https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?
_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925
Kamis 08 Maret 2018, 15:12 WIB
Kolom
Momentum Emas Politik Perempuan
Meutya Hafid - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#>
Meutya Hafid
<https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#>
Momentum Emas Politik Perempuan Meutya Hafid (Foto: Istimewa)
<https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#><https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#><https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#><https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan?_ga=2.138600251.945703406.1520530925-134246116.1520530925#>
*Jakarta* - Beberapa hari yang lalu saya melaksanakan tugas kunjungan
kerja ke Argentina, mengingatkan saya akan kisah Las Madres de Plaza de
Mayo. Mereka adalah sekelompok ibu-ibu yang telah mengukir sejarah besar
tentang perjuangan kaum perempuan dalam menentang pemerintahan
kediktatoran junta militer Argentina di bawah kepemimpinan Jenderal
Jorge Rafael Videla. Videla yang merebut kekuasaan Argentna dari
Presiden Isabel Peron dalam satu kudeta militer telah melakukan teror
politik berkepanjangan (1976-1983) yang menelan 8.960 jiwa orang
(CONADEP, 1983) melalui praktik penghilangan paksa secara sistematis
dengan instrumen represi pasukan maut (/death/ squads).
Diawali pada tahun 1977 oleh 14 orang ibu-ibu yang marah sekaligus sedih
karena anak-anak mereka telah 'menghilang', para ibu tersebut dengan
mengenakan syal berwarna putih bertuliskan nama keluarga mereka yang
hilang melakukan sebuah protes damai dengan berbaris dan melakukan
kampanye damai yang inovatif melalui cara berjalan berdua-dua
mengelilingi alun-alun (Plaza de Mayo), persis di depan pusat kekuasaan
junta militer di Istana Casa Rosada, setiap Kamis sore.
Dengan strategi politik yang bisa dikatakan unik, ibu-ibu rumah tangga
'biasa' tanpa pengalaman dan kemampuan politik yang memadai ini justru
berhasil menyuarakan jeritan hati mereka, menggedor simpati dan empati
publik luas yang pada akhirnya mengusik eksistensi penguasa tiran di
Argentina saat itu. Akhirnya gerakan yang mereka lakukan terus meluas
dan mendapat perhatian serta dukungan dari banyak pihak termasuk dunia
internasional. Las Madres de Plaza de Mayo kemudian menjadi ikon
perjuangan masyarakat sipil di Argentina selama hampir 40 tahun. Kisah
ini merupakan fakta sejarah bagaimana para perempuan, khususnya ibu-ibu
rumah tangga mampu dengan apik mentransformasi peran tradisional
(domestik) menjadi figur publik untuk kepentingan yang lebih luas,
bahkan pada level negara sekalipun.
*Peran Sentral Perempuan*
Menilik cerita Las Madres de Plaza de Mayo, kita bisa merasakan bahwa
sebetulnya para ibu tersebut berkomitmen pada politik yang berpusat di
anak dan keluarga mereka. Syal putih yang awalnya adalah popok telah
melambangkan anak-anak serta harapan dan perawatan ibu. Sebuah
penghormatan akan sistem kehidupan manusia dan pelestariannya.
Demonstrasi mereka dibingkai dengan "perasaan wanita" dan "perasaan
keibuan" yang mana itu sesungguhnya adalah sebuah kekuatan yang sangat
besar. Ini sebetulnya semakin memperjelas kondisi bahwa perempuan adalah
tokoh sentral dalam keluarga.
Sebagai seorang istri maupun ibu, perempuan memberikan pengaruh yang
sangat besar terhadap arah perkembangan karakter keluarga. Dengan
peranannya yang sangat signifikan dalam memberikan kasih sayang maupun
dukungan emosional. Begitu juga dengan urusan pemenuhan kebutuhan
anggota keluarga baik itu sandang, pangan dan papan, seorang perempuan
tak dapat dipungkiri menjadi /role model/ bagi tumbuh kembang keluarga,
termasuk tapi tidak terbatas pada urusan karir suami dan pendidikan
anak. Itulah mengapa lingkungan keluarga menjadi sangat strategis
sebagai tempat awal dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Tak
berlebihan rasanya jika /maqolah/ ulama menyebutkan, /Annisa 'imadul
bilad, idzasholuhat sholuhal bilad/, perempuan itu tiang negara, bila
perempuannya baik maka negaranya juga akan baik.
*Representasi Politik Perempuan*
Meski gerakan perempuan telah melampaui perjalanannya yang panjang di
negara Argentina, tak dapat dipungkiri bahwa Las Madres de Plaza de Mayo
telah turut menjadi salah satu faktor penentu politik formal Argentina
hari ini. Data menunjukkan bahwa Argentina merupakan negara di Amerika
Latin dengan representasi perempuan paling tinggi dalam politik
formalnya. Dengan tingkat keterwakilan di Majelis Rendah (/Unicameral
Parliament/) mencapai 100 orang, maka Argentina memiliki presentase
perwakilan perempuan sebesar 38,9% (IPU, Januari 2018), hanya selisih
sebesar 4,7% dari Swedia yang seringkali dianggap sebagai negara dengan
sistem politik paling ramah perempuan dan dengan sistem kesejahteraan
(/welfare system/) terbaik di dunia.
Sedangkan Indonesia sendiri, dengan presentase masih di bawah 20% harus
menerima kenyataan bahwa representasi politik perempuannya bahkan lebih
rendah dari 5 negara di ASEAN termasuk Kamboja dan Laos.
Melihat angka-angka tersebut, memang kita tak mungkin menggeneralisasi
karena sudah tentu pengalaman Argentina dan Swedia berbeda dengan
Indonesia. Namun begitu, kita selayaknya dapat mengambil pelajaran
positif dari pengalaman-pengalaman kedua negara tersebut. Tindakan
/affirmative/ 30% yang kita terapkan sudah semestinya dioptimalkan agar
semakin membuka peluang bagi perempuan (sebagai kelompok marjinal)
mempercepat integrasinya dalam kehidupan publik yang adil dan bermartabat.
Masih banyak dari kita yang berprinsip bahwa demokrasi adalah soal
berkompetisi bebas (/free//fair competition/), hal ini memang tidak
keliru, tetapi jangan lupa bahwa berkompetisi bebas saja tidak cukup.
Demokrasi juga mengandung prinsip keterwakilan (/representative/).
Manakala kita mengandaikan bahwa semua warga negara harus diperlakukan
secara sama (equal treatment), maka mereka yang selama ini tidak berdaya
(/powerlessness/) dan termarjinalkan akan terus mengalami kesulitan
untuk mengejar ketertinggalannya.
*Momentum Emas*
Kebijakan /affirmative /30% bukanlah sebuah tujuan akhir, ini hanyalah
sarana untuk mencapai misi yang lebih besar yaitu masyarakat yang
demokratis. Tindakan ini bagaimanapun masih sangat diperlukan dan
ditingkatkan dalam rangka memulihkan hak-hak politik perempuan sebagai
bagian dari transformasi sosial yang merupakan komponen penting dalam
transformasi demokrasi itu sendiri. Politik, jelas merupakan alat sosial
yang paling logis dalam menciptakan ruang kesempatan dan wewenang.
Dengan mendorong perempuan memasuki wilayah pengambilan kebijakan, maka
konstitusi dan legislasi kita akan semakin adil, setara dan ramah
terhadap kepentingan-kepentingan perempuan.
Kita tidak boleh pesimis, faktanya sejarah perempuan dan politik di
Indonesia selalu diwarnai oleh kejutan. Pasca kemerdekaan perempuan
Indonesia telah mencapai tingkatan-tingkatan politik yang lebih maju
dibanding banyak negara lain. Hak pilih perempuan sudah diakui sejak
tahun 1945 dan bahkan pada masa revolusi kita sudah memiliki menteri
perempuan. Kondisi fluktuatif politik perempuan di Indonesia tak dapat
dilepaskan dari proses demokrasinya yang tidak melalui cara-cara
bertahap (gradual) melainkan melalui lompatan-lompatan (/leaps/) yang
terkadang juga dramatis (Blackburn, 2004).
Tahun ini kita memasuki tahun politik, partai-partai politik akan
mengajukan bakal caleg DPR, DPD dan DPRD yang akan bertarung dalam
pemilu mendatang. Pada kesempatan ini saya ingin mengajak sekaligus
mendorong kepada para perempuan yang memiliki gagasan dan kompetensi
agar jangan ragu dan takut untuk memasuki politik formal (yang maskulin
ini).
Kedua, partai politik sebagai instrumen kaderisasi juga harus
berkomitmen dalam menerapkan tindakan /affirmative/ yang tidak hanya
menjadi tindakan prosedural sekedar mengejar angka 30%. Dibutuhkan juga
perlindungan lebih serta peningkatan kualitas calon-calon legislatifnya
agar dapat memperbesar peluang keterpilihan caleg-caleg perempuannya.
Terakhir, saya juga berharap agar pemerintah dapat melakukan terobosan
agar isu perempuan tidak melulu dilihat pada persoalan kesejahteraan
(/welfare/) . Perlu dilakukan upaya-upaya yang signifikan terhadap
pemberdayaan politik perempuan serta perwujudan keadilan bagi perempuan
sebagai arus utama program pemberdayaan perempuan. Kehadiran negara
dalam penyelenggaraan pendidikan politik bagi perempuan adalah sebuah
keniscayaan.
Kita tak lagi berhadapan dengan rezim yang otoriter sebagaimana
dilakukan gerakan Las Madres de Plaza de Mayo. Tetapi bukan berarti
tantangan kita menjadi lebih mudah. Para perempuan harus bekerja dua
kali lipat karena isu perempuan, politik dan pengambilan keputusan belum
menjadi arus utama dari fokus gerakan perempuan. Jalan masih akan
panjang, tetapi sebagai tahun politik, sekarang adalah momentum emas
bagi politik perempuan di republik ini.
Selamat Hari Perempuan! Maju terus perempuan Indonesia!
*Meutya Hafid* /Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dapil Sumut 1
/
*(mmu/mmu)
*