Caranya Deng Xiaoping membangun lapangan terbang dengan langsung membuldozer semuanya tanpa menghiraukan kehidupan massa kaum tani PERSIS seperti para penguasa di tanah air kita sendiri!!! Lha kan cocok sudah!!!Orang remo itu memang tak perduli kepentingan rakyat... Sekali lagi tercermin bagaimana Deng berlawanan dengan Mao!!! Untuk kesekian kalinya dibuktikan bagaimana para penguasa dalam Partai mengubah gerakan pembetulan Mao menjadi gerakan anti-kanan yang kedengarannya "revolusioner", tapi sebenarnya menyabot kebijakan Mao!!!Hanya orang buta dalam tempurung revisionis seperti Chan yang tidak pernah mau mengakui pertentangan antara Mao dan Deng!!! Sebuah contoh lagi dari penelitian orang yang berdasarkan juga pada pengalamannya langsung ...... Saya tampilkan terjemahan bebas untuk membantu mereka yang tidak terlalu menguasai bahasa Inggris.
Thereal question: How to build a new, socialist society? OÜ: So, you spentquite a lot of time in Maoist China. Western critics of Maoism usually accuseit of over-politicizing the people and therefore, consistently underminingstability and institutionalization. How was the daily life of ordinary peoplein Maoist China? Did the so-called “over-politicization” of masses reallycreate a sort of chaos? Jadi,Anda tinggal lama sekali di Tiongkok Maois. Kritikus Barat terhadap Maoismebiasanya menuduhnya terlalu mempolitisir rakyat dan karena itu, secarakonsisten merongrong stabilitas dan pelembagaan. Bagaimana kehidupansehari-hari orang-orang biasa di Tkk Maois? Apakah apa yang dinamakan“politisasi yang berlebihan” terhadap massa benar-benar melahirkan semacamkekacauan? FE: Well, that is aloaded question. It comes down to: do you justify the oppression or do you tryto overcome the oppression? In other words, the problem is: do you want tooverthrow the old oppressors to become a new oppressor or completely eliminatethe system of oppression? Sebuahpertanyaan besar. Inti pertanyaan adalah: apakah Anda membenarkan penindasanatau Anda mencoba untuk mengatasi penindasan? Dengan kata lain, masalahnyaadalah: apakah Anda ingin menggulingkan penindas lama untuk menjadi penindasbaru atau benar-benar menghilangkan sistem penindasan? Therewere those people in the revolutionary ranks who opposed to feudalism, compradorcapitalism and imperialism; but they did not really oppose the system ofoppression per se. So, once the revolutionaries became the rulers, a newproblem emerged: Would they rule in the name of the people together with thepeople or would they simply become new oppressors? How to preventrevolutionaries to become new oppressors was the real issue. Adaorang-orang di jajaran revolusioner yang menentang feodalisme, kapitalismekomprador dan imperialisme; tetapi mereka tidak benar-benar menentang sistem penindasan.Jadi,begitu kaum revolusioner menjadi penguasa, muncul sebuah masalah baru: Apakahmereka akan memerintah atas nama rakyat , bersama dengan rakyat atau apakahmereka hanya menjadi penindas baru? Bagaimana mencegah kaum revolusioner menjadi penindasbaru. Itulah sebenarnya masalahnya. In its first seven years from1949 to 1956, Mao’s China underwent a very successful transformation of theagriculture into collectives; per capita income of the farmers steadily rose. And also theysuccessfully transformed entrepreneur industries into state-owned or jointventure enterprises. Sobasically, they were able to complete the transformation from a capitalist,semi-feudal society to a socialist one. But then, immediately, some other questionsarose when the people in factories, cities, and provinces started to face someissues. Workers and students were going on strike over some bureaucratichandling of contradictions. There is a famous example: Army wanted to build anairport in Henan province without taking care of the livelihood of the peasantsin the village. They just tried to bulldoze over everything to build theairport, and peasants had no way but to resist and blockade the way. Thisexample is mentioned in Volume 5 of Mao’s Selected Works. Selama7 tahun, dari 1949 sampai 1956, transformasi kolektivisasi di pertanian sangatberhasil di Tiongkoknya Mao; pendapatan per kapita kaum tani naik dengan tetap.Mereka juga berhasil mengubah industri pengusaha menjadi perusahaan milik Negaraatau joint-venture. Jadi pada pokoknya mereka dapat menyelesaikan perubahandari sebuah masyarakat kapitalis, semi-feodal menjadi masyarakat sosialis.Tapi, masalah baru muncul ketika orang-orang di pabrik, di kota-kota danprovinsi mulai menghadapi berbagai isu. Buruh dan mahasiswa melakukan pemogokanmenentang penanganan birokratis terhadap kontradiksi-kontradiksi ketika itu.Ada contoh yang terkenal” Tentara ingin membangun sebuah lapangan terbang diprovinsi Henan tanpa memperhatikan penghidupan/mata pencaharian kaum tani didesa. Jadi mereka langsung membuldozer semuanya untuk membangun lapanganterbang dan tidak ada jalan lain bagi kaum tani kecuali melawan dan memblokadejalanan. Contoh ini disebut di jilid 5 Pilihan Tulisan Mao. OÜ: Mao directlyaccuses Deng Xiaoping for this… Dalammasalah ini Mao langsung menuduh Deng Xiaoping… FE: Yes, it was DengXiaoping who did it. There were a lot of examples like that. So the questionhere is: how do you overcome day-to-day, inevitable contradictions between themanagers and the managed in the factory? How do you organize production? Thereare many different opinions, different ideas about what to do. So, what are thepeople in leadership to do? Do they apply the mass line, listen to people, finda solution, get into consensus or just ride roughshod over the people? Thesequestions are mainly about how to democratize the production process. Ya, betul, Deng Xiaoping yang melakukan itu.Banyak sekali contoh-contoh seperti itu. Maka masalahnya adalah: bagaimana kamumengatasi kontradiksi yang tak terhindarkan antara manajer dan mereka yangdimanage di pabrik? Bagaimana kamu mengorganisasi produksi? Terdapat banyakpendapat yang berbeda, ide yang berbeda tentang apa yang harus diperbuat. Apa yangharus dilakukan oleh mereka yang duduk di pimpinan? Apakah mereka menerapkangaris massa, mendengar kan pendapat massa rakyat, menemukan solusi, mencapaiconsensus atau melakukan kehendakmu sendiri tanpa memperhatikan pendapat massarakyat. Masalah-masalah ini pada pokoknya adalah tentang bagaimanamendemokratiskan proses produksi. By 1956 it became very apparent that insocialist period there were two very distinct type of contradictions: On theone hand, old landlords and capitalists were not happy with losing theircontrol over the land and enterprises, and they wanted to overthrow socialism.On the other hand, there was another set of contradictions regarding thenitty-gritty of how to run day-to-day production process. How do you manage aschool or a farm? How do you handle the conflict between the managed and themanagers? What is the limit of the authority of the managers? These were whatwas then called “contradictions among the people.” Because sides of thesecontradictions did not have the opposite goals; they had the same goal but theyjust differed in terms of how to approach it. How to run a factory better andmore efficiently? How to make China overcome its poverty and its backwardness?How to turn it into an industrialized nation? These were contradictions amongthe people. How would you handle them? (Pada tahun 1956 menjadi jelas bahwa diperiode sosialis terdapat dua macam kontradiksi yang berbeda: di satu pihak,tuan tanah dan kaum kapitalis tidak senang kehilangan control atas tanah danperusahaan dan mereka ingin menumbangkan sosialisme. Di pihak lain, adaserangkaian kontradiksi yang berkaitan dengan seluk beluk bagaimana menjalankanproses produksi sehari-hari. Bagaimana mengelola sebuah sekolah, atau sebuahpeternakan? Bagaimana menangani konflik antara mereka yang mengelola dan merekayang dikelola? Di mana dan apa batas-batas otoritas mereka yang mengelola?Ketika itu ada yang dinamakan “kontradiksi di kalangan rakyat”. Karenapihak-pihak yang berkontradiksi tidak mempunyai tujuan yang bertentangan;mereka punya tujuan sama tapi mereka berbeda dalam bagaimanamendekati/menanganinya. Bagaimana menjalankan sebuah pabrik dengan lebih baikdan lebih efisien? Bagaimana Tkk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangannya?Bagaimana mengubah Tkk menjadi sebuah nasion industri? Ini adalah kontradiksidi kalangan rakyat. Bagaimana menanganinya?) It had become apparent by 1956 that newbureaucrats, people in the leadership were trying to ride roughshod over thepeople. So Mao started the Hundred Flowers Campaign to criticize the people inthe leadership and to rectify the Party. And that’s how, to borrow an Englishphrase, “the shit hit the fan.” The people who opposed the old oppressorsrather than the system of oppression itself during the Revolution, the peoplewho wanted to become new rulers felt very threatened by this rectificationcampaign. What they wanted was instead to redirect the attack at anybodycriticizing them. (Tahun 1956 menjadi jelas bahwa kaum birokratbaru, orang-orang yang duduk di pimpinan mencoba untuk berbuat seenak perutnyasendiri tanpa menggubris pendapat/pikiran rakyat. Oleh karena itu Mao memulaikampanye 100 bunga untuk mengkritik orang-orang di pimpinan dan membetulkanpartai. Meminjam ungkapan bahasa Inggris “ the shit hit the fan” (secaraharafiah, berarti “tahi melayang kena kipas angin”, artinya kira-kira “timbul masalahserius”). Orang-orang yang menentangkaum penindas lama, bukan menentang sistim penindasan itu sendiri selamarevolusi berlangsung, orang-orang yang ingin menjadi penguasa baru merasa sangatterancam dengan adanya kampanye pembetulan ini. Sebaliknya, yang mereka inginkanadalah melancarkan serangan kepada siapa saya yang mengkritik mereka.) I think this is what sounds “chaotic” tosome people. They ask why didn’t Chinese just manage the things in a “normal”way—“normal” in the sense that the term is used by those in power, those whorule! Why did they have all these political upheavals in China? Saya pikir inilah yang untuk sementara orangkedengarannya seperti “kacau balau”. Mereka bertanya mengapa orang-orang Tkktidak menangani masalahnya dengan cara yang “normal” saja----“normal” dalamarti kata yang digunakan oleh mereka yang berkuasa, mereka yang memerintah!!Buat apa ada berbagai gejolak politik di Tkk? Actually, what they question is whyChina didn’t just go back to the old method. Why, they didn’t just let themanagers in the factories become bosses and hold the line? Why did they chooseto criticize these people and try to change their approaches? In fact, thesepeople were reluctant to change their minds. They felt threatened when theyfaced criticism. Being targeted made them very uncomfortable. That’s exactlywhy the Party elite turned the rectification campaign into the “Anti-RightistCampaign” in 1957. This was a total one-hundred-eighty-degree change. I alsowrote articles about that. Sebenarnya, pertanyaan mereka adalah kenapa sih Tkk tidak kembali ke metodelama saja. Mengapa, mereka tidak membiarkan para manajer di pabrik menjadi bosdan memegang jabatan? Mengapa mereka memilih untuk mengkritik orang-orang inidan mencoba untuk mengubah pendekatan mereka? Padahal, orang-orang ini engganmengubah pikiran mereka. Mereka merasa terancam saat menghadapi kritik. Menjadisasaran membuat mereka sangat tidak nyaman. Itulah mengapa elit Partai mengubahkampanye pembetulan menjadi "Kampanye Anti-Kanan" pada tahun 1957.Ini adalah perubahan total seratus delapan puluh derajat. Saya juga menulisartikel tentang itu. I think that is the key to understandMao’s last twenty years. How were these conflicts resolved? The first way was“to cure the disease to save the patient.” This was also the method used duringthe Yan’an Rectification Movement in early 1940s. It was mainly aimed atresolving the conflicts through rectification campaigns. In this sense, BigCharacter Posters and mass meetings were treated as the main tools to targetthe Party leadership. The second way was targeting the bottom, the outside ofthe Party through nit-picking. This method was based on manipulating thepeople, telling them who the enemy was, and stirring them up to attack thosewho had been accused of being “reactionaries.” Here, the aim was not “to curethe disease to save the patient,” but rather to knock the opposite side down.This was the methodology of the Anti-Rightist Campaign as well. Saya pikir itu adalah kunci untuk memahamidua puluh tahun terakhir Mao. Bagaimana konflik ini diselesaikan? Cara pertamaadalah "menyembuhkan penyakit untuk menyelamatkan pasien." Ini jugametode yang digunakan dalam Gerakan Pembetulan Yan'an pada awal 1940an. Gerakanitu terutama ditujukan untuk menyelesaikan konflik melalui kampanyerektifikasi. Dalam hal ini, Poster Dengan karakter Besar dan rapat-rapat massadiperlakukan sebagai alat utama untuk menyasar kepada pimpinan Partai. Carakedua adalah menyasar ke bagian bawah, mencari-cari kesalahan di kalangan di luarPartai. Metode ini berdasar pada manipulasi, mengatakan kepada mereka siapa musuhnya, dan mendorongmereka untuk menyerang orang-orang yang dituduh "reaksioner." Disini, tujuannya bukanlah untuk "menyembuhkan penyakit untuk menyelamatkanpasien," melainkan untuk menjatuhkan lawan. Inilah metodologi KampanyeAnti-Kanan. So the question you raised has to beseen through this conflict: how to build a new socialist society? In absence ofthat, the things that happened during Mao era just look crazy. I hope thisanswer addresses your question. Jadi pertanyaan yang anda ajukan harus dilhatmelalui konflik ini: bagaimana membangun sebuah masyarakat sosialis baru? Kalautidak begitu, hal-hal yang terjadi di jaman Mao akan kelihatan seperti sesuatuyang gila. OÜ: So how was thiswas reflected in daily lives of ordinary people? Bagaimanahal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari orang-orang biasa? FE: Well, peoplewere very directly affected. Take a factory for example. How do the people inthe leadership, manager of a workshop go about running the production process?If the production falls behind, what do we do? The capitalist way is simple:they just implement carrot-and-stick strategies: “If you don’t work hard, I’llfire you”; “if you work hard, I’ll give you some extra bonuses”; or “I’m theboss, just listen to me. I hire you for your muscle, not for your brain,” etc.This is the capitalistapproach.But if the working class is the master of society, how do you manage theproduction process? If there is a problem with production, what do we do? Weneed to hold meetings to discuss what is going on and find solutions. If theworking class is the master of this society, it is in the workers’ interest toovercome the problem in the production process. If they overcome thesedifficulties, they’ll understand that the working class has tremendous abilityto solve their problems. Seeing what they do is actually in their own interestunleashes creativity of the people enormously. How the People’s Liberation Armywith just “millets and rifles” could be able to defeat the Japanese and theNationalists? Thanks to a firm belief in a common goal; a belief inoverthrowing the oppression. Yah,orang secara langsung sangat terpengaruh. Ambil pabrik misalnya. Bagaimanamereka yang duduk di pimpinan, manajer sebuah lokakarya menjalankan prosesproduksi? Jika produksi ketinggalan, apa yang kita lakukan? Cara kapitalismudah: mereka terapkan saja strategi wortel dan tongkat: "Jika Anda tidak kerjakeras, saya akan pecat Anda"; "Jika Anda kerja keras, saya akan beribeberapa bonus tambahan"; atau "Saya bos, kamu tinggal dengarkan saya.Saya mempekerjakan Anda karena otot Anda, bukan karena otak Anda, "dll.Ini adalah pendekatan kapitalis. Tetapi jika kelas pekerja adalah tuan dalammasyarakat, bagaimana Anda mengelola proses produksi? Jika ada masalah denganproduksi, apa yang kita lakukan? Kita perlu rapat untuk mendiskusikan apa yangsedang terjadi dan menemukan solusi. Jika kelas pekerja adalah tuan dalammasyarakat ini, maka pekerja berkepentingan untuk mengatasi masalah dalamproses produksi. Jika mereka mengatasi kesulitan ini, mereka akan mengertibahwa kelas pekerja memiliki kemampuan luar biasa untuk memecahkan masalahmereka. Melihat bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar demi kepentinganmereka sendiri, hal itu melahirkan kreativitas luar biasa di kalangan mereka.Bagaimana Tentara Pembebasan Rakyat hanya dengan "jawawut and bedil"bisa mengalahkan Jepang dan kaum Nasionalis? Berkat kepercayaan yang besar padatujuan bersama; sebuah kepercayaan untuk menggulingkan penindasan. The same rule applies to daily work at afactory. So, if the leadership always blames the workers for inefficiency inproduction and do not try to understand what is the root cause of the problem,then workers will normally feel disenfranchised. If the workers feeldisenfranchised, if they feel powerless, then they will slack. They will notshow initiatives. When they see a problem, for instance, when they see thebreak-down of a machine, they will not care. They will think that this is nottheir problem. But if they have the feeling of belonging, if they have right tocriticize the leadership, if they are able to make suggestions about what to doand these suggestions are taken seriously, if they really feel they are themasters of their destiny, then their ability to overcome difficulties willimprove enormously. Aturan yang sama berlaku untuk pekerjaansehari-hari di pabrik. Jadi, jika pimpinan selalu menyalahkan pekerja karena inefisiensidalam produksi dan tidak mencoba memahami akar penyebab masalah, maka pekerjabiasanya menjadi merasa kehilangan haknya. Jika para pekerja merasa kehilanganhaknya, jika mereka merasa tidak berdaya, maka mereka akan kendur. Mereka tidakakan menunjukkan inisiatif. Ketika mereka melihat masalah, misalnya, ketikamelihat mesin macet/rusak, mereka tidak akan peduli. Mereka akan berpikir bahwaini bukan masalah mereka. Tetapi jika mereka merasa turut memiliki, jika merekamemiliki hak untuk mengkritik pimpinan, jika mereka dapat memberikan sarantentang apa yang harus dilakukan dan saran ini dianggap serius, jika merekabenar-benar merasa bahwa mereka adalah tuan atas nasibnya sendiri, maka kemampuannyauntuk mengatasi kesulitan akan sangat meningkat. We have some opposite examples in thissense. Dazhai was a model developed by Mao. I’m very familiar with thisexample: I have been to Dazhai many times and also stayed there for six months.I worked with peasants there and visited neighboring places. In Dazhai, youcould just see how a strong leadership mobilized the peasants, and led todiscussions about how to transform backward agricultural practices by hardlabor—without expecting any foreign investment or demanding machinery—can makea huge difference. That’s a big story in itself. In contrast, there is also theexample of Xiaogangcun Village promoted by Deng after the Reform. There wereeighteen families in that village who were bickering all the time. When yourfamily became the head of the work team, you were trying to embezzle thecollective wealth. I was fighting against you to undercut your ability andpower. When the next elections came, I was replacing you as the head of thecollective. This time, I was the one trying to embezzle and you were the onefighting against my power. Change of roles… Of course, a collective cannotsustain that way. After the Reform, Deng Xiaoping set Xiaogangcun as a “model”as if Chinese never experienced small, petite peasants’ economy for thousandsof years! This is so ridiculous! So, that is the contrast… Dalam hal ini, ada beberapa contoh yangbertentangan. Dazhai adalah model yang dikembangkan oleh Mao. Saya kenal betul contohini: Saya pernah ke Dazhai berkali-kali dan juga tinggal di sana selama enambulan. Saya bekerja dengan petani di sana dan mengunjungi tempat-tempat di sekitarnya.Di Dazhai, Anda bisa lihat bagaimana kepemimpinan yang kuat memobilisasi parapetani, dan membawa mereka untuk mendiskusikan bagaimana mengubah praktikpertanian terbelakang dengan kerja keras, tanpa mengharapkan investasi asingatau minta mesin, dapat membuat perbedaan besar. Itu cerita besar tersendiri. Sebaliknya, ada jugacontoh Desa Xiaogangcun yang dipromosikan oleh Deng setelah Reformasi. Adadelapan belas keluarga di desa itu yang bertengkar terus. Ketika keluarga Andamenjadi kepala tim kerja, Anda mencoba untuk mencuri kekayaan kolektif. Sayaberjuang melawan Anda untuk melemahkan kemampuan dan kekuatan Anda. Ketikapemilihan berikutnya datang, saya menggantikan Anda sebagai kepala kolektif.Kali ini, sayalah yang mencoba menggelapkan dan andalah yang melawan kekuasaansaya. Perubahan peran ... Tentu saja, sebuah kolektif tidak dapat bertahanseperti itu. Setelah Reformasi, Deng Xiaoping menempatkan Xiaogangcun sebagai"model" seolah-olah orang Tiongkok tidak pernah mengalami ekonomipetani kecil selama ribuan tahun! Ini sangat menggelikan! Jadi, itulah kontrasnya ... (bersambung)
