Judulnya salah kaprah, seharusnya Trump recognizes Jerusalem as Israel's 
capital.
Apakah akan perang lagi?

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

Presiden Trump sudah umumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel
Lho, lho, apa Trump juga jadi presiden Israel ?
2017-12-07 0:39 GMT+01:00 jonathangoeij@... [GELORA45] 
<[email protected]>:











Presiden Trump sudah umumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel
   
   - 5 jam lalu
   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim


Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionDalam pernyataan pers di Gedung Putih, 
Presiden Trump juga mengatakan Israel memiliki hak untuk menentukan ibu kotanya.
Presiden Donald Trump sudah mengumumkan pemindahan kedutaan besar Amerika 
Serikat ke Yerusalem dan mengakuinya sebagai ibu kota Israel, walau sejak awal 
ditentang oleh sejumlah pihak.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Presiden Trump mengatakan 'sudah 
saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel'..

"Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah modern Israel, rumah bagi 
parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung," tuturnya.
   
   - Kasus Yerusalem: Palestina tetap bekukan hubungan dengan Israel
   - Memahami peta konflik Israel-Palestina

Dia juga menambahkan Israel memiliki hak untuk menentukan ibu kotanya dan 
penundaan penetapan Yerusalem sebagai ibu kota Israel selama ini tidak membawa 
apapun dalam mencapai perdamaian.

Menurut Trump, Amerika Serikat tetap berkomitmen pada solusi dua negara dalam 
penyelesaian konflik Israel-Palestina.
Hak atas fotoREUTERSImage captionAmerika Serikat merupakan sekutu erat Israel.
Pemerintah Indonesia sebelum pengumuman di Gedung Putih ini sudah mengingatkan 
bahwa keputusan pemindahan kedutaan besar itu akan memperburuk konflik 
Palestina-Israel.

"Jelas posisi Pemerintah Indonesia sependapat mendukung Palestina agar Amerika 
Serikat tak memindahkan kantor kedutaannya (dari Tel Aviv) ke Jerusalem," kata 
Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantornya, Rabu (06/12).
Hak atas fotoREUTERSImage captionRabbi Yahudi di Indonesia, Benjamin Meijer 
Verbrugge, menilai sudah tepat bagi Donald Trump untuk mengakui Jerusalem 
sebagai ibu kota Israel.
Trump berencana mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dalam 
pidatonya. Ia diperkirakan akan memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk 
bersiap memindahkan kedutaan ke Yerusalem.

Menurut Kalla, rencana Trump itu akan memperumit konstelasi konflik di Timur 
Tengah. "Karena sumber banyak keruwetan itu konflik Palestina-Israel. Akan 
lebih memperburuk," kata Kalla.
   
   - Trump jadi presiden AS, Israel siap bangun permukiman di Yerusalem Timur
   - Ketika PM Israel 'marah besar' dan panggil dubes Amerika Serikat

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan hal yang sama. 
"Rencana tersebut akan mengancam proses perdamaian Israel-Palestina," kata 
Retno.
Image captionMasjid al-Aqsa di Yerusalem.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menilai 
sikap Trump mempertegas posisi Amerika dalam konflik Israel dan Palestina.

"Ini menjelaskan kepada dunia bahwa Amerika tidak dalam posisi bisa 
menyelesaikan konflik Israel Palestina karena dia adalah bagian dari konflik 
itu sendiri," kata Dahnil.

Menurut Dahnil, umat Islam dapat mengambil pelajaran berharga dari sikap 
Amerika tersebut. "Mereka justru produsen dari konflik, sikap Trump mempertegas 
itu," ujarnya.

Dahnil mendorong pemerintah Indonesia untuk terus menyuarakan penolakan 
terhadap rencana Trump tersebut. Apalagi terkait posisi Indonesia dalam 
organisasi negara-negara Islam OKI.

"Tindakan Amerika itu mencederai prinsip perdamaian dunia ... Indonesia harus 
bersikap tegas di forum-forum internasional, dan menggalang dukungan dari 
negara-negara lain," kata Dahnil.

Yerusalem adalah kota suci bagi tiga agama besar: Kristiani, Islam, dan Yahudi. 
Di kota ini terdapat situs-situs suci bagi ketiga agama tersebut. Antara lain 
Tembok Ratapan (Yahudi), Gereja Makam Kudus (Kristen), dan Masjid al-Aqsa 
(Islam).

Yahudi setuju Yerusalem jadi ibu kota Israel

Rencana Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan 
kedutaan AS ke sana dianggap tepat oleh rabbi Yahudi di Indonesia, Benjamin 
Meijer Verbrugge.

"Karena pusat pemerintahan Kerajaan Daud di situ (Yerusalem). Bukti kerajaannya 
masih ada. Memang sudah garisnya begitu. Tidak ada urusan mau ada Amerika atau 
tidak ada," kata Rabbi Ben, panggilannya.
Hak atas fotoHEIDI LEVINE/AFP/GETTY IMAGESImage captionPresiden Donald Trump 
ketika mengunjungi Yerusalem, 22 Mei 2017
Menurut Rabbi Ben, ada bukti sejarah keberadaan Kerajaan Daud, berupa 
reruntuhan dan kuburan Raja Daud di Yerusalem. "Jadi wajar dari sisi kitab 
suci, jelas bahwa tanah perjanjian itu adalah milik bani Israel," kata dia.

Ide untuk memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, tambah Rabbi 
Ben, sejatinya sudah sejak lama. Cuma selama ini belum sempat terealisasi.

"Mungkin ada maksud administratif yang lebih memudahkan. Tidak tahu apa 
kepentingan Israel dan Amerika memindahkannya. Mereka tahu yang lebih baik," 
ujar Rabbi Ben.
   
   - Mengapa Yerusalem menjadi kota suci?
   - Istilah-istilah yang tepat untuk memberitakan konflik Israel-Palestina
   - Rencana Trump pindahkan kedutaan AS ke Jerusalem 'provokatif'

Sementara itu Monique Rijkers dari Hadassah of Indonesia, organisasi yang 
bergerak di bidang edukasi isu-isu Yahudi dan Israel, mengatakan sejatinya 
Yerusalem sebagai ibu kota Israel sudah sesuai dengan sejarah. "Dulu ibu kota 
kerajaan sekarang (seharusnya) jadi ibu kota negara," katanya.
Hak atas fotoREUTERSImage captionWarga Palestina melalui pos pemeriksaan.
Menurut Monique, apa yang dilakukan Trump soal pemindahan kedutaannya hanyalah 
pengakuan administratif.

"Selama ini kami mengenal Yerusalem ibu kota Israel. Cuma negara-negara lain 
menempatkan pemerintahannya di Tel Aviv," kata Monique.

Meski Yerusalem menjadi ibu kota Israel, kata Rabbi Ben, itu tidak akan 
mengubah wajah Israel yang demokratik. "Semua agama berdoa di situ. Parade gay 
di Yerusalem juga tidak ada masalah," ujar Rabbi Ben.

Menurut Rabbi Ben, tidak ada yang dilukai dengan dijadikannya Yerusalem sebagai 
ibu kota Israel.

"Kehidupan berjalan biasa. Setiap hari orang Palestina bebas beraktivitas meski 
harus melewati beberapa check point (pos pemeriksaan)," pungkasnya.

Suara KWI
Hak atas fotoGALI TIBBON/AFP/GETTY IMAGESImage captionUmat Katolik merayakan 
Minggu Palma di Gereja Makam Kudus, Yerusalem.
Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo 
mengatakan pemindahan ibu kota merupakan hal politik. Tidak menyangkut dengan 
keimanan.

"Bagi umat apa pun, Yerusalem tetap akan jadi kota suci karena sebagai lambang. 
Iman Katolik tidak akan berubah siapa pun yang menguasai Yerusalem," kata 
Suharyo.

Umat Katolik, lanjut Suharyo, akan tetap menjalankan ibadah maupun ziarah ke 
Yerusalem karena kepercayaannya. Terutama banyak kisah-kisah dalam kitab suci 
yang terjadi di sana.

"Dalam iman Katolik, Yerusalem adalah lambang damai sejahtera yang bukan 
sekedar (kepentingan) politik, tapi damai sejahtera sejati yang utuh," kata 
Suharyo.








Kirim email ke