----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 23 Maret 2018 03.42.53 GMT+1Judul:
[GELORA45] Sejarah Baru Tiongkok -- Catatan Dahlan Iskan
Xi Jinping Pemimpin China Tiada Tanding (1)
Sejarah Baru Tiongkok
Catatan Dahlan Iskan
JUMAT, 16 MAR 2018 09:05 | EDITOR : DZIKRI ABDI SETIA
Berita Terkait
- Van Gogh
- Peluang Ekspor Melawan Mitos
Pekan kemarin amat bersejarah bagi Tiongkok: mencabut konstitusi yang membatasi
masa jabatan presiden. Batasan dua periode tidak berlaku lagi. MPR-nya Tiongkok
bersidang sejak Senin pekan lalu. Itu sidang pleno lima tahunan. Seperti kita
dulu punya Sidang Umum MPR.
Di forum itulah apa saja yang sudah dilakukan Presiden selama lima tahun
terakhir dilaporkan. Lalu dibahas pula isu-isu mendasar yang sudah disiapkan
pemerintah untuk disetujui atau diubah. Salah satunya tentang pencabutan
konstitusi pembatasan masa jabatan presiden.
Pengamat sedunia begitu kagum. Dalam lima tahun saja Presiden Xi Jinping mampu
mengonsolidasikan kekuasaannya begitu kokoh. Keberanian berinisiatif mengubah
konstitusi ini pertanda posisi Presiden Xi begitu kuat. Begitu yakin tidak akan
ada yang berani menentang.
Perubahan konstitusi itu membuat Presiden Xi bisa menjabat tiga periode atau
bahkan seumur hidup. Oktober tahun lalu, dalam Kongres Partai Komunis Tiongkok
ke 19, Presiden Xi Jinping sudah disetujui untuk diangkat lagi menjadi presiden
untuk masa jabatan kedua, sampai tahun 2022. Dan kini menjadi sangat mungkin
untuk masa jabatan berikutnya. Begitu kuatnya kepemimpinan Presiden Xi.
Gambaran kekuatan joss itu sebenarnya sudah muncul sejak dua tahun lalu. Lebih
jelas lagi terjadi tahun lalu. Yakni ketika politbiro partai diubah. Tidak ada
tanda-tanda siapa generasi baru yang masuk politbiro. Berarti tidak ada
generasi penerus yang disiapkan sebagai calon pemimpin di tahun 2022.
Tahun lalu itu ada lima dari tujuh anggota politbiro central partai komunis
yang pensiun. Dua orang pengganti di antara lima itu biasanya dari generasi
baru yang umurnya sekitar 50 tahun. Yang prestasinya luar biasa. Terutama saat
menjabat sebagai gubernur di suatu provinsi penting. Bahkan, saat masih menjadi
bupati atau walikota yang biasanya juga ketua partai setempat.
Begitulah rute menuju puncak kekuasaan di Tiongkok. Rute seperti itu juga yang
dilalui Xi Jinping dulu: menjadi walikota di Xiamen, gubernur di Fujian,
gubernur di Zhijiang, sekjen partai di Shanghai, anggota politbiro, wakil
presiden dan kemudian presiden.
Saat menjadi gubernur Fujian prestasinya amat mengagumkan: pertumbuhan ekonomi
provinsi itu 16 persen setahun selama 10 tahun berturut-turut. Tidak ada yang
mengalahkannya.
Bahkan, saat menjabat gubernur di provinsi yang lebih besar, Zhijiang,
pertumbuhan ekonominya gila-gilaan: 20 persen per tahun selama 10 tahun terus
menerus.
Tanpa melihat latar belakang keluarganya pun Xi Jinping menjadi paling layak
mendapat promosi. Apalagi dia anak dari orang yang pernah menolong Mao Zedong.
Di saat Mao dalam posisi sulit. Saat Mao tiba di sekitar Xian dari longmarch
yang menewaskan lebih dari separo tentaranya.
Ayah Xi Jinpinglah yang menyambut rombongan Mao. Dan bergabung membangun
kembali kekuatan tentara merah. Sampai partai komunis berhasil menguasai
Tiongkok.
Dengan prestasi luar biasa, ditambah latar belakang keluarga yang seperti itu,
Presiden Xi memang dikagumi. Apalagi gerakan-gerakannya begitu besar.
Tahun pertama dia canangkan program besar “Tiongkok yang Diimpikan”
(ä¸å›½æ¢¦æƒ³). Tahun kedua dia geber pemberantasan korupsi. Tahun ketiga dia
canangkan one belt one road. Tahun keempat orientasi baru ekonomi. Tahun kelima
sudah berani mengubah konstitusi.
Tahun lalu, tahun kelima itu, lima kursi di politbiro kosong. Pejabatnya
pensiun. Harus diisi. Saat melihat siapa wajah baru di politbiro itulah orang
kaget. Usia yang mengisinya di atas 65 tahun. Hampir seumur dengan Xi Jinping.
Bahkan ada yang lebih.
Nama gubernur Guangdong yang semula dispekulasikan sebagai calon pemimpin masa
depan tidak muncul di politbiro. Bahkan, nama gubernur Chongqing yang juga
diunggulkan masuk dalam daftar tersangka.
Sejak itulah pengamat sulit memprediksi siapa calon pengganti Xi Jinping di
tahun 2022. Kok tidak disiapkan. Dari situlah muncul spekulasi apakah Xi
Jinping ingin memperpanjang kekuasaannya. Tapi kan tidak mungkin. Konstitusi
membatasinya.
Ternyata konstitusinya yang diubah. Apakah MPR Tiongkok mau mengubahnya? Tidak
mungkin tidak. Di sinilah bukti bahwa kekuasaan Xi Jinping luar biasa. Lebih
separo dari 3.000 anggota ‘MPR’ saat ini adalah anggota baru.
Seorang analis mengatakan anggota baru MPR biasanya ikut saja konsep yang sudah
dirancang. Pengetahuan mereka atas arena kongres pun belum siap. Apalagi
menguasai materi agendanya. Apalagi kalau kehadiran mereka memang sudah
dirancang.
Maka muluslah agenda pencabutan ketentuan masa jabatan itu. Tapi apa di balik
semua ini? Mengapa masa jabatan dua periode dianggap kurang? Mengapa pembatasan
masa jabatan dianggap tidak baik? Adakah murni ambisi kekuasaan? Atau ada
tujuan nasionalnya? (bersambung).
(jr/ras/das/JPR)