From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, March 9, 2018 1:52 AM



https://news.detik.com/kolom/d-3905572/momentum-emas-politik-perempuan


 

Kamis 08 Maret 2018, 15:12 WIB
Kolom
Momentum Emas Politik Perempuan
Meutya Hafid - detikNews
Meutya Hafid 

 Meutya Hafid (Foto: Istimewa) 

Jakarta - Beberapa hari yang lalu saya melaksanakan tugas kunjungan kerja ke 
Argentina, mengingatkan saya akan kisah Las Madres de Plaza de Mayo. Mereka 
adalah sekelompok ibu-ibu yang telah mengukir sejarah besar tentang perjuangan 
kaum perempuan dalam menentang pemerintahan kediktatoran junta militer 
Argentina di bawah kepemimpinan Jenderal Jorge Rafael Videla. Videla yang 
merebut kekuasaan Argentna dari Presiden Isabel Peron dalam satu kudeta militer 
telah melakukan teror politik berkepanjangan (1976-1983) yang menelan 8.960 
jiwa orang (CONADEP, 1983) melalui praktik penghilangan paksa secara sistematis 
dengan instrumen represi pasukan maut (death squads).

Diawali pada tahun 1977 oleh 14 orang ibu-ibu yang marah sekaligus sedih karena 
anak-anak mereka telah 'menghilang', para ibu tersebut dengan mengenakan syal 
berwarna putih bertuliskan nama keluarga mereka yang hilang melakukan sebuah 
protes damai dengan berbaris dan melakukan kampanye damai yang inovatif melalui 
cara berjalan berdua-dua mengelilingi alun-alun (Plaza de Mayo), persis di 
depan pusat kekuasaan junta militer di Istana Casa Rosada, setiap Kamis sore.

Dengan strategi politik yang bisa dikatakan unik, ibu-ibu rumah tangga 'biasa' 
tanpa pengalaman dan kemampuan politik yang memadai ini justru berhasil 
menyuarakan jeritan hati mereka, menggedor simpati dan empati publik luas yang 
pada akhirnya mengusik eksistensi penguasa tiran di Argentina saat itu.. 
Akhirnya gerakan yang mereka lakukan terus meluas dan mendapat perhatian serta 
dukungan dari banyak pihak termasuk dunia internasional. Las Madres de Plaza de 
Mayo kemudian menjadi ikon perjuangan masyarakat sipil di Argentina selama 
hampir 40 tahun. Kisah ini merupakan fakta sejarah bagaimana para perempuan, 
khususnya ibu-ibu rumah tangga mampu dengan apik mentransformasi peran 
tradisional (domestik) menjadi figur publik untuk kepentingan yang lebih luas, 
bahkan pada level negara sekalipun.

Peran Sentral Perempuan

Menilik cerita Las Madres de Plaza de Mayo, kita bisa merasakan bahwa 
sebetulnya para ibu tersebut berkomitmen pada politik yang berpusat di anak dan 
keluarga mereka. Syal putih yang awalnya adalah popok telah melambangkan 
anak-anak serta harapan dan perawatan ibu. Sebuah penghormatan akan sistem 
kehidupan manusia dan pelestariannya. Demonstrasi mereka dibingkai dengan 
"perasaan wanita" dan "perasaan keibuan" yang mana itu sesungguhnya adalah 
sebuah kekuatan yang sangat besar. Ini sebetulnya semakin memperjelas kondisi 
bahwa perempuan adalah tokoh sentral dalam keluarga.

Sebagai seorang istri maupun ibu, perempuan memberikan pengaruh yang sangat 
besar terhadap arah perkembangan karakter keluarga. Dengan peranannya yang 
sangat signifikan dalam memberikan kasih sayang maupun dukungan emosional. 
Begitu juga dengan urusan pemenuhan kebutuhan anggota keluarga baik itu 
sandang, pangan dan papan, seorang perempuan tak dapat dipungkiri menjadi role 
model bagi tumbuh kembang keluarga, termasuk tapi tidak terbatas pada urusan 
karir suami dan pendidikan anak. Itulah mengapa lingkungan keluarga menjadi 
sangat strategis sebagai tempat awal dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Tak 
berlebihan rasanya jika maqolah ulama menyebutkan, Annisa 'imadul bilad, 
idzasholuhat sholuhal bilad, perempuan itu tiang negara, bila perempuannya baik 
maka negaranya juga akan baik.

Representasi Politik Perempuan

Meski gerakan perempuan telah melampaui perjalanannya yang panjang di negara 
Argentina, tak dapat dipungkiri bahwa Las Madres de Plaza de Mayo telah turut 
menjadi salah satu faktor penentu politik formal Argentina hari ini. Data 
menunjukkan bahwa Argentina merupakan negara di Amerika Latin dengan 
representasi perempuan paling tinggi dalam politik formalnya. Dengan tingkat 
keterwakilan di Majelis Rendah (Unicameral Parliament) mencapai 100 orang, maka 
Argentina memiliki presentase perwakilan perempuan sebesar 38,9% (IPU, Januari 
2018), hanya selisih sebesar 4,7% dari Swedia yang seringkali dianggap sebagai 
negara dengan sistem politik paling ramah perempuan dan dengan sistem 
kesejahteraan (welfare system) terbaik di dunia.

Sedangkan Indonesia sendiri, dengan presentase masih di bawah 20% harus 
menerima kenyataan bahwa representasi politik perempuannya bahkan lebih rendah 
dari 5 negara di ASEAN termasuk Kamboja dan Laos. 

Melihat angka-angka tersebut, memang kita tak mungkin menggeneralisasi karena 
sudah tentu pengalaman Argentina dan Swedia berbeda dengan Indonesia. Namun 
begitu, kita selayaknya dapat mengambil pelajaran positif dari 
pengalaman-pengalaman kedua negara tersebut. Tindakan affirmative 30% yang kita 
terapkan sudah semestinya dioptimalkan agar semakin membuka peluang bagi 
perempuan (sebagai kelompok marjinal) mempercepat integrasinya dalam kehidupan 
publik yang adil dan bermartabat. 

Masih banyak dari kita yang berprinsip bahwa demokrasi adalah soal berkompetisi 
bebas (free fair competition), hal ini memang tidak keliru, tetapi jangan lupa 
bahwa berkompetisi bebas saja tidak cukup. Demokrasi juga mengandung prinsip 
keterwakilan (representative). Manakala kita mengandaikan bahwa semua warga 
negara harus diperlakukan secara sama (equal treatment), maka mereka yang 
selama ini tidak berdaya (powerlessness) dan termarjinalkan akan terus 
mengalami kesulitan untuk mengejar ketertinggalannya.

Momentum Emas

Kebijakan affirmative 30% bukanlah sebuah tujuan akhir, ini hanyalah sarana 
untuk mencapai misi yang lebih besar yaitu masyarakat yang demokratis. Tindakan 
ini bagaimanapun masih sangat diperlukan dan ditingkatkan dalam rangka 
memulihkan hak-hak politik perempuan sebagai bagian dari transformasi sosial 
yang merupakan komponen penting dalam transformasi demokrasi itu sendiri. 
Politik, jelas merupakan alat sosial yang paling logis dalam menciptakan ruang 
kesempatan dan wewenang. Dengan mendorong perempuan memasuki wilayah 
pengambilan kebijakan, maka konstitusi dan legislasi kita akan semakin adil, 
setara dan ramah terhadap kepentingan-kepentingan perempuan. 

Kita tidak boleh pesimis, faktanya sejarah perempuan dan politik di Indonesia 
selalu diwarnai oleh kejutan. Pasca kemerdekaan perempuan Indonesia telah 
mencapai tingkatan-tingkatan politik yang lebih maju dibanding banyak negara 
lain. Hak pilih perempuan sudah diakui sejak tahun 1945 dan bahkan pada masa 
revolusi kita sudah memiliki menteri perempuan. Kondisi fluktuatif politik 
perempuan di Indonesia tak dapat dilepaskan dari proses demokrasinya yang tidak 
melalui cara-cara bertahap (gradual) melainkan melalui lompatan-lompatan 
(leaps) yang terkadang juga dramatis (Blackburn, 2004).

Tahun ini kita memasuki tahun politik, partai-partai politik akan mengajukan 
bakal caleg DPR, DPD dan DPRD yang akan bertarung dalam pemilu mendatang. Pada 
kesempatan ini saya ingin mengajak sekaligus mendorong kepada para perempuan 
yang memiliki gagasan dan kompetensi agar jangan ragu dan takut untuk memasuki 
politik formal (yang maskulin ini). 

Kedua, partai politik sebagai instrumen kaderisasi juga harus berkomitmen dalam 
menerapkan tindakan affirmative yang tidak hanya menjadi tindakan prosedural 
sekedar mengejar angka 30%. Dibutuhkan juga perlindungan lebih serta 
peningkatan kualitas calon-calon legislatifnya agar dapat memperbesar peluang 
keterpilihan caleg-caleg perempuannya.

Terakhir, saya juga berharap agar pemerintah dapat melakukan terobosan agar isu 
perempuan tidak melulu dilihat pada persoalan kesejahteraan (welfare) .. Perlu 
dilakukan upaya-upaya yang signifikan terhadap pemberdayaan politik perempuan 
serta perwujudan keadilan bagi perempuan sebagai arus utama program 
pemberdayaan perempuan. Kehadiran negara dalam penyelenggaraan pendidikan 
politik bagi perempuan adalah sebuah keniscayaan.

Kita tak lagi berhadapan dengan rezim yang otoriter sebagaimana dilakukan 
gerakan Las Madres de Plaza de Mayo. Tetapi bukan berarti tantangan kita 
menjadi lebih mudah. Para perempuan harus bekerja dua kali lipat karena isu 
perempuan, politik dan pengambilan keputusan belum menjadi arus utama dari 
fokus gerakan perempuan. Jalan masih akan panjang, tetapi sebagai tahun 
politik, sekarang adalah momentum emas bagi politik perempuan di republik ini. 

Selamat Hari Perempuan! Maju terus perempuan Indonesia!

Meutya Hafid Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dapil Sumut 1

(mmu/mmu)










Kirim email ke