*Hebat kalau PKI bangkit, sebab memberikan banyak pekerjaan unrtuk Polri,
TNI dan seradu lapangan MUI seperti FPI, Mujahiddin Indonesia Timur, Forum
umat Islam dsb. Jadi mereka harus berterima kasih kepada PKI, karena tidak
menganggur. hehehehehe*


http://sp.beritasatu.com/home/serangan-ke-ulama-dikaitkan-kebangkitan-pki-polisi-telusuri-jaringan-as/123015


*Serangan ke Ulama Dikaitkan Kebangkitan PKI, Polisi Telusuri Jaringan AS*


Kamis, 1 Maret 2018 | 15:25




   [BANDUNG] Polisi masih menelusuri jaringan dan afiliasi AS (Ahyad
   Saepulloh), 28 tahun, tersangka penyebar hoax yang memanfaatkan isu
   penganiayaan ulama.

   Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris
   Besar Samudi menyatakan AS membuat dan menyebarkan postingan mengenai
   penganiayaan Kyai Haji Umar Basri dan pembunuhan ustad Prawoto yang
   dikaitkan dengan kebangkitan Partai Komunis Indonesia via akun facebook
   pribadinya. “Pertama menyebarkan di Facebook,” kata Samudi di Bandung, Rabu
   (28/2).

   Samudi menjelaskan dari 16 kasus pembuatan dan penyebaran hoax yang
   ditelusuri penyidik, hanya ada dua kasus dengan ulama atau tokoh agama
   sebagai korbannya. Kasus pertama penganiayaan terhadap pimpinan Pondok
   Pesantren Al Hidayah, Kyai Haji Umar Basri pada 27 Januari 2018 dan
   penganiayaan terhadap ustad Prawoto yang juga Kepala Operasi Brigade
   Persatuan Islam Pusat di Cigondewah Kidul, Bandung pada 1 Februari 2018
   lalu. Polisi menyatakan dua pelaku penganiayaan yang berbeda tersebut
   adalah orang dengan gangguan kejiwaan.

   Samudi memaparkan AS menyebarkan hoax melalui sembilan akun media sosial
   miliknya. Polisi mendapatkan laporan mengenai penyebaran hoax tersebut pada
   21 Februari 2018 dan menindaklanjutinya lewat unit cyber crime Kepolisian
   Daerah Jawa Barat. Mereka mendapatkan akun Facebook atas nama Ugie Khan II,
   Ugie Khan, dan Ugikhan1 milik AS.

   Berdasarkan profiling dari akun tersebut, polisi mendapati berbagai
   konten berisi ujaran kebencian dan penghasutan terkait isu suku, agama,
   ras, dan antar golongan.

   Dalam kasus penganiayaan Umar Basri, AS membuat tulisan ‘Para bajingan
   TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN…!!! Beliau KH. Umar Basri pengasuh
   ponpes al-hidayah, dipukul membabi buta saat sedang BERDZIKIR di tempat
   pengimanan…Mohon selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci
   ULAMA sudah berani terang-terangan menyerang Ulama…!!! ‘..

   Selain itu ada juga postingannya ‘INALILLAHI Ustadz Jadi Korban lagi…!!!
   Ustadz PRAWOTO SANG PENJAGA ULAMA WAFAT DIBUNUH PAKAI LINGGIS…!!! Kemaren
   Cicalengka KH. BASRI dipukuli babak belur..! sekarang Cigondewah! Besok
   siapa lagi..!!! Para bajingan TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN..!!!
   Mohon selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA sudah
   berani terang-terangan menyerang Ulama…!!! ‘.

   “Ada juga yang berbunyi ‘Bapak Presiden Jokowi berpesan gebuk PKI, tapi
   polisi gebuk warga anti PKI’. Kita lakukan pendalaman dan penangkapan,”
   ungkap Samudi sembari menambahkan AS adalah satu dari lima tersangka yang
   sudah diumumkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan
   Masyarakat Kepolisian RI, Brigadir Jenderal M. Iqbal di Jakarta.

   Hingga saat ini, akun-akun Facebook yang dikelola AS itu masih aktif dan
   bisa diakses publik. Dari berbagai postingan dan foto yang di-upload-nya,
   terlihat AS pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan Front Pembela Islam
   (FPI) Jawa Barat.

   Dia juga mengunggah foto saat mengenakan seragam kemeja tangan panjang
   putih, celana panjang putih, sepatu bot putih, dan topi putih. Pada bagian
   pundaknya tampak tiga bintang berwarna hijau dengan tulisan LPI di bagian
   bawahnya. Selain itu, ada juga potongan pidato Rizieq Shihab terkait
   penistaan agama dan penganiayaan tokoh agama pada 21 Februari 2018.

   Samudi mengungkapkan pihaknya masih menelusuri apakah AS bekerja sendiri
   atau berafiliasi dengan organisasi tertentu. “Ada beberapa barang bukti
   handphone yang di-profilling tim cyber,” terang Samudi sembari menambahkan
   AS sempat mengaku bekerja sebagai supir harian lepas dan belajar menjadi
   guru ngaji.

   AS mengaku dirinya tidak memiliki motif apa-apa terkait postingan yang
   disebarkannya. Dia memainkan akun media sosial menggunakan handphone yang
   dia isi dengan credit Rp40 ribu setiap bulannya.

   “Itu dari uang pribadi saya sendiri. Saya hanya upload ulang konten.
   Sembilan akun, memang akun pribadi saya, tidak ada yang menyuruh. Akun
   pribadi pakai foto pribadi,” kata AS ketika ditanya wartawan.

   Meski demikian, AS sempat mengakui jika dirinya merasa sakit hati pada
   pemerintah. “Iseng, kesel, sakit hati ke pemerintah. Tidak ada motif.
   Ikut-ikutan saja (posting) yang ada di dinding beranda (Facebook),” tambah
   AS yang tidak menjawab saat ditanya wartawan apakah dirinya terdaftar
   sebagai anggota Front Pembela Islam. [153]

Kirim email ke