http://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/03/07/p57wwh385-cadar-kekalifahan-dan-akar-islamofobia-di-nusantara
Cadar, Kekhalifahan, dan Akar Islamofobia di Nusantara

Kamis 08 March 2018 05:11 WIB

Red: Muhammad Subarkah


[image: Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun
1920-an.]Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun
1920-an.

Foto: Gahetna.nl

*Akar Islamofobia bisa dilacak hingga zaman Sunan Giri di Gresik.*

Islam sudah tersebar ke Nusantara semenjak abad ketujuh Masehi! Pernyataan
ulama besar Hamka pada dekade 70 ini memicu kontroversi mengenai kedatangan
Islam di nusantara. Hamka membantah dua teori tentang kedatangan Islam,
yakni teori Gujarat dan Cina. Memang teori sebelumnya (kini banyak yang
salah kaprah dipercaya) Islam itu datang dari Gujarat, sebuah kota di anak
benua India. Cukup lama teori bercokol dalam benak, apalagi karena didukung
dan diajarkan di teks buku sekolah sejak zaman Belanda. Sedangkan, teori
Cina karena berkaca pada adanya kuburan sahabat Nabi SAW. Selain itu,
antara Cina dan nusantara sejak  zaman Sriwijaya sudah terjalin hubungan,
bahkan ada sejarawan yang mengatakan sejak awal pertama tahun Masehi.

Namun, apa pun itu, ada hal yang menarik ketika melihat posisi Islam di
nusantara (kemudian di Indonesia). Apalagi belakangan terasa ada sikap
Islamofobia yang menyebar. Ada yang mengidentikkan ajaran Islam dengan
kekerasan, sebutan jihadis dan fundamentalis kini begitu akrab di media
massa. Bahkan, di Barat sebutan itu kini sebuah kelaziman. Misalnya, di
Spanyol ada data bila tahun lalu terjadi 500 kasus terkait Islamofobia. Di
belahan negara Barat dan benua yang lain hal itu kerap terjadi.

[image: photo]Ilustrasi sisa peninggalan Majapahit Gajah Mada

Lalu, di manakah akar Islamofobia di nusantara itu? Bila dilihat semenjak
awal selalu ada ketegangan ketika Islam menjadi gerakan politik kekuasaan.
Salah satu akar yang paling jelas adalah pada kurun masa akhir Majapahit
yang kala itu mulai melemah setelah ditinggal Gajah Mada dan munculnya
perang saudara Paregreg. Para keturunan anak raja Majapahit saling berebut
wilayah sehingga membuat kerajaan itu lemah.

Nah, pada saat lemah itu, kemudian di Gresik muncul Sunan Giri. Di sinilah
ajaran Islam disebarkan ke berbagai penjuru nusantara. Terlihat jelas Giri
adalah wilayah pelanjut kebesaran Islam yang sebelumnya muncul di kerajaan
di Sumatra bagian utara, misalnya Samudra Pasai. Pengaruh Gresik bisa
terlacak sampai ke wilayah timur, misalnya saja wilayah yang kini berada di
perbatasan Timor Leste, seperti kepulauan Alor dan Solor. Di sana ada
legenda mengenai cerita seorang anak negeri yang dibawa kapal Jawa ke
Gresik dan sekitar 10 tahun kemudian kembali pulang ke tanah kelahirnya
sebagai penyebar Islam. Di sini diketahui Olelang (nama sosok dalam legenda
itu) berada di Giri untuk belajar di Pesantren Sunan Giri.

Ibarat matahari kembar kala itu Giri merupakan saingan Majapahit. Bahkan,
secara perlahan tapi pasti sinar Giri (Gresik) malah lebih cemerlang dari
Majapahit yang saat itu mulai suram dan kedodoran. Bahkan, Giri menjadi
kekuatan politik dengan adanya sosok semacam istana atau ‘Giri Kedaton’.
Penguasanya ada yang menyebut sebagai Sunan Giri yang pertama (Sunan Giri
Sepuh). Pertarungan antara Gresik dan Majapahit itu kini tak hanya tersaji
dalam bentuk sejarah, tetapi juga berbentuk tulisan roman Pramoedya Ananta
Toer, *Arus Balik*. Pram terlihat mengeksploatasi Islamofobia yang muncul
kala itu.

Posisi Giri dan Sunan Giri memang menjadi ganjalan besar bagi Majapahit
yang bergerak menjadi kerajaan kecil. Impian imperium seperti ada yang
termaktub dalam tulisan Empu Pranpca “Negara Kretagama" menghilang.
Setidaknya Majapahit kala itu menjadi kerajaan kecil dan lemah yang
kekuasannya secara *de facto* hanya berada di secuil wilayah di Jawa Timur.

[image: photo]Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua yang
ada di Indonesia yang terletak di Kampung Kauman, Demak.

Ketegangan inilah yang bergelayut terus hingga berdirinya Kerajaan Demak
yang dipimpin oleh seorang anak raja dari Majapahit kelahiran Palembang,
Raden Patah. Kerajaan ini malah kemudian eksis menggantikan Majapahit
dengan didukung ‘majelis para ulama’ (akrab disebut di Jawa sebagai Wali
Songo). Demak kemudian bersinar dan Majapahit redup. Catatannya kerajaan
ini masih ada hingga tahun 1515 Masehi, meski hanya sekadar kerajaan kecil
biasa.

Tentu efek berdirinya Kerajaan Demak membuat para priayi Majapahit banyak
yang terluka hatinya. Sebagaian dari mereka yang merasa lebih baik pergi
daripada mengonversi agamanya dari Hindu ke Islam memilih pergi ke Bali
atau beberapa tempat seperti di kawasan Pengunungan Tengger atau Pegunungan
Lawu. Di tempat itulah mereka mencoba bertahan di tengah arus Islam yang
disebarkan oleh ulama atau para guru sufi. Bahkan, raja terakhir Majapahit,
Brawijaya, ikutan masygul dan memilih menyingkir ke pegunungan hingga
meninggal di sana. Para pengikutnya kemudian menampilkan sosok baru, yakni
mengimpikan datangnya zaman ‘normal’ atau zaman ketika agama Hindu dan
Buddha masih eksis. Di sanalah kemudian muncul cerita Sabdo Palon dan
Noyogengong.

[image: photo]Tempat sesaji suku Tengger tertutup material vulkanik gunung
Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, Senin (4/1).

Kirim email ke