Bocah yg pingin punya suatu mainan dan kemudian dapat mainan itu tentu pingin cepat2 dimainin, simak disini tentang Donald Trump dan nuclear pd saat jadi kandidat republik. Sekarang saja si Donald sudah mainan "the mother of all bombs" padahal baru hitungan hari berkuasa, Obama selama 8 th juga nggak pakai bomb itu, hal yg menunjukkan tangan si bebek kegatelan.
Prefacing his comments by saying he’d “be very careful here,” Scarborough said: “Several months ago, a foreign policy expert on the international level went to advise Donald Trump, and three times he asked about the use of nuclear weapons. Three times, he asked, at one point, ‘If we have them, we can’t we use them?’… Three times, in an hour briefing, ‘Why can’t we use nuclear weapons?’” https://thinkprogress.org/this-morning-joe-discussion-about-trump-and-nuclear-weapons-is-terrifying-2fc40bc63c3f https://thinkprogress.org/this-morning-joe-discussion-about-trump-and-nuclear-weapons-is-terrifying-2fc40bc63c3f ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Jawabannya: relatif. Sebab, bertambahnya pengetahuan manusia pasti diikuti pertambahan resiko dan konsekuensi. Bukan saja resiko & konsekuensi bagi si manusia itu sendiri tetapi juga bagi sekitarnya. Bocah yang pengetahuannya bertambah dengan pensil / alat tulis umumnya akan mencoreti dinding dan apa pun di dekatnya. Begitu juga orang dewasa yang mengungkapkan pengetahuannya, beresiko ditanggapi orang lain. Dengan konsekuensi, belum tentu orang lain sependapat dengannya dll, dsb, dst. Kesadaran tentang adanya resiko serta keberanian menanggung konsekuensi atas pengetahuan, ucapan, dan tindakannya, itulah yang membentuk kebijakan dan mengembangkan kecerdasan dalam diri seseorang. Punya pengetahuan seluas perpustakaan tetapi tidak bersentuhan dengan resiko & konsekuensi maka dia ya cuma tumbuh sebagai orang yang pintar semata, tidak sebagai makhluk cerdas yang kaya pengalaman. Kepintaran yang melompong dari rasa tanggungjawab, baik terhadap dirinya maupun sekelilingnya. --- roeslan12@... wrote: RELEKSI : Agresi militer imperialisme AS terhadap Syria, dan ancaman perang nucklir Korea Utara dalam menjawab propokasi militer imperialismr AS baru-baru ini adalah merupakan pencerminan dari ketegangan baru, yang muncul sebagai dampak dari adanya benturan-benturan kekuasaan yang dahsyat dalam rangka seleksi alamiah survival of he fittest, yang akan menyerempet-nyerempet bahaya, pemusnahan manusia dari bumi, seperti di gelombang ke III*, yaitu era perang dingin, akan terulang kembali dan lebih daksyat, jika manusia tidak menjadi lebih cerdik dan cerdekia, dalam kemampuannya untuk turut berpartisipasi mengendalikan evolusi kebudayaannya , yang tercermin dalam benturan-benturan kekuasaan dalam gelombang ke IV sekarang ini, yaitu adu kekuatan nucklir-Mutual Assured Destruc (M.A.D), yang baru saja kita lampaui, dalam perang dingin, dengan selamat. Pertanyaannya sekarang; Apakah betul manusia dengan ilmu yang bertambah maju itu, mengalami kemajuan untuk turut dan mampu berpartisipasi mengendalikan emosi kehendaknya yang takterbatas?; Dan apakah betul kebijakan dan kreativitas manusia bertambah, dengan bertmabahnya ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya?, sehingga penyerempetan bahaya yang lebih besar lagi, yang terlalu tinnggi resikionya dapat dihindarkan? *Catatan: Gelombang ke1 adalah perang dunia Pertama, Gelombang ke II adalah perang Dunia ke 2, dan gelombang ke III adalah pearang dingin, dan gelombang ke IV adalah zaman kekuasaan Neolibera yang sudah mengelobal) Roeslan. Von: Chalik Hamid Pada Rabu, 12 April 2017 8:59, j.gedearka menulis: https://dunia.tempo.co/read/news/2017/04/12/118865195/korea-utara-tembakkan-nuklir-jika-agresi- https://dunia.tempo.co/read/news/2017/04/12/118865195/korea-utara-tembakkan-nuklir-jika-agresi-amerika-berlanjut amerika-berlanjut https://dunia.tempo.co/read/news/2017/04/12/118865195/korea-utara-tembakkan-nuklir-jika-agresi-amerika-berlanjut Korea Utara Tembakkan Nuklir Jika Agresi Amerika Berlanjut Rabu, 12 April 2017 | 11:56 WIB Amerika Serikat mengirim kapal induk USS Carl Vinson (CVN 70) ke Semenanjung Korea atas permintaan Laksamana Harry Harris, kepala Komando Pasifik Amerika Serikat. Permintaan ini disebabkan Korea Utara beberapa kali melakukan tes peluncuran rudal balistik, terakhir 5 April 2017. US Navy/Tom Tonthat/via Reuters TEMPO.CO http://tempo.co/, Pyongyang - Korea Utara tidak tinggal diam atas pengiriman armada perang, berikut kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat ke Semenanjung Korea pekan ini. Menurut laporan media Korea Utara, Selasa, 11 April 2017, militernya tidak segan-segan melakukan serangan nuklir jika agresi AS itu berlanjut. "Tentara revolusi kami sangat kuat. Kami menyaksikan dari dekat pergerakan musuh dengan mata nuklir kami. Serangan kami tidak hanya terfokus pada basis AS di Korea Selatan dan Pasifik, melainkan juga daratan AS," bunyi pernyataan Rodong Sinmun, koran resmi Komite Sentral Partai Pekerja Korea. Baca juga: Korea Utara Uji Coba Senjata Nuklir Keenam Kalinya April Ini Pengumuman itu disampaikan saat pembukaan rapat parlemen Korea Utara, Selasa 11 April 2017. Tampak di pertemuan anggota Dewan Rakyat Agung itu pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, yang duduk di kursi tengah. Pertemuan parlemen itu digelar menjelang perayaan besar di Korea Utara, termasuk peringatan 105 tahun hari lahir pemimpin Korea Utara pertama, Kim Il Sung, pada Sabtu, 15 April 2017. Mendiang Kim Il Sung adalah kakek Kim Jong-un dianggap sebagai "Presiden Abadi" di Korea Utara. Baca juga: Eks Diplomat Korea Utara: Kim Jong-un Siap Serang Amerika Serikat Pakai Nuklir Ada kekhawatiran Korea Utara bakal melakukan uji coba nuklir pada saat memperingati ulang tahun Kim Il Sung atau tanggal berdirinya angkatan bersenjata Korea Utara pada 25 April 2017. Tes rudal Korea Utara baru-baru ini menunjukkan kemampuan bahwa misil antarbenua yang dilengkapi kepala nuklir tersebut memiliki kemampuan menjangkau wilayah darat AS. DEUTSCHE WELLE | CHOIRUL AMINUDDIN
