Pakar Indonesia : AS Akan Kalah dalam "Perang Dagang"
2018-03-26 13:04:35 CRI
Presiden Amerika, Donald Trump telah menandatangani MoU hari Kamis
kemarin (22/3), dan mengumumkan akan mengenakan pajak terhadap produk Tiongkok
scecara besar-besaran, serta membatasi investasi dan merger perusahaan Tiongkok
di Amerika. "Itulah tindakan yang sudah lama dipersiapkan oleh Amerika. Jika
Amerika melancarkan 'Perang Dagang' , mereka pasti akan kalah," demikian ucap
Bambang Suryono, pakar masalah Tiongkok selaku Pemimpin Redaksi Koran Baru
Indonesia dan Bali Fengcai, dalam wawancaranya dengan CRI.
Bambang Suryono menunjukkan, tindakan Amerika tersebut bertujuan untuk
mengekang ekspor dan investasi Tiongkok, khususnya mencoba mengganggu
perkembangan Tiongkok di bidang teknologi tinggi yang sudah direncanakan dalam
Made In China 2025. Tindakan Amerika ini justru disebabkan oleh kurangnya rasa
percaya diri mereka terhadap perkembangannya sendiri serta perasaan takut
terhadap tantangan dari negara lain.
Bambang Suryono berpendapat, jika terjadi "Perang Dagang" antara Tiongkok
dan Amerika, perang itu tidak akan berlangsung lama, proteksionisme perdagangan
tidak akan menghalangi perkembangan dunia ke arah yang lebih baik..
Bambang Suryono juga menjelaskan manfaat yang didatangkan dari investasi
perusahaan Tiongkok kepada Indonesia. Dia mengatakan, Zona Perdagangan Bebas
Tiongkok-ASEAN diresmikan pada tanggal 1 Januari 2010. Saat itu, memang tidak
sedikit masyarakat Indonesia yang menentang, mereka khawatir bahwa ekspor
Tiongkok akan memberikan dampak negatif terhadap ekonomi dan industri
Indonesia, akan tetapi, kenyataan telah berhasil menghapuskan kekhawatiran
mereka, volume impor Tiongkok dari Indonesia meningkat besar, defisit
perdagangan Indonesia terhadap Tiongkok berkurang setiap tahunnya, sedangkan
investasi Tiongkok terhadap Indonesia semakin meningkat.
Bambang Suryono memperkenalkan, Indonesia adalah sebuah negara besar
dengan sumber daya mineralnya, akan tetapi, karena taraf produksi industri
dalam negeri Indonesia tidak mencukupi, maka produk industri selalu
mengandalkan impor. Beberapa tahun belakangan ini, perusahaan Tiongkok terus
berinvestasi di Indonesia.
Bambang Suryono menyatakan pula bahwa pemerintah Tiongkok telah
berkomitemen untuk membuka pintu yang semakin lebar kepada dunia luar. Hal itu
akan mendorong ekspor produksi Indonesia ke Tiongkok sebagai pengganti produk
pertanian Amerika. Hubungan Indonesia-Tiongkok di bidang ekonomi dan
perdagangan akan terus ditingkatkan.