TanggapanDubes Inggris

Dubes Moazzam Malik menilai negeri Beruang Merah sebagai negara yang "Memiliki 
niat jahat."


-

Rusia: AS Tekan Indonesia Batalkan Pembelian 
Jet Tempur SU-35

MuhaiminRabu, 14 Maret 2018 - 18:44 WIB

MOSKOW - Pemerintah Rusia menuduh kontraktor pertahanan Amerika Serikat (AS) 
menekan Indonesia untuk membatalkan kontrak pembelian sekitar 11 jet tempur 
Sukhoi Su-35 Flanker-E. 
Moskow memuji Indonesia yang tak goyah dengan tekanan tersebut.Tuduhan ini 
dilontarkan Vladimir Kozhin, ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk kerja 
sama militer dan teknis.
Rencananya, 11 unit jet tempur canggih Rusia ini akan dikirim pada 5 Oktober 
2018 yang bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia 
(TNI).
“Kontrak telah ditandatangani dan kami mulai menerapkannya,” kata Kozhin kepada 
channel Rossiya-24.
Menurutnya, Rusia telah menegosiasikan kesepakatan dengan Indonesia selama dua 
tahun terakhir  meski mendapat tentangan dari AS.
”Kontrak ini disiapkan selama dua tahun, ini adalah kontrak yang rumit, 
beberapa jet tempur Su-35 modern, dan semuanya telah dipersiapkan,” ujar 
Kozhin. 
”Ketika semuanya sudah siap, mitra Amerika memasuki tempat kejadian dan 
memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada pihak Indonesia 
untuk mencegah kontrak ini berlangsung.”
Meskipun demikian, kesepakatan tersebut telah berhasil. ”Kami berterima kasih 
kepada pimpinan militer dan politik Indonesia atas posisi mereka yang kokoh, 
yang mereka tidak takut untuk menyatakan secara terbuka, termasuk kepada mitra 
Amerika,” kata Kozhin, yang dikutip Rabu (14/3/2018).
Indonesia cenderung membuat pilihannya terbuka dan memastikan tidak akan 
terlalu bergantung pada pemasok manapun. TNI saat ini telah mengoperasikan seri 
Flanker versi lama termasuk varian Sukhoi Su-27 dan Su-30, namun Indonesia juga 
mengoperasikan jet tempur F-16 Fighting Falcons dan Northrop F-5s AS buatan 
Lockheed Martin.
”Indonesia benar-benar menjaga agar pilihannya terbuka karena sorot mata China 
meningkat dan karena melihat Rusia menjadi lebih aktif dalam konflik dan 
persaingan internasional,” ujar Sam Bendett, seorang peneliti yang 
mengkhususkan diri untuk militer Rusia di Center for Naval Analysis kepada The 
National Interest.
Selain itu, banyak tetangga Indonesia juga memodernisasi peralatan tempur 
mereka dengan peralatan Barat dan Rusia. 
”Tetangga Indonesia seperti Malaysia telah lama melakukan diversifikasi impor 
senjata mereka untuk memasukkan perangkat keras buatan Rusia,” kata Bendett. 
”Misalnya, Malaysia bahkan mengadopsi pesawat Rusia untuk menggunakan bom 
Amerika.”
Bagi Rusia, yang telah lama ingin menjual perangkat kerasnya setelah berhasil 
menampilkan senjatanya di Suriah, kesepakatan dengan Indonesia bisa menjadi 
pembuka penting. 
”Kesepakatan ini bisa menjadi pembuka untuk penjualan lebih banyak ke 
kawasan—seperti penjualan helikopter Mil Rusia dan peralatan lainnya yang 
diperlukan untuk menjamin keamanan negara tersebut,” kata Bendett.
Pemerintah AS maupun kontraktor pertahanannya belum berkomentar atas tuduhan 
Rusia ini. Kedua eksportir senjata terbesar di dunia ini terus bersaing 
menguasai pasar. Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) 
terbaru menyatakan, AS masih nomor satu sebagai eksportir senjata terbesar di 
dunia, disusul secara ketat oleh Rusia. 

(mas)

Kirim email ke