Xi Jinping Pemimpin China Tiada Tanding (1)
Sejarah Baru Tiongkok
Catatan Dahlan Iskan
JUMAT, 16 MAR 2018 09:05 | EDITOR : DZIKRI ABDI SETIA
 
Berita Terkait
  a.. Van Gogh
   
  b.. Peluang Ekspor Melawan MitosPekan kemarin amat bersejarah bagi Tiongkok: 
mencabut konstitusi yang membatasi masa jabatan presiden. Batasan dua periode 
tidak berlaku lagi. MPR-nya Tiongkok bersidang sejak Senin pekan lalu. Itu 
sidang pleno lima tahunan. Seperti kita dulu punya Sidang Umum MPR.

Di forum itulah apa saja yang sudah dilakukan Presiden selama lima tahun 
terakhir dilaporkan. Lalu dibahas pula isu-isu mendasar yang sudah disiapkan 
pemerintah untuk disetujui atau diubah. Salah satunya tentang pencabutan 
konstitusi pembatasan masa jabatan presiden.

Pengamat sedunia begitu kagum. Dalam lima tahun saja Presiden Xi Jinping mampu 
mengonsolidasikan kekuasaannya begitu kokoh. Keberanian berinisiatif mengubah 
konstitusi ini pertanda posisi Presiden Xi begitu kuat. Begitu yakin tidak akan 
ada yang berani menentang.

Perubahan konstitusi itu membuat Presiden Xi bisa menjabat tiga periode atau 
bahkan seumur hidup. Oktober tahun lalu, dalam Kongres Partai Komunis Tiongkok 
ke 19, Presiden Xi Jinping sudah disetujui untuk diangkat lagi menjadi presiden 
untuk masa jabatan kedua, sampai tahun 2022. Dan kini menjadi sangat mungkin 
untuk masa jabatan berikutnya. Begitu kuatnya kepemimpinan Presiden Xi.

Gambaran kekuatan joss itu sebenarnya sudah muncul sejak dua tahun lalu. Lebih 
jelas lagi terjadi tahun lalu. Yakni ketika politbiro partai diubah. Tidak ada 
tanda-tanda siapa generasi baru yang masuk politbiro. Berarti tidak ada 
generasi penerus yang disiapkan sebagai calon pemimpin di tahun 2022.

Tahun lalu itu ada lima dari tujuh anggota politbiro central partai komunis 
yang pensiun. Dua orang pengganti di antara lima itu biasanya dari generasi 
baru yang umurnya sekitar 50 tahun. Yang prestasinya luar biasa. Terutama saat 
menjabat sebagai gubernur di suatu provinsi penting. Bahkan, saat masih menjadi 
bupati atau walikota yang biasanya juga ketua partai setempat.

Begitulah rute menuju puncak kekuasaan di Tiongkok. Rute seperti itu juga yang 
dilalui Xi Jinping dulu: menjadi walikota di Xiamen, gubernur di Fujian, 
gubernur di Zhijiang, sekjen partai di Shanghai, anggota politbiro, wakil 
presiden dan kemudian presiden.

Saat menjadi gubernur Fujian prestasinya amat mengagumkan: pertumbuhan ekonomi 
provinsi itu 16 persen setahun selama 10 tahun berturut-turut. Tidak ada yang 
mengalahkannya.

Bahkan, saat menjabat gubernur di provinsi yang lebih besar, Zhijiang, 
pertumbuhan ekonominya gila-gilaan: 20 persen per tahun selama 10 tahun terus 
menerus.

Tanpa melihat latar belakang keluarganya pun Xi Jinping menjadi paling layak 
mendapat promosi. Apalagi dia anak dari orang yang pernah menolong Mao Zedong. 
Di saat Mao dalam posisi sulit. Saat Mao tiba di sekitar Xian dari longmarch 
yang menewaskan lebih dari separo tentaranya.

Ayah Xi Jinpinglah yang menyambut rombongan Mao. Dan bergabung membangun 
kembali kekuatan tentara merah. Sampai partai komunis berhasil menguasai 
Tiongkok.

Dengan prestasi luar biasa, ditambah latar belakang keluarga yang seperti itu, 
Presiden Xi memang dikagumi. Apalagi gerakan-gerakannya begitu besar.

Tahun pertama dia canangkan program besar “Tiongkok yang Diimpikan” 
(中国梦想). Tahun kedua dia geber pemberantasan korupsi. Tahun ketiga dia 
canangkan one belt one road. Tahun keempat orientasi baru ekonomi. Tahun kelima 
sudah berani mengubah konstitusi.

Tahun lalu, tahun kelima itu, lima kursi di politbiro kosong. Pejabatnya 
pensiun. Harus diisi. Saat melihat siapa wajah baru di politbiro itulah orang 
kaget. Usia yang mengisinya di atas 65 tahun. Hampir seumur dengan Xi Jinping. 
Bahkan ada yang lebih.

Nama gubernur Guangdong yang semula dispekulasikan sebagai calon pemimpin masa 
depan tidak muncul di politbiro. Bahkan, nama gubernur Chongqing yang juga 
diunggulkan masuk dalam daftar tersangka.

Sejak itulah pengamat sulit memprediksi siapa calon pengganti Xi Jinping di 
tahun 2022. Kok tidak disiapkan. Dari situlah muncul spekulasi apakah Xi 
Jinping ingin memperpanjang kekuasaannya. Tapi kan tidak mungkin. Konstitusi 
membatasinya.

Ternyata konstitusinya yang diubah. Apakah MPR Tiongkok mau mengubahnya? Tidak 
mungkin tidak. Di sinilah bukti bahwa kekuasaan Xi Jinping luar biasa. Lebih 
separo dari 3.000 anggota ‘MPR’ saat ini adalah anggota baru.

Seorang analis mengatakan anggota baru MPR biasanya ikut saja konsep yang sudah 
dirancang. Pengetahuan mereka atas arena kongres pun belum siap. Apalagi 
menguasai materi agendanya. Apalagi kalau kehadiran mereka memang sudah 
dirancang.

Maka muluslah agenda pencabutan ketentuan masa jabatan itu. Tapi apa di balik 
semua ini? Mengapa masa jabatan dua periode dianggap kurang? Mengapa pembatasan 
masa jabatan dianggap tidak baik? Adakah murni ambisi kekuasaan? Atau ada 
tujuan nasionalnya? (bersambung).

(jr/ras/das/JPR)

Kirim email ke