https://www.antaranews.com/berita/680243/menambang-beras-di-lahan-bekas-tambang
Menambang beras di lahan bekas
tambang
Rabu, 24 Januari 2018 19:45 WIB
Hamparan pesawahan bekas lahan tambang pasir kuarsa desa Gantung
Belitung Timur. (ANTARA News/Hand Out)
Jakarta (ANTARA News) - Hujan lebat mengguyur hamparan pesawahan bekas
lahan tambang pasir kuarsa desa Gantung Belitung Timur.
Di sebuah gubuk di tengah area kebun percobaan telah berkumpul kepala
kebun percobaan dan para petani yang tergabung dengan kelompok tani.
Mereka menggarap bekas lahan tambang pasir kuarsa menjadi area pesawahan.
Kondisi tanah yang berpasir dan di bawahnya terdapat tanah hitam yang
keras, ditambah lagi dengan lahan tersebut merupakan lahan bekas
tambang, maka perlu perlakuan khusus untuk merubah lahan tersebut
menjadi pesawahan yang bisa menghasilkan beras ataupun benih untuk
ditanam kembali.
Perlakuan khusus yang dilakukan yaitu memilih bibit yang berkualitas,
memilih pupuk organik dan pemberian Kapur. Bibit yang dipilih langsung
dikirim dari Balai Besar Penitian Padi, Badan Litbang Pertanian yaitu
varietas unggul baru Inpari 19 Inpari 34 dan Inpara 2.
Tentunya perlakukan khusus tersebut membutuhan pembinaan dari kepala
Kebun percobaan kepada petani sekitar dibantu dengan penyuluh dari Dinas
pertanian setempat. Sehingga lahan yang tadinya tidak lagi produktif
bisa menjadi lahan yang bisa menghasilkan pangan dan nantinya bisa
menjadi tempat Agrowisata.
Tidak mudah mengarahkan para Petani yang notabene bekas penambang timah
dan nelayan. Apabila dihadapkan dengan pilihan menjadi nelayan atau
menjadi petani, Ahmad Julianto menjawab: "Kalau menjadi nelayan apabila
tidak dikayuh sampan ke laut kami tak akan makan, tapi kalau menjadi
petani, sekali panen kami bisa menyimpan untuk cadangan makanan selama
satu tahun."
Ahmadi Julianto yang akrab dipanggil Anto oleh Petani desa Gantong
adalah Kepala kelompok tani yang dulunya seoarang Nelayan dan penambang
Timah di Belitung Timur.
Pendekatan sosial dan mendapatkan kepercayaan dari Petani sekitar
merupakan hal yang penting dilakukan. Kendala yang dihadapi pemerintahan
melalui para penyuluh dan BPTP Bangka Belitung yaitu jumlah para
penyuluh tidak berbanding lurus dengan banyaknya petani yang akan dibina.
Pendekatan sosial kepada petani akan lebih mudah apabila Penyuluh yang
ditambah untuk desa Gantong ujar Andri seorang penyuluh di desa Gantong,
Belitung Timur.
Apabila pendekatan dan kepercayaan dari petani telah didapatkan maka
para Penyuluh akan lebih mudah menerima bimbingan atau pembinaan secara
teknis, sehingga bahan bekas tambang bisa menjadi lahan yang bisa
menghasilkan pangan.
Tahun 2016 sinergi dari pemerintahan daerah, Balai Pengkajian teknologi
Pertanian Bangka Belitung, (BPTP Belitung) dan para kelompok Tani telah
memulai penanaman padi di area bekas tambang dan telah menghasilkan
produksi sebanyak 3.2 Ton.
Hasil penggujian pun menunjukkan padi yang dihasilkan aman dikonsumsi
oleh Manusia ujar Dede Rusmawan Kepala Kebun percobaan Gantong, Belitung
Timur.
Pembentukan lahan sawah baru masih dilakukan oleh Pemerintah dibantu
dengan para Petani. Setiap kepala keluarga mendapatkan 1 hektare sawah.
Lahan tersebut semuanya merupakan lahan bekas tambang timah dan pasir
kuarsa yang dimiliki pemerintah daerah dan dipinjamkan ke Petani untuk
dikelola dengan binaan pemerintah.
Diharapkan dengan bantuan pemerintah melalui UPSUS (Upaya Khusus) dengan
Pembinaan, bantuan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) nantinya bisa
menjadikan Belitung, khususnya Belitung timur bisa menjadi daerah
penghasil Beras dan menjadi desa Agrowisata sekalipun itu lahan Bekas
tambang. (Rjs)
Pewarta: Antara
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018
* TAGS:
* balitbang <https://www.antaranews.com/tag/balitbang>
* panen padi <https://www.antaranews.com/tag/panen-padi>