https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?
_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067
Kamis 22 Maret 2018, 15:30 WIB
Kolom
Fenomena "Overshooting" Rupiah
Teguh Santoso - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/t_santoso>
Teguh Santoso <https://connect.detik.com/dashboard/public/t_santoso>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#>
Fenomena Overshooting Rupiah Foto: Rachman Haryanto
<https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#><https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#><https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#><https://news.detik.com/kolom/d-3930737/fenomena-overshooting-rupiah?_ga=2.144730868.1761565573.1521743067-77054248.1521743067#>
*Jakarta* -
Dalam dua pekan terakhir, nilai tukar rupiah tak mampu menghadapi
keperkasaan dolar AS. Pada akhir perdagangan 9 Maret lalu, kurs rupiah
terhadap dolar AS bahkan mencapai Rp 13.794 (Kurs Tengah Bank
Indonesia). Nilai kurs tersebut bahkan memecahkan rekor kurs Rp/USD
selama 2 tahun terakhir. Pelemahan rupiah tersebut justru terjadi pada
saat fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi baik.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali, serta
stabilitas makro yang terjaga juga tidak mampu menahan rupiah untuk
merosot sedemikian rendah. Bahkan Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa
nilai tukar saat ini telah mengalami "/overshooting/" (melonjak) dari
nilai fundamentalnya. Mengutip pernyataan Deputi Gubernur Senior BI,
level kurs rupiah yang mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia
berkisar Rp 13.200 s.d Rp 13.200 per USD. Artinya, lonjakan nilai tukar
yang terjadi saat ini memang cukup jauh dari nilai keseimbangan jangka
panjangnya.
Berbagai pihak termasuk BI menyebutkan pelemahan yang cukup mendalam ini
lebih disebabkan kondisi eksternal. Arah kebijakan Bank Sentral Amerika
(The Fed) yang cenderung ke pengetatan moneter cukup membuat pasar
bergejolak. Gubernur The Fed yang baru Jerome Powell diprediksi akan
mengeluarkan kebijakan yang berseberangan dengan ekspektasi pelaku pasar.
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 20-21 Maret, Powell
merencanakan mengambil kebijakan moneter ketat dengan menaikkan suku
bunga acuan (/Fed Fund Rate/). Belum lagi adanya rencana The Fed yang
kemungkinan akan mempertahankan kebijakan moneter dengan menaikkan /Fed
Rate/ secara gradual sebanyak 3 kali selama 2018 ini.
Pasar keuangan global tentu saja merespons arah kebijakan moneter The
Fed dengan melakukan penarikan modal mereka dan menanamkannya pada pasar
keuangan Amerika dengan harapan imbal hasil yang lebih tinggi. Nilai
tukar mata uang negara-negara /emerging market/ hingga negara maju cukup
tertekan dengan arah kebijakan moneter The Fed tersebut.
Dari situasi tersebut, dugaan penyebab melemahnya nilai tukar yang
berasal dari tekanan eksternal sangat dipahami. Namun demikian, kondisi
/overshooting/ rupiah ini apakah suatu hal yang wajar?
*Jangka Pendek*
Teori penentuan nilai tukar (/exchangerate determination/), Dornbusch
Overshooting Model (1976) dapat menjelaskan fenomena pelemahan nilai
tukar yang jauh dari keseimbangan fundamentalnya. Teori tersebut
menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, nilai tukar dapat menjauh
(melemah) dari nilai fundamentalnya. Dasar dari teori tersebut adalah
adanya asumsi bahwa peningkatan permintaan agregat akan lebih berdampak
pada inflasi dibanding pada peningkatan /output (/PDB).
Potensi peningkatan inflasi tersebut akan diimbangi dengan pengurangan
jumlah uang beredar yang berdampak pada kenaikan suku bunga kebijakan
dan suku bunga pasar. Namun, dalam jangka panjang tingginya permintaan
agregat akan diikuti dengan kenaikan /output/ (penawaran agregat)
sehingga potensi dampak terhadap inflasi tidak terjadi. Dalam kondisi
demikian, kebijakan moneter bisa dilakukan dengan lebih longgar dan
tingkat bunga akan turun. Dampaknya nilai tukar domestik akan melemah
dan mata uang asing dalam kondisi sebaliknya.
Dengan teori tersebut, kita bisa membuat sebuah hipotesis pada kondisi
ekonomi Amerika Serikat. Saat ini ekonomi negara tersebut dalam kondisi
stabil dan menuju arah positif sejak /recovery/ akibat krisis keuangan
global satu dekade lalu. Indikator makro seperti inflasi dan
pengangguran menunjukkan sinyal yang baik. Daya beli masyarakat sudah
mulai menunjukkan peningkatan yang berpotensi justru meningkatkan
inflasi. Untuk meredam potensi tersebut, kebijakan yang mungkin
dilakukan adalah menaikkan tingkat bunga acuan dalam rangka stabilisasi.
Bagaimanapun, seperti pengaruh politiknya, nilai tukar dolar AS terhadap
berbagai mata uang masih sangat "berpengaruh". Selama banyak transaksi
internasional baik perdagangan, utang luar negeri, aliran modal
menggunakan dolar AS, maka kondisi ekonomi dan kebijakan yang dilakukan
pemerintah AS pasti akan berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar
banyak negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pelemahan rupiah ataupun penguatan dolar AS saat ini
diyakini merupakan fenomena jangka pendek, sesuai dengan hipotesis teori
Dornbusch Overshooting Model di atas. Dalam jangka pendek, posisi nilai
tukar sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran valuta asing.
Jika terjadi penarikan dana secara cepat dan dalam jumlah besar
sementara pasokan dolar terbatas, otomatis harga valuta asing (kurs)
akan melonjak.
Sekali lagi, hipotesis tersebut mungkin bisa menjelaskan bahwa posisi
nilai tukar rupiah saat ini merupakan fenomena jangka pendek.
*Dampak Perekonomian
*
Sedikit banyak, gejolak nilai tukar ini pasti akan berdampak pada
kondisi perekonomian. Bagi industri dengan kandungan impor tinggi dampak
depresiasi diprediksi baru akan terasa beberapa bulan ke depan. Untuk
saat ini, sebagian besar pelaku industri tentu bertransaksi menggunakan
kontrak dengan level kurs yang telah disepakati. Bagi importir saat ini
kenaikan kurs cenderung belum berpengaruh terhadap biaya produksi.
Dari sisi eksportir, kenaikan kurs juga tidak serta merta meningkatkan
volume ekspor. Dengan demikian, dalam jangka pendek atau satu-dua bulan
mendatang kenaikan kurs belum akan berdampak pada aktivitas produksi dan
harga produk.
Bagi keuangan negara, tentu saja sedikit banyak berdampak utamanya pada
sisi pembayaran utang luar negeri ataupun obligasi valas yang jatuh
tempo saat ini. Sektor yang juga berpotensi cukup terdampak dalam jangka
pendek ini adalah pasar modal. Jika aksi jual aset keuangan (/capital
flight/) terus terjadi , maka harga aset keuangan akan menurun, utamanya
harga saham.
Pada awal Maret ini saja IHSG sempat terkoreksi negatif setelah isu
kenaikan /Fed Rate/ mencuat. Meskipun, pada beberapa sesi perdagangan
setelahnya kembali ke arah yang positif. Namun demikian, jika fenomena
gejolak kurs merupakan fenomena jangka pendek, maka belum akan berdampak
pada fundamental perekonomian.
Bagi kalangan pelaku usaha, nilai kurs yang rendah pasti diinginkan,
namun yang menjadi prioritas justru pada stabilitas nilai tukar.
Artinya, kalangan pelaku usaha cenderung akan memilih nilai tukar yang
tidak fluktuatif dibanding level tinggi-rendah, karena akan berdampak
pada kalkulasi bisnis. Tentu saja pemerintah dan otoritas terkait dengan
kebijakan yang dimiliki diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar
rupiah dalam jangka panjang.
Dengan komposisi dana asing yang cukup besar pada sektor keuangan kita,
maka potensi fluktuasi rupiah akan terus terjadi jika terdapat perubahan
arah ekonomi global khususnya kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Kondisi
demikian dapat diantisipasi jika pasokan valuta asing utamanya dolar
memadai di dalam negeri. Pasokan valuta asing tersebut berasal dari
aktivitas ekspor, penanaman modal asing hingga aliran modal masuk.
Dengan demikian, kebijakan yang diambil seyogianya dapat diarahkan untuk
meningkatkan aktivitas ekspor serta penanaman modal asing (PMA).
Memang bukan kebijakan yang diambil secara instan yang dapat menjaga
nilai tukar rupiah, melainkan kebijakan yang bersifat struktural.
Perkara meningkatkan ekspor memang bukan hal yang mudah, namun
pemerintah dapat mengupayakan peningkatan daya saing yang
berkesinambungan bagi produk Indonesia, utamanya manufaktur. Bukan
saatnya lagi untuk mengandalkan pendapatan ekspor dari hasil komoditas
alam, yang harganya juga sedang anjlok selama beberapa waktu terakhir.
Upaya peningkatan PMA memang telah dilakukan dengan berbagai deregulasi
yang dilakukan. Easy of Doing Business serta peringkat daya saing juga
menunjukkan perbaikan. Artinya, perlu dilakukan lagi evaluasi terhadap
kebijakan bila perlu hingga level bawah untuk memastikan bahwa
deregulasi berjalan optimal untuk menarik investasi sektor riil. Aliran
modal keluar merupakan aktivitas di luar jangkauan langsung dari
kebijakan pemerintah, namun pemberian insentif pajak imbal hasil
investasi juga dapat dilakukan untuk mengurangi laju aliran modal keluar.
BI selaku otoritas moneter tampaknya tidak perlu responsif menyikapi
situasi pelemahan nilai tukar ini. Artinya, BI belum perlu mengambil
kebijakan langsung dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan. BI cukup
proaktif untuk hadir di pasar menjaga stabilitas dengan kapasitas
cadangan devisa yang dimiliki. Selama prediksi rupiah tidak akan makin
terpuruk untuk beberapa bulan ke depan, maka kebijakan moneter ketat
dengan menaikkan /Seven Days Repo Rate/ belum saatnya diambil. Semoga
Rapat Dewan Gubernur BI Maret ini tidak mengikuti arah kebijakan moneter
Amerika Serikat!
*Teguh Santoso* /dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Universitas Padjadjaran/
*(mmu/mmu)
*