https://nasional.tempo.co/read/1034890/tak-ada-amien-saat-milad-bicara-muhammadiyah-sebagai-pemersatu
Tak ada Amien Saat Milad Bicara Muhammadiyah Sebagai Pemersatu
Reporter:
Pribadi Wicaksono (Kontributor)
Editor:
Widiarsi Agustina
Sabtu, 18 November 2017 10:48 WIB
0 komentar
<https://nasional.tempo.co/read/1034890/tak-ada-amien-saat-milad-bicara-muhammadiyah-sebagai-pemersatu#comments>
649633
# Font:
# Ukuran Font: -
<https://nasional.tempo.co/read/1034890/tak-ada-amien-saat-milad-bicara-muhammadiyah-sebagai-pemersatu#font-decrease>
+
<https://nasional.tempo.co/read/1034890/tak-ada-amien-saat-milad-bicara-muhammadiyah-sebagai-pemersatu#font-increase>
#
#
Kini Anda dapat mengganti jenis dan ukuran font sesuai preferensi Anda.
Saya mengerti
<https://nasional.tempo.co/read/1034890/tak-ada-amien-saat-milad-bicara-muhammadiyah-sebagai-pemersatu#>
Tak ada Amien Saat Milad Bicara Muhammadiyah Sebagai Pemersatu
<https://nasional.tempo.co/read/1034890/tak-ada-amien-saat-milad-bicara-muhammadiyah-sebagai-pemersatu>
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Muhammadiyah Haedar
Nashir di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, 8 November 2016. TEMPO/Subekti
*TEMPO.CO*, *YOGYAKARTA* --- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
<https://www.tempo.co/tag/muhammadiyah>Haedar Nashir bicara penting di
perayaan Milad 105 Muhammadiyah di Keraton, Jumat 17 November 2017.
Sayangnya, pidato Haedar Nashir soal bagaimana warga Muhammadiyah
menjadi kekuatan pemersatu yang mengayomi, memoderasi, dan menguatkan
kebersamaan seluruh warga bangsa tak dihadiri sejumlah tokoh penting,
termasuk mantan Ketua Umum Amien Rais.
Dalam pidatonya, Haedar Nasir mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo
ketika membuka Milad Muhammadyah ke 105 yang digelar di Pagelaran
Keraton Yogyakarta, Jumat petang 17 November 2017. "'Mayoritas
melindungi minoritas, dan minoritas menghargai mayoritas' begitu ujar
presiden Joko Widodo," ujar Haedar dihadapan ribuan peserta milad.
BACA:Milad Muhammadiyah Kali Ini di Keraton, Penuh Aneka Tradisi
<https://nasional.tempo.co/read/1034880/milad-muhammadiyah-kali-ini-di-keraton-penuh-aneka-tradisi>
Haedar juga mengingatkan, umat Islam khususnya warga Muhammadyah wajib
menjadi kekuatan pemersatu yang mengayomi, memodernisasi, dan menguatkan
kebersamaan di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. "Ketika ada retak
sesama anak bangsa harus menjadi golongan yang mendamaikan dan memberi
solusi," kata Haedar di Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,
Jumat malam.
Amien Rais (kanan) bersama Ahmad Watik Pratiknya saat menghadiri
Muktamar Muhammdiyah ke-42 di Yogyakarta, 1990. Dok. TEMPO/Hari
WahyudiMenurut Haedar, warga dan keluarga besar Muhammadiyah perlu terus
belajar pada jiwa kenegarawanan para tokoh Muhammadiyah sejak Kiyai
Ahmad Dahlan hingga generasi sesudahnya dalam memupuk kebersamaan dan
cinta bangsa.
"Jangan sampai kita bicara indah tentang ukhuwah kebangsaan, tetapi
hasrat 'ananiyah-hizbiyah' jauh lebih besar ketimbang pengorbanan untuk
hajat hidup bangsa secara keseluruhan karena yang dipikirkan hanya
kepentingan golongan sendiri," kata dia.
*Baca: Milad Ke-108 Hijriah, Muhammadiyah Ajak Jaga Persatuan
<https://nasional.tempo.co/read/1032782/milad-ke-108-hijriah-muhammadiyah-ajak-jaga-persatuan>*
Ia menceritakan, saat Ki Bagus Hadikusumo (tokoh Muhammadiyah) bersama
tokoh Islam lainnya menyampaikan gagasan keislaman dan kebangsaan dalam
sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Ketua
Pengurus Besar Muhammadiyah itu dengan tegas menyatakan bahwa dirinya
adalah seorang bangsa Indonesia tulen dan sebagai Muslim yang mempunyai
cita-cita Indonesia Raya dan Merdeka.
Sedangkan Bung Karno, juga bersikap sama di mana pada pidato 1 Juni 1945
tentang Pancasila menyebutkan bahwa di dalam dadanya yang nasionalis
tersimpan jiwa Islam.
"Dengan spirit kebangsaan yang menyatu dengan keislaman yang mendalam
sebagaimana dicontohkan dua tokoh bangsa itulah Muhammadiyah berkomitmen
kuat tetap dan terus berkiprah merekat kebersamaan melalui berbagai
kerya nyata berkeunggulan bukan dengan retorika dan keindahan
kata-kata," kata dia.
Marpuji Ali, Panitia Milad Muhammadiyah mengaku mengundang seluruh tokoh
dalam acara kali ini. Selain Amien Rais, juga Buya Ahmad Syaffi Maarif.
Panitia bahkan juga meminta khusus Amien Rais, yang mengkonfirmasi
kehadiran adalah Din Syamsuddin. "Saya yakin sedang berhalangan atau
sibuk dengan urusan lain sehingga tidak hadir," kata Marpuji Ali. "Yang
pasti kami memang sudah undang semuanya (mantan Ketua Umum PP Muhammadyah),"
BACA: Pilgub Jabar, Amien Rais Ajak Muhammadiyah dan Aisyah ke Deddy M
<https://nasional.tempo.co/read/891299/pilgub-jabar-amien-rais-ajak-muhammadiyah-dan-aisyah-ke-deddy-m>
Sedangkan untuk tokoh lain seperti Presiden Joko Widodo dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla memang sengaja tak diundang menghadiri milad.
"Milad ini kan hanya semacam acara ulang tahun, kami memang tak
mengundang (Presiden dan wakil Presiden)," ujar Marpuji. Berbeda halnya
jika acara itu berupa tanwir. Presiden Jokowi sendiri pada Februari 2017
silam hadir dan resmi membuka sidang Tanwir Muhammadiyah di Kota Ambon.
Dalam acara itu para pengurus dan pimpinan Muhammdyah
<https://www.tempo.co/tag/muhammadiyah>berbagai daerah diwajibkan
menggunakan busana khas daerah masing masing. Misalnya para pimpinan
pusat dan daerah kompak menggunakan baju peranakan khas abdi dalem
Keraton Yogya lengkap dengan blangkon dan surjan.
PRIBADI WICAKSONO
------------------------------------------------------------------------
# Muhammadiyah <https://www.tempo.co/tag/muhammadiyah>