From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, March 2, 2018 1:00 AM



Hebat kalau PKI bangkit, sebab memberikan banyak pekerjaan unrtuk Polri, TNI 
dan seradu lapangan MUI seperti FPI, Mujahiddin Indonesia Timur, Forum umat 
Islam dsb. Jadi mereka harus berterima kasih kepada PKI, karena tidak 
menganggur. hehehehehe



http://sp.beritasatu.com/home/serangan-ke-ulama-dikaitkan-kebangkitan-pki-polisi-telusuri-jaringan-as/123015



Serangan ke Ulama Dikaitkan Kebangkitan PKI, Polisi Telusuri Jaringan AS


Kamis, 1 Maret 2018 | 15:25





  [BANDUNG] Polisi masih menelusuri jaringan dan afiliasi AS (Ahyad Saepulloh), 
28 tahun, tersangka penyebar hoax yang memanfaatkan isu penganiayaan ulama.

  Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris 
Besar Samudi menyatakan AS membuat dan menyebarkan postingan mengenai 
penganiayaan Kyai Haji Umar Basri dan pembunuhan ustad Prawoto yang dikaitkan 
dengan kebangkitan Partai Komunis Indonesia via akun facebook pribadinya. 
“Pertama menyebarkan di Facebook,” kata Samudi di Bandung, Rabu (28/2).

  Samudi menjelaskan dari 16 kasus pembuatan dan penyebaran hoax yang 
ditelusuri penyidik, hanya ada dua kasus dengan ulama atau tokoh agama sebagai 
korbannya. Kasus pertama penganiayaan terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al 
Hidayah, Kyai Haji Umar Basri pada 27 Januari 2018 dan penganiayaan terhadap 
ustad Prawoto yang juga Kepala Operasi Brigade Persatuan Islam Pusat di 
Cigondewah Kidul, Bandung pada 1 Februari 2018 lalu. Polisi menyatakan dua 
pelaku penganiayaan yang berbeda tersebut adalah orang dengan gangguan kejiwaan.

  Samudi memaparkan AS menyebarkan hoax melalui sembilan akun media sosial 
miliknya. Polisi mendapatkan laporan mengenai penyebaran hoax tersebut pada 21 
Februari 2018 dan menindaklanjutinya lewat unit cyber crime Kepolisian Daerah 
Jawa Barat. Mereka mendapatkan akun Facebook atas nama Ugie Khan II, Ugie Khan, 
dan Ugikhan1 milik AS.

  Berdasarkan profiling dari akun tersebut, polisi mendapati berbagai konten 
berisi ujaran kebencian dan penghasutan terkait isu suku, agama, ras, dan antar 
golongan.

  Dalam kasus penganiayaan Umar Basri, AS membuat tulisan ‘Para bajingan TENGIK 
PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN…!!! Beliau KH. Umar Basri pengasuh ponpes 
al-hidayah, dipukul membabi buta saat sedang BERDZIKIR di tempat 
pengimanan…Mohon selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA 
sudah berani terang-terangan menyerang Ulama…!!! ‘.

  Selain itu ada juga postingannya ‘INALILLAHI Ustadz Jadi Korban lagi…!!! 
Ustadz PRAWOTO SANG PENJAGA ULAMA WAFAT DIBUNUH PAKAI LINGGIS…!!! Kemaren 
Cicalengka KH. BASRI dipukuli babak belur..! sekarang Cigondewah! Besok siapa 
lagi..!!! Para bajingan TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN..!!! Mohon 
selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA sudah berani 
terang-terangan menyerang Ulama…!!! ‘.

  “Ada juga yang berbunyi ‘Bapak Presiden Jokowi berpesan gebuk PKI, tapi 
polisi gebuk warga anti PKI’. Kita lakukan pendalaman dan penangkapan,” ungkap 
Samudi sembari menambahkan AS adalah satu dari lima tersangka yang sudah 
diumumkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat 
Kepolisian RI, Brigadir Jenderal M. Iqbal di Jakarta.

  Hingga saat ini, akun-akun Facebook yang dikelola AS itu masih aktif dan bisa 
diakses publik. Dari berbagai postingan dan foto yang di-upload-nya, terlihat 
AS pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan Front Pembela Islam (FPI) Jawa 
Barat.

  Dia juga mengunggah foto saat mengenakan seragam kemeja tangan panjang putih, 
celana panjang putih, sepatu bot putih, dan topi putih. Pada bagian pundaknya 
tampak tiga bintang berwarna hijau dengan tulisan LPI di bagian bawahnya. 
Selain itu, ada juga potongan pidato Rizieq Shihab terkait penistaan agama dan 
penganiayaan tokoh agama pada 21 Februari 2018.

  Samudi mengungkapkan pihaknya masih menelusuri apakah AS bekerja sendiri atau 
berafiliasi dengan organisasi tertentu. “Ada beberapa barang bukti handphone 
yang di-profilling tim cyber,” terang Samudi sembari menambahkan AS sempat 
mengaku bekerja sebagai supir harian lepas dan belajar menjadi guru ngaji.

  AS mengaku dirinya tidak memiliki motif apa-apa terkait postingan yang 
disebarkannya. Dia memainkan akun media sosial menggunakan handphone yang dia 
isi dengan credit Rp40 ribu setiap bulannya.

  “Itu dari uang pribadi saya sendiri. Saya hanya upload ulang konten. Sembilan 
akun, memang akun pribadi saya, tidak ada yang menyuruh. Akun pribadi pakai 
foto pribadi,” kata AS ketika ditanya wartawan.

  Meski demikian, AS sempat mengakui jika dirinya merasa sakit hati pada 
pemerintah. “Iseng, kesel, sakit hati ke pemerintah. Tidak ada motif. 
Ikut-ikutan saja (posting) yang ada di dinding beranda (Facebook),” tambah AS 
yang tidak menjawab saat ditanya wartawan apakah dirinya terdaftar sebagai 
anggota Front Pembela Islam. [153]










Kirim email ke