----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ajeg [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>Kepada: [email protected]
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 16 Maret 2018 17.26.54 GMT+1Judul:
[GELORA45] Rusia: AS Tekan Indonesia Batalkan Pembelian Jet Tempur SU-35
TanggapanDubes Inggris
Dubes Moazzam Malik menilai negeri Beruang Merah sebagai negara yang "Memiliki
niat jahat."
-
Rusia: AS Tekan Indonesia Batalkan Pembelian
Jet Tempur SU-35
MuhaiminRabu, 14 Maret 2018 - 18:44 WIB
MOSKOW - Pemerintah Rusia menuduh kontraktor pertahanan Amerika Serikat (AS)
menekan Indonesia untuk membatalkan kontrak pembelian sekitar 11 jet tempur
Sukhoi Su-35 Flanker-E.
Moskow memuji Indonesia yang tak goyah dengan tekanan tersebut.Tuduhan ini
dilontarkan Vladimir Kozhin, ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk kerja
sama militer dan teknis.
Rencananya, 11 unit jet tempur canggih Rusia ini akan dikirim pada 5 Oktober
2018 yang bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia
(TNI).
“Kontrak telah ditandatangani dan kami mulai menerapkannya,” kata Kozhin kepada
channel Rossiya-24.
Menurutnya, Rusia telah menegosiasikan kesepakatan dengan Indonesia selama dua
tahun terakhir meski mendapat tentangan dari AS.
”Kontrak ini disiapkan selama dua tahun, ini adalah kontrak yang rumit,
beberapa jet tempur Su-35 modern, dan semuanya telah dipersiapkan,” ujar
Kozhin.
”Ketika semuanya sudah siap, mitra Amerika memasuki tempat kejadian dan
memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada pihak Indonesia
untuk mencegah kontrak ini berlangsung.”
Meskipun demikian, kesepakatan tersebut telah berhasil. ”Kami berterima kasih
kepada pimpinan militer dan politik Indonesia atas posisi mereka yang kokoh,
yang mereka tidak takut untuk menyatakan secara terbuka, termasuk kepada mitra
Amerika,” kata Kozhin, yang dikutip Rabu (14/3/2018).
Indonesia cenderung membuat pilihannya terbuka dan memastikan tidak akan
terlalu bergantung pada pemasok manapun. TNI saat ini telah mengoperasikan seri
Flanker versi lama termasuk varian Sukhoi Su-27 dan Su-30, namun Indonesia juga
mengoperasikan jet tempur F-16 Fighting Falcons dan Northrop F-5s AS buatan
Lockheed Martin.
”Indonesia benar-benar menjaga agar pilihannya terbuka karena sorot mata China
meningkat dan karena melihat Rusia menjadi lebih aktif dalam konflik dan
persaingan internasional,” ujar Sam Bendett, seorang peneliti yang
mengkhususkan diri untuk militer Rusia di Center for Naval Analysis kepada The
National Interest.
Selain itu, banyak tetangga Indonesia juga memodernisasi peralatan tempur
mereka dengan peralatan Barat dan Rusia.
”Tetangga Indonesia seperti Malaysia telah lama melakukan diversifikasi impor
senjata mereka untuk memasukkan perangkat keras buatan Rusia,” kata Bendett.
”Misalnya, Malaysia bahkan mengadopsi pesawat Rusia untuk menggunakan bom
Amerika.”
Bagi Rusia, yang telah lama ingin menjual perangkat kerasnya setelah berhasil
menampilkan senjatanya di Suriah, kesepakatan dengan Indonesia bisa menjadi
pembuka penting.
”Kesepakatan ini bisa menjadi pembuka untuk penjualan lebih banyak ke
kawasan—seperti penjualan helikopter Mil Rusia dan peralatan lainnya yang
diperlukan untuk menjamin keamanan negara tersebut,” kata Bendett.
Pemerintah AS maupun kontraktor pertahanannya belum berkomentar atas tuduhan
Rusia ini. Kedua eksportir senjata terbesar di dunia ini terus bersaing
menguasai pasar. Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI)
terbaru menyatakan, AS masih nomor satu sebagai eksportir senjata terbesar di
dunia, disusul secara ketat oleh Rusia.
(mas)