----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Senin, 30 Oktober 2017 02.39.56 GMT+1Judul: 
[nasional-list] Fw: [GELORA45] Kisah Kopassus bongkar kiriman senjata dari CIA 
di Sumatera
     

  From: Yoseph T Taher [email protected] [GELORA45] Sent: Monday, October 
30, 2017 9:15 AM   

Senjata PRRI 1. Sebelum dokumen Amerika disiarkan, Jenderal A.H. Nasution sudah 
menceritakan kiriman senjata CIA/Amerika ini yang didrop dihutan belantara 
Sumatera malam hari. Pengakuan Nasution ini direkam dalam film dokumenter 
Shadow Play dan/atau Riding The Tiger buatan ABC-TV Australia......silahkan 
cari film lama itu untuk membuktikannya. 

2. Sebelum RPKAD (waktu itu belum disebut Kopassus), anggota Perbum/Sobsi yang 
bekerja di pelabuhan minyak Caltex-Rumbai-Pekanbaru, membongkar muatan dari 
sebuah kapal yang datang dari Singapore dan dari peti yang sedikit pecah dapat 
dilihat bahwa isinya adalah senjata. Si buruh mengikat peti-peti itu dengan 
tali crane tidak sungguh-sungguh sehingga waktu diangkat oleh crane ke dermaga, 
ikatan kabel lepas dan peti-peti jatuh, Peti pecah dan senjata bertaburan dan 
semua orang tahu.... ....! Sayang, siapa si buruh ini tidak bisa ditemukan 
karena beberapa bulan setelah PRRI berkuasa, banyak kaum kiri di Riau dan 
Sumbar ditangkapi, diangkut  dan ditahan dikota dan tempat-tempat di Sumatra 
Barat. Ketika PRRI terjepit disebabkan serbuan RPKAD dan Bantreng Raiders 
(*dikenal dengan sebutan Tentara Pusat), PRRI membunuh dan membakar para 
tahanannya, seperti yang terjadi di daerah Simun, Atar, Situjuh, Gunung Sago 
dan tempat-tempat lainnya..........! Mereka semua  mati namun kisah senjata 
untuk dewan banteng/prri berontak itu tidak ikut mati sudah menjadi cerita 
umum.....................!!! 
 

 
------ Original Message ------
From: "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]" [email protected]
                               
https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-kopassus-bongkar-kiriman-senjata-dari-cia-di-sumatera.html?utm_source=Notification&utm_medium=Mdk-notif&utm_campaign=Mdk-Notification
 
 
 
 
 
Kisah Kopassus bongkar kiriman senjata dari CIA di Sumatera
 
Jumat, 27 Oktober 2017 06:45 Reporter : Ramadhian Fadillah< /a>  
      
    
   -    
 
 
Merdeka.com - Central Intelligence Agency (CIA) kerap mencampuri kebijakan 
negara lain. Tercatat berkali-kali misi rahasia CIA di Indonesia terbongkar.

Lembaga intelijen AS ini bahkan terungkap pernah menyuplai senjata canggih dan 
uang pada para pemberontak yang ingin melawan pemerintah pusat. Aksi itu 
berhasil digagalkan oleh pasukan TNI.

Tahun 1958 Sumatera telah bergolak. Sebagian daerah yang tak puas pada 
pemerintah Jakarta mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia 
(PRRI). Para pemimpin CIA menunggangi gerakan itu.

Senjata yang disuplai CIA cukup untuk mempersenjatai beberapa batalyon 
sekaligus. Tak cuma itu mereka juga mengirimkan uang dan truk untuk tentara 
PRRI. 

Satu Kompi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) jadi ujung tombak TNI 
untuk merebut Pekanbaru dari tangan pemberontak. Tanggal 12 Maret 1968, pasukan 
baret merah yang kini bernama Kopassus ini diberangkatkan dari Pangkal Pinang 
dengan pesawat Dakota untuk terjun di daerah landasan udara Simpang Tiga. 

Tugas mereka merebut landasan itu agar pesawat TNI AU bisa segera mendarat 
membawa perbekalan dan pasukan tambahan. Letnan Dua Benny Moerdani memimpin 
kompi itu bersama dua perwira RPKAD lainnya.

Informasi intelijen menyebutkan Simpang Tiga dan Pekanbaru dijaga 800 tentara 
PRRI. Tentunya risiko penerjunan besar sekali, mendarat tepat di jantung musuh.

Para pemberontak tak mengira pasukan dari Jakarta telah mendarat. Begitu 
melihat RPKAD terjun dari angkasa, mereka ambil langkah seribu. Sama sekali tak 
berani melakukan perlawanan. Pasukan PRRI begitu saja meninggalkan peralatan 
perang dan bantuan dari Amerika Serikat yang baru dikumpulkan di landasan.

Saat itulah Letnan II Dading Kalbuadi, rekan Lettu Benny Moerdani, menendang 
sebuah peti kayu. Perwir a muda RPKAD itu terkejut setengah mati melihat isinya.

"Wah duit, Ben! Uang, gimana ini?" kata Dading. 

"Sudahlah jangan kau hiraukan. Tinggalkan saja, nanti kamu mati," kata Benny. 
Kisah ini ditulis dalam buku biografi Benny Moerdani Tragedi Seorang Loyalis 
yang ditulis Julius Pour.

Selain uang, pasukan baret merah itu dikejutkan dengan persenjataan para 
pemberontak yang ditinggalkan. Jumlahnya melimpah. Semuanya senjata modern, 
bahkan ada bazooka. TNI sama sekali belum memiliki senjata-senjata secanggih 
itu.

Walau menerima bantuan senjata dari asing, rupanya PRRI tak punya semangat 
juang yang tinggi. Setelah Pekanbaru, berikutnya TNI bisa merebut Padang, 
Jambi, Medan, Jambi dan daerah-daerah yang dikuasai pemberontak.
 
Kekalahan CIA di Sumatera

Setelah Sumatera direbut TNI, para perwira CIA melarikan diri tunggang langgang 
secara memalukan. Kisah itu ditulis Tim Weiner dalam buku Membongkar Kegagalan 
CIA yang diterbitkan P T Gramedia Pustaka Utama tahun 2008.

"Kelima perwira CIA yang berada di pulau tersebut lari menyelamatkan diri. 
Mereka berkendaraan sebuah jip sampai kehabisan bahan bakar, kemudian berjalan 
kaki melalui hutan lebat menuju pantai," tulis Tim Weiner.

Mereka pun terpaksa mencuri makanan di warung-warung di desa terpencil untuk 
mempertahankan hidup. Ketika sampai di pantai, mereka merebut sebuah perahu 
nelayan dan mengontak Stasiun CIA di Singapura.

"Sebuah kapal selam Angkatan Laut AS USS Tang kemudian datang menyelamatkan 
mereka."

Dengan lesu Bos CIA Allen Dules melapor pada Presiden Eisenhower kalau misi 
mereka gagal.

"Tampaknya tidak ada kemauan berperang di pihak pasukan pembangkang itu. Para 
pemimpin pemberontakan tidak mampu memberikan ide dan penjelasan kepada tentara 
mereka mengapa harus berperang. Ini memang perang yang sangat aneh," kata Dules.

Tak cuma itu, kepala operasi CIA di Indonesia Frank Wisner juga stres berat 
usai kegagalan nya di Indonesia. Sejumlah laporan menyebut Wisner kehilangan 
kewarasannya dan kepalanya harus diterapi listrik.

"Aliran listrik itu bahkan cukup untuk menyalakan bohlam 100 watt," tulis 
Weiner. [ian]
                                        
    

Kirim email ke