Cara Ahok Minta Maaf Menggambarkan Nuansa Debat Terakhir


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Cara Ahok Minta Maaf Menggambarkan Nuansa Debat Terakhir
 Debat terakhir Pilkada DKI digunakan Ahok untuk, lagi-lagi, memperlihatkan apa 
yang sudah dan sedang dilakukan u...  |   |

  |

  |

 

Basuki Tjahaja Purnama memaparkan saat Debat Publik Pilkada DKI Jakarta putaran 
kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4). Tirto.id/Andrey Gromico208 
Shares   Reporter: Arman Dhani13 April, 2017dibaca normal 5:30 menit   
   - Seperti debat-debat sebelumnya, Ahok-Djarot terus menekankan apa yang 
telah/sedang mereka lakukan.
   - Permintaan maaf Ahok di segmen penutup memperlihatkan keseluruhan tensi 
debat yang lebih tenang.
Debat terakhir Pilkada DKI digunakan Ahok untuk, lagi-lagi, memperlihatkan apa 
yang sudah dan sedang dilakukan untuk Jakarta.tirto.id - Dalam dua debat 
terakhir yang diselenggarakan oleh KPUD dan Metro TV, calon gubernur nomor urut 
dua, Basuki Tjahaja Purnama, tampil nyaris tanpa beban. Di penampilan bersama 
Mata Najwa, misalnya, Ahok lebih banyak berkelakar dan tertawa menghadapi 
pertanyaan baik dari Najwa Shihab maupun dari Anies. Hal ini terlihat lagi 
dalam debat terakhir yang diselenggarakan KPUD.

Debat terakhir yang diselenggarakan oleh KPUD berlangsung lebih datar. 
Sepanjang debat terakhir semalam, dua sesi awal banyak dikeluhkan membosankan 
oleh netizen. Alur yang lambat dan nyaris tanpa "konflik". 

Dalam kesempatan itu Ahok memulai debat dengan pernyataan bahwa pengalaman 
dijegal oleh DPRD adalah hal yang biasa. Namun, ia menolak untuk menyalahkan 
semua anggota DPRD. 

“Karena kami mengalami sendiri kejadian tahun 2015. Nah yang paling penting 
adalah bagaimana kita membuat transparansi, dari usulan masyarakat,” kata Ahok.

Ia mengakui ada anggota DPRD yang mungkin main anggaran, tapi tidak semua, 
“Hanya oknum tertentu saja yang ada kepentingan,” katanya. Ahok berulang kali 
menjelaskan ia tidak akan dan tetap menolak belanja barang yang tak punya nilai 
guna untuk masyarakat. ”Kita bisa ingat dulu APBD DKI menghabiskan banyak uang 
tapi masyarakat enggak pernah merasakan. Kita masih ingat dulu masyarakat kalau 
sakit, nggak berani berobat, karena hanya diganti 10%, 20%, 50%,” katanya.

Efisiensi itu, menurut Ahok, dapat digunakan untuk meningkatkan layanan 
pendidikan. Menurutnya, melalui program yang disusun DKI, setiap anak 
mendapatkan subsidi dari 600 ribu sehingga dalam setahun bisa mendapatkan 7,2 
juta rupiah. Dari penelusuran tim riset Tirto, berdasarkan data yang ada di 
KJP.Jakarta.go.id, seorang anak sekolah swasta tingkat menengah atas memang 
bisa mendapatkan dana subsidi bulanan dan SPP mencapai lebih dari 600 ribu.

Dalam kesempatan itu Ahok juga menjelaskan bahwa dalam pemenuhan kebutuhan 
anggaran mesti ada jalan tengah. Misalnya jika tidak ada UU yang mengatur maka 
Gubernur bisa membuat Pergub. “Itu yang kami lakukan. Sehingga mulai dari 
peristiwa itu, muncullah kesepakatan. Sehingga pada 2016, muncullah Perda APBD. 
Itulah dinamika yang kami alami,” katanya. Ahok mengklaim bahwa hal ini punya 
dampak positif dalam pembangunan Jakarta.

Di segmen kedua Djarot menjelaskan tentang Program Ketuk Pintu Layani dengan 
Hati. Yaitu program pelayanan kesehatan yang menekankan kepada aspek preventif 
dan promotif. Pemerintah melalui Puskesmas mengirim petugas kesehatan mereka 
untuk datang ke rumah-rumah warga dan memeriksa kesehatan mereka. Dari situ 
dibangun sanitasi yang baik, misalnya melalui program bedah rumah.

“Dengan cara seperti itu akan memudahkan kami untuk melayani warga apabila 
terkena penyakit ataupun meningkatkan kualitas derajat kesehatan mereka. Ini 
kita lakukan terus menerus. Dan yang terakhir dengan membangun RPTRA (Ruang 
Terbuka Ramah Anak) di masing-masing wilayah, setiap RW nanti akan kita bangun 
RPTRA terutama yang padat penduduknya,” kata Djarot.

Tentang bantuan untuk para pengusaha kecil dan menengah Ahok menjelaskan bahwa 
selama dua tahun terakhir ia gencar memaksa semua pelaku usaha membuka rekening 
bank. Ini dilakukan sebagai usaha mempelajari arus kas usahanya. “Kadang-kadang 
UMKM minta kredit, dia tidak pernah mempunyai arus kas perbankan sehingga kita 
tidak tahu kebutuhannya berapa,” kata Ahok.

Sebelumnya pada 29 April 2016 Djarot menjelaskan bahwa pada 2016  Bank DKI 
mengalokasikan dana untuk hal itu. Pada kenyataannya pemberian kredit pada 
pengusaha kecil menengah dalam koridor Kredit Monas, seperti yang dilansir dari 
situs resmi pemerintah Jakarta Timur, plafon kreditnya maksimal mencapai Rp 10 
juta dan minimal Rp 5 juta dengan jangka masa pengembalian antara enam bulan 
sampai 1 tahun.

Di segmen ketiga, berbeda dengan debat sebelumnya, ada pertanyaan yang 
diberikan oleh perwakilan masyarakat. Salah satunya adalah Daryono dari 
masyarakat transportasi. Ia bertanya apakah mungkin transportasi di Jakarta 
digratiskan untuk masyarakat miskin. 

Ahok menjawab bahwa sejak dua tahun terakhir ia memaksa masyarakat Jakarta 
untuk menggunakan E-Ticket, selain lebih murah, fasilitas ini dipercaya juga 
lebih mudah. Sistem tiket pada halte Transjakarta sejak 2013 menggunakan kartu 
elektronik (e-ticketing), sebagai pengganti uang tunai.

“Nah perlu saya sampaikan kepada pak Daryono dan teman-teman, kami sebenarnya 
sudah menggratiskan, Pak. Sejak tahun yang lalu naik bus. Nah, kalau bapak dan 
ibu punya gaji UMP, tinggal lapor ke bank DKI penerimaan gajinya, maka otomatis 
bank DKI memberikan gratis,” katanya.

Selain terobosan itu Ahok juga menyebut bahwa para marbot dan warga yang 
tinggal di rumah susun, dan anak-anak sekolah semuanya gratis. Ini bagian dari 
usaha untuk menopang supaya biaya hidup mereka, terutama dari komponen 
transportasi, bisa lebih murah. 

Menariknya, dari penelusuran Tirto pada Desember lalu, tidak semua orang yang 
tinggal di rumah susun mendapatkan kartu akses gratis Transjakarta. Satu 
keluarga hanya satu pemegang, yaitu kepala keluarga, bukan per anggota 
keluarga. Jika mereka punya banyak anggota keluarga, mereka mesti bergantian 
atau membayar sendiri.

Ahok juga membahas Transjakarta Care, layanan transportasi untuk manula dan 
penyandang disabilitas. Saat ini Pemprov Jakarta memiliki 26 unit. Mereka yang 
tak punya uang dan hendak ke rumah sakit bisa menggunakan fasilitas ini gratis. 
Layanan ini jadi penting karena secara langsung membantu orang-orang dengan 
disabilitas untuk beraktifitas dan mengakses layanan kesehatan dasar.

Ahok juga menolak jika kebijakannya ini disebut tidak bottom up. Misalnya untuk 
penyusunan rute transjakarta ia menggunakan pola rute yang digunakan pelanggan.

”Kami tahu persis Anda sampai ke mana. Misal dulu Kampung Rambutan ke Blok M 
tiga kali naik bus, kenapa kami tahu banyak penumpang pengen Kampung Rambutan 
langsung Blok M? Karena dia (nge-)tap (tiket). Jadi ini satu juta lebih 
penumpang ini, belasan juta, tentu butuh data,” katanya.

Pertanyaan berikutnya berasal dari Sukarto, yang tinggal di rumah susun 
Jatinegar. Ia mengeluhkan rumah susun yang dianggapnya tidak layak karena bocor 
dan kurang baik. Ahok mengakui bahwa beberapa rumah susun yang dibangun 
beberapa kontraktor yang kurang baik, yang disebutnya maling, sehingga memiliki 
kualitas buruk. Ahok juga menjelaskan bahwa sebenarnya masyarakat yang tinggal 
di rusun tidak membayar sewa tapi berkontribusi untuk pemeliharaan lingkungan. 

“Itu pun kami subsidi 80 persen. Nah beberapa yang tidak mampu bayar, beberapa 
sudah kami bayarkan lewat Bazis, juga lewat (dana) operasional saya 
sebetulnya,” kata Ahok.

Menariknya, untuk pertama kali Ahok mengakui bahwa saat memindahkan warga dari 
lokasi penggusuran ke rumah susun ada hal yang tidak dipikirkan.

”Harus kita akui waktu kami memindahkan itu, ada unsur sosial yang tidak kami 
perhatikan waktu itu. Contoh, tadinya bisa pinjam cabe, pinjam minyak goreng, 
waktu pindah tetangganya berubah. Sekarang untuk yang tinggal baru dia boleh 
sama-sama tinggal untuk di satu lantai,” katanya.

“Inilah yang harus kami akui ada kesalahan desain di masa lalu yang terus kami 
perbaiki sekarang. Saya mohon maaf dan saya harap bapak ibu bisa bersabar,” 
kata Ahok.

Djarot juga menekankan bahwa pihaknya telah turun ke rusun Jatinegara dan 
mengungkapkan bahwa memang ada prasarana yang tidak memadai. Namun ia 
bersikeras jauh lebih baik daripada kondisi mereka sebelumnya di Kampung Pulo. 
Masyarakat di rusun Jatinegara mendapatkan fasilitas mulai dari KJP, KJS, 
permodalan, dan bus Transjakarta gratis. ”Oleh sebab itu kami mohon maaf dengan 
sangat, kami tidak bisa memuaskan semua orang,” kata Djarot.

Reklamasi juga turut dibahas dalam debat tersebut. Ahok menyebut bahwa ia 
berkomitmen pada nelayan, salah satunya dengan pembangunan kanal dan rumah 
untuk nelayan. “Pantai Mutiara mengajukan untuk izin memperluas untuk perumahan 
merah, kami tolak. Kami memperluas justru di sini. Dapat tanah 10 hektar. Untuk 
apa? Supaya nelayan ada tempat sandar, termasuk ada tempat penyimpanan ikan, 
termasuk pengelolaan ikan,” kata Ahok.

Ahok menjelaskan bahwa diperlukan banyak tanggul. “Jakarta ini 1,5 meter di 
bawah muka laut. Kita lagi meninggikan 3,8 meter tanggul. Nah, tanggul ini 
sedang dikerjakan,” katanya. 

Tim Riset Tirto menemukan bahwa wilayah provinsi DKI Jakarta merupakan dataran 
rendah dengan ketinggian rata-rata tujuh meter di atas permukaan laut. Namun, 
sekitar 40 persen wilayah Jakarta berupa dataran yang permukaan tanahnya berada 
1-1,5 meter di bawah muka laut pasang.

Ahok juga desain pengembangan terpadu Muara Angke sudah selesai dan menegaskan 
bahwa para nelayan berhak tinggal di tanah reklamasi. “Karena 50% tanah itu 
punya DKI,” katanya. 

Dikutip dari Antara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DKI Jakarta 
Tuty Kusumawati mengatakan 50 persen lahan hasil reklamasi harus dipakai untuk 
kepentingan umum. Angka itu datang dari alokasi 20 persen untuk ruang terbuka 
hijau, 5 persen untuk ruang terbuka biru, area pantai publik 5 persen, 15 
persen untuk kontribusi tambahan kepada pemda DKI Jakarta, hingga fasilitas 
jalan dan sarana umum lainnya. Sehingga lahan bersih yang bisa dikomersialkan 
pengembang sekitar 50 persen dari total lahan reklamasi, atau sekitar 775.000 
meter persegi untuk Pulau G.

share infografik

Perdebatan tentang Reklamasi ini juga terjadi di segmen terakhir. Ahok menyebut 
bahwa ia masih belum bisa menemukan solusi dari retorika DP Nol persen untuk 
kepemilikan rumah. Ini yang kemudian mendorong Ahok untuk memaksakan 
pelaksanaan reklamasi. “Itu yang 41% tadi (tidak punya rumah) itu kenapa 
membuat kami ngotot. Di pulau reklamasi 20-30 tahun mendatang di Pulau 
Reklamasi penduduk bertambah. Akan tinggal dimana. Rumah begitu mahal. makanya 
kami mau setengahnya punya DKI,” kata Ahok.

Pada segmen terakhir, saat diminta menyampaikan permintaan maaf, Ahok 
melakukannya dengan datar, dan relatif tidak berbasa-basi. Ada sedikit nada 
pembelaan diri, namun ia tak mengimbuhinya dengan serangan kepada lawan seperti 
yang dilakukan Anies sebelum menyampaikan permintaan maaf. 

"Saya sampaikan (permohonan maaf) kepada Pak Agus dan Ibu Silvi beserta 
keluarga, dan pasangan nomor tiga Anies-Sandi beserta keluarga. Kami sebagai 
petahana, kami sering mengeluarkan apa yang sudah kami kerjakan, seolah-olah 
menihilkan apa yang telah dilakukan pasangan 1 dan 3. Karena apa yang kami 
lakukan, apa yang sudah kami kerjakan, bukan meledek. Kebetulan kami petahana, 
kami bisa berbicara lebih banyak, ini yang sehari-hari kami lakukan." 

Cara Ahok menutup debat terakhir memperlihatkan keseluruhan penampilannya yang 
lebih datar dan jauh dari kesan meledak-ledak. Hal ini dimungkinkan, salah 
satunya, karena pasangan Anies-Sandi pun tampil dengan nada yang lebih kalem 
dan tidak seagresif dalam debat-debat sebelumnya.

Dibandingkan tiga debat di putaran pertama, atau debat di program Mata Najwa, 
barangkali inilah perdebatan yang paling dingin dan minim manuver. 

Baca juga artikel terkait DEBAT CAGUB DKI 2017 atau tulisan menarik lainnya 
Arman Dhani 
(tirto.id - dan/zen)

Kirim email ke