Iya sekarang bung bilang yang dipertentangkan adalah tax law didalam parlemen 
jerman.

Tapi kan bukan tax law yang bung persoalkan kan dalam diskusi dengan Lin?

 

Dalam mengerti tulisan bung berdiskusi dengan Lin itu, saya menangkap bung 
membawa contoh “perusahaan menghindari pajak” itu sebagai masalah ideologi. 
Dengan kata lain bung ingin menghubungkan perusahaan yang menghindari pajak itu 
dengan kapitalisme. Apakah bukan begini? Apakah saya salah?

 

Saya dari dulu menyangka bung adalah orang kiri yang selalu menyerang 
kapitalisme. Makanya sekarang bung memakai perusahaan menghidari pajak untuk 
menyerang kapitalisme. Kalau saya salah, apakah bung sekarang sudah sadar bahwa 
suatu perusahaan itu adalah independent dan selalu ada baik dikapitalisme 
maupun sosialisme?

 

Ini sebagian yang bung tulis:

kerasnya pertentangan antara pengusaha kaum menengah ke bawah dengan klas 
pengusaha besar yang berkomplot dan ikut mengendalikan roda pemerintahan Jerman 
dalam menghisap mulai pengusaha menengah sampai lapisan paling bawah.

 

Jadi tahulah kita bagaimana proses untuk menentukan harga dalam proses 
pembuatan ditambah juga dalam bentuk-bentuk penghisapan setelah menjadi 
komoditi sesuai doktrin ekonomi neo-liberalisme.

 

Oh kalau masalah diskusi dengan sigoblok jonathan itu mah gak perlu konsentasi 
sama sekali. Saya langsung ketik hanya perlu 1- 2 menit saja koq krn yang 
terakhir itu yg dipersoalkan hanyalah MD bukan Phd. Dia goblok krn gak ngerti 
bedanya MD dan Phd. Dia bilang MD itu doctorate/S3 di Indonesia/Phd di USA. Dia 
bingung karena dia pikir MD itu singkatan dari medical doctorate.. Jadi dia 
simpulkan MD itu doctorate. Istilah yang dipakai sigoblok adalah clinical 
doctorate. Lebih bingung dengan doctor2/Phd2 lain seperti: DBA, JD dll. Dia 
pikir MD itu seperti DBA, JD dll ini.

MD itu dokter bukan doctor. Dokter itu bukan jenjang doctorate. Wong jadi 
dokter itu gak perlu nulis disertasi dimana seorang doctor/Phd harus. Walaupun 
ada bbrp sekolah dan jurusan yg tidak perlu menulis disertasi seperti gelar 
DBA/doctor of business administration itu ada yang gak perlu menulis disertasi 
tetapi jarang sekali. Begitu juga medical school yang dikasih contoh sama 
sigoblok itu walaupun benar tetapi tidak banyak atau mungkin hanya satu2nya di 
Yale krn itu adalah tradition nya yale. Tidak lazim MD itu harus nulis 
disertasi. Dia masih tidak tahu MD itu bukan jenjang S3!!!

 

Nesare

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, January 10, 2018 1:14 PM
To: [email protected] [GELORA45] <[email protected]>
Cc: [email protected]; [email protected]; Lin> 
[email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in China

 

  

Sudah jelas yang ditentang dan diperdebatkan suatu undang-undang di
dalam arena parlemen, artinya tidak ilegal spt yang bung pertanyakan itu
dan juga tidak sekedar di halaman koran-koran jalanan, dimana sifat
undang-undang itu hanya menguntungkan perusahaan besar multinasional
dan merugikan perusahaan menengah maupun pembayar pajak lainnya. Apalagi
lapisan kaum pekerja. Yang salah kaprah itu tafsiran bung. Sebab yang
berdebat dalam parlemen itu antara dua pihak pemerintah dan oposisi.
Jadi yang disalahkan yalah yang membuat undang-undang itu. Bukan yang
dpt pahala.

Yah sudahlah diakhiri sekian saja. Bung kan perlu waktu konsentrasi
untuk perdebatan abadi dng para netizer lain.

Am Wed, 10 Jan 2018 09:37:07 -0500
schrieb "[email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >:

> Saya sangat mengerti pesan yang bung ingin sampaikan.
> 
> Silahkan bung mau mengatakan itu bukan masalah legalitas.
> 
> Tetapi bung tidak bisa mengatakan perusahaan yang bermain dalam tax
> code yang dalam undang2 pajak dijerman atau dinegara manapun adalah
> salah.
> 
> 
> 
> Silahkan bung mau mempersoalkan perbedaan kelas dan bentuk
> pemerasannya. Saya setuju ini.
> 
> Tetapi ketika bung hanya mempertentangkan antara kelas menengah vs
> pengusaha (bung menulis: kerasnya pertentangan antara pengusaha kaum
> menengah ke bawah dengan klas pengusaha besar yang berkomplot dan
> ikut mengendalikan roda pemerintahan Jerman), bung melarikan diri
> dari pertentangan kelas dari ideologi kiri. Ini saya sayangkan.
> Kenapa? Karena dalam tulisan2 bung sebelumnya bung mencerminkan orang
> yang sangat kiri. Coba konsisten disini. Saya tidak masalah dengan
> bung atau tatyana atau siapa saja yang memang kiri. Hanya saja kita
> kan tetap bisa berdiskusi tanpa mengurangi/mengaburkan ideologi kita.
> 
> 
> 
> Saya mengomentari tulisan bung krn saya menganggap bung salah kaprah
> menganggap perusahaan yang bermain dalam koridor tax law dijerman
> karena perusahaan2 ini jelas tidak salah dalam bayar pajak. Yang
> salah kan hukumnya. Yang harus disalahkan adalah
> hukumnya/parlemennya/otoritasnya, bukan perusahaan. Ini penekanan
> saya. Mau ideologi apapun baik komunisme, sosialisme dan kapitalisme
> atau apapun perusahaan2 ini selalu berjalan, bermain dan bayar pajak
> sesuai dengan tax law.
> 
> 
> 
> Oh ya saya tidak berkepentingan dengan pemerintah jerman terutama tax
> authority nya. Saya punya kepentingan dalam diskusi dimilis ini.
> 
> 
> 
> Nesare
> 
> 
> 
> 
> 
> From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
> [mailto:[email protected]] 
> Sent: Wednesday, January 10, 2018 9:19 AM
> To: [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Hsin Hui
> Lin> [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; >
> Lin> [email protected] <mailto:[email protected]> ; 
> [email protected] <mailto:[email protected]> ; >
> Lin> [email protected] <mailto:[email protected]>  
> Cc: Daeng
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Rachmat 
> Hadi-Soetjipto
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Harry 
> Singgih
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Farida Ishaja
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Gol 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >;
> Lin> [email protected] <mailto:[email protected]> ; Mitri 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Lingkar
> Lin> Sitompul <[email protected] <mailto:[email protected]> 
> >; Ronggo A.
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Gunadi 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Oman
> Lin> Romana <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Harsono 
> Sutedjo
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; [email protected] 
> <mailto:[email protected]> ; N. Nugroho
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Roeslan 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >;
> Lin> Lusi.D <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Jonathan Goeij
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Sahala 
> Silalahi
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Sie Tik Tan 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >;
> Lin> j.gedearka <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Tjoa 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >;
> Lin> A Awind> <[email protected] <mailto:[email protected]> >; Jonathan 
> Goeij
> Lin> <[email protected] <mailto:[email protected]> >
> Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in China
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Bung Nesare, saya menulis itu untuk bung Lin dan secara aktual
> menggambarkan bagaimana kerasnya pertentangan antara pengusaha kaum
> menengah ke bawah dengan klas pengusaha besar yang berkomplot dan
> ikut mengendalikan roda pemerintahan Jerman dalam menghisap mulai
> pengusaha menengah sampai lapisan paling bawah. Suatu gambaran yang
> tidak akan dipresentasikan oleh koran-koran yang juga dimiliki oleh
> lapisan kaum penguasa kapital besar itu.
> Data yang saya kemukakan itu saya ambil dari perdebatan di dalam
> parlemen Jerman (Reichstag) mengenai tidak adilnya suatu undang-undang
> yang melindungi akal busuk pengusaha besar multi nasional dalam
> melakukan manipulasi peraturan perpajakan yang telah dibuat oleh
> pemerintahan di antara negara2 anggota Uni Eropa. Jadi yang jelek dan
> ditentang itu yalah undang-undang resmi, artinya legal. Bukan urusan
> legal-ilegal seperti yang bung pertanyakan itu. Siapa yang tidak
> ngerti kalau ilegal dimana saja kan musti menjadi urusan badan
> pemberantasan kriminalitas? 
> 
> > Nesare: 
> 
> > Lusi: orang Jerman sekarang ini sedang giat membongkar penghisapan
> > dlm bentuk Sistem Menghindarkan Pajak yang dinikmati terutama oleh
> > perusahaan-perusahaan besar multinasional. nesare: yang ini saja
> > yang saya komentari. Yang lain2 biarlah kalian berdua berdiskusi.
> > Saya lihat bung ingin mengatakan “menghindar pajak” ini adalah
> > kesalahan kapitalisme? Kalau ini asumsinya bung, saya katakan bung
> > salah. Kenapa salah? Karena menghindari pajak ini adalah urusan
> > bisnis. Di ideologi apa saja kalau ada bisnis dimana perusahaan
> > beroperasi dan harus bayar pajak akan selalu terjadi “penghindaran
> > pajak” ini. kalau bung bisa menciptakan negara komunis dimana
> > perusahaan yang beroperasi tidak bayar pajak, argument saya tidak
> > berlaku. 
> > 
> > Lalu “penghindaran pajak” itu adalah lazim. Konteksnya adalah
> > mengerti tax code dan bermain dalam koridor tax law nya. Ini legal.
> > Diseluruh dunia kapitalisme inilah pekerjaan yang dijalankan oleh
> > semua perusahaan dan begitu juga para consultant (PWC, EY, deloitte,
> > KPMG) yang membantu dan mengaudit perusahaan2 ini. 
> > 
> 
> Lusi:
> 
> Saya ingin menggambarkan kerugian yang ditimpa pembayar pajak di
> Jerman akibat peraturan yang salah itu dalam salah satu perdebatan di
> parlemen Jerman sbb.: 
> 
> " . . . Kita (pembayar pajak - L.), menurut penjelasan Dinas
> Kriminalitas Federal Pusat; Jerman ini telah menjadi sebuah paradis
> bagi para gangster itu. Setiap tahun Jerman dirugikan 17.000.000.000
> Euro oleh tipu muslihat pajak secara legal dari konsern-konsern.
> Penjahat2 kriminal & kaum teroris mencuci uangnya di sektor perumahan
> dan pertanahan, sementara pemerintah memblokir pengungkapan siapa
> pemilik yang sebenarnya dari firma-firma & trust dan daftar registrasi
> perumahan. Jan Böhmerman (seorang satiris tenar Jerman - L) akan
> berkata: Saya punya polisi. Mafioso menyatakan: Saya punya Pemerintah
> Pusat (Bundesregierung)!" 
> 
> > Nesare: 
> 
> > Apakah bung menganggap “penghindaran pajak” ini illegal.. Kalau
> > illegal gampang sekali dituntut saja. Mereka2 ini perusahaan yang
> > jelas dan kebanyakan perusahaan public serta diaudit oleh perusahaan
> > konsultan pajak sebelum mereka file corporate tax mereka ke otoritas
> > pajak dinegara masing2. 
> 
> Lusi:
> 
> Saya ini sekedar melanjutkan perdebatan dlm parlemen Jerman itu,
> tidak mempersoalkan pengertian sepele ttg legal-ilegal yg bung
> omongkan itu. Tapi kalau bung ingin mempermasalahkannya, saya
> persilahkan langsung pada anggota parlemen Jerman itu saja. Namanya
> Fabio de Masi. Dia fasih beberapa bahasa selain Jerman, Perancis,
> Inggris, Spanyol dan bahasa Itali. Alamat korespodensinya bisa dicari
> di Google. Terserah bung pilih bahasa apa korespondansinya.
> 
> > Sent: Sunday, January 7, 2018 5:27 AM To: Hsin Hui Lin
> > [email protected] <mailto:[email protected]>  <mailto:[email protected]> 
> > [GELORA45]
> > <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >;
> > [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > <mailto:[email protected]> ;
> > [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > <mailto:[email protected]> ;
> > [email protected] <mailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> ; Daeng
> > <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >;
> > Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected] 
> > <mailto:[email protected]> >; Harry Singgih
> > <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >; Farida
> > Ishaja <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >;
> > Gol <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >;
> > [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > <mailto:[email protected]> ; Mitri
> > <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >; Lingkar
> > Sitompul <[email protected] <mailto:[email protected]%0b> 
> > <mailto:[email protected]> >; Ronggo A..
> > <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >; Billy Gunadi
> > <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >; Oman
> > Romana <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >;
> > Harsono Sutedjo <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]>
> > >; [email protected] <mailto:[email protected]>  <mailto:[email protected]> ; N. 
> > >Nugroho
> > ><[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >; Roeslan
> > ><[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >;
> > >Lusi.D <[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >; Jonathan
> > >Goeij <[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >;
> > >Sahala Silalahi <[email protected] <mailto:[email protected]%0b> 
> > ><mailto:[email protected]> >; Sie Tik Tan
> > ><[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >; j.gedearka
> > ><[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >; Tjoa
> > ><[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >; A Awind
> > ><[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> > Cc: Jonathan
> > >Goeij <[email protected]  
> > ><mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > ><mailto:[email protected]> >
> > >Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in China
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Oh Selamat Tahun Baru 2018 dulu dongk.
> > To the point saja deh.
> > 
> > Hsin Hui Lin: 
> 
> > > > Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi
> > > > kalau di banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia......
> > > > Loo dari mana kesejahteraan yg di capai German...... datang dari
> > > > sorga atau dari hasil penghisapan manusia oleh segelintir
> > > > manusia yg menghadiri majority.... Tak langsung anda menikmati
> > > > hasil penghisapan itu.... Nyaman kan?? 
> > 
> > Lusi:
> > 
> > Saya hidup di Jerman dengan hasil kerja saya sesuai dengan tingkat
> > ke-akademian technical university yang telah saya tamatkan di
> > Jerman. Tidak mewah, tapi cukup untuk kebutuhan hidup normal
> > sebagai orang Indonesia yang menjadi warganegara Jerman akibat
> > perlakuan yang tidak manusiawi oleh rezim fasis Suharto atas hak
> > sipil kewarganegaraan Indonesia saya. Lah Bg. Lin terdampar di
> > negeri hunian sekarang ini sebagai apa? Setelah membaca jalan
> > pikiran Bg. Lin di atas pada kalimat ".... Nyaman kan??", saya kok
> > ingat semboyan di spanduk-spanduk pengikut orbanya Harto dlm
> > kampanye pemilihan umum ". . . jamanku biyen kan enak tokh?" Apa
> > metode berfikir bg. Lin sudah sejalan dengan orang-orang itu?
> > 
> > Nah kalau urusan kemakmuran Jerman yah yang aktual sajalah yang
> > bersifat global. Sementara lapisan menengah orang Jerman sekarang
> > ini sedang giat membongkar penghisapan dlm bentuk Sistem
> > Menghindarkan Pajak yang dinikmati terutama oleh
> > perusahaan-perusahaan besar multi nasional. 
> > Contohnya: Suatu Firma seperti Apple mendapat keuntungan berdasar
> > kegiatan penjualan iPhones yang dilakukannya di Jerman. Apple
> > mendirikan satu firma-kotakpos di satu wilayah negara yang
> > mengadabtasi sistim oase-pajak dan hak patent-nya dipindahkan ke
> > firma kotak-pos itu. Kemudian Apple mengirim rekening untuk membayar
> > hak-lisensi yang dibikin tinggi untuk setiap penjualan unit komoditi
> > kepada perusahaannya sendiri ke Karibik atau negeri Belanda. Di
> > Jerman berlaku hukum keringanan pajak kalau suatu firma mengalamiWir
> > sind laut Bundeskriminalamt ein Paradies für #Gangster.
> > 17.000.000.000 Euro entgehen Deutschland jedes Jahr durch legale
> > #Steuertricks von Konzernen. Kriminelle & Terroristen waschen im
> > Immobiliensektor Geld, während die Bundesregierung die Offenlegung
> > der wahren Eigentümer von Firmen & Trusts und ein Immobilienregister
> > blockiert. Jan Böhmermann würde sagen: ich hab Polizei, Mafioso
> > sagt: ich hab Bundesregierung! Meine Rede im Bundestag, die mir
> > fast meine erste Rüge verschaffte. Ich stehe zu meinem Wort.
> > #ParadisePapers rugi, sedangkan di negeri sistim oase-pajak,
> > keuntungan dipajak kecil sekali. Untuk tahun 2014 Apple dengan
> > akal-akalan seperti itu Apple dikenai pajak hanya 0,005 prosen dari
> > keuntungannya. Itu berarti Apple ditarik 50 Euro untuk setiap
> > keuntungan satu miliun Euro dari hasil usahanya. Karena itu
> > sekarang ini di Jermanpun sudah mulai timbul kesadaran melawan
> > penghisapan terutama yang terlihat dalam praktek perekonomian
> > neo-liberalisme.
> > 
> > Belum lagi kita bicarakan disini bagaimana langkah yang dilalui
> > untuk membuat handphone itu sendiri yang sudah melalui proses kerja
> > yang penuh penghisapan, termasuk yang made-in RRT. Jadi tahulah kita
> > bagaimana proses untuk menentukan harga dalam proses pembuatan
> > ditambah juga dalam bentuk-bentuk penghisapan setelah menjadi
> > komoditi sesuai doktrin ekonomi neo-liberalisme. Karena itu tidak
> > sulit untuk menggambarkan betapa besar proses penggelembungan antara
> > nilai dan harga sesungguhnya komoditi dari rendahnya ongkos produksi
> > komoditi itu.
> > 
> > Hsin Hui Lin:
> > 
> > > > Sebagai ahli teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan
> > > > fakta, kenyataan", bagimana menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun
> > > > tak akan membawa kita ke masyarakat yg anda impikan Lin 
> > 
> > Lusi:
> > 
> > Nah ttg definisi apa yang dikategorikan kebenaran, itu tergantung
> > dari pengetahuan dan pendirian tentang fakta-fakta dan kenyataan
> > yang difahami dan dianut oleh seseorang yang mengungkapkan
> > pandangannya.Wir sind laut Bundeskriminalamt ein Paradies für
> > #Gangster. 17.000.000.000 Euro entgehen Deutschland jedes Jahr durch
> > legale #Steuertricks von Konzernen. Kriminelle & Terroristen waschen
> > im Immobiliensektor Geld, während die Bundesregierung die
> > Offenlegung der wahren Eigentümer von Firmen & Trusts und ein
> > Immobilienregister blockiert. Jan Böhmermann würde sagen: ich hab
> > Polizei, Mafioso sagt: ich hab Bundesregierung! Meine Rede im
> > Bundestag, die mir fast meine erste Rüge verschaffte. Ich stehe zu
> > meinem Wort. #ParadisePapers
> > 
> > Ada dua segi sistim akumulasi kapitalisme: Satu melalui penghisapan
> > kerja upahan di dalamnegeri dan dua melalui perampokan kekayaan alam
> > dan hasil kerja kaum pekerja di seluruh penjuru dunia. Realisasi
> > perkembangan kapitalisme ke tingkat imperialisme dlm sejarah dunia
> > dibuktikan dengan perang penjajahan, penindasan dan perampokan
> > terhadap negeri-negeri koloni dan kekayaan baik alam maupun
> > manusianya. 
> > 
> > Kalau menurut bung Lin dari mana akumulasi kapital RRT periode
> > sejarah perekonomian Tiongkok setelah RBKP? Apa pertumbuhan ekonomi
> > yang di RRT sekarang ini masih mengikuti pandangan politik dan
> > ideologi Ilmu Marxisme yang mengabdi rakyat itu atau mengabdi
> > sejumlah lapisan orang yang berhak istimewa?
> > 
> > Bung bisa menjelaskan mengapa negeri-negeri imperialis waktu itu
> > mensabot pembangunan dan menutup hubungan ekonominya dengan cara
> > mengembargo RRT yang justru masih lemah ekonominya sebagai akibat
> > tingkah-laku rezim Chiang Kai-shek yang korup dan menindas rakyat
> > Tiongkok itu? Dan mengapa begitu Teng Hsiao-ping berkuasa kok kaum
> > imperialis begitu antusias "membantu dan mendorong" perekonomian
> > Tiongkok dan melepaskan kurungan embargo politik dan ekonomi
> > terhadap RRT sejak lahirnya pada tahun 1949 yang dulunya ketat
> > sekali?
> > 
> > Marxisme memandang arah maju tidaknya ekonomi suatu negeri dari
> > sudut pandang yang bertolak-belakang dengan pandangan borjuasi. Yang
> > disebut ekonomi baik itu tidak identik dengan baik untuk tingkat
> > kemakmuran rakyat. Karena itu yang diperdebatkan bukanlah
> > benda-benda atau material apa yang dihasilkan dalam suatu sistim
> > produksi, tetapiWir sind laut Bundeskriminalamt ein Paradies für
> > #Gangster. 17.000.000.000 Euro entgehen Deutschland jedes Jahr
> > durch legale #Steuertricks von Konzernen. Kriminelle & Terroristen
> > waschen im Immobiliensektor Geld, während die Bundesregierung die
> > Offenlegung der wahren Eigentümer von Firmen & Trusts und ein
> > Immobilienregister blockiert. Jan Böhmermann würde sagen: ich hab
> > Polizei, Mafioso sagt: ich hab Bundesregierung! Meine Rede im
> > Bundestag, die mir fast meine erste Rüge verschaffte. Ich stehe zu
> > meinem Wort. #ParadisePapers masalah bagaimana sistim proses
> > produksinya. Manusia akan selalu melakukan usaha berproduksi dalam
> > masyarakat apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi masalah
> > kemakmuran dan kesejahteraan sosial itu ditentukan oleh bagaimana
> > sistim pendistribusian hasil produksinya. 
> > 
> > Di dalam sistim politik ekonomi di seluruh dunia hukum yang berlaku
> > universal yalah ditentukan oleh siapa yang memiliki kedudukan
> > hegemoni; yang dalam prakteknya diwujudkan oleh kepemilikan atas
> > alat-alat produksinya - milik individual atau milik masyarakat.
> > Inilah yang kemudian melahirkan sistim ekonomi kapitalisme atau
> > sistim ekonomi sosialisme. 
> > 
> > Mengapa kontradiksi dasar kepentingan dalam masyarakat kapitalis
> > selalu antagonis, karena disatu pihak sistim produksi dalam suatu
> > masyarakat itu senantiasa bersifat sosial seperti juga sifat manusia
> > sebagai insan yang berwatak sosial, sedangkan karakter kapital itu
> > individual, artinya tergantung si individu kapitalis yang memiliki
> > alat produksi. Itulah sebabnya mengapa si kapitalis itu ideologinya
> > egoistis dan tamak.
> > 
> > Soal lamunan yang bung singgung itu. Syarat ngelamun itu terjadi
> > pada manusia yang sedang kebanyakan waktu tapi tidak punya kerjaan
> > yang bersifat sosial lagi tapi juga tergantung apa yang dilamunkan.
> > 
> > Manusia yang sadar akan sejarah perkembangan masyarakatnya berusaha
> > bertindak menciptakan syarat-syarat untuk mewujudkan keyakinannya
> > itu, tergantung bidang sosial apa yang dikuasai dan
> > syarat-syaratnya yang ada. Kecuali itu perkembangan masyarakat juga
> > tergantung pada kesadaran seluruh masyarakatnya. Berhasilnya zaman
> > yang dicita-citakan itu akan memakan waktu jangka panjang. Tidak
> > tergantung pada masa hidup orang per orang. 
> > 
> > Kalau pendapat saya, yang pantas disebut ngelamun itu adalah mereka
> > yang mengharapkan masyarakat sosialisme yang adil-makmur, tapi yang
> > dibangun adalah sistim perekonomian turbo kapitalisme.
> > 
> > Ee ternyata banyak yang suka dan mapan ikut-ikut melahap nilai-lebih
> > hasil perahan itu. Seandainya bg. Lin juga ikut krasan, yah
> > nikmatilah untuk selamanya supaya mimpi-mimpi trauma bung tempo
> > doeloe bisa sirna. Tidak ada yang terganggu karenanya.
> > 
> > Lusi.-
> > 
> > Am Thu, 4 Jan 2018 07:02:17 +0530
> > schrieb "Hsin Hui Lin [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > <mailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> [GELORA45]" <[email protected] 
> > <mailto:[email protected]%0b> 
> > <mailto:[email protected]%0b>
> > <mailto:[email protected]> >: 
> > > Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority"
> > > 
> > > On 4 Jan 2018 6:57 a.m., "Hsin Hui Lin" <[email protected] 
> > > <mailto:[email protected]%0b> 
> > > <mailto:[email protected]%0b> <mailto:[email protected]> > wrote: 
> > > > Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi
> > > > kalau di banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia......
> > > > Loo dari mana kesejahteraan yg di capai German...... datang dari
> > > > sorga atau dari hasil penghisapan manusia oleh segelintir
> > > > manusia yg menghadiri majority.... Tak langsung anda menikmati
> > > > hasil penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai ahli teori
> > > > Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan fakta, kenyataan",
> > > > bagimana menilai kemajuan Tiongkok. Ngelamun tak akan membawa
> > > > kita ke masyarakat yg anda impikan Lin
> > > > 
> > 
> > > > On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij
> > > > [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > > > <mailto:[email protected]>
> > > > <mailto:[email protected]> [GELORA45]"
> > > > <[email protected] <mailto:[email protected]%0b> 
> > > > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > > > <mailto:[email protected]> > wrote: 
> > > >> Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di
> > > >> Mekkah. Mereka yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih,
> > > >> sajadah, kafiah, peralatan salat, bahkan Alquran buatan
> > > >> orang-orang kafir itu bagaimana ya hukumnya, termasuk halal
> > > >> atau haram? Apakah ada sertifikasi halal dari MUI?
> > > >>
> > > >> Terus bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad,
> > > >> ataupun Anies Baswedan waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga
> > > >> pakai barang buatan orang2 kafir itu?
> > > >>
> > > >> Kutipan berita:
> > > >> Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua
> > > >> pernak-pernik per­alat­an ibadah umat Islam yang ada, hampir
> > > >> semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada tasbih, sa­ja­dah,
> > > >> kafiah, peralatan salat,* ma­l­ah Alquran** sekalipun, se­mua
> > > >> tertulis ”made in China”*.
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >> ---In [email protected] <mailto:[email protected]> 
> > > >> <mailto:[email protected]>
> > > >> <mailto:[email protected]> , <lusi_d@... <mailto:lusi_d@...%0b> 
> > > >> <mailto:lusi_d@...%0b> <mailto:lusi_d@...> > wrote :
> > > >>
> > > >> Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang
> > > >> semacam itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan
> > > >> belum menjawab bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk
> > > >> menjawab masalah kesejahteraan masyarakatnya harus jelas
> > > >> bagaimana sistim produksi yang berlaku di dalam masyarakatnya,
> > > >> apakah berwatak exploitation de l'home par l'home atau tidak
> > > >> kata Bung Karno.
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >>
> > > >> Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
> > > >> schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
> > > >> <[email protected] 
> > > >> <mailto:[email protected]%0b> 
> > > >> <mailto:[email protected]%0b>
> > > >> <mailto:[email protected]> >: 
> > > >> > Made in China
> > > >> > Koran Sindo
> > > >> > Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
> > > >> > https://nasional.sindonews.com/newsread/1266546/18/made-in 
> > > >> -china-1513533508 
> > > >> >
> > > >> > Joni Hermana
> > > >> > Staf Pengajar ITS Surabaya
> > > >> >
> > > >> > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan
> > > >> > sa­ya, namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada
> > > >> > hari tanpa produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an
> > > >> > ki­ta?” Co­ba simak ba­gai­mana su­litnya s­e­orang ibu
> > > >> > bernama Sa­ra Bo­­ngi­or­ni beserta ke­lua­r­ga­­nya di
> > > >> > Ame­rika Serikat ber­­juang se­la­ma setahun un­tuk ti­dak
> > > >> > meng­gu­na­kan barang yang berbau Chi­­na. Pe­nga­la­man
> > > >> > luar bia­sa ini dia tulis da­lam bu­ku­nya yang be­r­judul A
> > > >> > Year Wi­thout ”Made in Chi­na”. Atas eksperimennya itu, dia
> > > >> > ter­nyata harus ber­­ji­ba­ku, ber­ken­daraan da­ri mal ke
> > > >> > mal se­ke­dar me­n­cari se­buah ko­lam re­nang plastik
> > > >> > un­tuk anaknya. Bayangkan! Ini sekadar un­­tuk menggambarkan
> > > >> > bah­wa ti­dak mudahnya ki­ta melepaskan di­ri dari b­a­rang
> > > >> > buatan China da­lam keh­idupan keseharian ki­ta, bahkan
> > > >> > untuk negara ma­ju se­kelas AS sekalipun. Produk buatan
> > > >> > negeri China su­dah merasuk ke da­lam semua sen­di
> > > >> > ke­h­i­dup­an kita; di rumah, di se­ko­lah, tempat kerja,
> > > >> > dan di mana-mana. Kalau bulan pun ada penduduknya, sudah
> > > >> > dipas­ti­kan ada buatan negeri China di sa­na, he... he.. Tak
> > > >> > terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua
> > > >> > pernak-pernik per­alat­an ibadah umat Islam yang ada, hampir
> > > >> > semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada tasbih, sa­ja­dah,
> > > >> > kafiah, peralatan salat, ma­l­ah Alquran sekalipun, se­mua
> > > >> > tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun produk me­reka
> > > >> > ini sudah menjadi kes­e­ha­ri­an dalam hidup kita,
> > > >> > ma­yo­ri­tas bangsa kita pasti akan me­ra­sa gamang kalau
> > > >> > diminta u­n­tuk memakai, apalagi membeli, pro­duk
> > > >> > berteknologi cang­gih da­ri negeri China. Se­tidaknya ki­ta
> > > >> > akan ber­ta­nya masygul apa be­neran ya ? Sebab, branding
> > > >> > pro­duk buatan China yang ter­­ta­nam dalam benak ki­ta
> > > >> > selama ini adalah untuk ba­rang remeh-t­e­meh dan - per­lu
> > > >> > juga dicatat - yang mu­dah rusak. Wajarlah ketika
> > > >> > kem­u­di­a­n Chi­na menampilkan produk-pro­duk mereka yang
> > > >> > ber­tek­no­lo­gi tinggi dan modern di negara kita, ba­nyak
> > > >> > orang yang me­ra­gu­­kan keandalannya. De­mi­­ki­an,
> > > >> > orang-orang ber­ta­nya ke­ti­ka mulai banyak in­frastruktur
> > > >> > di­ba­ngun oleh kontraktor Chi­n­a. La­lu, orang-orang juga
> > > >> > ­ber­ta­nya ketika kereta cepat di­b­­a­ngun mereka. Tidak
> > > >> > ke­ting­­gal­an orang-orang ju­ga bertanya ke­tika
> > > >> > pem­bang­kit listrik di­ba­ngun me­reka.... beneran nih ?
> > > >> > Untuk menjawab ke­ra­gu­an se­p­erti ini, tidak sa­lah kalau
> > > >> > di­rek­si PLN meng­ajak akademisi dan pa­ra insan media
> > > >> > mengun­jungi pabrikan di China yang me­laksanakan pro­yek
> > > >> > pem­bang­­kit di In­do­ne­sia saat awal De­sember
> > > >> > b­e­be­rapa saat lalu. Apa yang di­li­hat memang sa­ngat
> > > >> > berbeda de­ngan apa yang di­bayangkan se­be­lumnya..
> > > >> > Ne­ge­ri China telah men­jelma me­n­ja­di negara de­ngan
> > > >> > kemampuan tek­n­ologi cang­gih dan terkini. Se­muanya te­lah
> > > >> > mereka kuasai. Sung­guh luar biasa! Ini sesuai de­ngan misi
> > > >> > mereka yang ingin men­ja­di­kan semuanya ”made in Chi­na ”
> > > >> > pada 2025. China ingin meng­ubah wajah brandingnya ti­dak
> > > >> > se­kadar negara penghasil ba­rang kelontongan, tetapi juga
> > > >> > ba­­rang berkualitas dengan di­men­­si teknologi tinggi,
> > > >> > cang­gih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke
> > > >> > tek­no­­logi luar angkasa. Tam­pak­nya cita-cita itu akan
> > > >> > mudah ter­wu­­jud dengan kesiapan in­fra­struk­­tur dan
> > > >> > sumber daya ma­nu­­sia yang mereka miliki. Yang mengagumkan
> > > >> > juga ada­lah peran pemerintah yang de­mikian besar (baca:
> > > >> > negara ha­dir!) untuk menjamin ke­ber­lan­jutan
> > > >> > produk-produk ind­us­tri­nya, China telah menggelar ga­ris
> > > >> > imajiner ”New Silk Road ” un­tuk memastikan aktivitas
> > > >> > eko­nomi mereka jalan dan ber­lan­jut. Ini semua dengan
> > > >> > me­man­faatkan potensi pasar yang ada di negara-negara Jalur
> > > >> > Sutra me­reka, dari barat sampai timur dan dari utara sampai
> > > >> > selatan du­nia...(jadi ngiri melihat triple he­lix A-B-G
> > > >> > mereka!) Melihat beragam teknologi mo­dern yang telah
> > > >> > dikuasai bang­sa China, dapat disim­pul­kan bahwa dari aspek
> > > >> > teknis, se­be­tulnya produk mereka tidak ada masalah.. China
> > > >> > hari ini bu­kan lagi China yang kemarin! Ar­ti­nya keraguan
> > > >> > dalam ke­an­dal­an teknologi mereka akan hi­lang dengan
> > > >> > sendirinya sejalan d­e­ngan waktu dan pengalaman. Toh, kita
> > > >> > belajar, bagaimana k­e­tika tahun 1960-70an dunia nyi­nyir
> > > >> > terhadap mobil ”ka­leng” buatan Jepang yang mulai ma­suk
> > > >> > pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa buatan Ame­rika dan
> > > >> > Eropa yang saat itu me­rajai di jalan-jalan raya. Na­mun,
> > > >> > seiring perjalanan waktu, ke­g­igihan dan inovasi yang
> > > >> > te­rus dilakukan produsen Je­pang, mereka kemudian
> > > >> > di­te­ri­ma bahkan digemari banyak orang. Sekarang Indonesia
> > > >> > ter­ma­suk negara dengan pe­r­sen­ta­se pemakai mobil Jepang
> > > >> > ter­be­sar di dunia di samping Jepang itu sendiri! Belajar
> > > >> > dari pengalaman itu, tek­nologi tinggi buatan negeri Chi­na
> > > >> > pun akan mengalami fase dan pola yang serupa dalam
> > > >> > me­ma­suki pasar di negara kita..
> > > >> >
> > > >> > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan
> > > >> > sa­ya, namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada
> > > >> > hari tanpa produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an
> > > >> > ki­ta?”
> > > >> >
> > > >> > (kri) 
> > > >>
> > > >>
> > > >> 
> > > >> 
> > > > 
> > 
> > 
> > 
> 
> 
> 



Kirim email ke