https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-kopassus-bongkar-kiriman-senjata-dari-cia-di-sumatera.html?utm_source=Notification&utm_medium=Mdk-notif&utm_campaign=Mdk-Notification



Kisah Kopassus bongkar kiriman senjata dari CIA di Sumatera

Jumat, 27 Oktober 2017 06:45 Reporter : Ramadhian Fadillah
<https://www.merdeka.com/reporter/ramadhian-fadillah/>



*Merdeka.com - *Central Intelligence Agency (CIA) kerap mencampuri
kebijakan negara lain. Tercatat berkali-kali misi rahasia CIA di Indonesia
terbongkar.

Lembaga intelijen AS ini bahkan terungkap pernah menyuplai senjata canggih
dan uang pada para pemberontak yang ingin melawan pemerintah pusat. Aksi
itu berhasil digagalkan oleh pasukan TNI.

Tahun 1958 Sumatera telah bergolak. Sebagian daerah yang tak puas pada
pemerintah *Jakarta* <http://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/> mendirikan
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Para pemimpin CIA
menunggangi gerakan itu.

Senjata yang disuplai CIA cukup untuk mempersenjatai beberapa batalyon
sekaligus. Tak cuma itu mereka juga mengirimkan uang dan truk untuk tentara
PRRI.

Satu Kompi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) jadi ujung tombak
TNI untuk merebut Pekanbaru dari tangan pemberontak. Tanggal 12 Maret 1968,
pasukan baret merah yang kini bernama Kopassus ini diberangkatkan dari
Pangkal Pinang dengan pesawat Dakota untuk terjun di daerah landasan udara
Simpang Tiga.

Tugas mereka merebut landasan itu agar pesawat TNI AU bisa segera mendarat
membawa perbekalan dan pasukan tambahan. Letnan Dua Benny Moerdani memimpin
kompi itu bersama dua perwira RPKAD lainnya.

Informasi intelijen menyebutkan Simpang Tiga dan Pekanbaru dijaga 800
tentara PRRI. Tentunya risiko penerjunan besar sekali, mendarat tepat di
jantung musuh.

Para pemberontak tak mengira pasukan dari Jakarta telah mendarat. Begitu
melihat RPKAD terjun dari angkasa, mereka ambil langkah seribu. Sama sekali
tak berani melakukan perlawanan. Pasukan PRRI begitu saja meninggalkan
peralatan perang dan bantuan dari Amerika Serikat yang baru dikumpulkan di
landasan.

Saat itulah Letnan II Dading Kalbuadi, rekan Lettu Benny Moerdani,
menendang sebuah peti kayu. Perwira muda RPKAD itu terkejut setengah mati
melihat isinya.

"Wah duit, Ben! Uang, gimana ini?" kata Dading.

"Sudahlah jangan kau hiraukan. Tinggalkan saja, nanti kamu mati," kata
Benny. Kisah ini ditulis dalam buku biografi Benny Moerdani Tragedi Seorang
Loyalis yang ditulis Julius Pour.

Selain uang, pasukan baret merah itu dikejutkan dengan persenjataan para
pemberontak yang ditinggalkan. Jumlahnya melimpah. Semuanya senjata modern,
bahkan ada bazooka. TNI sama sekali belum memiliki senjata-senjata
secanggih itu.

Walau menerima bantuan senjata dari asing, rupanya PRRI tak punya semangat
juang yang tinggi. Setelah Pekanbaru, berikutnya TNI bisa merebut Padang,
Jambi, Medan, Jambi dan daerah-daerah yang dikuasai pemberontak.

*Kekalahan CIA di Sumatera*

Setelah Sumatera direbut TNI, para perwira CIA melarikan diri tunggang
langgang secara memalukan. Kisah itu ditulis Tim Weiner dalam buku
Membongkar Kegagalan CIA yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama tahun
2008.

"Kelima perwira CIA yang berada di pulau tersebut lari menyelamatkan diri.
Mereka berkendaraan sebuah jip sampai kehabisan bahan bakar, kemudian
berjalan kaki melalui hutan lebat menuju pantai," tulis Tim Weiner.

Mereka pun terpaksa mencuri makanan di warung-warung di desa terpencil
untuk mempertahankan hidup. Ketika sampai di pantai, mereka merebut sebuah
perahu nelayan dan mengontak Stasiun CIA di Singapura.

"Sebuah kapal selam Angkatan Laut AS USS Tang kemudian datang menyelamatkan
mereka."

Dengan lesu Bos CIA Allen Dules melapor pada Presiden Eisenhower kalau misi
mereka gagal.

"Tampaknya tidak ada kemauan berperang di pihak pasukan pembangkang itu.
Para pemimpin pemberontakan tidak mampu memberikan ide dan penjelasan
kepada tentara mereka mengapa harus berperang. Ini memang perang yang
sangat aneh," kata Dules.

Tak cuma itu, kepala operasi CIA di Indonesia Frank Wisner juga stres berat
usai kegagalannya di Indonesia. Sejumlah laporan menyebut Wisner kehilangan
kewarasannya dan kepalanya harus diterapi listrik.

"Aliran listrik itu bahkan cukup untuk menyalakan bohlam 100 watt," tulis
Weiner. *[ian]*

Kirim email ke