https://www.antaranews.com/berita/693712/pesan-menteri-susi-dari-kapal-
rainbow-warrior
Pesan Menteri Susi dari Kapal
Rainbow Warrior
Sabtu, 17 Maret 2018 15:26 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di ruang kemudi Kapal
Greenpeace Rainbow Warrior yang sedang lepas jangkar di Perairan Sorong,
Papua Barat, Sabtu pagi. (ANTARA News/Monalisa)
Sorong (ANTARA News) - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti
menyampaikan pesan untuk menjaga keberlanjutan kelautan dan perikanan
saat mengunjungi Kapal Rainbow Warrior yang sedang lepas jangkar di
Perairan Sorong, Papua Barat, Sabtu.
"Tidak boleh lagi kapal-kapal asing menjarah laut kita. Nelayan
tradisional, penangkapan ikan tradisional, alat tangkap yang ramah
lingkungan, itu yang boleh beroperasi di laut Papua. Para pengebom ikan
juga harus ditindak, ditangkap, masyarakat Papua tidak boleh skeptis,
apatis, diam membiarkan lautnya dirusak dan dijarah oleh orang-orang
dari luar Papua," Susi Pudjiastuti di Rainbow Warrior.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat mengunjungi Kapal
Greenpeace Rainbow Warrior yang sedang lepas jangkar di Perairan Sorong,
Papua Barat, Sabtu (17/3) (ANTARA News/Monalisa)
Susi juga mengatakan bahwa lautan menutup sekitar 71 persen permukaan
bumi sehingga harus dilindungi.
Menurutnya, negara-negara di dunia harus bersama-sama menjaga laut lepas
untuk menjaga kelestarian laut. Ia mengaku sudah menyampaikan hal
tersebut saat sidang tahunan PBB, 6th Annual UN Forum on Business and
Human Rights (FBHR) di Jenewa Swiss, akhir tahun lalu.
"Saya bilang ke PBB harus mulai mengawasi laut lepas, karena 71 persen
dari bumi ini adalah laut, dan 61 persen dari 71 persen laut adalah laut
lepas. Greenpeace, kalian bilang hutan itu berpengaruh terhadap
perubuhan iklim, padahal 71 persen dari bumi ini kan laut, jadi peran
laut terhadap perubahan iklim pasti sangat besar," kata Menteri Susi.
*Baca juga: Menteri Susi ajak anak dan cucu kunjungi kapal Rainbow
Warrior
<https://www.antaranews.com/berita/693692/menteri-susi-ajak-anak-dan-cucu-kunjungi-kapal-rainbow-warrior>*
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Kapten Hettie
Geenen mengunjungi Kapal Greenpeace Rainbow Warrior yang sedang lepas
jangkar di Perairan Sorong, Papua Barat, Sabtu (17/3). (ANTARA
News/Monalisa)
Susi mengunjungi Kapal Rainbow milik Greenpeace dengan mengajak putra
bungsunya Alvy Xavier dan cucunya Arman Hilmansyah. Kapten Rainbow
Warrior Hettie Geenen mengajak Susi berkeliling ke dalam kapal, termasuk
ruang kemudi, anjungan kapal, dan dapur.
*Baca juga: Gaya putra bungsu Menteri Susi hibur awak Kapal Rainbow
Warrior
<https://www.antaranews.com/berita/693681/gaya-putra-bungsu-menteri-susi-hibur-awak-kapal-rainbow-warrior>*
Susi juga menyempatkan diri sarapan di atas Kapal Rainbow Warrior,
menyantap nasi beras merah dan ikan. Saat sarapan, ia menyampaikan pesan
untuk makan ikan seperti yang selalu ia katakan saat melakukan kunjungan
atau bertemu masyarakat.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sarapan di atas Kapal
Greenpeace Rainbow Warrior yang sedang lepas jangkar di Perairan Sorong,
Papua Barat, Sabtu (17/3). (ANTARA News/Monalisa)
Ia mengatakan kepada Kapten Hettie bahwa pesannya tersebut menjadi viral
di Indonesia.
"Saya sedang bersama Kapten Rainbow Warrior Kapten Hettie. Saya sedang
sarapan makan nasi beras merah dan ikan yang dimasak oleh koki Daniel
yang sangat jago masak ikannya. Ingat tidak makan ikan saya
tenggelamkan," ujar Susi saat mengambil video bersama Hettie.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjungi Kapal
Greenpeace Rainbow Warrior yang sedang lepas jangkar di Perairan Sorong,
Papua Barat, Sabtu pagi. (ANTARA News/Monalisa)
Pada kesempatan tersebut, Susi juga menunjukkan kepada Hetti video saat
ia menenggelamkan kapal asing ilegal.
Setelah dua jam, Menteri Susi meninggalkan Kapal Rainbow Warrior dan
melanjutkan kunjungan kerjanya.
*Baca juga: Video kedatangan kapal Rainbow Warrior di Manokwari
<https://www.antaranews.com/berita/692401/video-kedatangan-kapal-rainbow-warrior-di-manokwari>*
Pewarta: Monalisa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2018