Jumat 23 Juni 2017, 18:30 WIB

Ramadan Spesial di Pusat Negeri Tiongkok

Alvian Bastian - detikNews

Foto: Suasana Ramadan di Beijing Tiongkok (Alvian Bastian)

Beijing - Waktu menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Inilah waktunya bagi 
anak-anak Ibu Pertiwi Indonesia yang sedang menimba ilmu di pusat pemerintahan 
negeri Tiongkok untuk mempersiapkan makanan sahurnya. 

Beberapa dari mereka selepas salat tarawih memilih untuk tidak tidur agar 
supaya tidak terlewat makan sahur. Sebagian dari mereka memasak dan 
menghangatkan makanan untuk sahur yang kami beli di kantin muslim yang berada 
di dalam kampus, dan lainnya membangunkan temannya yang tertidur. 

Bagi kami anak-anak perantauan, Ramadan kali ini begitu spesial. Ramadan di 
negeri dimana kami, kaum Muslimin, menjadi minoritas. Kemudian jauh dari 
keluarga, tidak ada hingar-bingar dan seremonial menyambut Ramadan, tidak 
terdengar muazin yang mengumandangkan azan dan tidak terdengar remaja masjid 
membangunkan kami di waktu sahur. 

Panduan kami berpuasa di sini dari aplikasi handphone atau Jadwal Imsakiyah 
Ramadan yang bisa kita dapatkan di masjid. Berpuasa di Beijing berlangsung 
kurang lebih 16,5 jam, dimulai sahur di pukul 03.00 dinihari, dan berbuka puasa 
sekitar pukul 19.30. 

Ramadan pun berlangsung di musim panas di saat suhu bisa mencapai 37 derajat 
Celsius. Walaupun suhu cukup panas, tetapi Beijing kerap turun hujan. Hal 
itulah yang menjadikan Ramadan kali ini begitu spesial bagi kami.

Di Ramadan kali ini, sebagian dari kami melangsungkan ujian thesis dan 
bertepatan dengan Ujian Akhir Semester (UAS). Penulis sendiri di tahun pertama 
ini harus mengerjakan UAS di bulan Ramadan, bahkan beberapa di antaranya 
berlangsung di malam hari. 

Sehingga selama ujian, penulis mencuri-curi waktu untuk berbuka dengan teh 
hangat yang telah dipersiapkan dari asrama. Ramadan kali ini memang penuh 
perjuangan.

Untuk kegiatan Ramadan Masyarakat Muslim Tiongkok berpusat di masjid. Tiongkok 
merupakan rumah bagi 23 juta penduduk muslim dan ada 23.000 masjid. Kegiatan 
keagamaan seperti mengaji, salat, dan menyiapkan makanan untuk berbuka 
dilakukan di masjid. 

Pagi dan siang harinya mereka tetap bekerja, sore harinya mempersiapkan makanan 
untuk berbuka, dan malam harinya mengerjakan salat tarawih. Penulis sempat 
merasakan berbuka puasa dengan masyarakat Muslim Tiongkok di Masjid Haidan. 


| Foto: Jemaah masjid bergotong royong menyiapkan makanan untuk berbuka di 
masjid Beijing Tiongkok (Alvian Bastian) |



Masjid Haidan sendiri terletak tidak jauh dari asrama kami, hanya dibutuhkan 
waktu 15 menit dengan bersepeda atau sekitar 10 menit dengan naik bus. Pada 
pukul 15.00 sore, mereka mempersiapkan makanan untuk berbuka bagi para jemaah 
masjid. Jemaah tidak hanya dari Muslim Tiongkok tetapi banyak juga dari para 
pendatang seperti Pakistan, Bangladesh, Mesir, Sudan, Algeria, Malaysia, 
Indonesia, dsb. 


| Foto: Suasana Ramadan di Beijing Tiongkok (Alvian Bastian) |



Pada pukul 19.30-an, imam masjid kemudian berdiri setelah memberikan pengarahan 
dalam Bahasa Mandarin, dilanjutkan dengan membaca doa sebelum berbuka. Kamipun 
membaca doa dan berbuka puasa dengan takjil yang disediakan seperti teh hangat, 
kurma, kue kering, dan buah semangka. 

Setelah salat Magrib, panitia masjid telah siap menghidangkan makanan berat 
seperti nasi, sop tomat dan telur, serta kari ayam. Setelah makan, kami 
bahu-membahu membersihkan bekas makanan kami, melipat meja dan mengangkat 
kursi, dan menyapu halaman masjid. 

Sebagian dari kami, tak terkecuali dari para pendatang, menjadi relawan untuk 
mencuci piring, dan peralatan masak lainnya. Setelah halaman masjid telah 
bersih, kami memilih masuk di dalam masjid untuk mengaji dan menunggu salat 
tarawih.

Rangkaian acara salat tarawih dimulai dengan ceramah agama dalam Bahasa 
Mandarin oleh imam masjid sebelum salat Isya. Salat Isya sendiri dimulai 
sekitar pukul 21.20 dan langsung dilanjutkan salat tarawih 20 rakaat. Setelah 
salat tarawih, kamipun kembali ke asrama.


| Foto: Suasana Ramadan di Beijing Tiongkok (Alvian Bastian) |



Bagi yang rindu suasana Ramadan di Tanah Air dan rindu akan masakan Indonesia, 
KBRI Beijing menyuguhkan suguhan buka puasa setiap hari. Di sini kami 
disuguhkan takjil khas Tanah Air setelah berbuka, dan setelah salat Magrib kami 
disuguhkan makanan khas Tanah Air. 

Berbuka puasa di KBRI Beijing menjadi sarana mempererat silaturahmi antar WNI. 
Di sini kami bisa berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia dari berbagai kampus, 
staf KBRI, dan masyarakat Indonesia yang bekerja di Beijing. 


| Foto: Suasana Ramadan di Beijing Tiongkok (Alvian Bastian) |



Setelah berbuka puasa dilanjutkan ceramah agama dan salat tarawih oleh ustaz 
yang didatangkan khusus dari Indonesia. Selain buka puasa dan salat tarawih, 
sebelum berbuka puasa diadakan tilawatil Quran secara bersama-sama sehingga 
bacaan kita yang salah dapat dibenarkan oleh ustaz yang kali ini didatangkan 
dari Corps Dai Dompet Dhuafa. 

Kamipun bisa bertanya seputar masalah agama kepada ustaz tersebut. Setelah 
tarawih, sebagian masyarakat Indonesia di Beijing bisa langsung membayarkan 
zakatnya. KBRI Beijing juga berencana melaksanakan salat Idul Fitri.


| Foto: Suasana Ramadan di Beijing Tiongkok (Alvian Bastian) |



Mungkin ini cerita Ramadan kami di Pusat Pemerintahan Negeri Tiongkok. Semoga 
setiap amalan kita di Bulan Ramadan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

*) Alvian Bastian adalah Master Student at Information and Communication 
Engineering in Beijing Institute of Technology; Panitia Ramadan 1438 H KBRI 
Beijing 
(nwk/nwk)

Kirim email ke