan manusia 
merupakan iman yang cacat. Ini material, karena yang ilahiah aktual dan hadir 
karena ada manusia yang hidup dimungkinkan oleh alam. Maka wajar kalau Allah 
mengatakan manusia sebagai khalifah-nya (wakil) di bumi. Karena menghancurkan 
alam hakikatnya menghancurkan manusia dan Allah itu sendiri.

Tak jauh berbeda dengan konsep Islam adalah konsep Kristiani. Manusia dipandang 
sebagai, Imago Dei, citra Allah, yang mana tidak hanya dilihat secara personal 
individual tapi juga secara sosial komunal dan secara kosmis-ekologis. Manusia 
sebagai citra Allah dipahami secara kosmis-ekologis, berarti bahwa manusia 
diundang oleh Allah untuk turut serta dalam memelihara keutuhan ciptaanNya. 
Tanpa pemeliharaan ini hidup manusia juga terancam, sebab manusia hakikatnya 
merupakan bagian integral dari ciptaan itu sendiri. Manusia sebagai citra-Nya 
merupakan cooperator dan coocreator dari Sang Pencipta. Dengan demikian, 
manusia bertindak secara kreatif dalam upaya transformasi, rekonstruksi, dan 
konservasi alam semesta. Dalam pemahaman kosmis-ekologis ini lebih lanjut Allah 
digambarkan sebagai simbol “ibu Alam Semesta”, 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn4> [4] 
yang belakangan menemukan titik temu dengan tradisi eko-feminisme yang 
dikembangkan di luar tradisi agama-agama abrahamik. 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn5> 
[5]Sedangkan dalam tradisi pemikiran teologi Katolik, Fransiskus de Asisi, 
melihat matahari dan bumi serta makhluk lain dalam alam semesta sebagai saudara 
dan saudari manusia sekaligus sebagai lambang kehadiran yang ilahi, 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn6> [6] 
yang di dalam bahasa Islam disebut dengan (ayat al-bayyinat).

Bagaimana dengan perjuangan Kendeng? Meski kita tahu tidak semua pejuang 
Kendeng adalah warga Samin, khususnya di Rembang yang semuanya Islam, tapi 
mengapa mereka memakai istilah “ibu bumi”, sementara kita tahu konsep ibu bumi 
tak dikenal dalam terminologi dogmatik Islam. Ini merupakan satu eksperimentasi 
dan akulturasi jenius yang dilakukan para pejuang Kendeng Rembang, ketika 
konsep manusia sebagai khalifahmampat, mereka melampauinya dengan menempatkan 
bumi pada kedudukannya yang paling mulia sebagai “ibu”. Meski dipinjam dari 
saudaranya yang Samin, ini telah memberi satu bukti lagi, bahwa sekat tradisi 
dan agama tak menghalangi mereka untuk berjuang bersama. Bahkan praktik 
perjuangan mereka telah menjawab kegelisahan kita selama ini mengenai 
kebhinekaan yang berciri sinkretik dan unik, melalui bahasa perlawanan yang 
hidup dan indah: “menyelamatkan ibu bumi”.

***

Baik kalau kita jawab sepintas tudingan pihak-pihak pro semen pada perjuangan 
Kendeng. Siapakah sesungguhnya yang melenceng? Mari kita ingat-ingat bersama. 
Presiden Jokowi melalui pemerintahannya bertekad menjadikan Indonesia berdaulat 
pangan. Maka ditetapkanlah kebijakan yang disebut dengan Merauke Integrated 
Food and Energy Estate (MIFEE) yang menjadi salah satu rencana untuk 
menyediakan sumber pangan nasional dengan memberikan konsesi lebih dari 1,2 
juta hektar hutan kepada 48 perusahaan yang diajukan oleh MIFEE. Kebijakan ini 
selain membabat hutan Papua, juga mengakibatkan hancurnya sumber-sumber pangan 
lokal seperti babi dan sagu yang menjadi sumber pangan harian dan lokal 
masyarakat Papua.

Sementara di Jawa, sebagaimana diungkapkan oleh Furnivall, selama berabad-abad 
memiliki fungsi sebagai penyeimbang bagi jalur ekonomi maupun kebudayaan di 
kawasan Nusantara, semata-mata karena Jawa, selain posisinya berada di tengah 
lalu lintas perdagangan nusantara, juga karena Jawa mempunyai tanah vulkanik 
yang subur yang mampu memberi makan pada Kepulauan rempah-rempah dan 
wilayah-wilayah lain yang tidak mempunyai beras Bahkan karena keunggulannya 
dalam pertanian, Jawa selalu menjadi pesaing bagi imperium komersial yang 
menguasai selat Malaka. 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn7> [7]

Catatan historis ini artinya apa? Karena kekhususan Jawa sebagai tanah vulkanik 
yang subur dan sejak berabad-abad yang lampau berfungsi sebagai lumbung pangan 
Nusantara, mengapa pemerintahan Jokowi harus memaksakan diri membangun proyek 
MIFEE, yang mendatangkan malapetaka baru sekaligus bagi Jawa dan Papua. 
Jawabnnya mudah. Karena dalam peta MP3EI, Jawa sebagai koridor industri. Maka 
sudah bisa ditebak, Jawa akan segera mengalami betonisasi disekujur tubuhnya. 
Inilah yang disebut dengan pembangunan ala Joowi, yang kerap memakai lidah 
Sukarno untuk menginjak-injak rakyat. PLTU-PLTU baru dibuka di Jawa yang 
memakai bahan bakar Batubara yang merusak lingkungan di Kalimantan, sebagai 
suplai energi bagi industri-industri baru di Jawa, yang juga menimbulkan 
konflik agraria, seperti di Batang dan Jepara. Proyek betonisasi ini juga 
membutuhkan prasyarat lainnya yaitu semen. Selain berorientasi ekspor, produksi 
semen melalui PT Semen Indonesia yang menargetkan produksi 1,9 juta ton semen 
hingga akhir tahun 2017, juga sebagai jalan melapangkan agenda betonisasi ini. 
Jumlah tersebut baru 60 persen dari kapasitas keseluruhan produksi sebesar 3 
juta ton. Karst pegunungan Kendeng menjadi salah satu sasarannya dengan jalan 
pemprov Jateng memberi izin lingkungan kepada PT. Semen Indonesia Tbk. untuk 
menambang Pegunungan Kendeng dengan total luasan wilayah menembus 900 hektar. 
Pembanguan pabrik ini akan menghancurkan 300 mata air dan 4 sungai bawah tanah 
di bawah Pegunungan Kendeng yang menghidupi ribuan hektar lahan pertanian. Jika 
benar, maka pertanian yang hancur akan menjadikan para petani yang tak terserap 
sebagai tenaga kerja akan menjadi informal proletariat yang memenuhi perkotaan 
tanpa jaminan hidup. Karena faktanya semen sebagai industri ekstraktif padat 
modal (capital intensive) tak akan bisa menyerap banyak tenaga kerja 
sebagaimana digembar-gemborkan. Sebagai bandingan dan pembuktiannya, perlu 
digali secara empirik, misalnya, berapa persen pemuda di Tuban yang terserap 
sebagai tenaga kerja dalam industri ekstraktif jenis purba ini. Jika benar 
Rembang disebut sebagai wilayah yang tak subur bagi pertanian, bukti 
menunjukkan sebaliknya. Berdasar data Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten 
Rembang tahun 2014, menunjukkan 44,75 persen ditunjang dari sektor pertanian.

Persoalan semen Indonesia tak lagi bisa dikatakan sebagai masalah BUMN vs 
asing, karena semua industri dimanapun tempatnya merusak lingkungan dan 
mengakibatkan krisis sosial ekologis. Maka jauh sebelum menolak semen 
Indonesia, yu Patmi dan pejuang Kendeng telah melawan masuknya perusahaan PT 
Indocements di Pati, sebelum mereka turut berjuang di Rembang.

***

Di sinilah pentingnya seruan jihad kembali dikumandangkan, yakni perjuangan 
membela dan melindungi orang-orang yang dilemahkan dan tertindas, para buruh 
dan petani seperti Yu Patmi. 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn8> [8] 
Hanya melalui perjuangan membela yang dilemahkan, konsep Jihad kembali aktual 
dan menemukan posisi historisnya, sebagaimana dulu dipraktikkan oleh Nabi 
Muhammad selama sepanjang hidupnya. Ia bersama para sahabatnya membebaskan 
masyarakat Arab yang diperlakukan tidak adil oleh minoritas elit oligarki 
feodal dalam kebudayan patriarki, dimana perempuan dilecehkan dan ditindas, 
bahkan hingga dikubur hidup-hidup (QS. 81: 8-9).

Penting pula ditekankan di sini sosok Muhammad. Meski seorang utusan Allah, 
Muhammad lebih tepat disebut sebagai seorang aktivis-pejuang ketimbang seorang 
guru-petapa yang mengisolasi dirinya dari persoalan dunia. Sehingga melalui 
sosok egaliternya yang juga lahir dari kalangan kaum miskin, sebagaimana 
kebanyakan masyarakat Arab lainnya yang dihinakan, masyarakat Arab mempunyai 
kekuatan menyusun perjuangan pembebasan bagi dirinya sendiri maupun membebaskan 
orang-orang lain dari kekejaman Kekaisaran Romawi di Barat dan Sassanid di 
Timur. 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn9> [9] 
Dari praksis perjuangan pembebasan seperti inilah pada masanya tradisi 
pembebasan Islam muncul, bukan dari suatu pencarian abstraktif-kontemplatif. 
Bahkan pesan pembebasan dalam Islam merupakan koenjti dari ajaran Islam itu 
sendiri. Karena di dalam pembebasan tersbeut terkandung cinta kasih dan 
keadilan.

Ada dua kata yang dipakai oleh Al-Qur’an untuk menyatakan keadilan, yaitu ‘Adl 
dan qist. ‘Adl tak hanya berarti keadilan tapi juga mempunyai makna menyamakan 
dan meratakan. ‘Adl dimaknai sebagai lawan zulm dan jaur, perbuatan salah dan 
penindasan. Qist juga berarti distribusi yang sama dan juga keadilan, 
kewajaran, dan pemerataan. 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn10> 
[10] Kedua kata ini menjadi kata kunci bagi kaum mustadh’afin berjuang 
melepaskan dirinya dari belenggu penindasan, yang selaras dengan perjuangan Yu 
Patmi dan para pejuang Kendeng lainnya.

Sudah menjadi tugas kita semua melucuti selubung persekongkolan elit agama dan 
oligarki ekonomi maupun politik di negeri ini, yang atas nama pembangunan dan 
nasionalisme secara manipulatif melanggengkan ketidakadilan structural dengan 
menjadikan pemerintah sebagai pelayan investasi. Adalah Walden Bello, 
dalamDeglobalization Ideas for a New World Economy, mengingatkan bahwa rezim 
neoliberal yang bertumpu pada pasar bebas terbukti tak mampu memenuhi janjinya 
untuk menciptakan kesejahteran masyarakat selain hanya ilusi. Alih-alih 
menyejahterakan, justru menciptakan malapetaka global: ketimpangan sosial dan 
krisis ekologi, khususnya di belahan dunia ketiga. 
<https://indoprogress.com/2017/03/yu-patmi-adalah-sang-mustadhafin/#_edn11> [11]

Membiarkan Yu Patmi dan para pejuang Kendeng, dan siapapun rakyat di seluruh 
negeri ini dirampas ruang hidupnya merupakan dusta paling nyata terhadap agama. 
Lebih-lebih sampai menjadi bagian dari mereka yang turut serta menginjak-injak 
para proletariat dan informal proletariat, hakikatnya adalah menginjak-injak 
Allah, dan mendustakan kebenaran agama. Naudzubillah min dzalik***

 

Jombang, 26 Maret 2017

 

 

 

 



Kirim email ke