https://www.jawapos.com/read/2018/03/21/197806/faisal-basri-soal-utang-pernyataan-pak-darmin-itu-tidak-benar



Faisal Basri Soal Utang: Pernyataan Pak Darmin Itu Tidak Benar

Rabu, 21 Mar 2018 16:11 | editor : Saugi Riyandi

[image: Ekonom Faisal Basri]
<https://www.jawapos.com/uploads/news/2018/03/21/faisal-basri-soal-utang-pernyataan-pak-darmin-itu-tidak-benar_m_1521623618_197806.jpeg>
<https://www.jawapos.com/uploads/news/2018/03/21/faisal-basri-soal-utang-pernyataan-pak-darmin-itu-tidak-benar_m_1521623618_197806.jpeg>

Ekonom Faisal Basri *(Dok. JawaPos.com)*

Berita Terkait

   -

   INDEF Soal Pernyataan Prabowo: 2030, 50 Persen RI Dikuasai Asing
   
<https://www.jawapos.com/read/2018/03/22/197963/indef-soal-pernyataan-prabowo-2030-50-persen-ri-dikuasai-asing>
   -

   Banyak Toko Ritel Tutup Karena Daya Beli Melemah, Bappenas: Itu Hoax
   
<https://www.jawapos.com/read/2018/03/21/197878/banyak-toko-ritel-tutup-karena-daya-beli-melemah-bappenas-itu-hoax>
   -

   Kini, Naik Angkot Bisa Bayar Pakai PayPro
   
<https://www.jawapos.com/read/2018/03/21/197870/kini-naik-angkot-bisa-bayar-pakai-paypro>

*JawaPos.com* - Beberapa waktu lalu Menteri Koordinator Perekonomian Darmin
Nasution menyebut utang negara digunakan untuk membiayai pembangunan
infrastruktur di Tanah Air. Jika tidak berutang, Darmin menyebut tidak ada
pembangunan yang masif seperti saat ini.

Ekonom senior Institute for Development for Economics and Finance (INDEF)
Faisal Basri menilai pernyataan tersebut sebagai sebuah kebohongan.

"Yang paling penting, bahwa ternyata terbukti sekali bahwa tidak benar apa
yang dikatakan oleh pak Darmin yang mengatakan tak utang tapi pembangunan
infrastruktur lambat. Terbukti bahwa utang itu relatif kecil hubungannya
dengan pembangunan infrastruktur," ujarnya di Kantor INDEF, Jakarta, Rabu
(21/3).

[image: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution]

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution *(Miftahul
Hayat/JawaPos.com)*

Hal itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, selama ini utang yang dilakukan
pemerintah justru melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebut saja
proyek LRT yang hanya dibiayai APBN sebesar Rp 1,6 triliun dan sisa
anggarannya melalui pinjaman yang dilakukan oleh PT Adhi Karya (Persero).

"Pembangunan transmisi listrik, dulu di APBN sekarang PLN yang bangun. Jadi
infra makin banyak dibiayai oleh utang yang kita maksud," tuturnya.

Menurutnya, utang yang dilakukan pemerintah justru lebih dialokasikan untuk
belanja pegawai dan pos lainnya. Hal itu terbukti dari alokasi anggaran
belanja pegawai yang terus meningkat dalam empat tahun terakhir.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, pada 2014 alokasi belanja pegawai
sebesar 20,25 persen dari total APBN. Tahun 2015 sebesar 23,76 persen dari
APBN, tahun 2016 26,44 persen dan tahun 2017 sedikit menurun yakni sebesar
26,25 persen.

"Jadi utang itu digunakan lebih banyak untuk meningkatkan pos lain termasuk
belanja pegawai. Ini bukan jaman orde baru lagi, kalau orba utang dipakai
seluruhnya untuk pembangunan. Sekarang utang dipakai umum, generik. Jadi
nggak bener nih," pungkasnya.

Kirim email ke